Rabu, 02 September 2026

PENCURAHAN ROH KUDUS DAN PANGGILAN PERTOBATAN DI TANAH PAPUA.

PDTK NEWS:


Serukan Pertobatan Besar di Tanah Papua, PDTK: Pencurahan Roh Kudus Harus Melahirkan Perdamaian dan Perubahan Hidup

NABIRE, PAPUA TENGAH | KAMIS, 3 SEPTEMBER 2026 — PDTK NEWS — Persekutuan Doa Tubuh Kristus (PDTK) menyerukan kebangkitan rohani dan pertobatan menyeluruh di Tanah Papua. Pencurahan Roh Kudus dinilai tidak boleh berhenti pada pengalaman keagamaan semata, tetapi harus menghasilkan perubahan nyata dalam kehidupan berupa kasih, pengampunan, kekudusan, persatuan dan perdamaian.

Seruan tersebut disampaikan Melkias Keiya, S.H., Kepala Suku Besar Wilayah Meepago Provinsi Papua Tengah, dalam pesan dan refleksi rohani Persekutuan Doa Tubuh Kristus di Papua Tengah, Kamis (3/9/2026).

Pesan tersebut berangkat dari perenungan terhadap Zakharia 12:10, yang mencatat janji tentang pencurahan “roh pengasihan dan roh permohonan” atas keluarga Daud dan penduduk Yerusalem.

Melkias menjelaskan, secara Alkitabiah Zakharia 12:10 berbicara mengenai Israel. Namun, dalam refleksi dan konteks pelayanan PDTK di Tanah Papua, pesan mengenai pertobatan, pengasihan, doa dan pencurahan Roh Kudus tersebut dipandang sebagai panggilan rohani agar masyarakat Papua kembali kepada Tuhan.

Papua Membutuhkan Pembaruan Rohani

Menurut Melkias Keiya, Papua tidak hanya membutuhkan pembangunan fisik, ekonomi, infrastruktur dan pemerintahan, tetapi juga pembaruan hati dan kehidupan rohani masyarakat.

Berbagai persoalan sosial, kekerasan, permusuhan, perpecahan dan kepentingan pribadi, menurut dia, harus menjadi bahan perenungan bersama bagi umat Tuhan.

“Papua membutuhkan pertobatan. Papua membutuhkan hati yang kembali kepada Tuhan. Pencurahan Roh Kudus harus membawa manusia meninggalkan dosa, hidup dalam kasih, saling mengampuni dan membangun perdamaian,” kata Melkias Keiya.

Ia menegaskan bahwa perubahan besar harus dimulai dari kehidupan pribadi, keluarga dan para pemimpin sebelum diharapkan terjadi pada masyarakat secara luas.

Zakharia 12:10 dan Panggilan Pertobatan

Dalam pesan rohaninya, Melkias menjelaskan bahwa Zakharia 12:10 menggambarkan pencurahan roh pengasihan dan permohonan yang membawa manusia kepada kesadaran rohani, doa dan pertobatan.

Pesan tersebut juga dikaitkan dengan Yoel 2:28-29 tentang pencurahan Roh Allah serta Yehezkiel 39:29 mengenai karya Roh Tuhan atas umat-Nya.

Menurut dia, ketika Roh Kudus bekerja dalam kehidupan seseorang, perubahan seharusnya tidak hanya terlihat melalui aktivitas ibadah, tetapi juga melalui karakter dan perilaku sehari-hari.

Orang yang membenci harus belajar mengasihi. Orang yang bermusuhan harus berdamai. Mereka yang hidup dalam kesalahan harus berani bertobat dan kembali kepada jalan Tuhan.

Yesus Kristus Menjadi Pusat Pemberitaan

Melkias menegaskan bahwa Yesus Kristus harus tetap menjadi pusat pemberitaan dan pelayanan Persekutuan Doa Tubuh Kristus.

Zakharia 12:10 berbicara mengenai sosok “yang telah mereka tikam”. Dalam Perjanjian Baru, Yohanes 19:37 mengaitkan teks tersebut dengan peristiwa penyaliban Yesus Kristus.

Menurut Melkias, umat tidak cukup hanya mengenal nama Yesus melalui identitas agama atau tradisi gereja.

Iman kepada Kristus harus tercermin melalui kehidupan yang berubah, tindakan kasih, kejujuran, kekudusan, pengampunan dan kepedulian terhadap sesama manusia.

“Mengenal Tuhan bukan hanya melalui kata-kata. Kehidupan kita harus menunjukkan bahwa Kristus benar-benar hidup dan bekerja di dalam diri kita,” ujarnya.

Pertobatan Harus Dimulai dari Pemimpin hingga Rakyat

Melkias menyerukan agar panggilan pertobatan menjangkau seluruh lapisan masyarakat Papua.

Menurutnya, pemimpin, tokoh adat, tokoh agama, masyarakat, laki-laki, perempuan, orang tua maupun generasi muda memiliki tanggung jawab yang sama untuk memeriksa dan memperbaiki kehidupan di hadapan Tuhan.

Tidak ada kelompok yang dapat merasa lebih suci atau lebih benar dibandingkan kelompok lainnya.

“Kalau kita menginginkan perubahan di Tanah Papua, jangan selalu menunjuk kesalahan orang lain. Perubahan harus dimulai dari saya, dari Anda, dari keluarga kita, dari para pemimpin dan kemudian dari masyarakat secara bersama-sama,” katanya.

Para pemimpin, lanjut Melkias, harus menjalankan tanggung jawab secara jujur dan takut akan Tuhan. Masyarakat harus menjaga persaudaraan, sedangkan keluarga harus menjadi tempat pertama untuk menanamkan kasih, iman dan pengampunan.

Jangan Hanya Mengejar Kekuasaan dan Kepentingan Duniawi

Dalam seruan tersebut, Melkias juga mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan politik, kekuasaan, uang, jabatan dan kepentingan duniawi sebagai pusat kehidupan.

Menurut dia, pembangunan Papua harus berjalan seiring dengan pembangunan karakter dan moral manusianya.

Pembangunan fisik yang maju tetapi dibarengi kebencian, kekerasan, ketidakjujuran dan perpecahan tidak akan mampu menghasilkan kehidupan masyarakat yang benar-benar damai.

Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan Tuhan sebagai dasar dalam membangun kehidupan pribadi maupun kehidupan bersama.

Pencurahan Roh Kudus Harus Menghasilkan Buah

PDTK menekankan bahwa pencurahan Roh Kudus bukan sekadar pengalaman emosional atau kegiatan keagamaan.

Karya Roh Kudus harus menghasilkan buah nyata dalam kehidupan.

Orang yang sebelumnya hidup dalam permusuhan harus belajar berdamai. Orang yang menyimpan kebencian harus belajar mengampuni. Orang yang tidak jujur harus kembali kepada kebenaran.

Sementara mereka yang dipercayakan memiliki kekuasaan dan jabatan harus menggunakannya untuk melayani masyarakat, bukan untuk kepentingan diri sendiri.

“Pencurahan Roh Kudus bukan untuk membuat seseorang merasa lebih tinggi atau lebih rohani daripada orang lain. Roh Kudus membawa kita semakin rendah hati, semakin mengasihi, semakin hidup benar dan semakin dekat kepada Tuhan,” tegas Melkias.

Menyembah dalam Roh dan Kebenaran

Melkias juga mengajak umat untuk terus berdoa, memuji dan menyembah Tuhan dengan berpedoman pada Yohanes 4:23-24, mengenai penyembah-penyembah benar yang menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran.

Para pelayan Tuhan diingatkan agar tidak kehilangan semangat sekalipun hasil pelayanan belum terlihat sesuai harapan.

Menurut dia, tugas umat adalah tetap melakukan bagian yang dipercayakan Tuhan, sedangkan hasil akhirnya berada dalam kehendak dan waktu Tuhan.

“Jangan berhenti berdoa. Jangan berhenti menyembah. Jangan berhenti memberitakan Firman. Kita melakukan bagian kita dan Tuhan akan melakukan bagian-Nya sesuai dengan waktu dan kehendak-Nya,” katanya.

Doa untuk Tanah Papua

Melalui Persekutuan Doa Tubuh Kristus, Melkias Keiya mengajak umat Kristen di berbagai daerah untuk terus menaikkan doa bagi Tanah Papua.

Doa tersebut mencakup keluarga, kampung, masyarakat adat, gereja, para pemimpin, pemerintah, generasi muda serta seluruh masyarakat yang hidup di Tanah Papua.

Ia berharap terjadi pembaruan rohani yang mampu melahirkan generasi yang takut akan Tuhan, menghormati martabat manusia, menjaga persaudaraan serta bertanggung jawab terhadap masa depan Tanah Papua.

“Kita berdoa supaya kebangkitan rohani dan pertobatan terjadi dari pribadi ke pribadi, dari keluarga ke keluarga, dari kampung ke kampung dan menjangkau seluruh Tanah Papua. Biarlah kasih Kristus mengalahkan kebencian dan Roh Kudus memimpin kita kepada kebenaran dan perdamaian,” tutup Melkias Keiya.


PDTK NEWS NASIONAL
Persekutuan Doa Tubuh Kristus

Hari/Tanggal: Kamis, 3 September 2026
Lokasi: Nabire, Provinsi Papua Tengah
Narasumber: Melkias Keiya, S.H.
Jabatan: Kepala Suku Besar Wilayah Meepago Provinsi Papua Tengah
Tema: Pencurahan Roh Kudus dan Pertobatan di Tanah Papua
Ayat Utama: Zakharia 12:10
Naskah: Keiya Meeyoka

Memuji dan Menyembah Allah dalam Roh dan Kebenaran

Senin, 24 Agustus 2026

PDTK NEWS | Menantikan Penggenapan Firman Tuhan, Umat Diajak Menjaga Persatuan dan Menolak Provokasi.

Penafsiran atas Wahyu 12 dan Daniel 7 menjadi panggilan untuk berjaga-jaga dalam iman, mempererat persaudaraan, serta menghindari perpecahan di tengah masyarakat.

NABIRE, PAPUA TENGAH PDTK News— Persekutuan Doa Tubuh Kristus atau PDTK mengajak umat Tuhan untuk semakin tekun berdoa, menjaga kesatuan hati, dan menolak segala bentuk provokasi yang dapat menimbulkan pertentangan di antara sesama.

Ajakan tersebut disampaikan seiring berkembangnya perhatian terhadap penafsiran mengenai tanda-tanda akhir zaman sebagaimana tertulis dalam Kitab Wahyu 12:1–2, 5–6 dan Daniel 7:13–14.

Bagi sebagian umat, ayat-ayat tersebut dipahami sebagai gambaran tentang perjalanan rencana Allah, pergumulan umat Tuhan, pemeliharaan ilahi, serta pengharapan akan datangnya pemerintahan yang berada dalam kuasa-Nya.

Namun, pengharapan tersebut tidak seharusnya menimbulkan ketakutan, permusuhan, ataupun tindakan saling menyalahkan. Sebaliknya, pemahaman terhadap firman Tuhan perlu mendorong setiap orang untuk hidup dalam kasih, kerendahan hati, serta tanggung jawab menjaga kedamaian bersama.

Memahami Tanda-Tanda dalam Wahyu 12

Kitab Wahyu 12:1 menggambarkan suatu tanda besar di langit: seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan mahkota dua belas bintang di kepalanya.

Selanjutnya, Wahyu 12:2 menggambarkan perempuan itu sedang mengandung dan mengalami kesakitan menjelang persalinan.

Dalam Wahyu 12:5, perempuan tersebut melahirkan seorang anak laki-laki yang dikaitkan dengan kuasa pemerintahan atas bangsa-bangsa. Sementara itu, Wahyu 12:6 menggambarkan perempuan tersebut dibawa ke tempat yang telah dipersiapkan Allah untuk memeliharanya.

Di lingkungan PDTK, rangkaian ayat tersebut dipahami oleh sebagian umat sebagai gambaran rohani mengenai pergumulan, kelahiran, perlindungan, serta penyertaan Tuhan terhadap umat-Nya pada masa-masa yang penuh tantangan.

Penafsiran tersebut juga mengandung pesan bahwa ketika manusia menghadapi tekanan dan ketidakpastian, Tuhan tetap memiliki kuasa untuk memelihara dan menuntun umat-Nya.

Oleh sebab itu, perhatian terhadap tanda-tanda rohani semestinya disertai kehidupan yang menghasilkan buah kasih, kesabaran, penguasaan diri, dan penghormatan terhadap sesama.

Daniel 7:13–14 dan Pengharapan akan Kuasa Allah

Selain Wahyu 12, perhatian umat juga tertuju pada Daniel 7:13–14, yang menggambarkan sosok seperti Anak Manusia datang dengan awan-awan dari langit dan menerima kekuasaan, kemuliaan, serta kerajaan yang tidak akan berkesudahan.

Bagi umat Kristen, penglihatan tersebut menjadi sumber pengharapan bahwa pada akhirnya kedaulatan Allah berada di atas segala kuasa dunia.

Dalam pembahasan rohani di kalangan tertentu, rentang waktu 2027–2030 dipandang sebagai masa yang perlu dicermati dengan doa dan kewaspadaan iman. Meski demikian, rentang tahun tersebut merupakan penafsiran dan pengharapan sebagian orang, bukan kepastian waktu yang dapat dinyatakan sebagai ketetapan mutlak.

Tidak seorang pun sepatutnya menggunakan dugaan tentang waktu penggenapan nubuat untuk menakut-nakuti masyarakat, memecah persaudaraan, atau memaksakan keyakinan kepada pihak lain.

Sikap yang lebih bijaksana adalah tetap berjaga-jaga secara rohani, memperbaiki kehidupan, dan menyerahkan segala waktu serta ketetapan kepada Tuhan.

Hati-Hati terhadap Provokasi di Antara Sesama

Di tengah berbagai penafsiran dan perkembangan situasi sosial, PDTK mengingatkan umat agar tidak mudah terpancing oleh informasi yang belum jelas, tuduhan sepihak, kabar bohong, maupun pernyataan yang sengaja memperhadapkan satu kelompok dengan kelompok lainnya.

Provokasi dapat muncul melalui percakapan langsung, unggahan media sosial, pesan berantai, maupun penyebaran isu yang menimbulkan kecurigaan di antara saudara seiman dan sesama warga.

Karena itu, setiap persoalan perlu disikapi dengan tenang, diperiksa kebenarannya, dan dibicarakan melalui komunikasi yang terbuka serta penuh kasih.

“Jangan dengan sengaja menciptakan provokasi di antara sesama kita. Jika ada perbedaan, selesaikan dengan doa, kasih, komunikasi, dan persaudaraan. Jangan memberi ruang bagi kebencian untuk memecah Tubuh Kristus.”

Peringatan tersebut menjadi penting karena perpecahan yang dibiarkan berkembang bukan hanya merusak hubungan antarpribadi, tetapi juga dapat mengganggu ketenteraman masyarakat.

Umat Dipanggil Menjadi Pembawa Damai

Persekutuan Doa Tubuh Kristus menekankan bahwa kesiapan menghadapi masa depan tidak ditunjukkan melalui kepanikan, melainkan melalui kehidupan yang mencerminkan kasih Tuhan.

Umat diajak memperkuat doa, menjaga kekudusan hidup, menghindari fitnah, menghormati perbedaan, dan membangun kebersamaan dengan seluruh lapisan masyarakat.

Dalam kehidupan sehari-hari, panggilan tersebut dapat diwujudkan dengan menolak pertikaian antarsuku, tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, serta mengutamakan penyelesaian masalah melalui dialog dan musyawarah.

Kesatuan umat juga perlu dijaga dengan menempatkan kasih di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.

Firman Tuhan dalam Efesus 4:3 mengingatkan pentingnya memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera. Prinsip tersebut sejalan dengan panggilan PDTK untuk menghadirkan kehidupan persekutuan yang membangun, menguatkan, dan mempersatukan.

Menunggu dengan Iman, Hidup dengan Kasih

Bagi umat percaya, menantikan penggenapan firman Tuhan bukan alasan untuk saling menuduh atau merasa paling benar. Penantian justru menjadi kesempatan untuk bertobat, memperbaiki hubungan, dan memperkuat kepedulian terhadap sesama.

Apa pun penafsiran mengenai Wahyu 12, Daniel 7, maupun tahun-tahun yang dianggap penting, umat diingatkan bahwa waktu dan ketetapan tertinggi tetap berada dalam kuasa Tuhan.

Karena itu, pesan yang perlu dikedepankan adalah persaudaraan, kedamaian, dan kesiapan menjalani hidup dengan hati yang bersih.

“Kita boleh berjaga-jaga dalam iman, tetapi jangan menciptakan ketakutan. Kita boleh menantikan penggenapan firman, tetapi jangan memecah persaudaraan. Mari berdoa, hidup dalam kasih, dan menjaga damai di antara sesama.”

PDTK NEWSSatu Tubuh, Satu Roh, Satu Pengharapan dalam Kasih Kristus. 

Selasa, 18 Agustus 2026

Persekutuan Doa Tubuh Kristus

 

Umat PDTK Gelar Ibadah Pelepasan Salah dan Dosa melalui Ratap Tangis dan Penyembahan. 

NABIRE, PAPUA TENGAH — Umat Tuhan yang tergabung dalam Persekutuan Doa Tubuh Kristus (PDTK) melaksanakan ibadah pelepasan salah dan dosa di hadapan Tuhan. Ibadah berlangsung dalam suasana penuh penghayatan melalui doa, ratap tangis, keluhan hati, sorak-sorai, pujian, dan penyembahan dalam roh dan kebenaran.

Dalam ibadah tersebut, umat datang merendahkan diri serta membuka hati di hadapan Tuhan. Ratap tangis dipahami sebagai ungkapan penyesalan, pertobatan, dan kerinduan untuk memperoleh pengampunan serta pemulihan hidup.

Tangisan dan keluhan umat bukan sekadar luapan perasaan, melainkan bagian dari doa yang lahir dari kedalaman hati. Setelah melewati proses pengakuan dan penyerahan diri, suasana ibadah dilanjutkan dengan sorak-sorai kemenangan, pujian, serta penyembahan kepada Tuhan.

PDTK menegaskan bahwa pelepasan dari kesalahan dan dosa tidak dilakukan melalui kekuatan manusia, melainkan melalui kasih karunia Tuhan, pertobatan yang sungguh-sungguh, dan pembaruan hidup dalam Yesus Kristus.

Ibadah tersebut berlandaskan firman Tuhan dalam Yohanes 4:23–24, yang mengajarkan bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran. Selain itu, Ibrani 5:7 menggambarkan doa yang dipanjatkan dengan ratap tangis, sedangkan Yoel 2:12–13 menyerukan agar umat kembali kepada Tuhan dengan segenap hati.

Melalui ibadah ini, umat PDTK diajak meninggalkan kesalahan, kebencian, perselisihan, dan segala perbuatan yang tidak berkenan kepada Tuhan. Pertobatan harus diwujudkan melalui kehidupan yang menghasilkan buah kasih, perdamaian, pengampunan, persaudaraan, dan kepedulian terhadap sesama.


 

Persekutuan Doa Tubuh Kristus juga mengajak seluruh umat Tuhan untuk membangun kehidupan doa yang tulus, menjaga persatuan, serta menjadi pembawa damai di tengah keluarga, gereja, masyarakat, dan bangsa.

“Ratap tangis membawa umat kepada pertobatan, sedangkan pujian dan penyembahan menyatakan kemenangan serta ucapan syukur kepada Tuhan. Semuanya dilakukan dalam roh dan kebenaran,” demikian pesan rohani yang disampaikan dalam persekutuan tersebut.

Melalui gerakan doa ini, PDTK berharap terjadi pemulihan rohani dalam kehidupan umat serta terciptanya kedamaian, persatuan, dan kasih persaudaraan di Tanah Papua maupun seluruh Indonesia.

Penulis: Melkias Keiya, S.H.
Sekretaris Umum Persekutuan Doa Tubuh Kristus (PDTK)

Catatan Redaksi: Naskah ini disusun dalam gaya jurnalistik media nasional untuk keperluan publikasi dan tidak menyatakan telah diterbitkan oleh media tertentu.


Persekutuan Doa Tubuh Kristus.

PDTK-NEWS

IMAN, PENGHARAPAN, DAN KASIH: MAKNA ROHANI PERSEKUTUAN DOA TUBUH KRISTUS

NABIRE, PAPUA TENGAH — Persekutuan Doa Tubuh Kristus atau PDTK memiliki makna rohani yang bertumpu pada tiga dasar kehidupan umat percaya, yaitu iman, pengharapan, dan kasih.

Sekretaris Umum PDTK, Melkias Keiya, S.H., menjelaskan bahwa ketiga unsur dalam nama Persekutuan Doa Tubuh Kristus mencerminkan nilai yang saling berkaitan dalam perjalanan kehidupan rohani.

“Persekutuan berarti iman, doa berarti pengharapan, dan Tubuh Kristus berarti kasih. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan,” ungkapnya.

1. Persekutuan adalah iman. Melalui iman kepada Tuhan Yesus Kristus, umat percaya dipersatukan dalam hubungan persaudaraan yang melampaui perbedaan suku, wilayah, dan latar belakang kehidupan.

2. Doa adalah pengharapan. Melalui doa, umat menyerahkan hidup kepada Tuhan, percaya pada penyertaan-Nya, dan menantikan jawaban serta pemulihan sesuai dengan kehendak-Nya.

3. Tubuh Kristus adalah kasih. Sebagai satu tubuh di dalam Kristus, setiap anggota dipanggil untuk saling mengasihi, melayani, menguatkan, serta menjaga persatuan dalam Roh dan kebenaran.

Dasar pemahaman tersebut sejalan dengan firman Tuhan dalam 1 Korintus 13:13: “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.”

Melkias Keiya menegaskan bahwa PDTK harus terus menghidupi ketiga nilai tersebut dalam ibadah, pelayanan, dan kehidupan bersama. “Iman mempersatukan kita dalam persekutuan. Pengharapan menguatkan kita dalam doa. Kasih menjadikan kita satu di dalam Tubuh Kristus,” tegasnya.

PDTK: Satu iman, satu pengharapan, satu tubuh dalam kasih Kristus.

PDTK-NEWS | Papua Tengah

Kamis, 13 Agustus 2026

HIDUP SANTAI NAMUN PRODUKTIF, TOKOH PAPUA AJAK MASYARAKAT MENGHASILKAN BUAH KEHIDUPAN.



















TIMIKA, PAPUA TENGAH — Kehidupan yang baik tidak selalu diukur dari kesibukan yang berlebihan, tetapi dari kemampuan seseorang menjalani hidup dengan tenang, terarah, dan menghasilkan sesuatu yang nyata serta bermanfaat bagi banyak orang.

Pesan tersebut disampaikan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Ignasius Adii, dalam pandangannya mengenai pentingnya menjalani kehidupan secara santai namun tetap memiliki tujuan dan menghasilkan karya yang pasti.“Hidup dan berkehidupanlah dengan santai, tetapi harus menghasilkan dengan pasti.”

Pesan itu menekankan pentingnya keseimbangan antara ketenangan hidup, tanggung jawab, kerja nyata, dan hasil yang dapat dirasakan oleh masyarakat.

Pandangan tersebut kemudian diperkuat oleh Kepala Suku Mee di Timika, Piet Nawipa, yang mengajak masyarakat untuk tidak hanya mengejar hasil secara lahiriah, tetapi juga membangun kehidupan spiritual yang benar dan menghasilkan buah-buah kehidupan yang baik.

Menurutnya, kehidupan spiritual harus terlihat dari tindakan nyata, karakter, kasih, kedamaian, serta manfaat yang diberikan kepada sesama. “Lakukan kehidupan spiritual yang pasti dan benar-benar menghasilkan buah-buah yang menyenangkan hati banyak orang.”

Pesan kedua tokoh tersebut memiliki makna penting bagi kehidupan masyarakat Papua saat ini. Spiritualitas tidak cukup hanya diwujudkan melalui perkataan, tetapi harus menghasilkan perubahan nyata dalam kehidupan keluarga, masyarakat, pelayanan, pekerjaan, serta hubungan antarsesama.

Kehidupan yang menghasilkan buah berarti menghadirkan kedamaian, kasih, kejujuran, kerukunan, kerja keras, saling menghormati, serta kepedulian terhadap sesama manusia.

Masyarakat, terutama generasi muda, diajak untuk tidak terjebak dalam kehidupan yang penuh persaingan tanpa arah. Setiap orang dapat menjalani kehidupan dengan tenang, tetapi tetap mempunyai tujuan, disiplin, tanggung jawab, dan menghasilkan sesuatu yang berguna.

Pada akhirnya, ukuran kehidupan bukan hanya seberapa banyak seseorang berbicara atau seberapa tinggi kedudukannya, melainkan buah apa yang dihasilkan dari kehidupannya dan seberapa besar manfaatnya bagi orang lain.

Pesan ini sekaligus menjadi seruan moral dan spiritual agar kehidupan bermasyarakat di Tanah Papua terus dibangun di atas nilai persaudaraan, kedamaian, kerja nyata, dan kehidupan rohani yang menghasilkan buah kebaikan. “Santai dalam menjalani kehidupan, pasti dalam menghasilkan. Kuat dalam spiritualitas, nyata dalam buah kehidupan.

___________

Ditulis oleh: Melkias Keiya, S.H. Kepala Suku Besar Wilayah Meepago, Provinsi Papua Tengah

Selasa, 11 Agustus 2026

PDTK NABIRE MINTA POLISI TANGANI POLEMIK RUMAH INDUK IBADAH DI MERIAM.

 

LOGO PDTK Originals

PDTK menegaskan lokasi tersebut merupakan aset dan rumah induk ibadah mereka, serta meminta persoalan diselesaikan melalui jalur hukum dan dialog damai.




Senin, 10 Agustus 2026

RATAP, TANGIS, DAN DOA YANG TEKUN MENJADI PANGGILAN KETULUSAN DI HADAPAN TUHAN.


Sekum Persekutuan Doa Tubuh Kristus, Melkias Keiya, SH: Takut akan Tuhan harus melahirkan pertobatan, ketekunan, kerendahan hati, dan kesungguhan dalam pelayanan. 

PAPUA TENGAH — Sekretaris Umum Persekutuan Doa Tubuh Kristus (PDTK), Melkias Keiya, SH, menegaskan bahwa salah satu bentuk pendekatan rohani seorang manusia kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah hidup dalam takut akan Tuhan, merendahkan diri, berdoa dengan sungguh-sungguh, serta membangun ketekunan melalui ratap, tangis, keluhan hati, puasa, pujian dan penyembahan.

Menurutnya, kehidupan doa tidak semestinya hanya dilakukan ketika manusia menghadapi persoalan. Doa harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang dilakukan secara terus-menerus dengan hati yang tulus.

Dalam pelayanan berskala besar, kata dia, seorang pelayan Tuhan juga membutuhkan fokus rohani, ketekunan dan kesediaan untuk berkorban, bukan hanya kemampuan berbicara di depan banyak orang.

“Di hadapan Tuhan, manusia harus datang dengan hati yang takut akan Tuhan, jujur, tulus dan rendah hati. Ratap dan tangis bukan sekadar mengeluarkan air mata, tetapi merupakan ungkapan hati manusia yang sungguh-sungguh mencari Tuhan dan memohon perkenanan-Nya,” kata Melkias Keiya.



Takut akan Tuhan Menjadi Dasar Kehidupan Rohani

Menurut Sekum PDTK, takut akan Tuhan bukan berarti hidup dalam ketakutan yang membuat manusia menjauh dari Allah. Sebaliknya, takut akan Tuhan berarti memiliki rasa hormat, tunduk, taat dan sadar bahwa kehidupan manusia berada di bawah kehendak dan kedaulatan Tuhan.

Karena itu, rasa takut akan Tuhan harus terlihat melalui perubahan kehidupan, baik dalam perkataan, tindakan maupun pelayanan kepada sesama.

Kehidupan rohani tidak cukup hanya ditunjukkan melalui kegiatan keagamaan di depan umum. Ketulusan seseorang justru diuji ketika ia berada dalam doa pribadi, pergumulan, kesulitan, kesendirian dan pelayanan yang membutuhkan pengorbanan.

“Orang yang sungguh-sungguh takut akan Tuhan akan menjaga hati, menjaga perkataan, menghindari kejahatan dan terus mencari kehendak Tuhan dalam kehidupannya,” ujarnya.



Ratap dan Tangis Bukan Sekadar Emosi

Dalam pandangan PDTK, ratap dan tangis merupakan bagian dari ekspresi doa yang dapat muncul ketika seseorang sungguh-sungguh menyadari kelemahan dirinya di hadapan Tuhan.

Ratapan bukan sebuah pertunjukan, bukan pula sarana untuk menunjukkan bahwa seseorang lebih rohani daripada orang lain.

Ratap dan tangis harus lahir secara alami dari hati yang sedang mencari pertolongan, pengampunan, pemulihan maupun petunjuk Tuhan.

Karena itu, Melkias mengingatkan agar praktik ratap tangis dalam ibadah tidak dijadikan ukuran untuk menghakimi tingkat iman seseorang.

Yang terutama di hadapan Tuhan adalah ketulusan hati.

Dalam berbagai bagian Alkitab, doa yang disertai tangisan, puasa dan kerendahan hati menjadi gambaran manusia yang datang kepada Tuhan dengan seluruh keberadaannya.

Semangat tersebut antara lain dapat direnungkan melalui Mazmur 6, Yoel 2:12–13, Ibrani 5:7, Mazmur 51:17 serta 1 Tesalonika 5:17.



Berdoa Secara Berturut-turut dengan Ketekunan

Melkias Keiya juga menekankan pentingnya ketekunan dalam kehidupan doa.

Menurutnya, berdoa secara berturut-turut selama beberapa hari bukan berarti manusia dapat memaksa Tuhan untuk memenuhi seluruh keinginannya.

Doa yang tekun justru merupakan proses untuk menyerahkan kehendak manusia kepada Tuhan, sambil menunggu jawaban dan waktu Tuhan.

“Berhari-hari berada dalam doa bukan berarti memaksa Tuhan mengikuti kemauan kita. Kita justru sedang mendidik diri untuk tetap setia, sabar, fokus dan berserah kepada kehendak-Nya,” katanya.

Dalam pengertian tersebut, kegelisahan rohani hendaknya diarahkan kepada pencarian akan Tuhan, bukan menjadi kecemasan yang menguasai kehidupan.

Kegelisahan yang dimaksud adalah kerinduan mendalam untuk semakin dekat kepada Tuhan, memperbaiki diri, bertobat dan mencari kehendak-Nya.



Lelah Mengeluh tetapi Tidak Berhenti Berdoa

Dalam perjalanan pelayanan, seseorang dapat mengalami kelelahan fisik maupun batin.

Ada kalanya seorang pelayan merasa telah bekerja, berdoa dan berusaha berulang kali, namun jawaban yang dinantikan belum terlihat.

Pada keadaan seperti itu, menurut Melkias, orang percaya tidak perlu berpura-pura seolah-olah dirinya selalu kuat.

Keluhan dapat disampaikan kepada Tuhan secara jujur dalam doa.

Namun keluhan tersebut jangan berubah menjadi keputusasaan atau kebencian.

Sebaliknya, pergumulan harus membawa seseorang semakin dekat kepada Tuhan.

“Manusia boleh menangis di hadapan Tuhan. Manusia boleh mengeluh kepada Tuhan. Tetapi jangan meninggalkan Tuhan. Justru ketika kekuatan kita berkurang, kita harus semakin menyerahkan kehidupan kepada-Nya,” ujarnya.



Pelayanan Besar Harus Dimulai dari Ruang Doa

Sekum PDTK menilai pelayanan dalam skala besar membutuhkan dasar rohani yang kuat.

Jumlah peserta, besarnya panggung, kelengkapan peralatan, organisasi pelayanan maupun popularitas seorang pelayan tidak boleh menjadi ukuran utama keberhasilan pelayanan.

Menurutnya, pelayanan yang besar harus terlebih dahulu dibangun melalui kehidupan doa.

Pelayan Tuhan perlu menyediakan waktu untuk berdoa, merenungkan firman, mengevaluasi diri, berdamai dengan sesama serta memohon hikmat sebelum menjalankan tanggung jawab yang lebih luas.

“Pelayanan besar harus dimulai dari hati yang berlutut di hadapan Tuhan. Jangan hanya mempersiapkan panggung dan suara, tetapi tidak mempersiapkan hati,” tegasnya.



Bukan Mencari Popularitas

PDTK juga mengingatkan bahwa pelayanan keagamaan jangan menjadi sarana untuk mencari nama, jabatan maupun popularitas pribadi.

Setiap bentuk pelayanan harus diarahkan kepada kemuliaan Tuhan serta pembangunan kehidupan umat.

Karena itu, seorang pelayan harus terus memeriksa motivasi dirinya.

Apakah ia melayani karena sungguh-sungguh mengasihi Tuhan dan manusia, atau hanya ingin mendapatkan pengakuan dari masyarakat.

Melkias mengatakan ketulusan merupakan salah satu unsur yang sangat penting.

“Seseorang mungkin dapat meyakinkan manusia melalui kata-kata, tetapi Tuhan melihat hati. Karena itu, yang perlu kita bangun adalah ketulusan di hadapan-Nya,” katanya.



Tidak Memaksakan Cara Berdoa kepada Orang Lain

Persekutuan Doa Tubuh Kristus juga menekankan bahwa pengalaman rohani setiap orang dapat berbeda.

Ada orang yang berdoa dengan air mata. Ada yang berdoa dengan tenang. Ada yang mengekspresikan iman melalui pujian dan penyembahan, sementara yang lain lebih banyak merenungkan firman dalam keheningan.

Perbedaan tersebut tidak semestinya menjadi alasan untuk saling merendahkan.

Yang terutama adalah iman, pertobatan, kasih, ketaatan dan ketulusan kepada Tuhan.

Karena itu, praktik ratap, tangis, puasa maupun bentuk doa lainnya hendaknya dilakukan sebagai ekspresi iman secara sadar dan sukarela, bukan karena tekanan orang lain.



Menjaga Keseimbangan Rohani dan Kondisi Tubuh

Dalam menjalani doa dan pelayanan yang berlangsung berhari-hari, setiap orang juga perlu memperhatikan kondisi fisiknya.

Ketekunan berdoa tidak berarti mengabaikan kebutuhan dasar tubuh.

Istirahat, makanan, air minum dan kesehatan perlu tetap diperhatikan agar pelayanan tidak justru membahayakan seseorang.

Orang yang sedang sakit, lanjut usia, sedang mengonsumsi obat atau mempunyai kondisi kesehatan tertentu perlu menyesuaikan bentuk puasa dan aktivitas pelayanan dengan keadaan masing-masing.

Dengan demikian, kesungguhan rohani berjalan bersama kebijaksanaan.



Dari Ratapan Menuju Pemulihan

Melkias Keiya mengatakan tujuan akhir dari ratap dan tangis bukanlah membuat umat terus berada dalam kesedihan.

Ratapan seharusnya membawa manusia menuju pertobatan, pengharapan, pemulihan dan kehidupan baru.

Setelah seseorang mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan, ia diharapkan bangkit dengan iman yang semakin kuat untuk menjalankan tanggung jawab kepada keluarga, gereja, masyarakat dan sesama.

Dengan demikian, kehidupan doa tidak berhenti di ruang ibadah.

Buah kehidupan rohani harus terlihat dalam tindakan nyata: mengasihi sesama, mengampuni, menolong mereka yang membutuhkan, menjaga perdamaian, menghindari kekerasan, berlaku adil dan membangun persaudaraan.



Seruan kepada Seluruh Umat

Menutup keterangannya, Sekum Persekutuan Doa Tubuh Kristus mengajak umat untuk kembali membangun kehidupan doa yang berakar pada ketulusan.

“Datanglah kepada Tuhan dengan hati yang tulus. Kalau harus menangis, menangislah di hadapan Tuhan. Kalau hati sedang berat, sampaikan kepada Tuhan. Kalau pelayanan terasa melelahkan, jangan meninggalkan Tuhan. Tetaplah berdoa, memuji, menyembah dan mencari kehendak-Nya,” ujar Melkias.

Ia menambahkan, ketekunan tersebut tidak bertujuan untuk “memaksa” Tuhan, melainkan untuk membentuk manusia agar semakin taat kepada kehendak-Nya.

“Yang kita cari bukan bagaimana Tuhan mengikuti kehendak manusia, tetapi bagaimana manusia semakin memahami dan melakukan kehendak Tuhan. Di situlah doa, ratap, tangis dan ketekunan menemukan makna yang sebenarnya,” tutupnya.


PESAN UTAMA

Takut akan Tuhan melahirkan ketaatan.
Ratap dan tangis melahirkan kerendahan hati.
Doa yang tekun melahirkan kesabaran.
Firman Tuhan memberikan arah.
Pujian dan penyembahan menguatkan iman.
Dan ketulusan membuat pelayanan tetap tertuju kepada Tuhan.

Penulis/Pernyataan:
Melkias Keiya, SH
Sekretaris Umum Persekutuan Doa Tubuh Kristus (PDTK)

Untuk publikasi: Media publik nasional, media sosial, Facebook, WhatsApp, portal berita dan PDTK News.