Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 September 2026

Persekutuan Tubuh Kristus Bertransformasi Menjadi Persekutuan Doa Tubuh Kristus, Mengarah pada Visi Meuwo TOTA mana (METOMA).

MEDIA PUBLIKASI | PDTK NEWS

Melkias Keiya, S.H.: “Transformasi bukan sekadar perubahan nama, tetapi pembaruan arah pelayanan melalui doa, persatuan, kasih dan kehidupan yang membawa damai.”



NABIRE, PAPUA TENGAH — Perjalanan pelayanan Persekutuan Tubuh Kristus memasuki fase baru melalui transformasi menjadi Persekutuan Doa Tubuh Kristus (PDTK). Transformasi tersebut ditempatkan sebagai bagian dari pembaruan pelayanan yang menekankan kehidupan doa, persatuan umat, penghayatan Firman Tuhan serta tanggung jawab menghadirkan kasih dan perdamaian di tengah masyarakat.

Sekretaris Umum Persekutuan Doa Tubuh Kristus, Melkias Keiya, S.H., menjelaskan bahwa perubahan tersebut tidak seharusnya dipahami hanya sebagai pergantian nama.

Menurutnya, transformasi harus menyentuh kehidupan umat secara nyata—mulai dari cara berdoa, melayani, membangun persaudaraan hingga menyelesaikan perbedaan dengan jalan damai.

> “Persekutuan Tubuh Kristus bertransformasi menjadi Persekutuan Doa Tubuh Kristus. Yang hendak diperkuat bukan sekadar nama, tetapi kehidupan doa dan persatuan umat untuk bersama-sama berjalan dalam kehendak Tuhan,” ujar Melkias Keiya.

Doa Menjadi Jantung Pelayanan

Kata “Doa” dalam nama Persekutuan Doa Tubuh Kristus memiliki penekanan khusus. PDTK memandang doa sebagai salah satu dasar utama dalam membangun hubungan dengan Tuhan sekaligus membentuk kehidupan yang lebih bertanggung jawab terhadap sesama.

Semangat tersebut sejalan dengan pesan Alkitab mengenai kehidupan doa, antara lain Markus 11:17 tentang rumah doa bagi segala bangsa serta 1 Tesalonika 5:17 yang menyerukan umat untuk tetap berdoa.

Bagi PDTK, doa tidak berhenti pada kegiatan ibadah. Doa harus menghasilkan perubahan sikap.

Doa melahirkan kasih.
Kasih membangun persatuan.
Persatuan menjaga perdamaian.
Perdamaian membuka ruang bagi kehidupan bersama yang bermartabat.

Menuju Meuwo TOTA mana (METOMA)

Transformasi tersebut selanjutnya diarahkan pada visi Meuwo TOTA mana (METOMA).

Dalam kerangka pelayanan PDTK, METOMA ditempatkan sebagai cita-cita kehidupan bersama yang bertumpu pada nilai rohani, persaudaraan, kedamaian, kepedulian dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Visi itu diharapkan tidak hanya menjadi semboyan, melainkan diterjemahkan dalam kehidupan keluarga, pelayanan dan masyarakat.

Melkias menegaskan bahwa kehidupan rohani harus membawa dampak sosial yang positif.

> “Kalau kita sungguh-sungguh berdoa, buahnya harus terlihat dalam kehidupan. Kita harus mampu mengasihi, mengampuni, menghargai orang lain dan menjaga persaudaraan. Itulah perubahan yang harus nyata,” katanya.

Bukan Membangun Sekat, tetapi Membangun Persaudaraan

Di tengah masyarakat Papua yang terdiri atas beragam suku, bahasa, gereja, komunitas dan latar belakang sosial, PDTK menempatkan persatuan sebagai hal yang sangat penting.

Perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk membangun permusuhan.

Sebaliknya, pelayanan rohani diharapkan menjadi ruang yang mampu mempertemukan masyarakat, memperkuat dialog dan membangun penyelesaian damai ketika terjadi perbedaan pandangan.

PDTK juga mengajak umat agar tidak menggunakan pelayanan untuk kepentingan pribadi, persaingan ataupun saling menjatuhkan.

Pelayanan harus memberi pengharapan, menguatkan mereka yang lemah, menjaga persaudaraan dan menghadirkan keteduhan di tengah masyarakat.

Transformasi Harus Dibuktikan melalui Buah Kehidupan

Menurut Melkias Keiya, keberhasilan sebuah transformasi tidak cukup dinilai dari perubahan nama, simbol ataupun identitas kelembagaan.

Ukuran yang lebih penting adalah perubahan karakter dan kehidupan umat.
  • Apakah kehidupan semakin penuh kasih?
  • Apakah persaudaraan semakin kuat?
  • Apakah konflik semakin dapat diselesaikan secara damai?
  • Apakah pelayanan semakin mampu menjadi berkat bagi masyarakat?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi bagian penting dalam mengukur perjalanan transformasi PDTK.

> “Nama boleh berubah, tetapi yang paling penting adalah hati dan kehidupan juga harus berubah. Kita ingin melihat doa menghasilkan kasih, persatuan dan perdamaian,” tegas Melkias.

Pesan untuk Papua

PDTK membawa pesan agar seluruh umat ikut menjaga Papua sebagai rumah bersama.

Perdamaian harus dibangun mulai dari keluarga, komunitas, suku, pelayanan dan lingkungan masyarakat.

Perbedaan perlu diselesaikan melalui dialog, musyawarah, penghormatan dan semangat persaudaraan.

Dalam konteks tersebut, PDTK berharap visi METOMA dapat menjadi bagian dari gerakan moral dan spiritual yang mendorong kehidupan masyarakat menuju kedamaian serta kebersamaan.
---

SATU PERJALANAN — SATU SEMANGAT

PERSEKUTUAN TUBUH KRISTUS

Bertransformasi menjadi

PERSEKUTUAN DOA TUBUH KRISTUS

Untuk mewujudkan

MEUWO TOTA MANA (METOMA)

BERDOA • BERSATU • BERTRANSFORMASI • MEMBAWA DAMAI

Narasumber/Penulis:
MELKIAS KEIYA, S.H. Sekretaris Umum Persekutuan Doa Tubuh Kristus (PDTK). Nabire, Papua Tengah

Rabu, 02 September 2026

PENCURAHAN ROH KUDUS DAN PANGGILAN PERTOBATAN DI TANAH PAPUA.

PDTK NEWS:


Serukan Pertobatan Besar di Tanah Papua, PDTK: Pencurahan Roh Kudus Harus Melahirkan Perdamaian dan Perubahan Hidup

NABIRE, PAPUA TENGAH | KAMIS, 3 SEPTEMBER 2026 — PDTK NEWS — Persekutuan Doa Tubuh Kristus (PDTK) menyerukan kebangkitan rohani dan pertobatan menyeluruh di Tanah Papua. Pencurahan Roh Kudus dinilai tidak boleh berhenti pada pengalaman keagamaan semata, tetapi harus menghasilkan perubahan nyata dalam kehidupan berupa kasih, pengampunan, kekudusan, persatuan dan perdamaian.

Seruan tersebut disampaikan Melkias Keiya, S.H., Kepala Suku Besar Wilayah Meepago Provinsi Papua Tengah, dalam pesan dan refleksi rohani Persekutuan Doa Tubuh Kristus di Papua Tengah, Kamis (3/9/2026).

Pesan tersebut berangkat dari perenungan terhadap Zakharia 12:10, yang mencatat janji tentang pencurahan “roh pengasihan dan roh permohonan” atas keluarga Daud dan penduduk Yerusalem.

Melkias menjelaskan, secara Alkitabiah Zakharia 12:10 berbicara mengenai Israel. Namun, dalam refleksi dan konteks pelayanan PDTK di Tanah Papua, pesan mengenai pertobatan, pengasihan, doa dan pencurahan Roh Kudus tersebut dipandang sebagai panggilan rohani agar masyarakat Papua kembali kepada Tuhan.

Papua Membutuhkan Pembaruan Rohani

Menurut Melkias Keiya, Papua tidak hanya membutuhkan pembangunan fisik, ekonomi, infrastruktur dan pemerintahan, tetapi juga pembaruan hati dan kehidupan rohani masyarakat.

Berbagai persoalan sosial, kekerasan, permusuhan, perpecahan dan kepentingan pribadi, menurut dia, harus menjadi bahan perenungan bersama bagi umat Tuhan.

“Papua membutuhkan pertobatan. Papua membutuhkan hati yang kembali kepada Tuhan. Pencurahan Roh Kudus harus membawa manusia meninggalkan dosa, hidup dalam kasih, saling mengampuni dan membangun perdamaian,” kata Melkias Keiya.

Ia menegaskan bahwa perubahan besar harus dimulai dari kehidupan pribadi, keluarga dan para pemimpin sebelum diharapkan terjadi pada masyarakat secara luas.

Zakharia 12:10 dan Panggilan Pertobatan

Dalam pesan rohaninya, Melkias menjelaskan bahwa Zakharia 12:10 menggambarkan pencurahan roh pengasihan dan permohonan yang membawa manusia kepada kesadaran rohani, doa dan pertobatan.

Pesan tersebut juga dikaitkan dengan Yoel 2:28-29 tentang pencurahan Roh Allah serta Yehezkiel 39:29 mengenai karya Roh Tuhan atas umat-Nya.

Menurut dia, ketika Roh Kudus bekerja dalam kehidupan seseorang, perubahan seharusnya tidak hanya terlihat melalui aktivitas ibadah, tetapi juga melalui karakter dan perilaku sehari-hari.

Orang yang membenci harus belajar mengasihi. Orang yang bermusuhan harus berdamai. Mereka yang hidup dalam kesalahan harus berani bertobat dan kembali kepada jalan Tuhan.

Yesus Kristus Menjadi Pusat Pemberitaan

Melkias menegaskan bahwa Yesus Kristus harus tetap menjadi pusat pemberitaan dan pelayanan Persekutuan Doa Tubuh Kristus.

Zakharia 12:10 berbicara mengenai sosok “yang telah mereka tikam”. Dalam Perjanjian Baru, Yohanes 19:37 mengaitkan teks tersebut dengan peristiwa penyaliban Yesus Kristus.

Menurut Melkias, umat tidak cukup hanya mengenal nama Yesus melalui identitas agama atau tradisi gereja.

Iman kepada Kristus harus tercermin melalui kehidupan yang berubah, tindakan kasih, kejujuran, kekudusan, pengampunan dan kepedulian terhadap sesama manusia.

“Mengenal Tuhan bukan hanya melalui kata-kata. Kehidupan kita harus menunjukkan bahwa Kristus benar-benar hidup dan bekerja di dalam diri kita,” ujarnya.

Pertobatan Harus Dimulai dari Pemimpin hingga Rakyat

Melkias menyerukan agar panggilan pertobatan menjangkau seluruh lapisan masyarakat Papua.

Menurutnya, pemimpin, tokoh adat, tokoh agama, masyarakat, laki-laki, perempuan, orang tua maupun generasi muda memiliki tanggung jawab yang sama untuk memeriksa dan memperbaiki kehidupan di hadapan Tuhan.

Tidak ada kelompok yang dapat merasa lebih suci atau lebih benar dibandingkan kelompok lainnya.

“Kalau kita menginginkan perubahan di Tanah Papua, jangan selalu menunjuk kesalahan orang lain. Perubahan harus dimulai dari saya, dari Anda, dari keluarga kita, dari para pemimpin dan kemudian dari masyarakat secara bersama-sama,” katanya.

Para pemimpin, lanjut Melkias, harus menjalankan tanggung jawab secara jujur dan takut akan Tuhan. Masyarakat harus menjaga persaudaraan, sedangkan keluarga harus menjadi tempat pertama untuk menanamkan kasih, iman dan pengampunan.

Jangan Hanya Mengejar Kekuasaan dan Kepentingan Duniawi

Dalam seruan tersebut, Melkias juga mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan politik, kekuasaan, uang, jabatan dan kepentingan duniawi sebagai pusat kehidupan.

Menurut dia, pembangunan Papua harus berjalan seiring dengan pembangunan karakter dan moral manusianya.

Pembangunan fisik yang maju tetapi dibarengi kebencian, kekerasan, ketidakjujuran dan perpecahan tidak akan mampu menghasilkan kehidupan masyarakat yang benar-benar damai.

Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan Tuhan sebagai dasar dalam membangun kehidupan pribadi maupun kehidupan bersama.

Pencurahan Roh Kudus Harus Menghasilkan Buah

PDTK menekankan bahwa pencurahan Roh Kudus bukan sekadar pengalaman emosional atau kegiatan keagamaan.

Karya Roh Kudus harus menghasilkan buah nyata dalam kehidupan.

Orang yang sebelumnya hidup dalam permusuhan harus belajar berdamai. Orang yang menyimpan kebencian harus belajar mengampuni. Orang yang tidak jujur harus kembali kepada kebenaran.

Sementara mereka yang dipercayakan memiliki kekuasaan dan jabatan harus menggunakannya untuk melayani masyarakat, bukan untuk kepentingan diri sendiri.

“Pencurahan Roh Kudus bukan untuk membuat seseorang merasa lebih tinggi atau lebih rohani daripada orang lain. Roh Kudus membawa kita semakin rendah hati, semakin mengasihi, semakin hidup benar dan semakin dekat kepada Tuhan,” tegas Melkias.

Menyembah dalam Roh dan Kebenaran

Melkias juga mengajak umat untuk terus berdoa, memuji dan menyembah Tuhan dengan berpedoman pada Yohanes 4:23-24, mengenai penyembah-penyembah benar yang menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran.

Para pelayan Tuhan diingatkan agar tidak kehilangan semangat sekalipun hasil pelayanan belum terlihat sesuai harapan.

Menurut dia, tugas umat adalah tetap melakukan bagian yang dipercayakan Tuhan, sedangkan hasil akhirnya berada dalam kehendak dan waktu Tuhan.

“Jangan berhenti berdoa. Jangan berhenti menyembah. Jangan berhenti memberitakan Firman. Kita melakukan bagian kita dan Tuhan akan melakukan bagian-Nya sesuai dengan waktu dan kehendak-Nya,” katanya.

Doa untuk Tanah Papua

Melalui Persekutuan Doa Tubuh Kristus, Melkias Keiya mengajak umat Kristen di berbagai daerah untuk terus menaikkan doa bagi Tanah Papua.

Doa tersebut mencakup keluarga, kampung, masyarakat adat, gereja, para pemimpin, pemerintah, generasi muda serta seluruh masyarakat yang hidup di Tanah Papua.

Ia berharap terjadi pembaruan rohani yang mampu melahirkan generasi yang takut akan Tuhan, menghormati martabat manusia, menjaga persaudaraan serta bertanggung jawab terhadap masa depan Tanah Papua.

“Kita berdoa supaya kebangkitan rohani dan pertobatan terjadi dari pribadi ke pribadi, dari keluarga ke keluarga, dari kampung ke kampung dan menjangkau seluruh Tanah Papua. Biarlah kasih Kristus mengalahkan kebencian dan Roh Kudus memimpin kita kepada kebenaran dan perdamaian,” tutup Melkias Keiya.


PDTK NEWS NASIONAL
Persekutuan Doa Tubuh Kristus

Hari/Tanggal: Kamis, 3 September 2026
Lokasi: Nabire, Provinsi Papua Tengah
Narasumber: Melkias Keiya, S.H.
Jabatan: Kepala Suku Besar Wilayah Meepago Provinsi Papua Tengah
Tema: Pencurahan Roh Kudus dan Pertobatan di Tanah Papua
Ayat Utama: Zakharia 12:10
Naskah: Keiya Meeyoka

Memuji dan Menyembah Allah dalam Roh dan Kebenaran

Senin, 24 Agustus 2026

PDTK NEWS | Menantikan Penggenapan Firman Tuhan, Umat Diajak Menjaga Persatuan dan Menolak Provokasi.

Penafsiran atas Wahyu 12 dan Daniel 7 menjadi panggilan untuk berjaga-jaga dalam iman, mempererat persaudaraan, serta menghindari perpecahan di tengah masyarakat.

NABIRE, PAPUA TENGAH PDTK News— Persekutuan Doa Tubuh Kristus atau PDTK mengajak umat Tuhan untuk semakin tekun berdoa, menjaga kesatuan hati, dan menolak segala bentuk provokasi yang dapat menimbulkan pertentangan di antara sesama.

Ajakan tersebut disampaikan seiring berkembangnya perhatian terhadap penafsiran mengenai tanda-tanda akhir zaman sebagaimana tertulis dalam Kitab Wahyu 12:1–2, 5–6 dan Daniel 7:13–14.

Bagi sebagian umat, ayat-ayat tersebut dipahami sebagai gambaran tentang perjalanan rencana Allah, pergumulan umat Tuhan, pemeliharaan ilahi, serta pengharapan akan datangnya pemerintahan yang berada dalam kuasa-Nya.

Namun, pengharapan tersebut tidak seharusnya menimbulkan ketakutan, permusuhan, ataupun tindakan saling menyalahkan. Sebaliknya, pemahaman terhadap firman Tuhan perlu mendorong setiap orang untuk hidup dalam kasih, kerendahan hati, serta tanggung jawab menjaga kedamaian bersama.

Memahami Tanda-Tanda dalam Wahyu 12

Kitab Wahyu 12:1 menggambarkan suatu tanda besar di langit: seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan mahkota dua belas bintang di kepalanya.

Selanjutnya, Wahyu 12:2 menggambarkan perempuan itu sedang mengandung dan mengalami kesakitan menjelang persalinan.

Dalam Wahyu 12:5, perempuan tersebut melahirkan seorang anak laki-laki yang dikaitkan dengan kuasa pemerintahan atas bangsa-bangsa. Sementara itu, Wahyu 12:6 menggambarkan perempuan tersebut dibawa ke tempat yang telah dipersiapkan Allah untuk memeliharanya.

Di lingkungan PDTK, rangkaian ayat tersebut dipahami oleh sebagian umat sebagai gambaran rohani mengenai pergumulan, kelahiran, perlindungan, serta penyertaan Tuhan terhadap umat-Nya pada masa-masa yang penuh tantangan.

Penafsiran tersebut juga mengandung pesan bahwa ketika manusia menghadapi tekanan dan ketidakpastian, Tuhan tetap memiliki kuasa untuk memelihara dan menuntun umat-Nya.

Oleh sebab itu, perhatian terhadap tanda-tanda rohani semestinya disertai kehidupan yang menghasilkan buah kasih, kesabaran, penguasaan diri, dan penghormatan terhadap sesama.

Daniel 7:13–14 dan Pengharapan akan Kuasa Allah

Selain Wahyu 12, perhatian umat juga tertuju pada Daniel 7:13–14, yang menggambarkan sosok seperti Anak Manusia datang dengan awan-awan dari langit dan menerima kekuasaan, kemuliaan, serta kerajaan yang tidak akan berkesudahan.

Bagi umat Kristen, penglihatan tersebut menjadi sumber pengharapan bahwa pada akhirnya kedaulatan Allah berada di atas segala kuasa dunia.

Dalam pembahasan rohani di kalangan tertentu, rentang waktu 2027–2030 dipandang sebagai masa yang perlu dicermati dengan doa dan kewaspadaan iman. Meski demikian, rentang tahun tersebut merupakan penafsiran dan pengharapan sebagian orang, bukan kepastian waktu yang dapat dinyatakan sebagai ketetapan mutlak.

Tidak seorang pun sepatutnya menggunakan dugaan tentang waktu penggenapan nubuat untuk menakut-nakuti masyarakat, memecah persaudaraan, atau memaksakan keyakinan kepada pihak lain.

Sikap yang lebih bijaksana adalah tetap berjaga-jaga secara rohani, memperbaiki kehidupan, dan menyerahkan segala waktu serta ketetapan kepada Tuhan.

Hati-Hati terhadap Provokasi di Antara Sesama

Di tengah berbagai penafsiran dan perkembangan situasi sosial, PDTK mengingatkan umat agar tidak mudah terpancing oleh informasi yang belum jelas, tuduhan sepihak, kabar bohong, maupun pernyataan yang sengaja memperhadapkan satu kelompok dengan kelompok lainnya.

Provokasi dapat muncul melalui percakapan langsung, unggahan media sosial, pesan berantai, maupun penyebaran isu yang menimbulkan kecurigaan di antara saudara seiman dan sesama warga.

Karena itu, setiap persoalan perlu disikapi dengan tenang, diperiksa kebenarannya, dan dibicarakan melalui komunikasi yang terbuka serta penuh kasih.

“Jangan dengan sengaja menciptakan provokasi di antara sesama kita. Jika ada perbedaan, selesaikan dengan doa, kasih, komunikasi, dan persaudaraan. Jangan memberi ruang bagi kebencian untuk memecah Tubuh Kristus.”

Peringatan tersebut menjadi penting karena perpecahan yang dibiarkan berkembang bukan hanya merusak hubungan antarpribadi, tetapi juga dapat mengganggu ketenteraman masyarakat.

Umat Dipanggil Menjadi Pembawa Damai

Persekutuan Doa Tubuh Kristus menekankan bahwa kesiapan menghadapi masa depan tidak ditunjukkan melalui kepanikan, melainkan melalui kehidupan yang mencerminkan kasih Tuhan.

Umat diajak memperkuat doa, menjaga kekudusan hidup, menghindari fitnah, menghormati perbedaan, dan membangun kebersamaan dengan seluruh lapisan masyarakat.

Dalam kehidupan sehari-hari, panggilan tersebut dapat diwujudkan dengan menolak pertikaian antarsuku, tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, serta mengutamakan penyelesaian masalah melalui dialog dan musyawarah.

Kesatuan umat juga perlu dijaga dengan menempatkan kasih di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.

Firman Tuhan dalam Efesus 4:3 mengingatkan pentingnya memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera. Prinsip tersebut sejalan dengan panggilan PDTK untuk menghadirkan kehidupan persekutuan yang membangun, menguatkan, dan mempersatukan.

Menunggu dengan Iman, Hidup dengan Kasih

Bagi umat percaya, menantikan penggenapan firman Tuhan bukan alasan untuk saling menuduh atau merasa paling benar. Penantian justru menjadi kesempatan untuk bertobat, memperbaiki hubungan, dan memperkuat kepedulian terhadap sesama.

Apa pun penafsiran mengenai Wahyu 12, Daniel 7, maupun tahun-tahun yang dianggap penting, umat diingatkan bahwa waktu dan ketetapan tertinggi tetap berada dalam kuasa Tuhan.

Karena itu, pesan yang perlu dikedepankan adalah persaudaraan, kedamaian, dan kesiapan menjalani hidup dengan hati yang bersih.

“Kita boleh berjaga-jaga dalam iman, tetapi jangan menciptakan ketakutan. Kita boleh menantikan penggenapan firman, tetapi jangan memecah persaudaraan. Mari berdoa, hidup dalam kasih, dan menjaga damai di antara sesama.”

PDTK NEWS — Satu Tubuh, Satu Roh, Satu Pengharapan dalam Kasih Kristus. 

Selasa, 18 Agustus 2026

Persekutuan Doa Tubuh Kristus

 

Umat PDTK Gelar Ibadah Pelepasan Salah dan Dosa melalui Ratap Tangis dan Penyembahan. 

NABIRE, PAPUA TENGAH — Umat Tuhan yang tergabung dalam Persekutuan Doa Tubuh Kristus (PDTK) melaksanakan ibadah pelepasan salah dan dosa di hadapan Tuhan. Ibadah berlangsung dalam suasana penuh penghayatan melalui doa, ratap tangis, keluhan hati, sorak-sorai, pujian, dan penyembahan dalam roh dan kebenaran.

Dalam ibadah tersebut, umat datang merendahkan diri serta membuka hati di hadapan Tuhan. Ratap tangis dipahami sebagai ungkapan penyesalan, pertobatan, dan kerinduan untuk memperoleh pengampunan serta pemulihan hidup.

Tangisan dan keluhan umat bukan sekadar luapan perasaan, melainkan bagian dari doa yang lahir dari kedalaman hati. Setelah melewati proses pengakuan dan penyerahan diri, suasana ibadah dilanjutkan dengan sorak-sorai kemenangan, pujian, serta penyembahan kepada Tuhan.

PDTK menegaskan bahwa pelepasan dari kesalahan dan dosa tidak dilakukan melalui kekuatan manusia, melainkan melalui kasih karunia Tuhan, pertobatan yang sungguh-sungguh, dan pembaruan hidup dalam Yesus Kristus.

Ibadah tersebut berlandaskan firman Tuhan dalam Yohanes 4:23–24, yang mengajarkan bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran. Selain itu, Ibrani 5:7 menggambarkan doa yang dipanjatkan dengan ratap tangis, sedangkan Yoel 2:12–13 menyerukan agar umat kembali kepada Tuhan dengan segenap hati.

Melalui ibadah ini, umat PDTK diajak meninggalkan kesalahan, kebencian, perselisihan, dan segala perbuatan yang tidak berkenan kepada Tuhan. Pertobatan harus diwujudkan melalui kehidupan yang menghasilkan buah kasih, perdamaian, pengampunan, persaudaraan, dan kepedulian terhadap sesama.


 

Persekutuan Doa Tubuh Kristus juga mengajak seluruh umat Tuhan untuk membangun kehidupan doa yang tulus, menjaga persatuan, serta menjadi pembawa damai di tengah keluarga, gereja, masyarakat, dan bangsa.

“Ratap tangis membawa umat kepada pertobatan, sedangkan pujian dan penyembahan menyatakan kemenangan serta ucapan syukur kepada Tuhan. Semuanya dilakukan dalam roh dan kebenaran,” demikian pesan rohani yang disampaikan dalam persekutuan tersebut.

Melalui gerakan doa ini, PDTK berharap terjadi pemulihan rohani dalam kehidupan umat serta terciptanya kedamaian, persatuan, dan kasih persaudaraan di Tanah Papua maupun seluruh Indonesia.

Penulis: Melkias Keiya, S.H.
Sekretaris Umum Persekutuan Doa Tubuh Kristus (PDTK)

Catatan Redaksi: Naskah ini disusun dalam gaya jurnalistik media nasional untuk keperluan publikasi dan tidak menyatakan telah diterbitkan oleh media tertentu.


Jumat, 07 Agustus 2026

PDTK Serukan Kejelasan Pelayanan agar Umat Tidak Terpecah.

 



Dua Logo dan Dua Nama yang Berbeda 

NABIRE, PAPUA TENGAH — Persekutuan Doa Tubuh Kristus (PDTK) menyerukan kehati-hatian kepada para pelayan dan umat menyikapi penggunaan dua logo serta dua nama pelayanan yang berbeda di lingkungan pelayanan Tubuh Kristus. Perbedaan identitas tersebut dinilai perlu dijelaskan secara terbuka dan damai agar tidak menimbulkan kebingungan, pertentangan, maupun kegaduhan di tengah umat.

Dua nama yang menjadi perhatian ialah Gereja Tuhan “Tubuh Kristus Lokal” Nabire dan Persekutuan Doa Tubuh Kristus (PDTK) Original Nabire, Dogiyai, Deiyai dan Paniai. Keduanya memiliki logo dan penamaan yang berbeda sehingga PDTK menilai masyarakat perlu memperoleh penjelasan yang jelas mengenai identitas, pola pelayanan, serta dasar pengajarannya masing-masing.

PDTK: Jangan Menghuru-harakan Umat Tuhan

PDTK mengingatkan bahwa perbedaan dalam pelayanan Kristen tidak semestinya berkembang menjadi pertentangan yang menghuru-harakan umat.“Hati-hati menghuru-harakan umat-Nya. Yang harus dijaga adalah kebenaran Firman Tuhan, kedamaian, kasih, dan keselamatan umat,” demikian pernyataan PDTK.

Menurut PDTK, persekutuan tersebut tidak dibentuk sebagai organisasi dengan struktur formal sebagaimana organisasi pada umumnya. PDTK memandang kegiatan mereka terutama sebagai persekutuan ibadah yang menempatkan Tuhan Ugatame, Tuhan Yesus Kristus dan Roh Kudus sebagai Pemimpin utama ibadah.

Pola tersebut diterapkan dalam pelayanan PDTK Original Nabire, Dogiyai, Deiyai dan Paniai, dengan penekanan pada doa, pujian, penyembahan, ratap tangis, serta pendalaman Firman Tuhan.

Perbedaan Pemahaman Baptisan Air dan Perjamuan Suci

PDTK juga menyampaikan adanya perbedaan pemahaman pelayanan dengan Gereja Tuhan “Tubuh Kristus Lokal”, khususnya berkaitan dengan Baptisan Air dan Perjamuan Suci.

Dalam menyampaikan sikapnya, PDTK merujuk Wahyu 22:18–19 sebagai peringatan agar manusia tidak menambah maupun mengurangi Firman Tuhan.

Namun demikian, perbedaan tersebut perlu dipahami sebagai perbedaan pandangan dan penafsiran keagamaan yang sebaiknya diselesaikan melalui pembicaraan Alkitabiah, dialog antar-hamba Tuhan, dan penjelasan terbuka kepada umat, bukan melalui tuduhan maupun pertentangan pribadi.

PDTK menegaskan bahwa setiap pengajaran mengenai Baptisan Air, Perjamuan Suci maupun bentuk pelayanan lainnya perlu diuji berdasarkan keseluruhan kesaksian Kitab Suci.

Pertumbuhan Iman Tidak Sama pada Setiap Orang

Selain persoalan identitas pelayanan, PDTK menekankan bahwa tingkat pertumbuhan rohani setiap orang tidak selalu sama.

PDTK merujuk perumpamaan Yesus dalam Matius 13:8 dan Matius 13:23 mengenai benih yang jatuh di tanah yang baik dan kemudian menghasilkan buah dengan tingkat yang berbeda-beda.

Pesan tersebut dipahami bahwa seseorang dapat menerima Firman Tuhan, memahami Firman tersebut, kemudian mengalami pertumbuhan dan menghasilkan buah sesuai proses rohaninya.

Karena itu, perbedaan tingkat pemahaman tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling merendahkan.

“Benih Firman harus bertumbuh sampai berakar kuat dalam kehidupan seseorang. Tidak cukup hanya mendengar Firman, tetapi Firman itu harus hidup, bertumbuh dan menghasilkan buah,” demikian penegasan PDTK.

Menghidupkan Firman Sampai ke Akar-akarnya

PDTK menjelaskan bahwa salah satu tujuan utama Persekutuan Doa Tubuh Kristus adalah menghidupkan Firman Tuhan sampai ke akar kehidupan umat.

Artinya, Firman tidak hanya disampaikan melalui khotbah atau pengajaran, tetapi diharapkan terlihat melalui kehidupan doa, pertobatan, kasih, kekudusan, kesatuan, ketaatan dan perubahan karakter.

Dalam pandangan PDTK, kehidupan rohani yang sejati tidak terutama ditentukan oleh nama organisasi maupun lambang pelayanan, melainkan oleh sejauh mana Firman Tuhan hidup dan menghasilkan buah dalam diri seseorang.

Karena itu, keberadaan dua nama dan dua logo diharapkan tidak menjadi sumber perpecahan, tetapi menjadi momentum untuk memperjelas identitas serta dasar pelayanan masing-masing secara bertanggung jawab.

Seruan Menjaga Kesatuan Umat

PDTK menyerukan kepada para tua-tua, hamba Tuhan dan seluruh umat agar tidak mudah terprovokasi oleh perbedaan nama, logo maupun tata pelayanan.

Penyelesaian setiap perbedaan hendaknya dilakukan melalui doa, Firman Tuhan, dialog, kasih dan penghormatan satu terhadap yang lain.

PDTK NEWS menegaskan pesan utama: dua logo boleh berbeda, dua nama dapat berbeda, bahkan pola pelayanan dapat berbeda, tetapi jangan sampai perbedaan itu menghuru-harakan umat Tuhan. Firman Tuhan harus menjadi dasar, dan damai sejahtera harus tetap dijaga.

PDTK NEWS — Nabire, Papua Tengah
“Menghidupkan Firman sampai ke akar-akarnya, bertumbuh dan menghasilkan buah.” mk

Rabu, 05 Agustus 2026

PERSEKUTUAN DOA TUBUH KRISTUS NABIRE GELAR RAPAT, BAHAS KEPEMIMPINAN DAN KEUTUHAN UMAT

 

Pertemuan digelar usai rangkaian kegiatan KKR di Meriam untuk membahas arah pelayanan Persekutuan Doa Tubuh Kristus Nabire, Wojokunu hingga Makataka

NABIRE, Papua Tengah — Para tua-tua Persekutuan Doa Tubuh Kristus Nabire, Wojokunu sampai Makataka menggelar pertemuan di Nabire, Rabu (5/8/2026). Pertemuan tersebut berlangsung setelah rangkaian kegiatan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) di Meriam dan menjadi ruang bersama untuk membahas sejumlah agenda penting terkait arah pelayanan serta keutuhan umat.

Dalam pertemuan itu, para tua-tua membahas dua pokok utama, yakni konsep kepemimpinan dalam Persekutuan Doa Tubuh Kristus serta persoalan baptisan air dan Perjamuan Kudus.

Struktur formal tidak menjadi fokus utama

Salah satu keputusan yang dibahas dalam pertemuan adalah rencana pembentukan struktur organisasi formal Persekutuan Doa Tubuh Kristus.

Para tua-tua menyampaikan pandangan bahwa Persekutuan Doa Tubuh Kristus tidak semata-mata dibangun berdasarkan struktur organisasi manusia, melainkan menempatkan Allah Bapa, Yesus Kristus, dan Roh Kudus sebagai pusat kepemimpinan dalam kehidupan persekutuan.

Sebagai bentuk pengaturan pelayanan, para tua-tua mempertimbangkan pengangkatan koordinator-koordinator berdasarkan karunia, pengetahuan, kemampuan, dan tanggung jawab pelayanan yang dimiliki masing-masing anggota.

Pandangan tersebut dikaitkan dengan pesan Yesus dalam Matius 23:5-10, yang antara lain mengingatkan umat agar tidak menjadikan gelar dan kedudukan manusia sebagai pusat kehidupan iman.

Dengan demikian, koordinasi pelayanan dipandang lebih sebagai kebutuhan untuk menjaga keteraturan dan kelancaran pelayanan, bukan sebagai pembentukan hierarki yang menempatkan manusia di atas kehendak Tuhan.

Baptisan air dan Perjamuan Kudus

Agenda kedua yang menjadi perhatian adalah persoalan baptisan air dan Perjamuan Kudus.

Dalam pembahasan tersebut, persoalan terkait pelaksanaan dan keputusan mengenai baptisan air serta Perjamuan Kudus kembali diserahkan kepada Hamba Tuhan Fredy Pekei dan Hamba Tuhan Yunus Giyai untuk dibicarakan dan dipertimbangkan lebih lanjut.

Langkah tersebut diarahkan untuk menjaga keutuhan umat, menghindari perbedaan yang dapat menimbulkan perpecahan, serta memastikan setiap keputusan pelayanan dilakukan dengan pertimbangan yang matang.

Para peserta pertemuan menekankan pentingnya mengutamakan kasih, persatuan, ketertiban, dan kepentingan umat dalam setiap keputusan yang berkaitan dengan kehidupan Persekutuan Doa Tubuh Kristus.

Mengedepankan persatuan umat

Pertemuan para tua-tua tersebut menjadi bagian dari proses konsolidasi pelayanan setelah kegiatan KKR di Meriam. Forum tersebut juga menjadi momentum untuk memperkuat komunikasi di antara para pelayan dan umat Persekutuan Doa Tubuh Kristus di wilayah Nabire, Wojokunu sampai Makataka.

Para tua-tua berharap setiap perbedaan pandangan mengenai tata kelola maupun pelayanan dapat diselesaikan melalui dialog, doa, dan kebersamaan dengan tetap menjadikan Tuhan sebagai pusat kehidupan persekutuan.

Dengan semangat tersebut, Persekutuan Doa Tubuh Kristus diharapkan terus bertumbuh sebagai wadah persekutuan yang mengedepankan iman, kasih, persaudaraan, dan keutuhan umat.

CATATAN FOTO:

Para tua-tua Persekutuan Doa Tubuh Kristus Nabire, Wojokunu sampai Makataka mengikuti rapat bersama di Nabire, Papua Tengah, Rabu (5/8/2026), usai rangkaian kegiatan KKR di Meriam. Pertemuan membahas arah pelayanan, koordinasi berdasarkan karunia, serta persoalan baptisan air dan Perjamuan Kudus demi menjaga keutuhan umat.

Kamis, 30 Juli 2026

KEBAKTIAN KEBANGUNAN ROHANI KKR WILAYAH MEEPAGO DI NABIRE

 


KKR Wilayah Meepago Hadirkan Semangat Persatuan, Doa, dan Harapan Baru bagi Papua Tengah. 

_______

NABIRE, Papua Tengah – Suasana penuh sukacita dan pengharapan mewarnai pelaksanaan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) Wilayah Meepago yang berlangsung di Nabire pada 30 Juli–1 Agustus 2026. Kegiatan rohani ini menghadirkan Ev. Jhon Kayame dari Merauke untuk melayani umat melalui pemberitaan Firman Tuhan dengan tema "Membuka Rahasia Eden dan Deklarasi Peniupan Sangkakala Ketujuh."

Sekretaris Umum Persekutuan Doa Tubuh Kristus (PDTK) Wilayah Meepago, Melkias Keiya, S.H., menyampaikan bahwa KKR bukan sekadar pertemuan ibadah, melainkan sebuah momentum untuk mempererat persaudaraan, membangun kasih, dan menumbuhkan harapan baru bagi masyarakat Papua Tengah.

> "Kami mengajak seluruh masyarakat, tanpa memandang latar belakang suku maupun status sosial, untuk datang bersama-sama mencari Tuhan. Melalui doa, pujian, penyembahan, dan firman-Nya, kita membangun kehidupan yang penuh kasih, damai, dan saling menghormati. Papua yang maju dimulai dari hati yang dipulihkan dan masyarakat yang hidup dalam persatuan," ujar Melkias Keiya, S.H.

Menurutnya, kehadiran Ev. Jhon Kayame dari Merauke merupakan kesempatan yang berharga bagi masyarakat untuk memperoleh penguatan iman dan motivasi dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Melkias Keiya berharap KKR Wilayah Meepago menjadi ruang bagi setiap orang untuk menemukan pengharapan, memperkuat hubungan dengan Tuhan, serta mempererat persaudaraan antarsesama. Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga kedamaian, kerukunan, dan semangat membangun Papua Tengah yang aman, harmonis, dan sejahtera.

"Mari datang bersama keluarga, sahabat, dan kerabat. Jadikan KKR Wilayah Meepago sebagai momen untuk mengalami pembaruan hidup, memperkuat iman, dan menyalakan semangat persatuan demi masa depan Papua yang damai, maju, dan diberkati Tuhan."

Senin, 27 Juli 2026

OPINI PUBLIK SPRITUAL.

 

Pengetahuan Baik dan Jahat Ada dalam Diri Manusia: Akal Budi Menentukan Pilihan

Setiap manusia dianugerahi akal budi untuk berpikir, memahami, dan mengambil keputusan. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia selalu diperhadapkan pada dua pilihan, yaitu melakukan kebaikan atau melakukan kejahatan. Keduanya dapat dipahami oleh akal manusia, tetapi keputusan akhir bergantung pada hati nurani, moral, dan tanggung jawab pribadi.

Pengetahuan tentang yang baik mengarahkan manusia kepada kasih, kejujuran, keadilan, dan kedamaian. Sebaliknya, pengetahuan tentang yang jahat dapat menyeret manusia kepada kebencian, kekerasan, keserakahan, dan tindakan yang merugikan sesama. Karena itu, akal bukanlah musuh manusia, melainkan alat yang harus dipimpin oleh nilai-nilai moral dan iman,pengharan dan kasih 1Kor 13:13.

Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi, masyarakat dituntut untuk semakin bijaksana dalam menggunakan akal budi. Kemampuan berpikir kritis harus disertai dengan integritas, sehingga setiap keputusan yang diambil membawa manfaat bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara.

Bangsa yang kuat bukan hanya dibangun oleh kecerdasan intelektual, tetapi juga oleh karakter yang menjunjung tinggi kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan. Oleh sebab itu, marilah kita menggunakan pengetahuan dan akal budi sebagai sarana untuk membangun perdamaian, memperkuat persatuan, serta menciptakan kehidupan yang lebih bermartabat bagi seluruh umat Tuhan.

Senin, 13 Juli 2026

KEPALA SUKU BESAR WILAYAH MEEPAGO:

HUKUM HARUS MENUNTUN MANUSIA KEPADA KASIH, KEBENARAN, DAN KEADILAN. 

Nabire, Papua Tengah — Kepala Suku Besar Wilayah Meepago Provinsi Papua Tengah, Melkias Keiya, S.H., menyampaikan pandangan moral dan rohani mengenai dasar-dasar hukum yang seharusnya menjadi pedoman dalam kehidupan manusia, agama, pemerintahan, serta kehidupan bermasyarakat.

Menurut Melkias Keiya, hukum tidak boleh hanya dipahami sebagai aturan tertulis yang mengatur dan menghukum manusia. Hukum harus menjadi jalan yang menuntun manusia kepada pengetahuan, kebenaran, kasih, kedamaian, dan keadilan.

Ia menjelaskan bahwa terdapat enam dasar hukum yang perlu dipahami dan dijalankan secara bertanggung jawab oleh setiap manusia.

Takut akan Tuhan Menjadi Dasar Kehidupan Anak Manusia

Melkias Keiya mengatakan bahwa hukum bagi anak manusia adalah takut akan Tuhan, sebagaimana tertulis dalam Amsal 1:7 bahwa takut akan Tuhan merupakan permulaan pengetahuan.

Menurutnya, takut akan Tuhan bukan berarti hidup dalam ketakutan yang membuat manusia menjauh dari Tuhan. Takut akan Tuhan berarti menghormati, menaati, dan menempatkan Tuhan sebagai dasar utama dalam setiap perkataan, tindakan, dan keputusan.

“Manusia yang memiliki rasa takut akan Tuhan akan berhati-hati dalam menggunakan kekuasaan, menjaga perkataannya, menghargai sesamanya, dan menjauhkan diri dari tindakan yang merugikan orang lain,” ujar Melkias Keiya.

Ia menegaskan bahwa pengetahuan tanpa takut akan Tuhan dapat melahirkan kesombongan, sementara kekuasaan tanpa rasa takut kepada Tuhan dapat berubah menjadi alat penindasan.

Sepuluh Firman Menjadi Pedoman Moral Kehidupan Beragama

Dalam kehidupan keagamaan, Melkias Keiya menyebut Sepuluh Firman Tuhan yang disampaikan melalui Musa, sebagaimana tertulis dalam Kitab Keluaran pasal 20, sebagai pedoman moral yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan sesamanya.

Sepuluh Firman tersebut mengajarkan manusia untuk setia kepada Tuhan, menghormati nama-Nya, menghormati orang tua, menjaga kehidupan, menjauhi perzinahan, tidak mencuri, tidak bersaksi dusta, serta tidak mengingini milik sesama.

Menurutnya, Sepuluh Firman tidak boleh hanya dibaca atau dihafal dalam kegiatan keagamaan, tetapi harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.

“Agama harus menghasilkan manusia yang jujur, bermoral, menghargai kehidupan, menjaga keluarga, dan menghormati hak-hak sesama manusia,” katanya.

Manusia Dilarang Menghujat Roh Kudus

Melkias Keiya juga menegaskan pentingnya menghormati pekerjaan Roh Kudus. Ia merujuk pada Markus 3:29 dan Lukas 12:10 yang memperingatkan manusia agar tidak menghujat Roh Kudus.

Menurutnya, Roh Kudus bekerja untuk menyadarkan manusia dari dosa, membimbing manusia kepada kebenaran, membentuk kehidupan yang kudus, serta memberikan kekuatan untuk melakukan kehendak Tuhan.

Menghujat Roh Kudus, lanjutnya, berarti dengan sadar menolak, menghina, atau melawan pekerjaan Roh Tuhan, sekalipun seseorang telah mengetahui kebenaran.

“Manusia harus membuka hati terhadap teguran Roh Kudus, hidup dalam pertobatan, dan membiarkan Roh Tuhan membimbing kehidupannya menuju kebenaran dan kekudusan,” tegasnya.

Hukum Yesus Kristus adalah Mengasihi Tuhan dan Sesama

Lebih lanjut, Melkias Keiya menjelaskan bahwa hukum utama yang diajarkan Tuhan Yesus Kristus adalah mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap akal budi, serta mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri.

Ajaran tersebut tertulis dalam Matius 22:37–40 dan menjadi rangkuman dari seluruh hukum Tuhan.

Menurutnya, kasih kepada Tuhan tidak cukup dinyatakan melalui doa, ibadah, nyanyian, atau perkataan. Kasih kepada Tuhan harus dibuktikan melalui ketaatan, kesetiaan, kejujuran, kesucian hidup, dan tindakan nyata kepada sesama.

“Manusia tidak dapat mengaku mengasihi Tuhan apabila masih membenci, merendahkan, menindas, atau menyakiti sesamanya,” ujar Melkias Keiya.

Ia mengatakan bahwa kasih kepada sesama harus diwujudkan dengan menolong masyarakat yang lemah, mengampuni orang yang bersalah, menjaga persaudaraan, menghormati martabat manusia, serta menyelesaikan konflik dengan cara damai.

Hukum Tuhan Ugatame adalah Kasih

Melkias Keiya menegaskan bahwa hukum tertinggi dari Tuhan Ugatame adalah kasih, sebagaimana tertulis dalam 1 Yohanes 4:8 bahwa Allah adalah kasih.

Menurutnya, kasih Tuhan tidak membedakan manusia berdasarkan suku, golongan, jabatan, kekayaan, kekuasaan, maupun latar belakang sosial.

Kasih Tuhan merupakan kasih yang murni, benar, adil, memulihkan, dan menyelamatkan. Kasih tersebut harus menjadi dasar dalam kehidupan keluarga, gereja, masyarakat adat, pemerintahan, dan kehidupan berbangsa.

“Kasih bukanlah kelemahan. Kasih adalah kekuatan yang mampu menghentikan kebencian, mendamaikan permusuhan, menyembuhkan luka, dan memulihkan hubungan yang telah rusak,” katanya.

Ia menambahkan bahwa tanpa kasih, agama dapat kehilangan makna, pengetahuan dapat melahirkan kesombongan, hukum dapat menjadi alat penindasan, dan kekuasaan dapat digunakan untuk kepentingan pribadi.

Pemerintah Harus Berdiri Adil dan Tidak Berpihak pada Satu Kepentingan

Dalam kehidupan pemerintahan, Melkias Keiya menegaskan bahwa pemerintah tidak boleh menetap atau berpihak hanya pada satu sisi, satu kelompok, satu suku, satu golongan, maupun satu kepentingan tertentu.

Pemerintah, menurutnya, harus berdiri sebagai pelayan seluruh rakyat dan menjalankan kekuasaan berdasarkan kebenaran, keadilan, kesetaraan, kepastian hukum, serta kepentingan umum.

“Tidak berpihak bukan berarti pemerintah diam terhadap ketidakadilan. Pemerintah wajib berpihak kepada kebenaran, melindungi korban, membela masyarakat yang lemah, dan menindak setiap pelanggaran hukum secara adil,” tegasnya.

Ia meminta agar hukum diterapkan secara setara kepada semua pihak, baik pejabat maupun masyarakat biasa, orang kaya maupun miskin, kelompok mayoritas maupun kelompok kecil.

Menurutnya, keberpihakan pemerintah kepada satu kepentingan dapat menghancurkan kepercayaan masyarakat, menimbulkan kecemburuan sosial, memperbesar konflik, dan melemahkan persatuan.

Sebaliknya, pemerintah yang berdiri di atas keadilan akan melahirkan rasa aman, ketertiban, persatuan, dan kepercayaan rakyat.

Seruan Moral bagi Masyarakat dan Pemerintah

Melkias Keiya mengajak masyarakat Papua Tengah, khususnya masyarakat di Wilayah Meepago, untuk menjadikan takut akan Tuhan, ketaatan kepada firman, penghormatan terhadap Roh Kudus, kasih kepada sesama, serta keadilan sebagai dasar kehidupan bersama.

Ia juga menyerukan kepada para pemimpin agama, tokoh adat, aparatur pemerintah, aparat keamanan, dan seluruh elemen masyarakat agar tidak menggunakan hukum, agama, jabatan, maupun kekuasaan untuk kepentingan pribadi atau kelompok.

“Takut akan Tuhan harus melahirkan hikmat. Firman Tuhan harus membentuk moral. Roh Kudus harus menuntun manusia kepada kebenaran. Ajaran Yesus Kristus harus menghasilkan kasih. Pemerintah harus menghadirkan keadilan bagi seluruh rakyat,” ujarnya.

Melkias Keiya berharap enam dasar hukum tersebut dapat menjadi pesan moral untuk membangun kehidupan yang damai, adil, bermartabat, dan penuh kasih di Papua Tengah serta di seluruh Indonesia.

“Apabila manusia takut akan Tuhan, hidup dalam kasih, menghargai sesama, dan pemerintah menegakkan keadilan tanpa pilih kasih, maka masyarakat akan hidup dalam kedamaian, persatuan, keamanan, dan kesejahteraan,” tutup Kepala Suku Besar Wilayah Meepago Provinsi Papua Tengah, Melkias Keiya, S.H.

Sabtu, 11 Juli 2026

KASIH TUHAN UGATAME BAGI MANUSIA


Kasih Tuhan Ugatame adalah kasih yang menciptakan, menyelamatkan, membenarkan, menguduskan, dan mempersiapkan manusia untuk menjalankan kehendak-Nya. Sejak awal penciptaan sampai pada kehidupan manusia pada akhir zaman, kasih Tuhan Ugatame tidak pernah berhenti bekerja.

Jumat, 10 Juli 2026

Persekutuan Doa Tubuh Kristus Gelar Ibadah Kebangunan Rohani di Uwamani.


PANIAI, PAPUA TENGAH — Persekutuan Doa Tubuh Kristus menggelar Ibadah Kebangunan Rohani di Uwamani, Kabupaten Paniai, Provinsi Papua Tengah, pada 7–9 Juli 2026. Kegiatan tersebut mengangkat tema “Kasih Tuhan Ugatame untuk Manusia.”


Ibadah ini menjadi momentum bagi umat Tuhan untuk bersatu dalam doa, pujian, penyembahan, pertobatan, dan perenungan Firman Tuhan. Peserta diajak memperbarui kehidupan iman serta membangun hubungan yang lebih dekat dengan Tuhan dan sesama manusia.


Dasar Firman Tuhan dalam kegiatan ini diambil dari Yohanes 7:39, yang menjelaskan tentang Roh Kudus yang akan diterima oleh setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus. Melalui Firman tersebut, umat diingatkan bahwa kehidupan orang percaya harus dipimpin, dikuatkan, dan diperbarui oleh Roh Kudus.



Tema “Kasih Tuhan Ugatame untuk Manusia” menegaskan bahwa kasih Tuhan diberikan kepada semua manusia tanpa membedakan suku, bahasa, daerah, kedudukan, maupun latar belakang kehidupan. Kasih Tuhan harus diwujudkan melalui sikap saling mengasihi, mengampuni, menghormati, menolong, dan menjaga perdamaian.


Persekutuan Doa Tubuh Kristus juga mengajak umat untuk meninggalkan kebencian, dendam, iri hati, kekerasan, dan segala tindakan yang merusak persatuan. Sebaliknya, umat diharapkan menghasilkan buah kehidupan berupa kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri.


Ibadah Kebangunan Rohani di Uwamani tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi menjadi panggilan untuk mengalami perubahan hidup yang nyata. Kebangunan rohani harus dimulai dari dalam hati, kemudian diwujudkan dalam kehidupan keluarga, gereja, masyarakat, dan lingkungan sekitar.



Melalui kegiatan ini, Persekutuan Doa Tubuh Kristus berharap Roh Kudus memulihkan masyarakat Uwamani, Kabupaten Paniai, serta seluruh wilayah Papua Tengah. Umat juga berdoa agar Tuhan memberikan keselamatan, kesembuhan, penghiburan, persatuan, dan damai sejahtera bagi Tanah Papua.


Kasih Tuhan Ugatame memulihkan manusia, Roh Kudus memperbarui kehidupan, dan persatuan umat menjadi kekuatan untuk membangun Papua yang damai dan bermartabat.

YESUS KRISTUS BERGELAR JURUSELAMAT MANUSIA, DAN ANAK MANUSIA BERGELAR JURUMERDEKA.

PDTK NEWS — Dalam iman Kristen, Yesus Kristus dikenal sebagai Juruselamat manusia. Ia datang ke dunia untuk membawa keselamatan, pengampunan dosa, pemulihan hidup, dan pengharapan bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya.

Keselamatan yang dibawa oleh Yesus Kristus bukan hanya menyentuh kehidupan jasmani, tetapi terutama membebaskan manusia dari kuasa dosa, ketakutan, kebencian, dan kematian. Melalui kasih, pengorbanan, kematian, dan kebangkitan-Nya, manusia memperoleh jalan untuk kembali berdamai dengan Allah.

Dalam pemahaman dan pelayanan Persekutuan Doa Tubuh Kristus, istilah “Jurumerdeka” digunakan sebagai seruan iman tentang pembebasan manusia. Jurumerdeka menggambarkan panggilan untuk membawa manusia keluar dari berbagai bentuk perhambaan, penderitaan, ketidakadilan, kebodohan, kemiskinan, ketakutan, dan perpecahan.

Yesus Kristus sebagai Juruselamat manusia menjadi sumber keselamatan, sedangkan gelar Jurumerdeka menegaskan karya pembebasan yang menghadirkan kasih, keadilan, perdamaian, dan kemerdekaan sejati dalam kehidupan manusia.

Kemerdekaan sejati bukan berarti hidup tanpa aturan, melainkan hidup bebas dari dosa dan kejahatan, lalu berjalan dalam kebenaran, kasih, dan takut akan Tuhan. Manusia yang telah dimerdekakan dipanggil untuk menghormati sesama, menjaga perdamaian, membela yang lemah, serta membawa terang Tuhan di tengah masyarakat.

Sebagaimana tertulis dalam Yohanes 8:36, apabila Anak itu memerdekakan manusia, maka manusia benar-benar merdeka. Karena itu, umat Tuhan diajak untuk tetap percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat, sekaligus menjadi pembawa kabar pembebasan, perdamaian, dan pemulihan bagi tanah dan bangsa.

Yesus Kristus adalah Juruselamat manusia. Anak Manusia bergelar Jurumerdeka.

Keselamatan membawa kehidupan, dan kemerdekaan menghadirkan perdamaian.


PDTK NEWS

Persekutuan Doa Tubuh Kristus

Jumat, 01 Mei 2026

Dunia ini tidak runtuh dalam satu hari.

 

Dunia ini tidak runtuh dalam satu hari. Ia perlahan tenggelam—dimulai dari dua hal yang tampak “kecil”, tetapi sesungguhnya paling berbahaya: kesombongan dan penipuan.

Kisah lama dalam Kitab Kejadian mengingatkan kita bahwa sebelum manusia jatuh, sudah ada pemberontakan di hadapan Tuhan. Kesombongan membuat ciptaan ingin melampaui Penciptanya. Dari situlah akar dosa mulai tumbuh—keinginan untuk berdiri tanpa Tuhan, merasa cukup dengan diri sendiri.

Lalu datang penipuan. Ular menyesatkan Hawa dengan kata-kata yang tampak benar, tetapi sebenarnya memutarbalikkan kebenaran. Sejak saat itu, manusia bukan hanya jatuh—tetapi juga hidup dalam kebingungan antara yang benar dan yang salah.

Hari ini, kita melihat pola yang sama terus berulang.

Kesombongan hadir dalam bentuk kekuasaan tanpa hati nurani, merasa paling benar, menutup telinga dari kebenaran.
Penipuan hadir dalam kata-kata yang indah tetapi kosong, janji yang tidak ditepati, dan kebenaran yang sengaja dibengkokkan.

Tanpa kita sadari, dua hal ini tidak hanya merusak individu—tetapi juga menghancurkan masyarakat, bahkan bangsa.

Pertanyaannya bukan lagi “di mana dosa itu berada?”
Tetapi: apakah dua hal ini juga sedang hidup dalam diri kita?

Karena perubahan dunia tidak dimulai dari luar.
Ia dimulai dari hati yang mau merendahkan diri di hadapan Tuhan, dan keberanian untuk hidup dalam kebenaran.

Jika kesombongan adalah akar kejatuhan,
maka kerendahan hati adalah awal pemulihan.
Jika penipuan merusak dunia,
maka kejujuran adalah jalan untuk memulihkannya.

Mari kembali kepada kebenaran—sebelum semuanya terlambat.

Minggu, 12 April 2026

Papua: Dari Eden ke Krisis Ekologis dan Kemanusiaan

 Papua: Dari Eden ke Krisis Ekologis dan Kemanusiaan

Papua sejak awal dikenal sebagai “Eden” di timur Indonesia—sebuah ruang ekologis yang kaya, sekaligus ruang hidup yang membentuk peradaban manusia Papua dalam relasi yang harmonis antara alam, budaya, dan spiritualitas.

Namun dalam beberapa dekade terakhir, paradigma pembangunan yang bertumpu pada ekstraksi sumber daya telah menggeser keseimbangan tersebut. Kebijakan yang berorientasi pada eksploitasi—baik melalui pertambangan, pembukaan hutan skala besar, maupun proyek-proyek yang minim partisipasi masyarakat adat—telah mempercepat degradasi ekologis di Tanah Papua.

Kerusakan ini bukan sekadar isu lingkungan. Ia berkelindan langsung dengan krisis kemanusiaan. Ketika tanah kehilangan daya hidupnya, masyarakat adat kehilangan ruang identitasnya. Ketika hutan hilang, nilai-nilai sosial ikut tergerus. Akibatnya, muncul disorientasi sosial: konflik meningkat, solidaritas melemah, dan manusia semakin jauh dari nilai-nilai kemanusiaannya sendiri.

Dalam konteks ini, persoalan Papua tidak dapat disederhanakan sebagai isu keamanan atau pembangunan semata. Ini adalah persoalan struktural yang menyangkut keadilan ekologis, pengakuan hak masyarakat adat, dan kegagalan kebijakan dalam menempatkan manusia Papua sebagai subjek utama pembangunan.

Oleh karena itu, diperlukan koreksi mendasar:
reorientasi kebijakan dari eksploitasi menuju keberlanjutan,
dari sentralisasi menuju partisipasi masyarakat adat,
dan dari pendekatan kekuasaan menuju pendekatan kemanusiaan.

Papua bukan tanah kosong yang bebas dikeruk,
dan orang Papua bukan objek pembangunan.

Papua adalah tanah kehidupan, dan orang Papua adalah manusia yang harus dihormati martabatnya.

— Melkias Keiya
Kepala Suku Besar Wilayah Meepago
Provinsi Papua Tengah

Jumat, 16 Januari 2026

MASALAH ADAT ADALAH MASALAH SURGA


MASALAH ADAT ADALAH MASALAH SURGA

Masalah adat bukan sekadar persoalan budaya, kebiasaan leluhur, atau kepemilikan tanah. Masalah adat adalah masalah surga, karena adat berasal dari kehendak Tuhan sendiri dan berakar langsung pada tatanan ilahi sejak awal penciptaan.

Alkitab mencatat bahwa surga telah lebih dahulu “diadatkan” oleh Tuhan ketika Ia menciptakan manusia pertama, Adam dan Hawa, lalu menempatkan mereka di Taman Eden:

“TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.”

(Kejadian 2:15)

Di Taman Eden, Tuhan tidak hanya menciptakan ruang hidup, tetapi juga menetapkan tatanan hidup: hukum ketaatan, nilai kesucian, kerja, tanggung jawab, relasi yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam. Inilah dasar dari adat ilahi yang murni, yang menjadi fondasi kehidupan manusia di bumi.

Tuhan memberikan batas, aturan, dan hukum sebagai bentuk kasih-Nya:

“Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya.”

(Kejadian 2:16–17)

Adat, dalam pengertian ini, bukan ciptaan manusia semata, melainkan cerminan kehendak Allah yang mengatur kehidupan agar tetap seimbang, adil, dan kudus.

Namun, surga itu kemudian dirusakkan oleh pendatang.

Siapakah pendatang itu?

Pendatang yang dimaksud bukanlah manusia lain secara jasmani, melainkan kelakuan-kelakuan yang dibenci oleh Tuhan. Ketidaktaatan, keserakahan, dusta, kekerasan, penindasan, dan pelanggaran terhadap hukum Allah masuk sebagai “orang asing” dalam tatanan adat Tuhan.

Alkitab menegaskan bahwa ketidaktaatan manusia membuka pintu bagi kerusakan:

“Tetapi pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya… lalu ia mengambil buahnya dan memakannya.”

(Kejadian 3:6)

Sejak saat itulah dosa masuk dan merusak keseimbangan. Relasi manusia dengan Tuhan rusak, relasi manusia dengan sesama menjadi penuh konflik, dan relasi manusia dengan alam berubah menjadi eksploitasi dan penderitaan:

“Terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu.”

(Kejadian 3:17)

Kelakuan-kelakuan yang dibenci Tuhan inilah yang disebut sebagai pendatang, karena mereka tidak berasal dari kehendak Allah, melainkan menyusup dan menghancurkan adat ilahi yang telah ditetapkan sejak semula.

Tuhan sendiri menyatakan dengan tegas hal-hal yang Ia benci:

“Enam perkara ini yang dibenci TUHAN, bahkan tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya: mata sombong, lidah dusta, tangan yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah, hati yang merancang rencana jahat, kaki yang cepat lari menuju kejahatan, saksi dusta yang meniupkan kebohongan, dan orang yang menimbulkan pertengkaran saudara.”

(Amsal 6:16–19)

Ketika kelakuan-kelakuan ini masuk, adat rusak, tanah dirusak, hak masyarakat adat dirampas, dan konflik terus berulang. Inilah sebabnya mengapa setiap persoalan adat sejatinya bukan hanya persoalan budaya atau hukum positif, melainkan persoalan rohani dan surgawi.

Alkitab mengingatkan bahwa bumi dan segala isinya adalah milik Tuhan:

“Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya.”

(Mazmur 24:1)

Karena itu, ketika adat dirusak, yang dilukai bukan hanya manusia, tetapi kehendak Tuhan itu sendiri. Sebaliknya, ketika adat dipulihkan, yang dipulihkan adalah jalan manusia kembali kepada kehendak Allah.

Pemulihan adat adalah bagian dari pemulihan rohani:

“Ia telah memberitahukan kepadamu, hai manusia, apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN daripadamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?”

(Mikha 6:8)

Adat dan iman tidak bertentangan. Adat yang benar adalah adat yang sejalan dengan kehendak Tuhan, menjaga kehidupan, menghormati martabat manusia, dan memelihara ciptaan. Gereja dan masyarakat adat dipanggil untuk berjalan bersama, menjaga kesucian adat, menolak kelakuan yang dibenci Tuhan, serta menghadirkan nilai-nilai Kerajaan Allah di atas tanah ini.

Sebagaimana doa Tuhan Yesus:

“Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.”

(Matius 6:10)

Menjaga adat berarti menjaga kehendak Tuhan di bumi.

Membela adat berarti membela nilai-nilai surga.

Dan memulihkan adat berarti menghadirkan kembali keharmonisan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Adat dijaga, iman ditegakkan, dan nama Tuhan dipermuliakan di atas tanah ini.

Ada Dua Versi Doa dalam Kehidupan Masyarakat


Ada Dua Versi Doa dalam Kehidupan Masyarakat


1. Doa Adat

Doa adat adalah doa yang berlandaskan pada kurban bakaran dan kerja nyata, bukan doa yang dilakukan sebelum ada usaha. Dalam adat, tenaga, keringat, dan kerja keras merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari doa itu sendiri. Karena itu, doa adat dilakukan setelah pekerjaan fisik berhasil diselesaikan, sebagai ungkapan syukur dan penghormatan kepada leluhur serta Tuhan Pencipta alam.

Prinsip ini sejalan dengan firman Tuhan yang menegaskan bahwa berkat mengikuti kerja dan usaha manusia:

“Siapa mengerjakan tanahnya, akan kenyang dengan makanan.”
(Amsal 12:11)

Doa adat biasanya dilakukan dalam konteks:
a. Sebelum dan setelah membangun rumah, setelah seluruh proses kerja keras selesai dan rumah dapat ditempati.
b. Sebelum dan setelah membuka kebun baru, setelah tanah dibersihkan, ditanami, dan hasil mulai terlihat.

Hal ini juga sejalan dengan firman Tuhan:

“Jika bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya.”
(Mazmur 127:1)

Dengan demikian, doa adat menegaskan bahwa berkat datang setelah kerja, dan doa menjadi pengakuan bahwa keberhasilan tidak lepas dari campur tangan Tuhan.


2. Doa Agama

Doa agama mengajarkan bahwa berdoa wajib dilakukan sebelum melakukan setiap kegiatan, sebagai bentuk penyerahan diri dan permohonan tuntunan kepada Tuhan.

“Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka terlaksanalah segala rencanamu.”
(Amsal 16:3)

Namun dalam praktik kehidupan, sering kali manusia rajin berdoa saat meminta, tetapi lalai berdoa setelah berkat itu dinikmati. Karena itulah firman Tuhan menegur sikap ini dengan jelas:

“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu.”
(Matius 7:7)

Tetapi Tuhan juga menghendaki ucapan syukur setelah menerima:

“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah.”
(1 Tesalonika 5:18)

Yesus sendiri menegur orang yang lupa mengucap terima kasih setelah menerima berkat:

“Tidakkah kesepuluh orang itu telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan itu?”
(Lukas 17:17)

Firman ini menegaskan bahwa:

Banyak orang pintar memohon, tetapi tidak tahu mengucap terima kasih.


Kesimpulan

Doa adat dan doa agama memiliki pendekatan yang berbeda, tetapi saling melengkapi.
Doa adat menekankan kerja nyata dan syukur setelah berhasil, sedangkan doa agama menekankan penyerahan diri sebelum bekerja dan ucapan syukur setelah menerima berkat.

Keduanya mengajarkan satu nilai utama:
iman tanpa perbuatan adalah mati, dan perbuatan tanpa ucapan syukur adalah kesombongan.

“Iman tanpa perbuatan adalah mati.”
(Yakobus 2:26)

Selasa, 26 Agustus 2025

Sekilas Info Rohani:

Yesus Kristus Datang Sebagai Manusia dan Anak Manusia Jurumerdeka


Papua Tengah Nabire 26 Agustus 2925– Dalam perjalanan iman umat Kristen, kebenaran tentang kedatangan Yesus Kristus sebagai manusia menjadi dasar yang tidak dapat diganggu gugat. Firman Tuhan dengan jelas menegaskan bahwa siapa saja yang tidak mengakui Yesus datang ke dunia sebagai manusia adalah penyesat, bahkan antikristus.

Dasar Firman Tuhan:

1. 1 Yohanes 4:2 – “Setiap roh yang mengaku Yesus datang sebagai manusia, berasal dari Allah.”

2. 2 Yohanes 1:7 – “Sebab banyak penyesat telah muncul dan tidak mengaku bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia. Itu adalah penyesat dan antikristus.”

3. Lukas 21:27 – “Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kuasa dan kemuliaan-Nya.”

4. Daniel 7:13 – “Tampak seorang seperti Anak Manusia datang dengan awan-awan.”

5. Matius 24:30 – “Maka akan tampak tanda Anak Manusia di langit dan semua bangsa akan melihat Dia datang dengan kuasa besar dan kemuliaan.”

Makna bagi Umat Tuhan

Melalui ayat-ayat ini, jelaslah bahwa:

Pada kedatangan pertama-Nya, Yesus Kristus benar-benar datang sebagai manusia, hidup di tengah dunia, mati di kayu salib, dan bangkit untuk menyelamatkan manusia.

Pada kedatangan kedua-Nya kelak, Ia akan kembali sebagai Roh Kristus Yesus menjelma menjadi Anak Manusia yang mulia, Juruselamat dan Hakim yang adil, datang dengan awan-awan di langit untuk memerdekakan umat-Nya.

Pertanyaan Iman di Tanah Papua

Bagi umat Tuhan Persekutuan Doa Tubuh Kristus, pesan ini menjadi pengharapan besar. Firman Tuhan memberi isyarat akan hadirnya Anak Manusia Jurumerdeka – sebuah gelar yang mengingatkan kita kepada Kristus, namun juga menimbulkan pertanyaan iman:

Siapakah yang dipersiapkan Tuhan di akhir zaman sebagai tanda kehadiran-Nya di atas tanah Papua?

Pertanyaan ini bukan untuk diperdebatkan, melainkan untuk direnungkan dengan hati yang rendah di hadapan Tuhan. Sebab hanya Allah yang berdaulat mengutus dan menyatakan pekerjaan-Nya, baik melalui Kristus sendiri yang akan datang kembali, maupun melalui utusan, hamba, atau pemimpin yang dipakai-Nya bagi kebangkitan rohani umat di tanah Papua.

Penutup

Sekilas Info Rohani ini mengingatkan bahwa iman kepada Yesus Kristus sebagai Anak Allah dan Anak Manusia adalah kebenaran yang tidak bisa ditawar. Di tengah banyaknya penyesat dan pengajaran yang menyesatkan, umat Tuhan dipanggil untuk berjaga, berdoa, dan setia menantikan kedatangan-Nya.

Kiranya tanah Papua diberkati Tuhan, dan seluruh umat diteguhkan dalam pengharapan kepada Yesus Kristus, Anak Manusia Jurumerdeka, yang akan datang kembali dengan kuasa dan kemuliaan besar. <<Keiyam>>


Jumat, 04 April 2025

PERBANDINGAN ANTARA AGAMA KRISTEN DAN PERSEKUTUAN DOA TUBUH KRISTUS (PDTK-METOMA)

A. Tentang Gereja

  • Kristen: Beribadah di kuil atau gereja buatan tangan manusia (Ibrani 9:24).
  • PDTK-METOMA: Beribadah di perkemahan dan lapangan terbuka (Ibrani 8:2, Amsal 5:16).

B. Pimpinan Gereja

  • Kristen: Dipimpin oleh kepausan hingga gembala jemaat, tetapi Yesus memperingatkan tentang ajaran manusia (Matius 15:9, Markus 7:7, Efesus 4:14, Kolose 2:22).
  • PDTK-METOMA: Mengakui hanya satu pemimpin, yaitu Ugatame, Yesus Kristus, dan Roh Kudus (Matius 23:10).

C. Teologi

  • Kristen: Firman Tuhan hanya boleh dibawakan oleh mereka yang berpendidikan teologi.
  • PDTK-METOMA: Berdasarkan karunia jawatan, Roh Tuhan berkuasa atas orang-orang pilihan (1 Samuel 10:6).

D. Iman

  • Kristen: Iman sering hanya dalam bentuk mendengar tanpa tindakan (Matius 13:13-14, Yakobus 2:20, Yakobus 2:26).
  • PDTK-METOMA: Ibadah selalu disertai pujian, penyembahan, ratapan, doa, puasa, dan kesaksian (Yohanes 7:30, Yohanes 4:23-24, Ibrani 5:7, Wahyu 21:4, Yoel 2:12, Yohanes 3:33).

E. Khotbah

  • Kristen: Khotbah cukup dibawakan oleh satu orang hamba Tuhan (Matius 15:9, Markus 7:7, Efesus 4:14, Kolose 2:22).
  • PDTK-METOMA: Khotbah disampaikan berdasarkan karunia marifat oleh berbagai jawatan seperti gembala, penginjil, rasul, guru, dan nabiah (Efesus 4:11-12).

F. Doa

  • Kristen: Berdoa biasa tanpa harus panjang (Matius 6:7).
  • PDTK-METOMA: Berdoa dengan puasa, menangis, dan mengaduh (Matius 17:21, Yoel 2:12-13).

G. Alkitab

  • Kristen: Menggunakan seluruh Alkitab (Perjanjian Lama dan Baru).
  • PDTK-METOMA: Fokus pada kata-kata Yesus Kristus dalam Concordance.

H. Baptisan

  • Kristen: Ada baptisan percik (Katolik) dan baptisan selam (Protestan).
  • PDTK-METOMA: Percaya pada tiga jenis baptisan: baptisan air, Roh Kudus, dan api (Matius 3:11).

I. Perjamuan

  • Kristen: Perjamuan menggunakan sloki anggur dan roti.
  • PDTK-METOMA: Perjamuan kasih berupa makan bersama (Matius 22:39, Yudas 1:12).

J. Pernikahan

  • Kristen: Pernikahan berdasarkan tradisi maskawin dan pemberkatan gereja.
  • PDTK-METOMA: Mencontoh pernikahan Adam dan Hawa di Taman Eden.

K. Persepuluhan dan Sedekah

  • Kristen: Ada persepuluhan, kolekte, dan amplop untuk gaji hamba Tuhan.
  • PDTK-METOMA: Memberikan sedekah dan aksi sosial tanpa paksaan (Matius 6:3-4, Kisah Para Rasul 3:2-3).

L. Hukum

  • Kristen: Mengikuti 10 Perintah Allah (Keluaran 20:1-17).
  • PDTK-METOMA: Mengikuti 2 Hukum Kasih (Matius 22:37-40).

M. Hari Ibadah

  • Kristen:
    • Hari ke-7 Sabat (Sabtu) → Yahudi
    • Hari ke-1  Minggu → Kristen
    • Semua Hari untuk Tuhan →PDTK
  • PDTK-METOMA: Beribadah setiap hari (Kisah Para Rasul 5:42).

N. Natal

  • Kristen: Merayakan Natal pada 25 Desember, yang ditetapkan oleh Gereja abad ke-4.
  • PDTK-METOMA: Tidak merayakan Natal karena jemaat mula-mula tidak merayakannya.(Wahyu 2:6,15)

Catatan

Perbandingan ini menunjukkan bahwa PDTK-METOMA menekankan ibadah yang lebih langsung kepada Tuhan, dengan penekanan pada pujian, penyembahan, doa, dan puasa yang mendalam. Sementara itu, Kristen tradisional mengikuti struktur gereja yang lebih formal dengan aturan-aturan yang telah berlangsung lama.


 

PDTK NEWS EDISI PEWAHYUAN FIRMAN

Topik: Jangan Mengurangi & Jangan Menambahkan Firman Tuhan

Nabire, PDTK News – Dalam terang doa dan pewahyuan Roh Kudus, Persekutuan Doa Tubuh Kristus menyampaikan peringatan serius bagi seluruh umat, khususnya para pelayan mimbar dan penanggung jawab pengajaran. Di akhir zaman ini, kecenderungan untuk memutar, mengurangi, atau menambahkan Firman Tuhan mulai terlihat di berbagai tempat pelayanan.


1. Pengurangan Firman Tuhan: Tanda Hati Takut kepada Manusia

Pengurangan Firman Tuhan terjadi ketika kebenaran ditahan atau disembunyikan karena dianggap terlalu keras, tidak populer, atau menyakitkan hati. Pelayanan hanya menonjolkan kasih dan berkat jasmani, sementara bagian mengenai penghakiman, pertobatan, salib, dan kekudusan disingkirkan.

Contoh konkret:

  • Menolak mengajar tentang neraka atau murka Tuhan.
  • Tidak menyampaikan panggilan untuk bertobat dan meninggalkan dosa.
  • Menghindari ayat-ayat tentang pengudusan, padahal itu adalah inti kehidupan orang percaya.

Firman Tuhan berkata dalam Ulangan 4:2:
"Janganlah kamu menambahi apa yang kuperintahkan kepadamu dan janganlah kamu menguranginya."

Dan dalam Wahyu 22:19 ditegaskan:
"Jika seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan."

2. Penambahan Firman Tuhan: Jalan Celaka dan Penyesatan

Penambahan Firman Tuhan terjadi ketika seseorang menambah ajaran atau tafsiran yang tidak tertulis dalam Alkitab, atau menyamakan mimpi, tradisi manusia, dan penglihatan pribadi dengan otoritas Firman Tuhan. Hal ini membuka celah bagi roh penyesat bekerja di tengah umat.

Contoh nyata:

  • Mengajarkan hal-hal yang tidak tertulis dengan berkata: “Tuhan berbicara secara pribadi, jadi tidak perlu Alkitab.”
  • Menyisipkan doktrin dari luar Kekristenan, lalu diklaim sebagai bagian dari pengajaran Injil.
  • Memberi tafsiran yang tidak sesuai konteks demi pembenaran perilaku pribadi atau kelompok.

Firman Tuhan mengingatkan dalam Amsal 30:6:
"Jangan menambahi firman-Nya, supaya engkau tidak ditegur-Nya dan dianggap pendusta."

Dan Wahyu 22:18 berkata:
"Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan kitab ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini."

3. Pesan Roh Kudus bagi Persekutuan Doa Tubuh Kristus

Dalam perenungan malam dan pelayanan syafaat, Tuhan menyatakan:
“Barangsiapa menyentuh Firman-Ku dengan tangan daging, ia telah mencemari kekudusan-Ku. Tapi yang menyampaikannya dengan hati yang takut akan Aku, kepadanya Aku akan curahkan pengurapan dan kuasa.”

Karena itu, Persekutuan Doa Tubuh Kristus menyerukan agar seluruh pelayan Tuhan:

  • Mengajarkan Firman Tuhan secara utuh, dari Kejadian sampai Wahyu.
  • Tidak menyaring Firman berdasarkan selera manusia.
  • Tidak menambahi Firman demi popularitas atau kuasa pribadi.
  • Membiarkan Roh Kudus sendiri yang bekerja melalui kebenaran murni.

Deklarasi PDTK:
Kami tidak akan mengurangi ataupun menambahkan Firman Tuhan. Kami akan memberitakan apa yang tertulis, dan menghidupinya dengan rasa takut akan Tuhan, demi kemuliaan Yesus Kristus, Sang Firman yang hidup.


Redaksi PDTK News
Disunting oleh: Sekretariat Umum Persekutuan Doa Tubuh Kristus
Disetujui oleh: Kepala Suku Besar Meepago, Provinsi Papua Tengah