Ada Dua Versi Doa dalam Kehidupan Masyarakat
1. Doa Adat
Doa adat adalah doa yang berlandaskan pada kurban bakaran dan kerja nyata, bukan doa yang dilakukan sebelum ada usaha. Dalam adat, tenaga, keringat, dan kerja keras merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari doa itu sendiri. Karena itu, doa adat dilakukan setelah pekerjaan fisik berhasil diselesaikan, sebagai ungkapan syukur dan penghormatan kepada leluhur serta Tuhan Pencipta alam.
Prinsip ini sejalan dengan firman Tuhan yang menegaskan bahwa berkat mengikuti kerja dan usaha manusia:
“Siapa mengerjakan tanahnya, akan kenyang dengan makanan.”
(Amsal 12:11)
Doa adat biasanya dilakukan dalam konteks:
a. Sebelum dan setelah membangun rumah, setelah seluruh proses kerja keras selesai dan rumah dapat ditempati.
b. Sebelum dan setelah membuka kebun baru, setelah tanah dibersihkan, ditanami, dan hasil mulai terlihat.
Hal ini juga sejalan dengan firman Tuhan:
“Jika bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya.”
(Mazmur 127:1)
Dengan demikian, doa adat menegaskan bahwa berkat datang setelah kerja, dan doa menjadi pengakuan bahwa keberhasilan tidak lepas dari campur tangan Tuhan.
2. Doa Agama
Doa agama mengajarkan bahwa berdoa wajib dilakukan sebelum melakukan setiap kegiatan, sebagai bentuk penyerahan diri dan permohonan tuntunan kepada Tuhan.
“Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka terlaksanalah segala rencanamu.”
(Amsal 16:3)
Namun dalam praktik kehidupan, sering kali manusia rajin berdoa saat meminta, tetapi lalai berdoa setelah berkat itu dinikmati. Karena itulah firman Tuhan menegur sikap ini dengan jelas:
“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu.”
(Matius 7:7)
Tetapi Tuhan juga menghendaki ucapan syukur setelah menerima:
“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah.”
(1 Tesalonika 5:18)
Yesus sendiri menegur orang yang lupa mengucap terima kasih setelah menerima berkat:
“Tidakkah kesepuluh orang itu telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan itu?”
(Lukas 17:17)
Firman ini menegaskan bahwa:
Banyak orang pintar memohon, tetapi tidak tahu mengucap terima kasih.
Kesimpulan
Doa adat dan doa agama memiliki pendekatan yang berbeda, tetapi saling melengkapi.
Doa adat menekankan kerja nyata dan syukur setelah berhasil, sedangkan doa agama menekankan penyerahan diri sebelum bekerja dan ucapan syukur setelah menerima berkat.
Keduanya mengajarkan satu nilai utama:
iman tanpa perbuatan adalah mati, dan perbuatan tanpa ucapan syukur adalah kesombongan.
“Iman tanpa perbuatan adalah mati.”
(Yakobus 2:26)












