Minggu, 12 April 2026

Papua: Dari Eden ke Krisis Ekologis dan Kemanusiaan

 Papua: Dari Eden ke Krisis Ekologis dan Kemanusiaan

Papua sejak awal dikenal sebagai “Eden” di timur Indonesia—sebuah ruang ekologis yang kaya, sekaligus ruang hidup yang membentuk peradaban manusia Papua dalam relasi yang harmonis antara alam, budaya, dan spiritualitas.

Namun dalam beberapa dekade terakhir, paradigma pembangunan yang bertumpu pada ekstraksi sumber daya telah menggeser keseimbangan tersebut. Kebijakan yang berorientasi pada eksploitasi—baik melalui pertambangan, pembukaan hutan skala besar, maupun proyek-proyek yang minim partisipasi masyarakat adat—telah mempercepat degradasi ekologis di Tanah Papua.

Kerusakan ini bukan sekadar isu lingkungan. Ia berkelindan langsung dengan krisis kemanusiaan. Ketika tanah kehilangan daya hidupnya, masyarakat adat kehilangan ruang identitasnya. Ketika hutan hilang, nilai-nilai sosial ikut tergerus. Akibatnya, muncul disorientasi sosial: konflik meningkat, solidaritas melemah, dan manusia semakin jauh dari nilai-nilai kemanusiaannya sendiri.

Dalam konteks ini, persoalan Papua tidak dapat disederhanakan sebagai isu keamanan atau pembangunan semata. Ini adalah persoalan struktural yang menyangkut keadilan ekologis, pengakuan hak masyarakat adat, dan kegagalan kebijakan dalam menempatkan manusia Papua sebagai subjek utama pembangunan.

Oleh karena itu, diperlukan koreksi mendasar:
reorientasi kebijakan dari eksploitasi menuju keberlanjutan,
dari sentralisasi menuju partisipasi masyarakat adat,
dan dari pendekatan kekuasaan menuju pendekatan kemanusiaan.

Papua bukan tanah kosong yang bebas dikeruk,
dan orang Papua bukan objek pembangunan.

Papua adalah tanah kehidupan, dan orang Papua adalah manusia yang harus dihormati martabatnya.

Melkias Keiya
Kepala Suku Besar Wilayah Meepago
Provinsi Papua Tengah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar