Tampilkan postingan dengan label Bulletin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bulletin. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Mei 2026

Dunia ini tidak runtuh dalam satu hari.

 

Dunia ini tidak runtuh dalam satu hari. Ia perlahan tenggelam—dimulai dari dua hal yang tampak “kecil”, tetapi sesungguhnya paling berbahaya: kesombongan dan penipuan.

Kisah lama dalam Kitab Kejadian mengingatkan kita bahwa sebelum manusia jatuh, sudah ada pemberontakan di hadapan Tuhan. Kesombongan membuat ciptaan ingin melampaui Penciptanya. Dari situlah akar dosa mulai tumbuh—keinginan untuk berdiri tanpa Tuhan, merasa cukup dengan diri sendiri.

Lalu datang penipuan. Ular menyesatkan Hawa dengan kata-kata yang tampak benar, tetapi sebenarnya memutarbalikkan kebenaran. Sejak saat itu, manusia bukan hanya jatuh—tetapi juga hidup dalam kebingungan antara yang benar dan yang salah.

Hari ini, kita melihat pola yang sama terus berulang.

Kesombongan hadir dalam bentuk kekuasaan tanpa hati nurani, merasa paling benar, menutup telinga dari kebenaran.
Penipuan hadir dalam kata-kata yang indah tetapi kosong, janji yang tidak ditepati, dan kebenaran yang sengaja dibengkokkan.

Tanpa kita sadari, dua hal ini tidak hanya merusak individu—tetapi juga menghancurkan masyarakat, bahkan bangsa.

Pertanyaannya bukan lagi “di mana dosa itu berada?”
Tetapi: apakah dua hal ini juga sedang hidup dalam diri kita?

Karena perubahan dunia tidak dimulai dari luar.
Ia dimulai dari hati yang mau merendahkan diri di hadapan Tuhan, dan keberanian untuk hidup dalam kebenaran.

Jika kesombongan adalah akar kejatuhan,
maka kerendahan hati adalah awal pemulihan.
Jika penipuan merusak dunia,
maka kejujuran adalah jalan untuk memulihkannya.

Mari kembali kepada kebenaran—sebelum semuanya terlambat.

Selasa, 21 April 2026

“Papua Berdoa dan Menangis pada Tuhan Ugatame”

Poster Harapan Papua
Papua Berdoa, Papua Menangis

Di tanah yang basah oleh air mata,
Papua bersujud… memanggil nama-Mu.

Ugatame, dengar suara hati kami,
yang terluka, namun tetap berharap.

Kami menangis bukan karena lemah,
tetapi karena rindu akan damai.

Di setiap doa yang jatuh ke bumi,
ada harapan yang bangkit kembali.

Papua berdoa…
dan percaya, Engkau menjawab.

Jumat, 16 Januari 2026

MASALAH ADAT ADALAH MASALAH SURGA


MASALAH ADAT ADALAH MASALAH SURGA

Masalah adat bukan sekadar persoalan budaya, kebiasaan leluhur, atau kepemilikan tanah. Masalah adat adalah masalah surga, karena adat berasal dari kehendak Tuhan sendiri dan berakar langsung pada tatanan ilahi sejak awal penciptaan.

Alkitab mencatat bahwa surga telah lebih dahulu “diadatkan” oleh Tuhan ketika Ia menciptakan manusia pertama, Adam dan Hawa, lalu menempatkan mereka di Taman Eden:

“TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.”

(Kejadian 2:15)

Di Taman Eden, Tuhan tidak hanya menciptakan ruang hidup, tetapi juga menetapkan tatanan hidup: hukum ketaatan, nilai kesucian, kerja, tanggung jawab, relasi yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam. Inilah dasar dari adat ilahi yang murni, yang menjadi fondasi kehidupan manusia di bumi.

Tuhan memberikan batas, aturan, dan hukum sebagai bentuk kasih-Nya:

“Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya.”

(Kejadian 2:16–17)

Adat, dalam pengertian ini, bukan ciptaan manusia semata, melainkan cerminan kehendak Allah yang mengatur kehidupan agar tetap seimbang, adil, dan kudus.

Namun, surga itu kemudian dirusakkan oleh pendatang.

Siapakah pendatang itu?

Pendatang yang dimaksud bukanlah manusia lain secara jasmani, melainkan kelakuan-kelakuan yang dibenci oleh Tuhan. Ketidaktaatan, keserakahan, dusta, kekerasan, penindasan, dan pelanggaran terhadap hukum Allah masuk sebagai “orang asing” dalam tatanan adat Tuhan.

Alkitab menegaskan bahwa ketidaktaatan manusia membuka pintu bagi kerusakan:

“Tetapi pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya… lalu ia mengambil buahnya dan memakannya.”

(Kejadian 3:6)

Sejak saat itulah dosa masuk dan merusak keseimbangan. Relasi manusia dengan Tuhan rusak, relasi manusia dengan sesama menjadi penuh konflik, dan relasi manusia dengan alam berubah menjadi eksploitasi dan penderitaan:

“Terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu.”

(Kejadian 3:17)

Kelakuan-kelakuan yang dibenci Tuhan inilah yang disebut sebagai pendatang, karena mereka tidak berasal dari kehendak Allah, melainkan menyusup dan menghancurkan adat ilahi yang telah ditetapkan sejak semula.

Tuhan sendiri menyatakan dengan tegas hal-hal yang Ia benci:

“Enam perkara ini yang dibenci TUHAN, bahkan tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya: mata sombong, lidah dusta, tangan yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah, hati yang merancang rencana jahat, kaki yang cepat lari menuju kejahatan, saksi dusta yang meniupkan kebohongan, dan orang yang menimbulkan pertengkaran saudara.”

(Amsal 6:16–19)

Ketika kelakuan-kelakuan ini masuk, adat rusak, tanah dirusak, hak masyarakat adat dirampas, dan konflik terus berulang. Inilah sebabnya mengapa setiap persoalan adat sejatinya bukan hanya persoalan budaya atau hukum positif, melainkan persoalan rohani dan surgawi.

Alkitab mengingatkan bahwa bumi dan segala isinya adalah milik Tuhan:

“Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya.”

(Mazmur 24:1)

Karena itu, ketika adat dirusak, yang dilukai bukan hanya manusia, tetapi kehendak Tuhan itu sendiri. Sebaliknya, ketika adat dipulihkan, yang dipulihkan adalah jalan manusia kembali kepada kehendak Allah.

Pemulihan adat adalah bagian dari pemulihan rohani:

“Ia telah memberitahukan kepadamu, hai manusia, apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN daripadamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?”

(Mikha 6:8)

Adat dan iman tidak bertentangan. Adat yang benar adalah adat yang sejalan dengan kehendak Tuhan, menjaga kehidupan, menghormati martabat manusia, dan memelihara ciptaan. Gereja dan masyarakat adat dipanggil untuk berjalan bersama, menjaga kesucian adat, menolak kelakuan yang dibenci Tuhan, serta menghadirkan nilai-nilai Kerajaan Allah di atas tanah ini.

Sebagaimana doa Tuhan Yesus:

“Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.”

(Matius 6:10)

Menjaga adat berarti menjaga kehendak Tuhan di bumi.

Membela adat berarti membela nilai-nilai surga.

Dan memulihkan adat berarti menghadirkan kembali keharmonisan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Adat dijaga, iman ditegakkan, dan nama Tuhan dipermuliakan di atas tanah ini.

Ada Dua Versi Doa dalam Kehidupan Masyarakat


Ada Dua Versi Doa dalam Kehidupan Masyarakat


1. Doa Adat

Doa adat adalah doa yang berlandaskan pada kurban bakaran dan kerja nyata, bukan doa yang dilakukan sebelum ada usaha. Dalam adat, tenaga, keringat, dan kerja keras merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari doa itu sendiri. Karena itu, doa adat dilakukan setelah pekerjaan fisik berhasil diselesaikan, sebagai ungkapan syukur dan penghormatan kepada leluhur serta Tuhan Pencipta alam.

Prinsip ini sejalan dengan firman Tuhan yang menegaskan bahwa berkat mengikuti kerja dan usaha manusia:

“Siapa mengerjakan tanahnya, akan kenyang dengan makanan.”
(Amsal 12:11)

Doa adat biasanya dilakukan dalam konteks:
a. Sebelum dan setelah membangun rumah, setelah seluruh proses kerja keras selesai dan rumah dapat ditempati.
b. Sebelum dan setelah membuka kebun baru, setelah tanah dibersihkan, ditanami, dan hasil mulai terlihat.

Hal ini juga sejalan dengan firman Tuhan:

“Jika bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya.”
(Mazmur 127:1)

Dengan demikian, doa adat menegaskan bahwa berkat datang setelah kerja, dan doa menjadi pengakuan bahwa keberhasilan tidak lepas dari campur tangan Tuhan.


2. Doa Agama

Doa agama mengajarkan bahwa berdoa wajib dilakukan sebelum melakukan setiap kegiatan, sebagai bentuk penyerahan diri dan permohonan tuntunan kepada Tuhan.

“Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka terlaksanalah segala rencanamu.”
(Amsal 16:3)

Namun dalam praktik kehidupan, sering kali manusia rajin berdoa saat meminta, tetapi lalai berdoa setelah berkat itu dinikmati. Karena itulah firman Tuhan menegur sikap ini dengan jelas:

“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu.”
(Matius 7:7)

Tetapi Tuhan juga menghendaki ucapan syukur setelah menerima:

“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah.”
(1 Tesalonika 5:18)

Yesus sendiri menegur orang yang lupa mengucap terima kasih setelah menerima berkat:

“Tidakkah kesepuluh orang itu telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan itu?”
(Lukas 17:17)

Firman ini menegaskan bahwa:

Banyak orang pintar memohon, tetapi tidak tahu mengucap terima kasih.


Kesimpulan

Doa adat dan doa agama memiliki pendekatan yang berbeda, tetapi saling melengkapi.
Doa adat menekankan kerja nyata dan syukur setelah berhasil, sedangkan doa agama menekankan penyerahan diri sebelum bekerja dan ucapan syukur setelah menerima berkat.

Keduanya mengajarkan satu nilai utama:
iman tanpa perbuatan adalah mati, dan perbuatan tanpa ucapan syukur adalah kesombongan.

“Iman tanpa perbuatan adalah mati.”
(Yakobus 2:26)

Selasa, 26 Agustus 2025

Sekilas Info Rohani:

Yesus Kristus Datang Sebagai Manusia dan Anak Manusia Jurumerdeka


Papua Tengah Nabire 26 Agustus 2925– Dalam perjalanan iman umat Kristen, kebenaran tentang kedatangan Yesus Kristus sebagai manusia menjadi dasar yang tidak dapat diganggu gugat. Firman Tuhan dengan jelas menegaskan bahwa siapa saja yang tidak mengakui Yesus datang ke dunia sebagai manusia adalah penyesat, bahkan antikristus.

Dasar Firman Tuhan:

1. 1 Yohanes 4:2 – “Setiap roh yang mengaku Yesus datang sebagai manusia, berasal dari Allah.”

2. 2 Yohanes 1:7 – “Sebab banyak penyesat telah muncul dan tidak mengaku bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia. Itu adalah penyesat dan antikristus.”

3. Lukas 21:27 – “Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kuasa dan kemuliaan-Nya.”

4. Daniel 7:13 – “Tampak seorang seperti Anak Manusia datang dengan awan-awan.”

5. Matius 24:30 – “Maka akan tampak tanda Anak Manusia di langit dan semua bangsa akan melihat Dia datang dengan kuasa besar dan kemuliaan.”

Makna bagi Umat Tuhan

Melalui ayat-ayat ini, jelaslah bahwa:

Pada kedatangan pertama-Nya, Yesus Kristus benar-benar datang sebagai manusia, hidup di tengah dunia, mati di kayu salib, dan bangkit untuk menyelamatkan manusia.

Pada kedatangan kedua-Nya kelak, Ia akan kembali sebagai Roh Kristus Yesus menjelma menjadi Anak Manusia yang mulia, Juruselamat dan Hakim yang adil, datang dengan awan-awan di langit untuk memerdekakan umat-Nya.

Pertanyaan Iman di Tanah Papua

Bagi umat Tuhan Persekutuan Doa Tubuh Kristus, pesan ini menjadi pengharapan besar. Firman Tuhan memberi isyarat akan hadirnya Anak Manusia Jurumerdeka – sebuah gelar yang mengingatkan kita kepada Kristus, namun juga menimbulkan pertanyaan iman:

Siapakah yang dipersiapkan Tuhan di akhir zaman sebagai tanda kehadiran-Nya di atas tanah Papua?

Pertanyaan ini bukan untuk diperdebatkan, melainkan untuk direnungkan dengan hati yang rendah di hadapan Tuhan. Sebab hanya Allah yang berdaulat mengutus dan menyatakan pekerjaan-Nya, baik melalui Kristus sendiri yang akan datang kembali, maupun melalui utusan, hamba, atau pemimpin yang dipakai-Nya bagi kebangkitan rohani umat di tanah Papua.

Penutup

Sekilas Info Rohani ini mengingatkan bahwa iman kepada Yesus Kristus sebagai Anak Allah dan Anak Manusia adalah kebenaran yang tidak bisa ditawar. Di tengah banyaknya penyesat dan pengajaran yang menyesatkan, umat Tuhan dipanggil untuk berjaga, berdoa, dan setia menantikan kedatangan-Nya.

Kiranya tanah Papua diberkati Tuhan, dan seluruh umat diteguhkan dalam pengharapan kepada Yesus Kristus, Anak Manusia Jurumerdeka, yang akan datang kembali dengan kuasa dan kemuliaan besar. <<Keiyam>>


Jumat, 04 April 2025

PERBANDINGAN ANTARA AGAMA KRISTEN DAN PERSEKUTUAN DOA TUBUH KRISTUS (PDTK-METOMA)

A. Tentang Gereja

  • Kristen: Beribadah di kuil atau gereja buatan tangan manusia (Ibrani 9:24).
  • PDTK-METOMA: Beribadah di perkemahan dan lapangan terbuka (Ibrani 8:2, Amsal 5:16).

B. Pimpinan Gereja

  • Kristen: Dipimpin oleh kepausan hingga gembala jemaat, tetapi Yesus memperingatkan tentang ajaran manusia (Matius 15:9, Markus 7:7, Efesus 4:14, Kolose 2:22).
  • PDTK-METOMA: Mengakui hanya satu pemimpin, yaitu Ugatame, Yesus Kristus, dan Roh Kudus (Matius 23:10).

C. Teologi

  • Kristen: Firman Tuhan hanya boleh dibawakan oleh mereka yang berpendidikan teologi.
  • PDTK-METOMA: Berdasarkan karunia jawatan, Roh Tuhan berkuasa atas orang-orang pilihan (1 Samuel 10:6).

D. Iman

  • Kristen: Iman sering hanya dalam bentuk mendengar tanpa tindakan (Matius 13:13-14, Yakobus 2:20, Yakobus 2:26).
  • PDTK-METOMA: Ibadah selalu disertai pujian, penyembahan, ratapan, doa, puasa, dan kesaksian (Yohanes 7:30, Yohanes 4:23-24, Ibrani 5:7, Wahyu 21:4, Yoel 2:12, Yohanes 3:33).

E. Khotbah

  • Kristen: Khotbah cukup dibawakan oleh satu orang hamba Tuhan (Matius 15:9, Markus 7:7, Efesus 4:14, Kolose 2:22).
  • PDTK-METOMA: Khotbah disampaikan berdasarkan karunia marifat oleh berbagai jawatan seperti gembala, penginjil, rasul, guru, dan nabiah (Efesus 4:11-12).

F. Doa

  • Kristen: Berdoa biasa tanpa harus panjang (Matius 6:7).
  • PDTK-METOMA: Berdoa dengan puasa, menangis, dan mengaduh (Matius 17:21, Yoel 2:12-13).

G. Alkitab

  • Kristen: Menggunakan seluruh Alkitab (Perjanjian Lama dan Baru).
  • PDTK-METOMA: Fokus pada kata-kata Yesus Kristus dalam Concordance.

H. Baptisan

  • Kristen: Ada baptisan percik (Katolik) dan baptisan selam (Protestan).
  • PDTK-METOMA: Percaya pada tiga jenis baptisan: baptisan air, Roh Kudus, dan api (Matius 3:11).

I. Perjamuan

  • Kristen: Perjamuan menggunakan sloki anggur dan roti.
  • PDTK-METOMA: Perjamuan kasih berupa makan bersama (Matius 22:39, Yudas 1:12).

J. Pernikahan

  • Kristen: Pernikahan berdasarkan tradisi maskawin dan pemberkatan gereja.
  • PDTK-METOMA: Mencontoh pernikahan Adam dan Hawa di Taman Eden.

K. Persepuluhan dan Sedekah

  • Kristen: Ada persepuluhan, kolekte, dan amplop untuk gaji hamba Tuhan.
  • PDTK-METOMA: Memberikan sedekah dan aksi sosial tanpa paksaan (Matius 6:3-4, Kisah Para Rasul 3:2-3).

L. Hukum

  • Kristen: Mengikuti 10 Perintah Allah (Keluaran 20:1-17).
  • PDTK-METOMA: Mengikuti 2 Hukum Kasih (Matius 22:37-40).

M. Hari Ibadah

  • Kristen:
    • Hari ke-7 Sabat (Sabtu) → Yahudi
    • Hari ke-1  Minggu → Kristen
    • Semua Hari untuk Tuhan →PDTK
  • PDTK-METOMA: Beribadah setiap hari (Kisah Para Rasul 5:42).

N. Natal

  • Kristen: Merayakan Natal pada 25 Desember, yang ditetapkan oleh Gereja abad ke-4.
  • PDTK-METOMA: Tidak merayakan Natal karena jemaat mula-mula tidak merayakannya.(Wahyu 2:6,15)

Catatan

Perbandingan ini menunjukkan bahwa PDTK-METOMA menekankan ibadah yang lebih langsung kepada Tuhan, dengan penekanan pada pujian, penyembahan, doa, dan puasa yang mendalam. Sementara itu, Kristen tradisional mengikuti struktur gereja yang lebih formal dengan aturan-aturan yang telah berlangsung lama.


 

PDTK NEWS EDISI PEWAHYUAN FIRMAN

Topik: Jangan Mengurangi & Jangan Menambahkan Firman Tuhan

Nabire, PDTK News – Dalam terang doa dan pewahyuan Roh Kudus, Persekutuan Doa Tubuh Kristus menyampaikan peringatan serius bagi seluruh umat, khususnya para pelayan mimbar dan penanggung jawab pengajaran. Di akhir zaman ini, kecenderungan untuk memutar, mengurangi, atau menambahkan Firman Tuhan mulai terlihat di berbagai tempat pelayanan.


1. Pengurangan Firman Tuhan: Tanda Hati Takut kepada Manusia

Pengurangan Firman Tuhan terjadi ketika kebenaran ditahan atau disembunyikan karena dianggap terlalu keras, tidak populer, atau menyakitkan hati. Pelayanan hanya menonjolkan kasih dan berkat jasmani, sementara bagian mengenai penghakiman, pertobatan, salib, dan kekudusan disingkirkan.

Contoh konkret:

  • Menolak mengajar tentang neraka atau murka Tuhan.
  • Tidak menyampaikan panggilan untuk bertobat dan meninggalkan dosa.
  • Menghindari ayat-ayat tentang pengudusan, padahal itu adalah inti kehidupan orang percaya.

Firman Tuhan berkata dalam Ulangan 4:2:
"Janganlah kamu menambahi apa yang kuperintahkan kepadamu dan janganlah kamu menguranginya."

Dan dalam Wahyu 22:19 ditegaskan:
"Jika seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan."

2. Penambahan Firman Tuhan: Jalan Celaka dan Penyesatan

Penambahan Firman Tuhan terjadi ketika seseorang menambah ajaran atau tafsiran yang tidak tertulis dalam Alkitab, atau menyamakan mimpi, tradisi manusia, dan penglihatan pribadi dengan otoritas Firman Tuhan. Hal ini membuka celah bagi roh penyesat bekerja di tengah umat.

Contoh nyata:

  • Mengajarkan hal-hal yang tidak tertulis dengan berkata: “Tuhan berbicara secara pribadi, jadi tidak perlu Alkitab.”
  • Menyisipkan doktrin dari luar Kekristenan, lalu diklaim sebagai bagian dari pengajaran Injil.
  • Memberi tafsiran yang tidak sesuai konteks demi pembenaran perilaku pribadi atau kelompok.

Firman Tuhan mengingatkan dalam Amsal 30:6:
"Jangan menambahi firman-Nya, supaya engkau tidak ditegur-Nya dan dianggap pendusta."

Dan Wahyu 22:18 berkata:
"Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan kitab ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini."

3. Pesan Roh Kudus bagi Persekutuan Doa Tubuh Kristus

Dalam perenungan malam dan pelayanan syafaat, Tuhan menyatakan:
“Barangsiapa menyentuh Firman-Ku dengan tangan daging, ia telah mencemari kekudusan-Ku. Tapi yang menyampaikannya dengan hati yang takut akan Aku, kepadanya Aku akan curahkan pengurapan dan kuasa.”

Karena itu, Persekutuan Doa Tubuh Kristus menyerukan agar seluruh pelayan Tuhan:

  • Mengajarkan Firman Tuhan secara utuh, dari Kejadian sampai Wahyu.
  • Tidak menyaring Firman berdasarkan selera manusia.
  • Tidak menambahi Firman demi popularitas atau kuasa pribadi.
  • Membiarkan Roh Kudus sendiri yang bekerja melalui kebenaran murni.

Deklarasi PDTK:
Kami tidak akan mengurangi ataupun menambahkan Firman Tuhan. Kami akan memberitakan apa yang tertulis, dan menghidupinya dengan rasa takut akan Tuhan, demi kemuliaan Yesus Kristus, Sang Firman yang hidup.


Redaksi PDTK News
Disunting oleh: Sekretariat Umum Persekutuan Doa Tubuh Kristus
Disetujui oleh: Kepala Suku Besar Meepago, Provinsi Papua Tengah

 


Kamis, 03 April 2025

PDTK NEWS; YESUS KRISTUS VS ANAK MANUSIA

 

Yesus Kristus Juruselamat Manusia Versus Anak Manusia Jurumerdeka

Dalam diskusi teologis dan refleksi iman, Yesus Kristus sering dikenal dengan berbagai gelar dan peran. Dua gelar yang sangat signifikan adalah Yesus Kristus sebagai Juruselamat Manusia dan Anak Manusia sebagai Jurumerdeka. Meskipun keduanya mengacu pada Yesus, masing-masing membawa nuansa yang berbeda dalam pemahaman kita tentang misi dan karya-Nya.

Yesus Kristus Juruselamat Manusia

Yesus Kristus sebagai Juruselamat Manusia adalah konsep inti dalam iman Kristen. Gelar ini menekankan aspek penebusan, di mana Yesus mengorbankan diri-Nya di kayu salib untuk menebus dosa-dosa umat manusia.

Aspek Utama:

  1. Penebusan Dosa – Yesus mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa manusia, membawa rekonsiliasi antara manusia dan Tuhan.

  2. Kasih Allah – Penyelamatan ini adalah manifestasi tertinggi dari kasih Allah kepada dunia (Yohanes 3:16).

  3. Kebangkitan dan Kehidupan – Dengan kebangkitan-Nya, Yesus mengalahkan maut dan memberikan harapan akan hidup kekal bagi semua yang percaya kepada-Nya.

Anak Manusia Jurumerdeka

Sebaliknya, gelar Anak Manusia Jurumerdeka menyoroti aspek pembebasan dalam misi Yesus. Gelar ini menekankan kebebasan dari segala bentuk penindasan dan ketidakadilan, baik secara rohani maupun sosial.

Aspek Utama:

  1. Pembebasan dari Penindasan – Yesus datang untuk membawa keadilan dan kebebasan bagi mereka yang tertindas, sebagaimana dinubuatkan dalam Yesaya 61:1-2.

  2. Kebebasan Rohani – Yesus memberikan kebebasan dari belenggu dosa dan kuasa gelap, memungkinkan manusia untuk hidup dalam kebenaran dan kekudusan.

  3. Transformasi Sosial – Melalui ajaran-Nya, Yesus mempromosikan nilai-nilai Kerajaan Allah seperti kasih, keadilan, dan perdamaian yang membawa perubahan sosial yang nyata.

Integrasi Kedua Peran

Meskipun tampaknya ada perbedaan antara Yesus sebagai Juruselamat Manusia dan Anak Manusia sebagai Jurumerdeka, keduanya sebenarnya adalah bagian dari misi yang holistik dan terpadu. Penyelamatan yang ditawarkan Yesus bukan hanya soal pengampunan dosa, tetapi juga pembebasan dari segala bentuk perbudakan dan ketidakadilan.

Pengajaran Alkitab:

  1. Lukas 4:18-19 – "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan kepada orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang."

  2. Yohanes 8:36 – "Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka."

Kesimpulan

Yesus Kristus sebagai Juruselamat Manusia dan Anak Manusia sebagai Jurumerdeka menggambarkan kedalaman dan luasnya misi Yesus. Sebagai Juruselamat, Yesus memberikan penebusan dosa dan hidup kekal. Sebagai Jurumerdeka, Yesus membawa kebebasan dari segala bentuk penindasan dan ketidakadilan. Kedua peran ini saling melengkapi dan menunjukkan kasih Allah yang holistik bagi umat manusia.

Rabu, 02 April 2025

PDTK NEWS; Papua: Pusat Pekerjaan Tuhan atau Sodom dan Gomora?

 




Papua: Pusat Pekerjaan Tuhan atau Sodom dan Gomora?

Papua adalah tanah yang kaya akan keberagaman budaya, bahasa, dan sumber daya alam. Keunikan ini menjadikan Papua sebagai wilayah yang kompleks dalam kehidupan sosial, politik, dan spiritual. Seperti dalam sejarah Alkitab, suatu tempat dapat menjadi pusat kebejatan moral seperti Sodom dan Gomora atau menjadi pusat pekerjaan Tuhan seperti Yerusalem. Dalam Perjanjian Baru, Jemaat Tuhan disebut sebagai Jemaat Philadelphia—suatu gambaran tentang umat yang hidup dalam kasih, kesetiaan, dan takut akan Tuhan.

Senin, 31 Maret 2025

PERSEKUTUAN DOA TUBUH KRISTUS (PDTK) BUKANLAH TEMPAT AROGANSI DAN KEJAHATAN, MELAINKAN TEMPAT BERTUMBUH DALAM KASIH, IMAN, DAN PELAYANAN.














Dakikebo Madi, Enarotali – Persekutuan Doa Tubuh Kristus (PDTK) Meuwo Tota Mana (METOMA) menegaskan kembali bahwa PDTK bukanlah tempat bagi arogansi, kepentingan pribadi, atau kejahatan yang bertentangan dengan nilai-nilai Kristiani. Sebaliknya, PDTK merupakan wadah bagi umat untuk bertumbuh dalam kasih, kerendahan hati, serta pelayanan yang tulus.

Dalam setiap persekutuan, umat Tuhan diajak untuk memuji dan menyembah, meratap dalam doa, berpuasa, berdiskusi, serta menerima pengajaran Firman Tuhan yang murni. Ini bukan sekadar ritual ibadah, tetapi panggilan untuk hidup dalam ketaatan kepada Tuhan dan mengamalkan kasih dalam kehidupan sehari-hari.

PERSEKUTUAN DOA TUBUH KRISTUS: KEGIATAN PENGESAHAN REVISI PROGRAM KERJA TUARIA, T...

PERSEKUTUAN DOA TUBUH KRISTUS: KEGIATAN PENGESAHAN REVISI PROGRAM KERJA TUARIA, T...: Kegiatan pengesahan revisi program kerja tuaria, tahun 2019. Persekutuan doa tubuh Kristus Meuwo Tota Mana 'METOMA' Nabir...



Sabtu, 29 Maret 2025

TOKOH-TOKOH YANG PERNAH TERJERAT MINUMAN KERAS NAMUN TETAP DIPAKAI TUHAN

 


(PDTK News, Papua Tengah) – Dalam sejarah iman, beberapa tokoh dalam Alkitab pernah mengalami kelemahan, termasuk mabuk karena minuman keras. Namun, Tuhan tetap memakai mereka dalam rencana-Nya. Kisah ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak melihat kelemahan manusia sebagai penghalang untuk melaksanakan kehendak-Nya. Berikut adalah beberapa tokoh yang pernah mabuk namun tetap dipakai Tuhan:


1. Nuh – Orang Benar yang Diselamatkan dari Air Bah

Nuh adalah orang yang benar dan saleh di hadapan Tuhan. Karena kesetiaannya, Tuhan memilihnya untuk membangun bahtera dan menyelamatkan keluarganya serta makhluk hidup dari air bah. Namun, setelah air bah surut, ia menanam anggur dan mabuk.

"Nuh menjadi petani; dialah yang mula-mula membuat kebun anggur. Setelah ia minum anggur, mabuklah ia dan ia telanjang dalam kemahnya." (Kejadian 9:20-21)

Meskipun Nuh mengalami kelemahan ini, Tuhan tetap menghormatinya sebagai bapak dari generasi baru umat manusia setelah air bah.

2. Lot – Keponakan Abraham yang Diselamatkan dari Sodom

Lot diselamatkan dari kehancuran Sodom dan Gomora karena belas kasih Tuhan. Namun, setelah pelariannya, ia mengalami peristiwa tragis akibat mabuk.

"Lalu mabuklah Lot oleh anggur, dan anak sulung itu tidur dengan ayahnya, dan Lot tidak mengetahui ketika anak itu tidur dan ketika ia bangun." (Kejadian 19:33)

Meskipun jatuh dalam dosa akibat kelemahannya, Lot tetap dipakai Tuhan untuk melahirkan dua bangsa besar: Moab dan Amon.

3. Raja Salomo – Hikmat yang Luar Biasa, Tapi Tersesat dalam Kenikmatan Dunia

Raja Salomo dikenal sebagai raja yang paling bijaksana dan diberkati Tuhan. Namun, ia juga menikmati anggur dan kemewahan duniawi yang pada akhirnya membuatnya menjauh dari Tuhan.

"Marilah kita minum-minum anggur sampai pagi hari, dan bersukaria dengan minuman yang memabukkan!" (Amsal 23:30)

Meskipun Salomo akhirnya menyimpang, Tuhan tetap memakai hikmatnya untuk menulis kitab-kitab penting seperti Amsal, Pengkhotbah, dan Kidung Agung.

Pesan Moral

Kisah-kisah ini mengajarkan bahwa kelemahan manusia tidak menghalangi Tuhan untuk bekerja melalui mereka. Yang terpenting adalah pertobatan dan kembali kepada Tuhan.

Seperti yang tertulis dalam Amsal 24:16:

"Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana."

Tuhan adalah Allah yang penuh kasih dan pengampunan. Dia tidak melihat masa lalu seseorang, tetapi bagaimana ia bertobat dan menjalani hidupnya di masa depan.

PDTK News – Melaporkan dari Papua Tengah


Kamis, 27 Maret 2025

PERBEDAAN GEREJA DAN PERSEKUTUAN DOA TUBUH KRISTUS (PDTK) DALAM TERANG FIRMAN TUHAN

Nabire, PDTK News – Dalam perjalanan pelayanan, banyak orang bertanya tentang perbedaan antara Gereja dan Persekutuan Doa Tubuh Kristus (PDTK). Keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu memuliakan Tuhan dan memperkuat iman umat, tetapi ada beberapa perbedaan mendasar yang perlu dipahami berdasarkan firman Tuhan.

1. Struktur dan Organisasi

Gereja adalah lembaga yang memiliki struktur kepemimpinan yang jelas, seperti gembala sidang, majelis, dan jemaat yang terdaftar. Gereja beroperasi di bawah aturan denominasi atau sinode tertentu.
Sementara itu, PDTK adalah komunitas rohani yang lebih fleksibel, yang dipimpin oleh mereka yang dipanggil untuk berdoa, menyembah, dan memperkuat iman bersama tanpa batasan denominasi.

Firman Tuhan berkata:
"Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus." (1 Korintus 12:12)

2. Fokus Kegiatan

Gereja menyelenggarakan ibadah mingguan, sakramen seperti perjamuan kudus dan baptisan, serta pelayanan sosial dan pendidikan teologi.
Sementara itu, PDTK lebih menekankan doa, penyembahan, dan persekutuan rohani tanpa keterikatan dengan satu gereja tertentu.

Firman Tuhan berkata:
"Karena di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka." (Matius 18:20)

3. Doktrin dan Pengajaran

Gereja memiliki sistem pengajaran yang lebih formal, disampaikan melalui khotbah, katekisasi, dan pelajaran Alkitab dalam denominasi masing-masing.
Sebaliknya, PDTK lebih bersifat interdenominasi dan berfokus pada pewahyuan Roh Kudus, doa syafaat, serta pengajaran yang berbasis pengalaman iman.

Firman Tuhan berkata:
"Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian." (Yohanes 4:23)

4. Keanggotaan

Dalam Gereja, keanggotaan lebih bersifat tetap, dengan aturan yang mengikat setiap jemaat dalam satu wadah gerejawi.
Sementara di PDTK, semua orang yang rindu berdoa dan menyembah Tuhan dapat bergabung, tanpa harus menjadi anggota gereja tertentu.

Firman Tuhan berkata:
"Sebab kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus." (Galatia 3:28b)

5. Hubungan dengan Denominasi

Gereja umumnya bernaung di bawah denominasi tertentu seperti Katolik, Protestan, Pentakosta, dan lainnya.
Sebaliknya, PDTK hadir sebagai wadah pemersatu umat Tuhan dari berbagai latar belakang gereja untuk berdoa dan mengalami kuasa Roh Kudus secara bersama-sama.

Firman Tuhan berkata:
"Aku berdoa, supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku." (Yohanes 17:21)

Kesimpulan

Baik Gereja maupun PDTK memiliki peran penting dalam membangun iman umat Tuhan. Gereja adalah tempat ibadah yang terstruktur dan terorganisir, sementara PDTK adalah persekutuan rohani yang lebih fleksibel dan berfokus pada doa serta penyembahan. Keduanya adalah bagian dari tubuh Kristus yang saling melengkapi.

Sebagai umat Tuhan, kita dipanggil untuk menghormati dan mendukung keduanya, sebab dalam setiap wadah pelayanan, nama Tuhan dimuliakan. Mari terus bersekutu dalam kasih Kristus dan membangun iman bersama.

PDTK News | “Melayani dalam Roh dan Kebenaran”

Detik-Detik 1260 Hari atau 2550 Hari Lagi, Waktunya Penaklukkan Hukum Agama (Galatia 4:5).


PDTK-METOMA NEWS | Papua Tengah, 26 Maret 2025

Papua Tengah bersiap menghadapi babak baru dalam perjalanan spiritual, di mana detik-detik 1260 hari atau 2550 hari semakin mendekat, menandakan sebuah perubahan besar dalam pemahaman dan penerapan hukum agama.

Sebagaimana tertulis dalam Galatia 4:5:

"Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak."

Firman ini menegaskan bahwa Yesus Kristus datang untuk menebus umat-Nya dari belenggu hukum yang membatasi, membawa mereka ke dalam kasih karunia dan kebebasan sebagai anak-anak Allah.

Tanda-Tanda Zaman: 1260 dan 2550 Hari

Dalam konteks nubuat Alkitab, angka 1260 hari sering dikaitkan dengan masa kesusahan besar dan perubahan spiritual yang besar, sebagaimana disebut dalam Daniel 7:25, Wahyu 11:3, dan Wahyu 12:6. Sementara itu, 2550 hari adalah total periode yang mencakup 1260 hari + 1290 hari dari Daniel 12:11, menandakan perjalanan menuju pemulihan penuh dan akhir dari sistem hukum menuju kasih karunia Kristus.

Papua Tengah dan Panggilan Rohani

Dalam terang Firman Tuhan, masyarakat Meepago, Papua Tengah, diajak untuk tidak tinggal diam. Inilah waktunya untuk bersuara, memberitakan kebenaran, dan meninggalkan segala bentuk perbudakan hukum yang mengikat.

Kepala Suku Besar Meepago, Provinsi Papua Tengah, Melkias Keiya, menegaskan bahwa:

"Jangan hanya menilai atau mengkritik, tetapi sekaranglah waktunya kita bersuara dan menyampaikan Firman Tuhan kepada mereka yang haus dan lapar akan kebenaran."

Sebagaimana Yesus mengajar di Bait Allah pada siang hari dan berdoa di Bukit Zaitun pada malam hari (Lukas 21:37), demikian pula setiap orang percaya dipanggil untuk berdoa, menyembah, dan menyampaikan kebenaran tanpa memandang waktu (Ratapan 2:18, Mazmur 42:8).

Hari-hari ini bukan lagi tentang hukum yang mengikat, tetapi tentang pemulihan, kasih karunia, dan kebebasan dalam Kristus.

"Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Kalau bukan kita, siapa lagi?"

PDTK-METOMA NEWS

Sabtu, 22 Maret 2025

Alkitab vs Roh Kudus

 

Alkitab vs Roh Kudus


 

A. Alkitab dalam Sejarah Kristen

Alkitab adalah kitab suci yang berisi tradisi sejarah Kristen. Sebagai buku yang mengandung firman Tuhan, Alkitab menjadi inspirasi bagi keyakinan dan iman umat Kristen. Dalam 2 Timotius 3:16-17 dikatakan, "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan, dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian, tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik."

Namun, kekuatan Roh Kudus tidak dapat disamakan dengan sekadar pengetahuan atau tradisi tertulis. Roh Kudus adalah kekuatan hidup yang menuntun, mengajarkan, dan menguatkan umat percaya. Yohanes 16:13 menegaskan, "Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran."

B. Iman Tanpa Perbuatan

Seperti yang disebutkan dalam Yakobus 2:17, "Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati." Oleh karena itu, iman yang sejati akan membuahkan perbuatan yang sesuai dengan kehendak Allah.

Rasul Paulus juga menekankan pentingnya iman yang disertai perbuatan dalam Galatia 5:6, "Sebab bagi orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih." Iman yang sejati dinyatakan melalui kasih yang diwujudkan dalam tindakan nyata.

C. Bekerja Tanpa Roh Kudus

Tanpa Roh Kudus, segala pekerjaan rohani menjadi hampa. Roh Kudus memberikan hikmat, kekuatan, dan bimbingan dalam setiap aspek kehidupan. Sebagaimana Yesus berkata dalam Yohanes 14:26, "Tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu."

Selain itu, dalam Zakharia 4:6, Tuhan berfirman, "Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan Roh-Ku, firman TUHAN semesta alam." Ini menegaskan bahwa tanpa bimbingan Roh Kudus, manusia tidak akan mampu mencapai kehendak Tuhan secara sempurna.

D. Pentingnya Memiliki Roh Kristus

Dalam Roma 8:9 tertulis, "Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus." Artinya, setiap orang yang mengaku sebagai pengikut Kristus wajib memiliki Roh Kristus yang membimbing hidupnya.

Roh Kudus juga memberikan keyakinan akan status kita sebagai anak-anak Allah. Roma 8:16 menegaskan, "Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah." Kehadiran Roh Kudus dalam hidup kita menjadi tanda bahwa kita adalah milik Kristus.

E. Memuliakan Tuhan Melalui Roh Kudus

Yohanes 7:39 menyatakan, "Yang dimaksudkan-Nya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya; sebab Roh itu belum datang, karena Yesus belum dimuliakan." Roh Kudus hadir setelah Yesus dimuliakan, memberikan kuasa kepada orang percaya untuk hidup dalam kebenaran.

Paulus dalam 1 Korintus 6:19-20 mengingatkan, "Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, - dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!" Dengan demikian, memuliakan Tuhan melalui Roh Kudus adalah panggilan setiap orang percaya.

F. Menjadi Pelaku Firman, Bukan Hanya Pendengar

Dengan Roh Kudus, setiap orang percaya dipanggil untuk menjadi pelaku firman, bukan sekadar pendengar. Yakobus 1:22 mengingatkan, "Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri."

Yesus juga memberikan perumpamaan dalam Matius 7:24-25 tentang orang yang bijaksana yang membangun rumahnya di atas batu: "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu." Pelaksanaan firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari menunjukkan bahwa kita hidup di bawah pimpinan Roh Kudus.

Kesimpulan

Alkitab memberikan dasar iman yang kokoh, namun Roh Kudus memberi kehidupan pada iman tersebut. Dengan memiliki Roh Kristus, umat percaya dapat memuliakan Tuhan, hidup sesuai firman-Nya, dan menjadi saksi yang hidup bagi kemuliaan-Nya.

Sebagaimana yang dikatakan dalam Galatia 5:25, "Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh." Dengan berjalan dalam bimbingan Roh Kudus, hidup kita akan menjadi cerminan kasih Kristus di dunia ini.

Jumat, 07 Maret 2025

Kegiatan Kesegaran Personal Spiritual Umat Persekutuan Doa Tubuh Kristus di Epouto Tage, Paniai

Dalam rangka memperbaharui iman dan memperdalam hubungan pribadi dengan Tuhan, umat Persekutuan Doa Tubuh Kristus (PDTK) akan mengadakan kegiatan kesegaran personal spiritual di Epouto Tage, Paniai.

Jumat, 23 Agustus 2024

PUJIAN DAN PENYEMBAHAN DI SURGA DAN DI BUMI.

PUJIAN DAN PENYEMBAHAN DI SURGA DAN DI BUMI. 


Penjelasan tentang topik diatas disampaikan oleh Sekum Persekutuan Doa Tubuh Kristus, Melkias Keiya, mengenai perbedaan antara pujian dan penyembahan di surga dan di bumi sangat mendalam dan memberikan pemahaman yang jelas tentang bagaimana kedua konteks ini berbeda dalam hal spiritualitas dan ekspresi iman.

Pujian dan Penyembahan di Surga Kesempurnaan dan Kemurnian: 

Di surga, pujian dan penyembahan dilaksanakan dalam keadaan yang sempurna dan murni, tanpa adanya gangguan, dosa, atau ketidaksempurnaan. Makhluk surgawi, seperti para malaikat dan orang-orang kudus, memuji Tuhan dengan kesadaran penuh akan kemuliaan-Nya, dalam suasana yang benar-benar kudus dan tanpa cela.

Rabu, 24 Juli 2024

Yesus Kristus Juruselamat Manusia Versus Anak Manusia Jurumerdeka

Metoma News: Nabire 25 Juli 2024 - Berikut adalah artikel yang mengeksplorasi tema "Yesus Kristus Juruselamat Manusia Versus Anak Manusia Jurumerdeka":


Dalam diskusi teologis dan refleksi iman, Yesus Kristus sering dikenal dengan berbagai gelar dan peran. Dua di antaranya yang sangat signifikan adalah Yesus Kristus sebagai Juruselamat Manusia dan Anak Manusia sebagai Jurumerdeka. Meskipun kedua gelar ini mengacu pada Yesus, mereka membawa nuansa yang berbeda dalam pemahaman kita tentang misi dan karya-Nya.


Yesus Kristus Juruselamat Manusia

Yesus Kristus sebagai Juruselamat Manusia adalah konsep inti dari iman Kristen. Gelar ini menekankan aspek penebusan dari misi Yesus, yang berakar dalam pengorbanan-Nya di kayu salib untuk menebus dosa-dosa umat manusia.

Aspek Utama:
1. Penebusan Dosa: Yesus mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa-dosa manusia, membawa perdamaian antara manusia dan Tuhan.
2. Kasih Allah: Penyelamatan ini adalah manifestasi tertinggi dari kasih Allah kepada dunia (Yohanes 3:16).
3. Kebangkitan dan Kehidupan: Dengan kebangkitan-Nya, Yesus mengalahkan maut dan memberikan harapan hidup kekal kepada semua yang percaya kepada-Nya.

Anak Manusia Jurumerdeka

Sebaliknya, gelar Anak Manusia Jurumerdeka menyoroti aspek pembebasan dari misi Yesus. Ini menekankan pembebasan dari segala bentuk penindasan dan ketidakadilan, baik secara rohani maupun sosial.

Aspek Utama:
1. Pembebasan dari Penindasan: Yesus datang untuk membawa keadilan dan kebebasan bagi mereka yang tertindas, sesuai dengan nubuat Yesaya tentang Mesias (Yesaya 61:1-2).
2. Kebebasan Rohani: Yesus memberikan kebebasan dari belenggu dosa dan kuasa gelap, memampukan manusia untuk hidup dalam kebenaran dan kekudusan.
3. Transformasi Sosial: Melalui ajaran-Nya, Yesus mempromosikan nilai-nilai Kerajaan Allah seperti kasih, keadilan, dan perdamaian yang membawa perubahan sosial yang nyata.

Integrasi Kedua Peran

Meskipun tampaknya ada perbedaan antara Yesus sebagai Juruselamat Manusia dan Anak Manusia sebagai Jurumerdeka, keduanya sebenarnya adalah bagian dari misi yang holistik dan terpadu. Penyelamatan yang ditawarkan Yesus bukan hanya soal pengampunan dosa, tetapi juga pembebasan dari segala bentuk perbudakan dan ketidakadilan.

Pengajaran Alkitab:
1. Lukas 4:18-19: “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan kepada orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.”
2. Yohanes 8:36: “Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka.”

Kesimpulan

Yesus Kristus sebagai Juruselamat Manusia dan Anak Manusia sebagai Jurumerdeka menggambarkan kedalaman dan luasnya misi Yesus. Sebagai Juruselamat, Yesus memberikan penebusan dosa dan hidup kekal. Sebagai Jurumerdeka, Yesus membawa kebebasan dari segala bentuk penindasan dan ketidakadilan. Kedua peran ini saling melengkapi dan menunjukkan kasih Allah yang holistik bagi umat manusia.

Jumat, 25 Agustus 2023

KURANGNYA ETIKA DALAM PELAYANAN PERSEKUTUAN DOA TUBUH KRISTUS


Kurangnya etika dalam pelayanan Tua-Tua Persekutuan Doa Tubuh Kristus.

Nabire, 23 Agustus 2023

Disampaikan oleh Melkianus Keiya, SH, Mc.


Selanjutnya, bagi seorang yang telah mengalami kelahiran baru di dalam Yesus Kristus, oleh kuasa Rohkudus hidupnya tidak akan lepas dari apa yang disebut pelayanan kekeliruan. Pelayanan menjadi life style, gaya hidup berkesombongan yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan umat Tuhan Persekutuan Doa Tubuh Kristus itu sendiri. Setiap orang percaya dipanggil untuk melayani (Galatia 5:13).  Penggalangan kaum awam (Tua-Tua) untuk melayani memiliki dasar yang kuat dalam pelayanan bukan hanya monopoli hamba-hamba Tuhan yang menyerahkan segenap hidupnya melayani sempurna waktu (fulltime) melainkan juga milik jemaat awam (1 Petrus 2:9). Yang dibutuhkan disini adalah bagaimana kaum awam tersebut dilengkapi agar pelayanannnya mendukung pelayanan hamba-hamba Tuhan, dan bukan menghambat. Salah satu hal yang seyogyanya dipahami oleh para pelayan Tuhan adalah etika pelayanan, yaitu sikap yang baik dan benar sebagai pelayan Tuhan terhadap Tuhan yang dilayani, terhadap manusia, dan terhadap sistem pelayanan Roh Tuhan yang ada.


I. Sikap Terhadap Tuhan

Untuk dapat memiliki sikap yang baik dan benar terhadap Tuhan, seseorang harus mengenal-Nya dengan baik sesuai dengan pernyataan suara Tuhan itu sendiri. Pengenalan ini tidak hanya didasarkan pada pengetahuan teoritis melainkan juga melalui pengalaman hidup sehari-hari. Sikap Yesaya dalam pelayanannya sebagai nabi berubah ketika ia melihat Tuhan dalam suatu penglihatan yang maha dahsyat (Yesaya 6:1-8). Sikap kita terhadap Tuhan dan pelayanan yang dipercayakan-Nya kepada kita akan berubah jika kita lebih mengenal-Nya. Dalam pelayanan kuasa Roh Tuhan memaparkan tentang Diri Tuhan, sifat-sifat-Nya, tentang rencana dan karya-karya-Nya.Beberapa sikap kita sebagai pelayan Roh Kristus terhadap Tuhan, Kepala Gereja, antara lain :


Mengagungkan dan meninggikan Tuhan dalam seluruh aspek kehidupan, baik dalam ibadah maupun dalam hidup sosial kemasyarakatan.


Bersyukur atas segala karya-Nya dalam hidup kita dengan percaya akan kasih-Nya yang pasti mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi-Nya (Roma 8:28). Kedewasaan rohani seseorang dapat dilihat dari sikapnya ketika menghadapi berbagai warna kehidupan yang Tuhan ijinkan terjadi.


Bersedia hidup dalam ketaatan akan perintah-perintah-Nya sebagai tanda kasih kepada-Nya (Yohanes 14:15)


Hidup dalam kerendahan hati di hadapan Tuhan dengan menyadari bahwa segala kemauan dan kemampuan kita dalam pelayanan adalah pekerjaan Tuhan sendiri (2 Korintus 3:5; Filipi 2:13).Bersedia terus menerus diperbaharui oleh Roh Kudus (Efesus 4:1-24), dengan terus menjaga kemurnian hati (1 Timotius 1:18)


II. Sikap terhadap Tugas Pelayanan.

Banyak orang keliru dalam memandang setiap tugas pelayanan yang dilakukannya. Ada yang menganggapnya begitu sepele sehingga tidak pernah serius melakukannya. Pelayanan dianggap sebagai sambilan dan pengisi waktu luang belaka. Ada pula yang melihat pelayanan sebagai ibadah formal keagamaan yang kaku sehingga cenderung merupakan beban. Beberapa sikap terhadap tugas pelayanan yang dikehendaki Tuhan antara lain :


Tugas pelayanan harus dipandang sebagai kepercayaan yang dianugerahkan Allah kepada kita (Kolose 1:25)


Tugas pelayanan yang dipilih disesuaikan dengan talenta dan karunia Roh yang kita miliki; tak ada pelayanan yang tidak penting di hadapan Tuhan, semuanya penting dan saling melengkapi.


Sikap penuh disiplin dan setia terhadap tugas pelayanan yang dipercayakan sangat dihargai Tuhan (Matius 25:23).


Sikap menyeimbangkan pelayanan dengan karier dan keluarga juga harus diperhatikan; pelayanan tidak boleh menjadi alasan dan dikambinghitamkan untuk menutupi kekurangan dalam penanganan karier dan keluarga.


Sikap percaya bahwa setiap pelayanan yang kita lakukan tidak akan sia-sia selama kita melakukannya dengan hati yang mengasihi Tuhan (1 Korintus pasal 15 ayat 58); pelayanan kita bisa menjadi berkat bagi orang lain, dan kepada kitapun Tuhan telah menyediakan mahkota kebenaran (2 Timotius 4:8)


III. Sikap terhadap Rekan Sepelayanan

Sebagai anggota tubuh Kristus kita harus menyadari peran kita dan juga peran rekan sepelayanan lainnya. Dalam sistem Roh Tuhan dicatat adanya pelayanan yang kurang harmonis dalam kebersamaan karena ada motivasi yang kurang murni dalam melayani Beberapa diantaranya adalah :


Jemaat Korintus yang senang membentuk kelompok-kelompok; kelompok Kefas/Petrus, kelompok Apolos, kelompok Paulus, kelompok Kristus, sehingga tidak ada kesatuan dalam pelayanan mereka(1 Korintus 1:10-17). demikian pula tidak lepas dari dalam pelayanan umat Tuhan Persekutuan Doa Tubuh Kristus.


Motivasi dari beberapa pemberita Injil yang justru bermaksud memperberat pemenjaraan Rasul Paulus. (Filifi  1: 17), Motivasi pelayanan untuk lebih menyenangkan hati manusia daripada hati Tuhan (Galatia 1:10) tak terpisahkan dari segala bentuk pelayanan dalam Tua-Tua umat Tuhan Persekutuan Doa Tubuh Kristus.