Tampilkan postingan dengan label Persekutuan doa tubuh Kristus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Persekutuan doa tubuh Kristus. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 September 2026

Persekutuan Tubuh Kristus Bertransformasi Menjadi Persekutuan Doa Tubuh Kristus, Mengarah pada Visi Meuwo TOTA mana (METOMA).

MEDIA PUBLIKASI | PDTK NEWS

Melkias Keiya, S.H.: “Transformasi bukan sekadar perubahan nama, tetapi pembaruan arah pelayanan melalui doa, persatuan, kasih dan kehidupan yang membawa damai.”



NABIRE, PAPUA TENGAH — Perjalanan pelayanan Persekutuan Tubuh Kristus memasuki fase baru melalui transformasi menjadi Persekutuan Doa Tubuh Kristus (PDTK). Transformasi tersebut ditempatkan sebagai bagian dari pembaruan pelayanan yang menekankan kehidupan doa, persatuan umat, penghayatan Firman Tuhan serta tanggung jawab menghadirkan kasih dan perdamaian di tengah masyarakat.

Sekretaris Umum Persekutuan Doa Tubuh Kristus, Melkias Keiya, S.H., menjelaskan bahwa perubahan tersebut tidak seharusnya dipahami hanya sebagai pergantian nama.

Menurutnya, transformasi harus menyentuh kehidupan umat secara nyata—mulai dari cara berdoa, melayani, membangun persaudaraan hingga menyelesaikan perbedaan dengan jalan damai.

> “Persekutuan Tubuh Kristus bertransformasi menjadi Persekutuan Doa Tubuh Kristus. Yang hendak diperkuat bukan sekadar nama, tetapi kehidupan doa dan persatuan umat untuk bersama-sama berjalan dalam kehendak Tuhan,” ujar Melkias Keiya.

Doa Menjadi Jantung Pelayanan

Kata “Doa” dalam nama Persekutuan Doa Tubuh Kristus memiliki penekanan khusus. PDTK memandang doa sebagai salah satu dasar utama dalam membangun hubungan dengan Tuhan sekaligus membentuk kehidupan yang lebih bertanggung jawab terhadap sesama.

Semangat tersebut sejalan dengan pesan Alkitab mengenai kehidupan doa, antara lain Markus 11:17 tentang rumah doa bagi segala bangsa serta 1 Tesalonika 5:17 yang menyerukan umat untuk tetap berdoa.

Bagi PDTK, doa tidak berhenti pada kegiatan ibadah. Doa harus menghasilkan perubahan sikap.

Doa melahirkan kasih.
Kasih membangun persatuan.
Persatuan menjaga perdamaian.
Perdamaian membuka ruang bagi kehidupan bersama yang bermartabat.

Menuju Meuwo TOTA mana (METOMA)

Transformasi tersebut selanjutnya diarahkan pada visi Meuwo TOTA mana (METOMA).

Dalam kerangka pelayanan PDTK, METOMA ditempatkan sebagai cita-cita kehidupan bersama yang bertumpu pada nilai rohani, persaudaraan, kedamaian, kepedulian dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Visi itu diharapkan tidak hanya menjadi semboyan, melainkan diterjemahkan dalam kehidupan keluarga, pelayanan dan masyarakat.

Melkias menegaskan bahwa kehidupan rohani harus membawa dampak sosial yang positif.

> “Kalau kita sungguh-sungguh berdoa, buahnya harus terlihat dalam kehidupan. Kita harus mampu mengasihi, mengampuni, menghargai orang lain dan menjaga persaudaraan. Itulah perubahan yang harus nyata,” katanya.

Bukan Membangun Sekat, tetapi Membangun Persaudaraan

Di tengah masyarakat Papua yang terdiri atas beragam suku, bahasa, gereja, komunitas dan latar belakang sosial, PDTK menempatkan persatuan sebagai hal yang sangat penting.

Perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk membangun permusuhan.

Sebaliknya, pelayanan rohani diharapkan menjadi ruang yang mampu mempertemukan masyarakat, memperkuat dialog dan membangun penyelesaian damai ketika terjadi perbedaan pandangan.

PDTK juga mengajak umat agar tidak menggunakan pelayanan untuk kepentingan pribadi, persaingan ataupun saling menjatuhkan.

Pelayanan harus memberi pengharapan, menguatkan mereka yang lemah, menjaga persaudaraan dan menghadirkan keteduhan di tengah masyarakat.

Transformasi Harus Dibuktikan melalui Buah Kehidupan

Menurut Melkias Keiya, keberhasilan sebuah transformasi tidak cukup dinilai dari perubahan nama, simbol ataupun identitas kelembagaan.

Ukuran yang lebih penting adalah perubahan karakter dan kehidupan umat.
  • Apakah kehidupan semakin penuh kasih?
  • Apakah persaudaraan semakin kuat?
  • Apakah konflik semakin dapat diselesaikan secara damai?
  • Apakah pelayanan semakin mampu menjadi berkat bagi masyarakat?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi bagian penting dalam mengukur perjalanan transformasi PDTK.

> “Nama boleh berubah, tetapi yang paling penting adalah hati dan kehidupan juga harus berubah. Kita ingin melihat doa menghasilkan kasih, persatuan dan perdamaian,” tegas Melkias.

Pesan untuk Papua

PDTK membawa pesan agar seluruh umat ikut menjaga Papua sebagai rumah bersama.

Perdamaian harus dibangun mulai dari keluarga, komunitas, suku, pelayanan dan lingkungan masyarakat.

Perbedaan perlu diselesaikan melalui dialog, musyawarah, penghormatan dan semangat persaudaraan.

Dalam konteks tersebut, PDTK berharap visi METOMA dapat menjadi bagian dari gerakan moral dan spiritual yang mendorong kehidupan masyarakat menuju kedamaian serta kebersamaan.
---

SATU PERJALANAN — SATU SEMANGAT

PERSEKUTUAN TUBUH KRISTUS

Bertransformasi menjadi

PERSEKUTUAN DOA TUBUH KRISTUS

Untuk mewujudkan

MEUWO TOTA MANA (METOMA)

BERDOA • BERSATU • BERTRANSFORMASI • MEMBAWA DAMAI

Narasumber/Penulis:
MELKIAS KEIYA, S.H. Sekretaris Umum Persekutuan Doa Tubuh Kristus (PDTK). Nabire, Papua Tengah

Senin, 24 Agustus 2026

PDTK NEWS | Menantikan Penggenapan Firman Tuhan, Umat Diajak Menjaga Persatuan dan Menolak Provokasi.

Penafsiran atas Wahyu 12 dan Daniel 7 menjadi panggilan untuk berjaga-jaga dalam iman, mempererat persaudaraan, serta menghindari perpecahan di tengah masyarakat.

NABIRE, PAPUA TENGAH PDTK News— Persekutuan Doa Tubuh Kristus atau PDTK mengajak umat Tuhan untuk semakin tekun berdoa, menjaga kesatuan hati, dan menolak segala bentuk provokasi yang dapat menimbulkan pertentangan di antara sesama.

Ajakan tersebut disampaikan seiring berkembangnya perhatian terhadap penafsiran mengenai tanda-tanda akhir zaman sebagaimana tertulis dalam Kitab Wahyu 12:1–2, 5–6 dan Daniel 7:13–14.

Bagi sebagian umat, ayat-ayat tersebut dipahami sebagai gambaran tentang perjalanan rencana Allah, pergumulan umat Tuhan, pemeliharaan ilahi, serta pengharapan akan datangnya pemerintahan yang berada dalam kuasa-Nya.

Namun, pengharapan tersebut tidak seharusnya menimbulkan ketakutan, permusuhan, ataupun tindakan saling menyalahkan. Sebaliknya, pemahaman terhadap firman Tuhan perlu mendorong setiap orang untuk hidup dalam kasih, kerendahan hati, serta tanggung jawab menjaga kedamaian bersama.

Memahami Tanda-Tanda dalam Wahyu 12

Kitab Wahyu 12:1 menggambarkan suatu tanda besar di langit: seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan mahkota dua belas bintang di kepalanya.

Selanjutnya, Wahyu 12:2 menggambarkan perempuan itu sedang mengandung dan mengalami kesakitan menjelang persalinan.

Dalam Wahyu 12:5, perempuan tersebut melahirkan seorang anak laki-laki yang dikaitkan dengan kuasa pemerintahan atas bangsa-bangsa. Sementara itu, Wahyu 12:6 menggambarkan perempuan tersebut dibawa ke tempat yang telah dipersiapkan Allah untuk memeliharanya.

Di lingkungan PDTK, rangkaian ayat tersebut dipahami oleh sebagian umat sebagai gambaran rohani mengenai pergumulan, kelahiran, perlindungan, serta penyertaan Tuhan terhadap umat-Nya pada masa-masa yang penuh tantangan.

Penafsiran tersebut juga mengandung pesan bahwa ketika manusia menghadapi tekanan dan ketidakpastian, Tuhan tetap memiliki kuasa untuk memelihara dan menuntun umat-Nya.

Oleh sebab itu, perhatian terhadap tanda-tanda rohani semestinya disertai kehidupan yang menghasilkan buah kasih, kesabaran, penguasaan diri, dan penghormatan terhadap sesama.

Daniel 7:13–14 dan Pengharapan akan Kuasa Allah

Selain Wahyu 12, perhatian umat juga tertuju pada Daniel 7:13–14, yang menggambarkan sosok seperti Anak Manusia datang dengan awan-awan dari langit dan menerima kekuasaan, kemuliaan, serta kerajaan yang tidak akan berkesudahan.

Bagi umat Kristen, penglihatan tersebut menjadi sumber pengharapan bahwa pada akhirnya kedaulatan Allah berada di atas segala kuasa dunia.

Dalam pembahasan rohani di kalangan tertentu, rentang waktu 2027–2030 dipandang sebagai masa yang perlu dicermati dengan doa dan kewaspadaan iman. Meski demikian, rentang tahun tersebut merupakan penafsiran dan pengharapan sebagian orang, bukan kepastian waktu yang dapat dinyatakan sebagai ketetapan mutlak.

Tidak seorang pun sepatutnya menggunakan dugaan tentang waktu penggenapan nubuat untuk menakut-nakuti masyarakat, memecah persaudaraan, atau memaksakan keyakinan kepada pihak lain.

Sikap yang lebih bijaksana adalah tetap berjaga-jaga secara rohani, memperbaiki kehidupan, dan menyerahkan segala waktu serta ketetapan kepada Tuhan.

Hati-Hati terhadap Provokasi di Antara Sesama

Di tengah berbagai penafsiran dan perkembangan situasi sosial, PDTK mengingatkan umat agar tidak mudah terpancing oleh informasi yang belum jelas, tuduhan sepihak, kabar bohong, maupun pernyataan yang sengaja memperhadapkan satu kelompok dengan kelompok lainnya.

Provokasi dapat muncul melalui percakapan langsung, unggahan media sosial, pesan berantai, maupun penyebaran isu yang menimbulkan kecurigaan di antara saudara seiman dan sesama warga.

Karena itu, setiap persoalan perlu disikapi dengan tenang, diperiksa kebenarannya, dan dibicarakan melalui komunikasi yang terbuka serta penuh kasih.

“Jangan dengan sengaja menciptakan provokasi di antara sesama kita. Jika ada perbedaan, selesaikan dengan doa, kasih, komunikasi, dan persaudaraan. Jangan memberi ruang bagi kebencian untuk memecah Tubuh Kristus.”

Peringatan tersebut menjadi penting karena perpecahan yang dibiarkan berkembang bukan hanya merusak hubungan antarpribadi, tetapi juga dapat mengganggu ketenteraman masyarakat.

Umat Dipanggil Menjadi Pembawa Damai

Persekutuan Doa Tubuh Kristus menekankan bahwa kesiapan menghadapi masa depan tidak ditunjukkan melalui kepanikan, melainkan melalui kehidupan yang mencerminkan kasih Tuhan.

Umat diajak memperkuat doa, menjaga kekudusan hidup, menghindari fitnah, menghormati perbedaan, dan membangun kebersamaan dengan seluruh lapisan masyarakat.

Dalam kehidupan sehari-hari, panggilan tersebut dapat diwujudkan dengan menolak pertikaian antarsuku, tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, serta mengutamakan penyelesaian masalah melalui dialog dan musyawarah.

Kesatuan umat juga perlu dijaga dengan menempatkan kasih di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.

Firman Tuhan dalam Efesus 4:3 mengingatkan pentingnya memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera. Prinsip tersebut sejalan dengan panggilan PDTK untuk menghadirkan kehidupan persekutuan yang membangun, menguatkan, dan mempersatukan.

Menunggu dengan Iman, Hidup dengan Kasih

Bagi umat percaya, menantikan penggenapan firman Tuhan bukan alasan untuk saling menuduh atau merasa paling benar. Penantian justru menjadi kesempatan untuk bertobat, memperbaiki hubungan, dan memperkuat kepedulian terhadap sesama.

Apa pun penafsiran mengenai Wahyu 12, Daniel 7, maupun tahun-tahun yang dianggap penting, umat diingatkan bahwa waktu dan ketetapan tertinggi tetap berada dalam kuasa Tuhan.

Karena itu, pesan yang perlu dikedepankan adalah persaudaraan, kedamaian, dan kesiapan menjalani hidup dengan hati yang bersih.

“Kita boleh berjaga-jaga dalam iman, tetapi jangan menciptakan ketakutan. Kita boleh menantikan penggenapan firman, tetapi jangan memecah persaudaraan. Mari berdoa, hidup dalam kasih, dan menjaga damai di antara sesama.”

PDTK NEWS — Satu Tubuh, Satu Roh, Satu Pengharapan dalam Kasih Kristus. 

Selasa, 18 Agustus 2026

Persekutuan Doa Tubuh Kristus

 

Umat PDTK Gelar Ibadah Pelepasan Salah dan Dosa melalui Ratap Tangis dan Penyembahan. 

NABIRE, PAPUA TENGAH — Umat Tuhan yang tergabung dalam Persekutuan Doa Tubuh Kristus (PDTK) melaksanakan ibadah pelepasan salah dan dosa di hadapan Tuhan. Ibadah berlangsung dalam suasana penuh penghayatan melalui doa, ratap tangis, keluhan hati, sorak-sorai, pujian, dan penyembahan dalam roh dan kebenaran.

Dalam ibadah tersebut, umat datang merendahkan diri serta membuka hati di hadapan Tuhan. Ratap tangis dipahami sebagai ungkapan penyesalan, pertobatan, dan kerinduan untuk memperoleh pengampunan serta pemulihan hidup.

Tangisan dan keluhan umat bukan sekadar luapan perasaan, melainkan bagian dari doa yang lahir dari kedalaman hati. Setelah melewati proses pengakuan dan penyerahan diri, suasana ibadah dilanjutkan dengan sorak-sorai kemenangan, pujian, serta penyembahan kepada Tuhan.

PDTK menegaskan bahwa pelepasan dari kesalahan dan dosa tidak dilakukan melalui kekuatan manusia, melainkan melalui kasih karunia Tuhan, pertobatan yang sungguh-sungguh, dan pembaruan hidup dalam Yesus Kristus.

Ibadah tersebut berlandaskan firman Tuhan dalam Yohanes 4:23–24, yang mengajarkan bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran. Selain itu, Ibrani 5:7 menggambarkan doa yang dipanjatkan dengan ratap tangis, sedangkan Yoel 2:12–13 menyerukan agar umat kembali kepada Tuhan dengan segenap hati.

Melalui ibadah ini, umat PDTK diajak meninggalkan kesalahan, kebencian, perselisihan, dan segala perbuatan yang tidak berkenan kepada Tuhan. Pertobatan harus diwujudkan melalui kehidupan yang menghasilkan buah kasih, perdamaian, pengampunan, persaudaraan, dan kepedulian terhadap sesama.


 

Persekutuan Doa Tubuh Kristus juga mengajak seluruh umat Tuhan untuk membangun kehidupan doa yang tulus, menjaga persatuan, serta menjadi pembawa damai di tengah keluarga, gereja, masyarakat, dan bangsa.

“Ratap tangis membawa umat kepada pertobatan, sedangkan pujian dan penyembahan menyatakan kemenangan serta ucapan syukur kepada Tuhan. Semuanya dilakukan dalam roh dan kebenaran,” demikian pesan rohani yang disampaikan dalam persekutuan tersebut.

Melalui gerakan doa ini, PDTK berharap terjadi pemulihan rohani dalam kehidupan umat serta terciptanya kedamaian, persatuan, dan kasih persaudaraan di Tanah Papua maupun seluruh Indonesia.

Penulis: Melkias Keiya, S.H.
Sekretaris Umum Persekutuan Doa Tubuh Kristus (PDTK)

Catatan Redaksi: Naskah ini disusun dalam gaya jurnalistik media nasional untuk keperluan publikasi dan tidak menyatakan telah diterbitkan oleh media tertentu.


Persekutuan Doa Tubuh Kristus.

PDTK-NEWS

IMAN, PENGHARAPAN, DAN KASIH: MAKNA ROHANI PERSEKUTUAN DOA TUBUH KRISTUS

NABIRE, PAPUA TENGAH — Persekutuan Doa Tubuh Kristus atau PDTK memiliki makna rohani yang bertumpu pada tiga dasar kehidupan umat percaya, yaitu iman, pengharapan, dan kasih.

Sekretaris Umum PDTK, Melkias Keiya, S.H., menjelaskan bahwa ketiga unsur dalam nama Persekutuan Doa Tubuh Kristus mencerminkan nilai yang saling berkaitan dalam perjalanan kehidupan rohani.

“Persekutuan berarti iman, doa berarti pengharapan, dan Tubuh Kristus berarti kasih. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan,” ungkapnya.

1. Persekutuan adalah iman. Melalui iman kepada Tuhan Yesus Kristus, umat percaya dipersatukan dalam hubungan persaudaraan yang melampaui perbedaan suku, wilayah, dan latar belakang kehidupan.

2. Doa adalah pengharapan. Melalui doa, umat menyerahkan hidup kepada Tuhan, percaya pada penyertaan-Nya, dan menantikan jawaban serta pemulihan sesuai dengan kehendak-Nya.

3. Tubuh Kristus adalah kasih. Sebagai satu tubuh di dalam Kristus, setiap anggota dipanggil untuk saling mengasihi, melayani, menguatkan, serta menjaga persatuan dalam Roh dan kebenaran.

Dasar pemahaman tersebut sejalan dengan firman Tuhan dalam 1 Korintus 13:13: “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.”

Melkias Keiya menegaskan bahwa PDTK harus terus menghidupi ketiga nilai tersebut dalam ibadah, pelayanan, dan kehidupan bersama. “Iman mempersatukan kita dalam persekutuan. Pengharapan menguatkan kita dalam doa. Kasih menjadikan kita satu di dalam Tubuh Kristus,” tegasnya.

PDTK: Satu iman, satu pengharapan, satu tubuh dalam kasih Kristus.

PDTK-NEWS | Papua Tengah

Jumat, 10 Juli 2026

Persekutuan Doa Tubuh Kristus Gelar Ibadah Kebangunan Rohani di Uwamani.


PANIAI, PAPUA TENGAH — Persekutuan Doa Tubuh Kristus menggelar Ibadah Kebangunan Rohani di Uwamani, Kabupaten Paniai, Provinsi Papua Tengah, pada 7–9 Juli 2026. Kegiatan tersebut mengangkat tema “Kasih Tuhan Ugatame untuk Manusia.”


Ibadah ini menjadi momentum bagi umat Tuhan untuk bersatu dalam doa, pujian, penyembahan, pertobatan, dan perenungan Firman Tuhan. Peserta diajak memperbarui kehidupan iman serta membangun hubungan yang lebih dekat dengan Tuhan dan sesama manusia.


Dasar Firman Tuhan dalam kegiatan ini diambil dari Yohanes 7:39, yang menjelaskan tentang Roh Kudus yang akan diterima oleh setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus. Melalui Firman tersebut, umat diingatkan bahwa kehidupan orang percaya harus dipimpin, dikuatkan, dan diperbarui oleh Roh Kudus.



Tema “Kasih Tuhan Ugatame untuk Manusia” menegaskan bahwa kasih Tuhan diberikan kepada semua manusia tanpa membedakan suku, bahasa, daerah, kedudukan, maupun latar belakang kehidupan. Kasih Tuhan harus diwujudkan melalui sikap saling mengasihi, mengampuni, menghormati, menolong, dan menjaga perdamaian.


Persekutuan Doa Tubuh Kristus juga mengajak umat untuk meninggalkan kebencian, dendam, iri hati, kekerasan, dan segala tindakan yang merusak persatuan. Sebaliknya, umat diharapkan menghasilkan buah kehidupan berupa kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri.


Ibadah Kebangunan Rohani di Uwamani tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi menjadi panggilan untuk mengalami perubahan hidup yang nyata. Kebangunan rohani harus dimulai dari dalam hati, kemudian diwujudkan dalam kehidupan keluarga, gereja, masyarakat, dan lingkungan sekitar.



Melalui kegiatan ini, Persekutuan Doa Tubuh Kristus berharap Roh Kudus memulihkan masyarakat Uwamani, Kabupaten Paniai, serta seluruh wilayah Papua Tengah. Umat juga berdoa agar Tuhan memberikan keselamatan, kesembuhan, penghiburan, persatuan, dan damai sejahtera bagi Tanah Papua.


Kasih Tuhan Ugatame memulihkan manusia, Roh Kudus memperbarui kehidupan, dan persatuan umat menjadi kekuatan untuk membangun Papua yang damai dan bermartabat.

Jumat, 16 Januari 2026

Ada Dua Versi Doa dalam Kehidupan Masyarakat


Ada Dua Versi Doa dalam Kehidupan Masyarakat


1. Doa Adat

Doa adat adalah doa yang berlandaskan pada kurban bakaran dan kerja nyata, bukan doa yang dilakukan sebelum ada usaha. Dalam adat, tenaga, keringat, dan kerja keras merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari doa itu sendiri. Karena itu, doa adat dilakukan setelah pekerjaan fisik berhasil diselesaikan, sebagai ungkapan syukur dan penghormatan kepada leluhur serta Tuhan Pencipta alam.

Prinsip ini sejalan dengan firman Tuhan yang menegaskan bahwa berkat mengikuti kerja dan usaha manusia:

“Siapa mengerjakan tanahnya, akan kenyang dengan makanan.”
(Amsal 12:11)

Doa adat biasanya dilakukan dalam konteks:
a. Sebelum dan setelah membangun rumah, setelah seluruh proses kerja keras selesai dan rumah dapat ditempati.
b. Sebelum dan setelah membuka kebun baru, setelah tanah dibersihkan, ditanami, dan hasil mulai terlihat.

Hal ini juga sejalan dengan firman Tuhan:

“Jika bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya.”
(Mazmur 127:1)

Dengan demikian, doa adat menegaskan bahwa berkat datang setelah kerja, dan doa menjadi pengakuan bahwa keberhasilan tidak lepas dari campur tangan Tuhan.


2. Doa Agama

Doa agama mengajarkan bahwa berdoa wajib dilakukan sebelum melakukan setiap kegiatan, sebagai bentuk penyerahan diri dan permohonan tuntunan kepada Tuhan.

“Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka terlaksanalah segala rencanamu.”
(Amsal 16:3)

Namun dalam praktik kehidupan, sering kali manusia rajin berdoa saat meminta, tetapi lalai berdoa setelah berkat itu dinikmati. Karena itulah firman Tuhan menegur sikap ini dengan jelas:

“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu.”
(Matius 7:7)

Tetapi Tuhan juga menghendaki ucapan syukur setelah menerima:

“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah.”
(1 Tesalonika 5:18)

Yesus sendiri menegur orang yang lupa mengucap terima kasih setelah menerima berkat:

“Tidakkah kesepuluh orang itu telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan itu?”
(Lukas 17:17)

Firman ini menegaskan bahwa:

Banyak orang pintar memohon, tetapi tidak tahu mengucap terima kasih.


Kesimpulan

Doa adat dan doa agama memiliki pendekatan yang berbeda, tetapi saling melengkapi.
Doa adat menekankan kerja nyata dan syukur setelah berhasil, sedangkan doa agama menekankan penyerahan diri sebelum bekerja dan ucapan syukur setelah menerima berkat.

Keduanya mengajarkan satu nilai utama:
iman tanpa perbuatan adalah mati, dan perbuatan tanpa ucapan syukur adalah kesombongan.

“Iman tanpa perbuatan adalah mati.”
(Yakobus 2:26)

Sabtu, 16 Agustus 2025

PERTEMUAN TUA–TUA NABIRE

PERTEMUAN TUA–TUA NABIRE

Nabire, Sabtu 16 Agustus 2025

Pada hari Sabtu, tanggal 16 Agustus 2025, para Tua–Tua Nabire Geral telah mengadakan pertemuan penting yang berlangsung di Jemaat Sion Batalion Nabire. Pertemuan ini merupakan wadah musyawarah rohani dengan tujuan utama mencari solusi dalam pelayanan Yesus Kristus, khususnya mengenai Perjamuan Kasih dan Perjamuan Sloki yang diajarkan dalam Alkitab.

Dasar Alkitabiah

1. Perjamuan Kasih – Makan Bersama

Sebagaimana Yesus Kristus sendiri teladankan, kebersamaan dalam makan menjadi simbol kasih, persatuan, dan pelayanan yang tulus. Firman Tuhan berkata:

> “Lalu berkatalah Yesus kepada murid-murid-Nya: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya barangsiapa melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.”

(Matius 12:50)

Perjamuan Kasih dalam bentuk makan bersama bukan sekadar kebutuhan jasmani, tetapi menjadi tanda persaudaraan dan kebersamaan umat Tuhan.

2. Perjamuan Sloki – Perjamuan Kudus

Dasar kuat mengenai perjamuan rohani terdapat dalam ajaran Rasul Paulus kepada jemaat Korintus:

> “Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang.”(1 Korintus 11:26)

Lebih lanjut, Rasul Paulus mengingatkan:

> “Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu.”(1 Korintus 11:27-28)

Dengan demikian, Perjamuan Kudus atau Perjamuan Sloki menjadi wujud persekutuan dengan Kristus yang mengorbankan diri-Nya di kayu salib, dan umat diminta untuk merayakannya dengan penuh kesadaran, kerendahan hati, serta iman yang murni.

Keputusan Bersama

Setelah melalui pembahasan, doa, dan persekutuan yang penuh kasih, akhirnya para Tua–Tua Nabire Geral menyepakati keputusan bersama sebagai berikut:

1. Perjamuan Kasih (Makan Bersama) akan terus ditegakkan dalam jemaat sebagai bentuk kasih persaudaraan, mempererat hubungan antar umat, dan menghadirkan teladan Yesus dalam kebersamaan.

2. Perjamuan Sloki (Perjamuan Kudus) tetap dilaksanakan sesuai dengan ajaran Alkitab dalam 1 Korintus 11, dengan penuh hormat, kerendahan hati, dan pemeriksaan diri setiap umat.

3. Kedua bentuk perjamuan ini bukan untuk dipertentangkan, melainkan dipersatukan sebagai jalan pelayanan Yesus Kristus yang membawa umat kepada kasih, pengampunan, dan keselamatan.

4. Semua jemaat di Nabire diimbau untuk menjaga kesatuan hati, persaudaraan, dan ketaatan kepada Firman Tuhan, agar pelayanan menjadi berkat bagi semua pihak.

Sambutan dan Doa Penutup

Dalam pertemuan ini, sambutan disampaikan oleh Hamba Tuhan Hengki Edowai, yang menegaskan pentingnya kesatuan iman dan kasih dalam melayani Kristus. Beliau mengingatkan bahwa tanpa kasih, segala bentuk pelayanan hanyalah sia-sia (1 Korintus 13:1-3).

Pertemuan ditutup dengan penuh sukacita dan damai sejahtera melalui Doa Penutup yang dipimpin oleh Pendeta Jeck Ikomouw, yang menyerahkan seluruh keputusan, pelayanan, dan perjalanan iman umat kepada penyertaan Tuhan Yesus Kristus.

Penutup

Pertemuan Tua–Tua Nabire Geral ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk terus bekerja di ladang Tuhan dengan tulus hati. Keputusan yang telah diambil diharapkan menjadi pedoman pelayanan jemaat di wilayah Nabire dan sekitarnya, demi kemuliaan nama Tuhan Yesus Kristus.

📖 Dilaporkan oleh:

Melkias Keiya

Sekretaris Umum Persekutuan Doa Tubuh Kristus

Nabire Wojokunu sampai Makataka, Provinsi Papua Tengah. -

--




Jumat, 04 April 2025

PDTK NEWS | PENJELASAN PELAYANAN: ROH KUDUS, FIRMAN TUHAN & KONTEKS ALKITABIAH


Nabire, PDTK News —

Pelayanan dalam tubuh Kristus memiliki dasar yang kokoh dan tidak boleh dilakukan secara sembarangan atau berdasarkan keinginan pribadi. Sekretaris Umum Persekutuan Doa Tubuh Kristus, Melkias Keiya, menegaskan bahwa pelayanan sejati harus berakar pada Roh Kudus, Firman Tuhan, dan pemahaman konteks Alkitabiah yang benar.

Berikut penjelasan selengkapnya:


1. Pelayanan Berdasarkan Roh Kudus

Pelayanan ini digerakkan dan dipimpin langsung oleh Roh Kudus, bukan oleh kekuatan manusia. Roh Kudus memberikan kuasa, hikmat, dan karunia untuk melayani dengan kasih dan kebenaran. Pelayanan ini ditandai oleh buah-buah Roh (Galatia 5:22-23) serta menghasilkan pertobatan dan pemulihan rohani di tengah jemaat. Setiap pelayan harus hidup dalam hubungan intim dengan Roh Kudus dan berserah penuh kepada pimpinan-Nya.

"Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, tetapi dengan Roh-Ku, firman TUHAN semesta alam." — Zakharia 4:6


2. Pelayanan Berdasarkan Firman Tuhan

Pelayanan tidak boleh lepas dari kebenaran Firman Tuhan. Firman menjadi fondasi yang kokoh, penuntun arah, dan pedoman moral dalam setiap aktivitas pelayanan. Pelayanan ini menolak segala bentuk penyimpangan, manipulasi ayat, atau ajaran palsu. Firman harus diajarkan secara murni, diberitakan dengan kuasa, dan dijalani dalam kehidupan sehari-hari.

"Seluruh Kitab Suci diberikan oleh ilham Allah dan bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan mendidik orang dalam kebenaran." — 2 Timotius 3:16


3. Pelayanan Berdasarkan Konteks Alkitabiah

Memahami konteks adalah kunci dalam mengartikan dan menerapkan Firman secara benar. Tanpa pemahaman konteks sejarah, budaya, dan maksud asli dari ayat, seseorang bisa jatuh ke dalam tafsir keliru. Pelayanan berdasarkan konteks Alkitab mendorong umat untuk menggali Firman dengan utuh, tidak sepotong-sepotong.

"Jangan menambahkan kepada perkataan-Nya, supaya engkau tidak ditegur dan dianggap pendusta." — Amsal 30:6


Penutup

Persekutuan Doa Tubuh Kristus mengajak setiap pelayan Tuhan untuk menjaga kemurnian pelayanan, hidup dalam pimpinan Roh Kudus, setia kepada Firman Tuhan, dan mengerti maksud Firman dalam konteks yang benar.

"Pelayanan yang benar bukan sekadar aktivitas, tetapi perwujudan kasih, iman, dan ketaatan kepada Tuhan yang hidup."


PDTK News | Sekretariat Umum
"Satu tubuh, satu Roh, satu Tuhan, satu iman." – Efesus 4:4-5

PERBANDINGAN ANTARA AGAMA KRISTEN DAN PERSEKUTUAN DOA TUBUH KRISTUS (PDTK-METOMA)

A. Tentang Gereja

  • Kristen: Beribadah di kuil atau gereja buatan tangan manusia (Ibrani 9:24).
  • PDTK-METOMA: Beribadah di perkemahan dan lapangan terbuka (Ibrani 8:2, Amsal 5:16).

B. Pimpinan Gereja

  • Kristen: Dipimpin oleh kepausan hingga gembala jemaat, tetapi Yesus memperingatkan tentang ajaran manusia (Matius 15:9, Markus 7:7, Efesus 4:14, Kolose 2:22).
  • PDTK-METOMA: Mengakui hanya satu pemimpin, yaitu Ugatame, Yesus Kristus, dan Roh Kudus (Matius 23:10).

C. Teologi

  • Kristen: Firman Tuhan hanya boleh dibawakan oleh mereka yang berpendidikan teologi.
  • PDTK-METOMA: Berdasarkan karunia jawatan, Roh Tuhan berkuasa atas orang-orang pilihan (1 Samuel 10:6).

D. Iman

  • Kristen: Iman sering hanya dalam bentuk mendengar tanpa tindakan (Matius 13:13-14, Yakobus 2:20, Yakobus 2:26).
  • PDTK-METOMA: Ibadah selalu disertai pujian, penyembahan, ratapan, doa, puasa, dan kesaksian (Yohanes 7:30, Yohanes 4:23-24, Ibrani 5:7, Wahyu 21:4, Yoel 2:12, Yohanes 3:33).

E. Khotbah

  • Kristen: Khotbah cukup dibawakan oleh satu orang hamba Tuhan (Matius 15:9, Markus 7:7, Efesus 4:14, Kolose 2:22).
  • PDTK-METOMA: Khotbah disampaikan berdasarkan karunia marifat oleh berbagai jawatan seperti gembala, penginjil, rasul, guru, dan nabiah (Efesus 4:11-12).

F. Doa

  • Kristen: Berdoa biasa tanpa harus panjang (Matius 6:7).
  • PDTK-METOMA: Berdoa dengan puasa, menangis, dan mengaduh (Matius 17:21, Yoel 2:12-13).

G. Alkitab

  • Kristen: Menggunakan seluruh Alkitab (Perjanjian Lama dan Baru).
  • PDTK-METOMA: Fokus pada kata-kata Yesus Kristus dalam Concordance.

H. Baptisan

  • Kristen: Ada baptisan percik (Katolik) dan baptisan selam (Protestan).
  • PDTK-METOMA: Percaya pada tiga jenis baptisan: baptisan air, Roh Kudus, dan api (Matius 3:11).

I. Perjamuan

  • Kristen: Perjamuan menggunakan sloki anggur dan roti.
  • PDTK-METOMA: Perjamuan kasih berupa makan bersama (Matius 22:39, Yudas 1:12).

J. Pernikahan

  • Kristen: Pernikahan berdasarkan tradisi maskawin dan pemberkatan gereja.
  • PDTK-METOMA: Mencontoh pernikahan Adam dan Hawa di Taman Eden.

K. Persepuluhan dan Sedekah

  • Kristen: Ada persepuluhan, kolekte, dan amplop untuk gaji hamba Tuhan.
  • PDTK-METOMA: Memberikan sedekah dan aksi sosial tanpa paksaan (Matius 6:3-4, Kisah Para Rasul 3:2-3).

L. Hukum

  • Kristen: Mengikuti 10 Perintah Allah (Keluaran 20:1-17).
  • PDTK-METOMA: Mengikuti 2 Hukum Kasih (Matius 22:37-40).

M. Hari Ibadah

  • Kristen:
    • Hari ke-7 Sabat (Sabtu) → Yahudi
    • Hari ke-1  Minggu → Kristen
    • Semua Hari untuk Tuhan →PDTK
  • PDTK-METOMA: Beribadah setiap hari (Kisah Para Rasul 5:42).

N. Natal

  • Kristen: Merayakan Natal pada 25 Desember, yang ditetapkan oleh Gereja abad ke-4.
  • PDTK-METOMA: Tidak merayakan Natal karena jemaat mula-mula tidak merayakannya.(Wahyu 2:6,15)

Catatan

Perbandingan ini menunjukkan bahwa PDTK-METOMA menekankan ibadah yang lebih langsung kepada Tuhan, dengan penekanan pada pujian, penyembahan, doa, dan puasa yang mendalam. Sementara itu, Kristen tradisional mengikuti struktur gereja yang lebih formal dengan aturan-aturan yang telah berlangsung lama.


 

PDTK NEWS EDISI PEWAHYUAN FIRMAN

Topik: Jangan Mengurangi & Jangan Menambahkan Firman Tuhan

Nabire, PDTK News – Dalam terang doa dan pewahyuan Roh Kudus, Persekutuan Doa Tubuh Kristus menyampaikan peringatan serius bagi seluruh umat, khususnya para pelayan mimbar dan penanggung jawab pengajaran. Di akhir zaman ini, kecenderungan untuk memutar, mengurangi, atau menambahkan Firman Tuhan mulai terlihat di berbagai tempat pelayanan.


1. Pengurangan Firman Tuhan: Tanda Hati Takut kepada Manusia

Pengurangan Firman Tuhan terjadi ketika kebenaran ditahan atau disembunyikan karena dianggap terlalu keras, tidak populer, atau menyakitkan hati. Pelayanan hanya menonjolkan kasih dan berkat jasmani, sementara bagian mengenai penghakiman, pertobatan, salib, dan kekudusan disingkirkan.

Contoh konkret:

  • Menolak mengajar tentang neraka atau murka Tuhan.
  • Tidak menyampaikan panggilan untuk bertobat dan meninggalkan dosa.
  • Menghindari ayat-ayat tentang pengudusan, padahal itu adalah inti kehidupan orang percaya.

Firman Tuhan berkata dalam Ulangan 4:2:
"Janganlah kamu menambahi apa yang kuperintahkan kepadamu dan janganlah kamu menguranginya."

Dan dalam Wahyu 22:19 ditegaskan:
"Jika seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan."

2. Penambahan Firman Tuhan: Jalan Celaka dan Penyesatan

Penambahan Firman Tuhan terjadi ketika seseorang menambah ajaran atau tafsiran yang tidak tertulis dalam Alkitab, atau menyamakan mimpi, tradisi manusia, dan penglihatan pribadi dengan otoritas Firman Tuhan. Hal ini membuka celah bagi roh penyesat bekerja di tengah umat.

Contoh nyata:

  • Mengajarkan hal-hal yang tidak tertulis dengan berkata: “Tuhan berbicara secara pribadi, jadi tidak perlu Alkitab.”
  • Menyisipkan doktrin dari luar Kekristenan, lalu diklaim sebagai bagian dari pengajaran Injil.
  • Memberi tafsiran yang tidak sesuai konteks demi pembenaran perilaku pribadi atau kelompok.

Firman Tuhan mengingatkan dalam Amsal 30:6:
"Jangan menambahi firman-Nya, supaya engkau tidak ditegur-Nya dan dianggap pendusta."

Dan Wahyu 22:18 berkata:
"Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan kitab ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini."

3. Pesan Roh Kudus bagi Persekutuan Doa Tubuh Kristus

Dalam perenungan malam dan pelayanan syafaat, Tuhan menyatakan:
“Barangsiapa menyentuh Firman-Ku dengan tangan daging, ia telah mencemari kekudusan-Ku. Tapi yang menyampaikannya dengan hati yang takut akan Aku, kepadanya Aku akan curahkan pengurapan dan kuasa.”

Karena itu, Persekutuan Doa Tubuh Kristus menyerukan agar seluruh pelayan Tuhan:

  • Mengajarkan Firman Tuhan secara utuh, dari Kejadian sampai Wahyu.
  • Tidak menyaring Firman berdasarkan selera manusia.
  • Tidak menambahi Firman demi popularitas atau kuasa pribadi.
  • Membiarkan Roh Kudus sendiri yang bekerja melalui kebenaran murni.

Deklarasi PDTK:
Kami tidak akan mengurangi ataupun menambahkan Firman Tuhan. Kami akan memberitakan apa yang tertulis, dan menghidupinya dengan rasa takut akan Tuhan, demi kemuliaan Yesus Kristus, Sang Firman yang hidup.


Redaksi PDTK News
Disunting oleh: Sekretariat Umum Persekutuan Doa Tubuh Kristus
Disetujui oleh: Kepala Suku Besar Meepago, Provinsi Papua Tengah

 


Kamis, 03 April 2025

PDTK NEWS; YESUS KRISTUS VS ANAK MANUSIA

 

Yesus Kristus Juruselamat Manusia Versus Anak Manusia Jurumerdeka

Dalam diskusi teologis dan refleksi iman, Yesus Kristus sering dikenal dengan berbagai gelar dan peran. Dua gelar yang sangat signifikan adalah Yesus Kristus sebagai Juruselamat Manusia dan Anak Manusia sebagai Jurumerdeka. Meskipun keduanya mengacu pada Yesus, masing-masing membawa nuansa yang berbeda dalam pemahaman kita tentang misi dan karya-Nya.

Yesus Kristus Juruselamat Manusia

Yesus Kristus sebagai Juruselamat Manusia adalah konsep inti dalam iman Kristen. Gelar ini menekankan aspek penebusan, di mana Yesus mengorbankan diri-Nya di kayu salib untuk menebus dosa-dosa umat manusia.

Aspek Utama:

  1. Penebusan Dosa – Yesus mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa manusia, membawa rekonsiliasi antara manusia dan Tuhan.

  2. Kasih Allah – Penyelamatan ini adalah manifestasi tertinggi dari kasih Allah kepada dunia (Yohanes 3:16).

  3. Kebangkitan dan Kehidupan – Dengan kebangkitan-Nya, Yesus mengalahkan maut dan memberikan harapan akan hidup kekal bagi semua yang percaya kepada-Nya.

Anak Manusia Jurumerdeka

Sebaliknya, gelar Anak Manusia Jurumerdeka menyoroti aspek pembebasan dalam misi Yesus. Gelar ini menekankan kebebasan dari segala bentuk penindasan dan ketidakadilan, baik secara rohani maupun sosial.

Aspek Utama:

  1. Pembebasan dari Penindasan – Yesus datang untuk membawa keadilan dan kebebasan bagi mereka yang tertindas, sebagaimana dinubuatkan dalam Yesaya 61:1-2.

  2. Kebebasan Rohani – Yesus memberikan kebebasan dari belenggu dosa dan kuasa gelap, memungkinkan manusia untuk hidup dalam kebenaran dan kekudusan.

  3. Transformasi Sosial – Melalui ajaran-Nya, Yesus mempromosikan nilai-nilai Kerajaan Allah seperti kasih, keadilan, dan perdamaian yang membawa perubahan sosial yang nyata.

Integrasi Kedua Peran

Meskipun tampaknya ada perbedaan antara Yesus sebagai Juruselamat Manusia dan Anak Manusia sebagai Jurumerdeka, keduanya sebenarnya adalah bagian dari misi yang holistik dan terpadu. Penyelamatan yang ditawarkan Yesus bukan hanya soal pengampunan dosa, tetapi juga pembebasan dari segala bentuk perbudakan dan ketidakadilan.

Pengajaran Alkitab:

  1. Lukas 4:18-19 – "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan kepada orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang."

  2. Yohanes 8:36 – "Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka."

Kesimpulan

Yesus Kristus sebagai Juruselamat Manusia dan Anak Manusia sebagai Jurumerdeka menggambarkan kedalaman dan luasnya misi Yesus. Sebagai Juruselamat, Yesus memberikan penebusan dosa dan hidup kekal. Sebagai Jurumerdeka, Yesus membawa kebebasan dari segala bentuk penindasan dan ketidakadilan. Kedua peran ini saling melengkapi dan menunjukkan kasih Allah yang holistik bagi umat manusia.

Rabu, 02 April 2025

PDTK NEWS; Papua: Pusat Pekerjaan Tuhan atau Sodom dan Gomora?

 




Papua: Pusat Pekerjaan Tuhan atau Sodom dan Gomora?

Papua adalah tanah yang kaya akan keberagaman budaya, bahasa, dan sumber daya alam. Keunikan ini menjadikan Papua sebagai wilayah yang kompleks dalam kehidupan sosial, politik, dan spiritual. Seperti dalam sejarah Alkitab, suatu tempat dapat menjadi pusat kebejatan moral seperti Sodom dan Gomora atau menjadi pusat pekerjaan Tuhan seperti Yerusalem. Dalam Perjanjian Baru, Jemaat Tuhan disebut sebagai Jemaat Philadelphia—suatu gambaran tentang umat yang hidup dalam kasih, kesetiaan, dan takut akan Tuhan.

Senin, 31 Maret 2025

PERSEKUTUAN DOA TUBUH KRISTUS (PDTK) BUKANLAH TEMPAT AROGANSI DAN KEJAHATAN, MELAINKAN TEMPAT BERTUMBUH DALAM KASIH, IMAN, DAN PELAYANAN.














Dakikebo Madi, Enarotali – Persekutuan Doa Tubuh Kristus (PDTK) Meuwo Tota Mana (METOMA) menegaskan kembali bahwa PDTK bukanlah tempat bagi arogansi, kepentingan pribadi, atau kejahatan yang bertentangan dengan nilai-nilai Kristiani. Sebaliknya, PDTK merupakan wadah bagi umat untuk bertumbuh dalam kasih, kerendahan hati, serta pelayanan yang tulus.

Dalam setiap persekutuan, umat Tuhan diajak untuk memuji dan menyembah, meratap dalam doa, berpuasa, berdiskusi, serta menerima pengajaran Firman Tuhan yang murni. Ini bukan sekadar ritual ibadah, tetapi panggilan untuk hidup dalam ketaatan kepada Tuhan dan mengamalkan kasih dalam kehidupan sehari-hari.

PERSEKUTUAN DOA TUBUH KRISTUS: KEGIATAN PENGESAHAN REVISI PROGRAM KERJA TUARIA, T...

PERSEKUTUAN DOA TUBUH KRISTUS: KEGIATAN PENGESAHAN REVISI PROGRAM KERJA TUARIA, T...: Kegiatan pengesahan revisi program kerja tuaria, tahun 2019. Persekutuan doa tubuh Kristus Meuwo Tota Mana 'METOMA' Nabir...



Sabtu, 29 Maret 2025

TOKOH-TOKOH YANG PERNAH TERJERAT MINUMAN KERAS NAMUN TETAP DIPAKAI TUHAN

 


(PDTK News, Papua Tengah) – Dalam sejarah iman, beberapa tokoh dalam Alkitab pernah mengalami kelemahan, termasuk mabuk karena minuman keras. Namun, Tuhan tetap memakai mereka dalam rencana-Nya. Kisah ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak melihat kelemahan manusia sebagai penghalang untuk melaksanakan kehendak-Nya. Berikut adalah beberapa tokoh yang pernah mabuk namun tetap dipakai Tuhan:


1. Nuh – Orang Benar yang Diselamatkan dari Air Bah

Nuh adalah orang yang benar dan saleh di hadapan Tuhan. Karena kesetiaannya, Tuhan memilihnya untuk membangun bahtera dan menyelamatkan keluarganya serta makhluk hidup dari air bah. Namun, setelah air bah surut, ia menanam anggur dan mabuk.

"Nuh menjadi petani; dialah yang mula-mula membuat kebun anggur. Setelah ia minum anggur, mabuklah ia dan ia telanjang dalam kemahnya." (Kejadian 9:20-21)

Meskipun Nuh mengalami kelemahan ini, Tuhan tetap menghormatinya sebagai bapak dari generasi baru umat manusia setelah air bah.

2. Lot – Keponakan Abraham yang Diselamatkan dari Sodom

Lot diselamatkan dari kehancuran Sodom dan Gomora karena belas kasih Tuhan. Namun, setelah pelariannya, ia mengalami peristiwa tragis akibat mabuk.

"Lalu mabuklah Lot oleh anggur, dan anak sulung itu tidur dengan ayahnya, dan Lot tidak mengetahui ketika anak itu tidur dan ketika ia bangun." (Kejadian 19:33)

Meskipun jatuh dalam dosa akibat kelemahannya, Lot tetap dipakai Tuhan untuk melahirkan dua bangsa besar: Moab dan Amon.

3. Raja Salomo – Hikmat yang Luar Biasa, Tapi Tersesat dalam Kenikmatan Dunia

Raja Salomo dikenal sebagai raja yang paling bijaksana dan diberkati Tuhan. Namun, ia juga menikmati anggur dan kemewahan duniawi yang pada akhirnya membuatnya menjauh dari Tuhan.

"Marilah kita minum-minum anggur sampai pagi hari, dan bersukaria dengan minuman yang memabukkan!" (Amsal 23:30)

Meskipun Salomo akhirnya menyimpang, Tuhan tetap memakai hikmatnya untuk menulis kitab-kitab penting seperti Amsal, Pengkhotbah, dan Kidung Agung.

Pesan Moral

Kisah-kisah ini mengajarkan bahwa kelemahan manusia tidak menghalangi Tuhan untuk bekerja melalui mereka. Yang terpenting adalah pertobatan dan kembali kepada Tuhan.

Seperti yang tertulis dalam Amsal 24:16:

"Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana."

Tuhan adalah Allah yang penuh kasih dan pengampunan. Dia tidak melihat masa lalu seseorang, tetapi bagaimana ia bertobat dan menjalani hidupnya di masa depan.

PDTK News – Melaporkan dari Papua Tengah


Kamis, 27 Maret 2025

PERBEDAAN GEREJA DAN PERSEKUTUAN DOA TUBUH KRISTUS (PDTK) DALAM TERANG FIRMAN TUHAN

Nabire, PDTK News – Dalam perjalanan pelayanan, banyak orang bertanya tentang perbedaan antara Gereja dan Persekutuan Doa Tubuh Kristus (PDTK). Keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu memuliakan Tuhan dan memperkuat iman umat, tetapi ada beberapa perbedaan mendasar yang perlu dipahami berdasarkan firman Tuhan.

1. Struktur dan Organisasi

Gereja adalah lembaga yang memiliki struktur kepemimpinan yang jelas, seperti gembala sidang, majelis, dan jemaat yang terdaftar. Gereja beroperasi di bawah aturan denominasi atau sinode tertentu.
Sementara itu, PDTK adalah komunitas rohani yang lebih fleksibel, yang dipimpin oleh mereka yang dipanggil untuk berdoa, menyembah, dan memperkuat iman bersama tanpa batasan denominasi.

Firman Tuhan berkata:
"Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus." (1 Korintus 12:12)

2. Fokus Kegiatan

Gereja menyelenggarakan ibadah mingguan, sakramen seperti perjamuan kudus dan baptisan, serta pelayanan sosial dan pendidikan teologi.
Sementara itu, PDTK lebih menekankan doa, penyembahan, dan persekutuan rohani tanpa keterikatan dengan satu gereja tertentu.

Firman Tuhan berkata:
"Karena di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka." (Matius 18:20)

3. Doktrin dan Pengajaran

Gereja memiliki sistem pengajaran yang lebih formal, disampaikan melalui khotbah, katekisasi, dan pelajaran Alkitab dalam denominasi masing-masing.
Sebaliknya, PDTK lebih bersifat interdenominasi dan berfokus pada pewahyuan Roh Kudus, doa syafaat, serta pengajaran yang berbasis pengalaman iman.

Firman Tuhan berkata:
"Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian." (Yohanes 4:23)

4. Keanggotaan

Dalam Gereja, keanggotaan lebih bersifat tetap, dengan aturan yang mengikat setiap jemaat dalam satu wadah gerejawi.
Sementara di PDTK, semua orang yang rindu berdoa dan menyembah Tuhan dapat bergabung, tanpa harus menjadi anggota gereja tertentu.

Firman Tuhan berkata:
"Sebab kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus." (Galatia 3:28b)

5. Hubungan dengan Denominasi

Gereja umumnya bernaung di bawah denominasi tertentu seperti Katolik, Protestan, Pentakosta, dan lainnya.
Sebaliknya, PDTK hadir sebagai wadah pemersatu umat Tuhan dari berbagai latar belakang gereja untuk berdoa dan mengalami kuasa Roh Kudus secara bersama-sama.

Firman Tuhan berkata:
"Aku berdoa, supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku." (Yohanes 17:21)

Kesimpulan

Baik Gereja maupun PDTK memiliki peran penting dalam membangun iman umat Tuhan. Gereja adalah tempat ibadah yang terstruktur dan terorganisir, sementara PDTK adalah persekutuan rohani yang lebih fleksibel dan berfokus pada doa serta penyembahan. Keduanya adalah bagian dari tubuh Kristus yang saling melengkapi.

Sebagai umat Tuhan, kita dipanggil untuk menghormati dan mendukung keduanya, sebab dalam setiap wadah pelayanan, nama Tuhan dimuliakan. Mari terus bersekutu dalam kasih Kristus dan membangun iman bersama.

PDTK News | “Melayani dalam Roh dan Kebenaran”

Rabu, 26 Maret 2025

Persekutuan Doa Tubuh Kristus Tekankan Pentingnya Praktek Hidup dalam Kehidupan SEHARI-HARI.


Persekutuan Doa Tubuh Kristus Tekankan Pentingnya Praktek Hidup dalam Kehidupan Sehari-hari

Nabire, News Nasional — Persekutuan Doa Tubuh Kristus (PDTK) menegaskan bahwa perbuatan yang sejati harus diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini disampaikan oleh Sekretaris Umum PDTK, Melkias Keiya, yang menekankan pentingnya melayani sesama sebagai bentuk pengamalan ajaran Kristus.

"Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran," ujar Melkias, mengutip 1 Yohanes 3:18 sebagai landasan utama. Menurutnya, kasih yang tulus terlihat melalui aksi nyata membantu mereka yang membutuhkan.

Jumat, 07 Maret 2025

Pernyataan Resmi Melkianus Keiya

 

Pernyataan Resmi Melkianus Keiya


Nabire, Papua Tengah – 11 November 2024

Melkianus Keiya menyampaikan bahwa penggenapan nubuatan Daniel 7:13 akan terjadi dalam rentang waktu 1.250 hingga 1.550 hari ke depan, terhitung sejak 11 November 2024. Dalam nubuatan ini, "Anak Manusia" (Jurumerdeka) akan datang kepada "Yang Lanjut Usia", sebagaimana dinyatakan dalam kitab Daniel.

Peristiwa ini diyakini akan bermula dari Tanah Papua, khususnya Nabire, sebagai bagian dari rencana ilahi yang telah ditetapkan sejak zaman para nabi. Papua, tanah yang kaya akan budaya dan nilai-nilai spiritual, dipercayakan sebagai tempat kelahiran dan kebangkitan sebuah zaman baru yang akan membawa pemulihan, keadilan, dan pembebasan bagi umat manusia, khususnya bangsa Papua.

Senin, 18 April 2022

PANGGILAN MENJADI KELUARGA TUBUH KRISTUS.

PANGGILAN MENJADI KELUARGA TUBUH KRISTUS.

Nabire, 5 Februari 2022


Disampaikan oleh, Sekum Persekutuan Doa Tubuh Kristus Nabire Kegata Sampai Makataka Paniai Papua. oleh Melkianus Keiya, SH Mc.

Panggilan menjadi keluarga Tubuh Kristus berarti menempatkan orang percaya pada posisi dan hak istimewa. Namun posisi itu bukanlah merupakan kesempatan untuk bermegah. Kita dipanggil untuk tidak menyalahgunakan hak-hak istimewa itu. Keiya, menjabarkan beberapa hal sebagai berikut: 

pertama, himbauan agar umat tetap hidup sebagai orang asing, mengasingkan diri dari keinginan duniawi. 

Kedua, Umat Tuhan Persekutuan Doa Tubuh Kristus, dipanggil untuk "tunduk" kepada semua lembaga Allah, artinya Persekutuan Doa Tubuh Kristus, memiliki keberadaan dan misi khusus dalam rencana Allah. 

Ketiga, umat Tuhan Persekutuan Doa Tubuh Kristus, dipanggil untuk hidup bertanggungjawab di tengah kebebasanya. ungkapnya.

Lanjut Keiya, Memberlakukan hak istimewa adalah Hak-hak istimewa biasanya dijadikan andalan atau jaminan untuk bertindak semaunya, bebas dari berbagai batasan ketentuan dan kewajiban, yang cenderung mengarah pada tindak sewenang-wenang. Hak-hak istimewa yang disalahgunakan menciptakan manusia yang menuntut dilayani. Bukan demikian seharusnya sikap umat Tuhan Persekutuan Doa Tubuh Kristus! Walaupun umat Tuhan Persekutuan Doa Tubuh Kristus, memiliki berbagai hak istimewa dari Alah, tetapi tetap metitikberatkan sikap hidup yang melayani. Pikirkanlah apa yang akan umat Tuhan Persekutuan Doa Tubuh Kristus, alami apabila semua anggota menuntut untuk dilayani; sebaliknya apakah yang akan terjadi apabila setiap umat Tuhan Persekutuan Doa Tubuh Kristus hidup untuk melayani? ingat itu.

Amen Haleluya.


Sabtu, 20 November 2021

MOTIVASI MENGIKUT YESUS YESUS KRISTUS

 ____

Pada umumnya, orang datang ke gereja dengan kerinduan ingin mendengarkan Firman Tuhan. Namun, ada juga mereka yang mengikut Tuhan karena kepentingan atau jabatan tertentu. 


Terdapat tiga motivasi mengikut Yesus Kristus yang tampil berikut ini. 

Pertama, menganggap diri paling layak mengikut Tuhan, yang diwakili oleh sikap para murid Yesus. Mereka menganggap diri sebagai pengikut-Nya yang paling baik, paling tinggi rohaninya, paling berkuasa, sampai merasa berhak menentukan siapa yang boleh mendekati Yesus Kristus. 

Kedua, menganggap diri paling baik. Ini diwakili oleh seorang muda yang kaya. Pemuda ini merasa dirinya telah menjalankan semua perintah Allah dan mengikuti tata peraturan agama (Matius 19: 16, 18, 20). Oleh karena itu, ia ini yakin bahwa dia pasti masuk surga. Pertanyaannya kepada Yesus Kristus bukan lahir dari ketulusan melainkan pameran kebaikan di hadapan orang lain. 

Ketiga, merasa paling banyak berkorban, diwakili Petrus. Bukankah harga sudah dibayar, tentu hasil melimpah harus diraup dan dinikmati (Matius 19:27). 

Terhadap motivasi keliru ini Yesus Kristus menjawab tegas bahwa Dia melihat hati! Dia mengetahui siapa yang tulus hati seperti anak kecil sehingga beroleh anugerah Kerajaan Surga (Matius 19:14). Orang yang rendah hati, tidak terikat pada kekayaan adalah orang yang dikaruniai Kerajaan Surga (Matius 19:21). Sedangkan orang yang telah meninggalkan segala sesuatu untuk mengikut Yesus Kristus, akan mendapatkan dirinya diperkaya dengan keluarga besar Allah (Matius 19:28-29). Sebaliknya mereka yang bertahan dalam motivasi keliru, kehilangan semuanya (Matius19:30). 

Gereja banyak berisikan orang-orang yang bermotivasi keliru dalam mengikut Yesus Kristus. Yang dicari bukan kemuliaan Tuhan, tetapi nama, kehormatan, harta kekayaan untuk keuntungan pribadi. Tuhan mengenal hati setiap anak-Nya. Hanya mereka yang tulus di hadapan-Nya akan menerima kasih karunia menikmati Kerajaan Surga. 

Yang kulakukan: Menjaga motivasi diri tetap murni mengikut Tuhan sambil mumuliakan Tuhan Yoh 7:39 untuk memiliki Roh Kristus .Roma 8:9b.