Selasa, 18 Agustus 2026

Persekutuan Doa Tubuh Kristus

 

Umat PDTK Gelar Ibadah Pelepasan Salah dan Dosa melalui Ratap Tangis dan Penyembahan. 

NABIRE, PAPUA TENGAH — Umat Tuhan yang tergabung dalam Persekutuan Doa Tubuh Kristus (PDTK) melaksanakan ibadah pelepasan salah dan dosa di hadapan Tuhan. Ibadah berlangsung dalam suasana penuh penghayatan melalui doa, ratap tangis, keluhan hati, sorak-sorai, pujian, dan penyembahan dalam roh dan kebenaran.

Dalam ibadah tersebut, umat datang merendahkan diri serta membuka hati di hadapan Tuhan. Ratap tangis dipahami sebagai ungkapan penyesalan, pertobatan, dan kerinduan untuk memperoleh pengampunan serta pemulihan hidup.

Tangisan dan keluhan umat bukan sekadar luapan perasaan, melainkan bagian dari doa yang lahir dari kedalaman hati. Setelah melewati proses pengakuan dan penyerahan diri, suasana ibadah dilanjutkan dengan sorak-sorai kemenangan, pujian, serta penyembahan kepada Tuhan.

PDTK menegaskan bahwa pelepasan dari kesalahan dan dosa tidak dilakukan melalui kekuatan manusia, melainkan melalui kasih karunia Tuhan, pertobatan yang sungguh-sungguh, dan pembaruan hidup dalam Yesus Kristus.

Ibadah tersebut berlandaskan firman Tuhan dalam Yohanes 4:23–24, yang mengajarkan bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran. Selain itu, Ibrani 5:7 menggambarkan doa yang dipanjatkan dengan ratap tangis, sedangkan Yoel 2:12–13 menyerukan agar umat kembali kepada Tuhan dengan segenap hati.

Melalui ibadah ini, umat PDTK diajak meninggalkan kesalahan, kebencian, perselisihan, dan segala perbuatan yang tidak berkenan kepada Tuhan. Pertobatan harus diwujudkan melalui kehidupan yang menghasilkan buah kasih, perdamaian, pengampunan, persaudaraan, dan kepedulian terhadap sesama.


 

Persekutuan Doa Tubuh Kristus juga mengajak seluruh umat Tuhan untuk membangun kehidupan doa yang tulus, menjaga persatuan, serta menjadi pembawa damai di tengah keluarga, gereja, masyarakat, dan bangsa.

“Ratap tangis membawa umat kepada pertobatan, sedangkan pujian dan penyembahan menyatakan kemenangan serta ucapan syukur kepada Tuhan. Semuanya dilakukan dalam roh dan kebenaran,” demikian pesan rohani yang disampaikan dalam persekutuan tersebut.

Melalui gerakan doa ini, PDTK berharap terjadi pemulihan rohani dalam kehidupan umat serta terciptanya kedamaian, persatuan, dan kasih persaudaraan di Tanah Papua maupun seluruh Indonesia.

Penulis: Melkias Keiya, S.H.
Sekretaris Umum Persekutuan Doa Tubuh Kristus (PDTK)

Catatan Redaksi: Naskah ini disusun dalam gaya jurnalistik media nasional untuk keperluan publikasi dan tidak menyatakan telah diterbitkan oleh media tertentu.


Persekutuan Doa Tubuh Kristus.

PDTK-NEWS

IMAN, PENGHARAPAN, DAN KASIH: MAKNA ROHANI PERSEKUTUAN DOA TUBUH KRISTUS

NABIRE, PAPUA TENGAH — Persekutuan Doa Tubuh Kristus atau PDTK memiliki makna rohani yang bertumpu pada tiga dasar kehidupan umat percaya, yaitu iman, pengharapan, dan kasih.

Sekretaris Umum PDTK, Melkias Keiya, S.H., menjelaskan bahwa ketiga unsur dalam nama Persekutuan Doa Tubuh Kristus mencerminkan nilai yang saling berkaitan dalam perjalanan kehidupan rohani.

“Persekutuan berarti iman, doa berarti pengharapan, dan Tubuh Kristus berarti kasih. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan,” ungkapnya.

1. Persekutuan adalah iman. Melalui iman kepada Tuhan Yesus Kristus, umat percaya dipersatukan dalam hubungan persaudaraan yang melampaui perbedaan suku, wilayah, dan latar belakang kehidupan.

2. Doa adalah pengharapan. Melalui doa, umat menyerahkan hidup kepada Tuhan, percaya pada penyertaan-Nya, dan menantikan jawaban serta pemulihan sesuai dengan kehendak-Nya.

3. Tubuh Kristus adalah kasih. Sebagai satu tubuh di dalam Kristus, setiap anggota dipanggil untuk saling mengasihi, melayani, menguatkan, serta menjaga persatuan dalam Roh dan kebenaran.

Dasar pemahaman tersebut sejalan dengan firman Tuhan dalam 1 Korintus 13:13: “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.”

Melkias Keiya menegaskan bahwa PDTK harus terus menghidupi ketiga nilai tersebut dalam ibadah, pelayanan, dan kehidupan bersama. “Iman mempersatukan kita dalam persekutuan. Pengharapan menguatkan kita dalam doa. Kasih menjadikan kita satu di dalam Tubuh Kristus,” tegasnya.

PDTK: Satu iman, satu pengharapan, satu tubuh dalam kasih Kristus.

PDTK-NEWS | Papua Tengah

Kamis, 13 Agustus 2026

HIDUP SANTAI NAMUN PRODUKTIF, TOKOH PAPUA AJAK MASYARAKAT MENGHASILKAN BUAH KEHIDUPAN.



















TIMIKA, PAPUA TENGAH — Kehidupan yang baik tidak selalu diukur dari kesibukan yang berlebihan, tetapi dari kemampuan seseorang menjalani hidup dengan tenang, terarah, dan menghasilkan sesuatu yang nyata serta bermanfaat bagi banyak orang.

Pesan tersebut disampaikan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Ignasius Adii, dalam pandangannya mengenai pentingnya menjalani kehidupan secara santai namun tetap memiliki tujuan dan menghasilkan karya yang pasti.“Hidup dan berkehidupanlah dengan santai, tetapi harus menghasilkan dengan pasti.”

Pesan itu menekankan pentingnya keseimbangan antara ketenangan hidup, tanggung jawab, kerja nyata, dan hasil yang dapat dirasakan oleh masyarakat.

Pandangan tersebut kemudian diperkuat oleh Kepala Suku Mee di Timika, Piet Nawipa, yang mengajak masyarakat untuk tidak hanya mengejar hasil secara lahiriah, tetapi juga membangun kehidupan spiritual yang benar dan menghasilkan buah-buah kehidupan yang baik.

Menurutnya, kehidupan spiritual harus terlihat dari tindakan nyata, karakter, kasih, kedamaian, serta manfaat yang diberikan kepada sesama. “Lakukan kehidupan spiritual yang pasti dan benar-benar menghasilkan buah-buah yang menyenangkan hati banyak orang.”

Pesan kedua tokoh tersebut memiliki makna penting bagi kehidupan masyarakat Papua saat ini. Spiritualitas tidak cukup hanya diwujudkan melalui perkataan, tetapi harus menghasilkan perubahan nyata dalam kehidupan keluarga, masyarakat, pelayanan, pekerjaan, serta hubungan antarsesama.

Kehidupan yang menghasilkan buah berarti menghadirkan kedamaian, kasih, kejujuran, kerukunan, kerja keras, saling menghormati, serta kepedulian terhadap sesama manusia.

Masyarakat, terutama generasi muda, diajak untuk tidak terjebak dalam kehidupan yang penuh persaingan tanpa arah. Setiap orang dapat menjalani kehidupan dengan tenang, tetapi tetap mempunyai tujuan, disiplin, tanggung jawab, dan menghasilkan sesuatu yang berguna.

Pada akhirnya, ukuran kehidupan bukan hanya seberapa banyak seseorang berbicara atau seberapa tinggi kedudukannya, melainkan buah apa yang dihasilkan dari kehidupannya dan seberapa besar manfaatnya bagi orang lain.

Pesan ini sekaligus menjadi seruan moral dan spiritual agar kehidupan bermasyarakat di Tanah Papua terus dibangun di atas nilai persaudaraan, kedamaian, kerja nyata, dan kehidupan rohani yang menghasilkan buah kebaikan. “Santai dalam menjalani kehidupan, pasti dalam menghasilkan. Kuat dalam spiritualitas, nyata dalam buah kehidupan.

___________

Ditulis oleh: Melkias Keiya, S.H. Kepala Suku Besar Wilayah Meepago, Provinsi Papua Tengah

Selasa, 11 Agustus 2026

PDTK NABIRE MINTA POLISI TANGANI POLEMIK RUMAH INDUK IBADAH DI MERIAM.

 

LOGO PDTK Originals

PDTK menegaskan lokasi tersebut merupakan aset dan rumah induk ibadah mereka, serta meminta persoalan diselesaikan melalui jalur hukum dan dialog damai.




Senin, 10 Agustus 2026

RATAP, TANGIS, DAN DOA YANG TEKUN MENJADI PANGGILAN KETULUSAN DI HADAPAN TUHAN.


Sekum Persekutuan Doa Tubuh Kristus, Melkias Keiya, SH: Takut akan Tuhan harus melahirkan pertobatan, ketekunan, kerendahan hati, dan kesungguhan dalam pelayanan. 

PAPUA TENGAH — Sekretaris Umum Persekutuan Doa Tubuh Kristus (PDTK), Melkias Keiya, SH, menegaskan bahwa salah satu bentuk pendekatan rohani seorang manusia kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah hidup dalam takut akan Tuhan, merendahkan diri, berdoa dengan sungguh-sungguh, serta membangun ketekunan melalui ratap, tangis, keluhan hati, puasa, pujian dan penyembahan.

Menurutnya, kehidupan doa tidak semestinya hanya dilakukan ketika manusia menghadapi persoalan. Doa harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang dilakukan secara terus-menerus dengan hati yang tulus.

Dalam pelayanan berskala besar, kata dia, seorang pelayan Tuhan juga membutuhkan fokus rohani, ketekunan dan kesediaan untuk berkorban, bukan hanya kemampuan berbicara di depan banyak orang.

“Di hadapan Tuhan, manusia harus datang dengan hati yang takut akan Tuhan, jujur, tulus dan rendah hati. Ratap dan tangis bukan sekadar mengeluarkan air mata, tetapi merupakan ungkapan hati manusia yang sungguh-sungguh mencari Tuhan dan memohon perkenanan-Nya,” kata Melkias Keiya.



Takut akan Tuhan Menjadi Dasar Kehidupan Rohani

Menurut Sekum PDTK, takut akan Tuhan bukan berarti hidup dalam ketakutan yang membuat manusia menjauh dari Allah. Sebaliknya, takut akan Tuhan berarti memiliki rasa hormat, tunduk, taat dan sadar bahwa kehidupan manusia berada di bawah kehendak dan kedaulatan Tuhan.

Karena itu, rasa takut akan Tuhan harus terlihat melalui perubahan kehidupan, baik dalam perkataan, tindakan maupun pelayanan kepada sesama.

Kehidupan rohani tidak cukup hanya ditunjukkan melalui kegiatan keagamaan di depan umum. Ketulusan seseorang justru diuji ketika ia berada dalam doa pribadi, pergumulan, kesulitan, kesendirian dan pelayanan yang membutuhkan pengorbanan.

“Orang yang sungguh-sungguh takut akan Tuhan akan menjaga hati, menjaga perkataan, menghindari kejahatan dan terus mencari kehendak Tuhan dalam kehidupannya,” ujarnya.



Ratap dan Tangis Bukan Sekadar Emosi

Dalam pandangan PDTK, ratap dan tangis merupakan bagian dari ekspresi doa yang dapat muncul ketika seseorang sungguh-sungguh menyadari kelemahan dirinya di hadapan Tuhan.

Ratapan bukan sebuah pertunjukan, bukan pula sarana untuk menunjukkan bahwa seseorang lebih rohani daripada orang lain.

Ratap dan tangis harus lahir secara alami dari hati yang sedang mencari pertolongan, pengampunan, pemulihan maupun petunjuk Tuhan.

Karena itu, Melkias mengingatkan agar praktik ratap tangis dalam ibadah tidak dijadikan ukuran untuk menghakimi tingkat iman seseorang.

Yang terutama di hadapan Tuhan adalah ketulusan hati.

Dalam berbagai bagian Alkitab, doa yang disertai tangisan, puasa dan kerendahan hati menjadi gambaran manusia yang datang kepada Tuhan dengan seluruh keberadaannya.

Semangat tersebut antara lain dapat direnungkan melalui Mazmur 6, Yoel 2:12–13, Ibrani 5:7, Mazmur 51:17 serta 1 Tesalonika 5:17.



Berdoa Secara Berturut-turut dengan Ketekunan

Melkias Keiya juga menekankan pentingnya ketekunan dalam kehidupan doa.

Menurutnya, berdoa secara berturut-turut selama beberapa hari bukan berarti manusia dapat memaksa Tuhan untuk memenuhi seluruh keinginannya.

Doa yang tekun justru merupakan proses untuk menyerahkan kehendak manusia kepada Tuhan, sambil menunggu jawaban dan waktu Tuhan.

“Berhari-hari berada dalam doa bukan berarti memaksa Tuhan mengikuti kemauan kita. Kita justru sedang mendidik diri untuk tetap setia, sabar, fokus dan berserah kepada kehendak-Nya,” katanya.

Dalam pengertian tersebut, kegelisahan rohani hendaknya diarahkan kepada pencarian akan Tuhan, bukan menjadi kecemasan yang menguasai kehidupan.

Kegelisahan yang dimaksud adalah kerinduan mendalam untuk semakin dekat kepada Tuhan, memperbaiki diri, bertobat dan mencari kehendak-Nya.



Lelah Mengeluh tetapi Tidak Berhenti Berdoa

Dalam perjalanan pelayanan, seseorang dapat mengalami kelelahan fisik maupun batin.

Ada kalanya seorang pelayan merasa telah bekerja, berdoa dan berusaha berulang kali, namun jawaban yang dinantikan belum terlihat.

Pada keadaan seperti itu, menurut Melkias, orang percaya tidak perlu berpura-pura seolah-olah dirinya selalu kuat.

Keluhan dapat disampaikan kepada Tuhan secara jujur dalam doa.

Namun keluhan tersebut jangan berubah menjadi keputusasaan atau kebencian.

Sebaliknya, pergumulan harus membawa seseorang semakin dekat kepada Tuhan.

“Manusia boleh menangis di hadapan Tuhan. Manusia boleh mengeluh kepada Tuhan. Tetapi jangan meninggalkan Tuhan. Justru ketika kekuatan kita berkurang, kita harus semakin menyerahkan kehidupan kepada-Nya,” ujarnya.



Pelayanan Besar Harus Dimulai dari Ruang Doa

Sekum PDTK menilai pelayanan dalam skala besar membutuhkan dasar rohani yang kuat.

Jumlah peserta, besarnya panggung, kelengkapan peralatan, organisasi pelayanan maupun popularitas seorang pelayan tidak boleh menjadi ukuran utama keberhasilan pelayanan.

Menurutnya, pelayanan yang besar harus terlebih dahulu dibangun melalui kehidupan doa.

Pelayan Tuhan perlu menyediakan waktu untuk berdoa, merenungkan firman, mengevaluasi diri, berdamai dengan sesama serta memohon hikmat sebelum menjalankan tanggung jawab yang lebih luas.

“Pelayanan besar harus dimulai dari hati yang berlutut di hadapan Tuhan. Jangan hanya mempersiapkan panggung dan suara, tetapi tidak mempersiapkan hati,” tegasnya.



Bukan Mencari Popularitas

PDTK juga mengingatkan bahwa pelayanan keagamaan jangan menjadi sarana untuk mencari nama, jabatan maupun popularitas pribadi.

Setiap bentuk pelayanan harus diarahkan kepada kemuliaan Tuhan serta pembangunan kehidupan umat.

Karena itu, seorang pelayan harus terus memeriksa motivasi dirinya.

Apakah ia melayani karena sungguh-sungguh mengasihi Tuhan dan manusia, atau hanya ingin mendapatkan pengakuan dari masyarakat.

Melkias mengatakan ketulusan merupakan salah satu unsur yang sangat penting.

“Seseorang mungkin dapat meyakinkan manusia melalui kata-kata, tetapi Tuhan melihat hati. Karena itu, yang perlu kita bangun adalah ketulusan di hadapan-Nya,” katanya.



Tidak Memaksakan Cara Berdoa kepada Orang Lain

Persekutuan Doa Tubuh Kristus juga menekankan bahwa pengalaman rohani setiap orang dapat berbeda.

Ada orang yang berdoa dengan air mata. Ada yang berdoa dengan tenang. Ada yang mengekspresikan iman melalui pujian dan penyembahan, sementara yang lain lebih banyak merenungkan firman dalam keheningan.

Perbedaan tersebut tidak semestinya menjadi alasan untuk saling merendahkan.

Yang terutama adalah iman, pertobatan, kasih, ketaatan dan ketulusan kepada Tuhan.

Karena itu, praktik ratap, tangis, puasa maupun bentuk doa lainnya hendaknya dilakukan sebagai ekspresi iman secara sadar dan sukarela, bukan karena tekanan orang lain.



Menjaga Keseimbangan Rohani dan Kondisi Tubuh

Dalam menjalani doa dan pelayanan yang berlangsung berhari-hari, setiap orang juga perlu memperhatikan kondisi fisiknya.

Ketekunan berdoa tidak berarti mengabaikan kebutuhan dasar tubuh.

Istirahat, makanan, air minum dan kesehatan perlu tetap diperhatikan agar pelayanan tidak justru membahayakan seseorang.

Orang yang sedang sakit, lanjut usia, sedang mengonsumsi obat atau mempunyai kondisi kesehatan tertentu perlu menyesuaikan bentuk puasa dan aktivitas pelayanan dengan keadaan masing-masing.

Dengan demikian, kesungguhan rohani berjalan bersama kebijaksanaan.



Dari Ratapan Menuju Pemulihan

Melkias Keiya mengatakan tujuan akhir dari ratap dan tangis bukanlah membuat umat terus berada dalam kesedihan.

Ratapan seharusnya membawa manusia menuju pertobatan, pengharapan, pemulihan dan kehidupan baru.

Setelah seseorang mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan, ia diharapkan bangkit dengan iman yang semakin kuat untuk menjalankan tanggung jawab kepada keluarga, gereja, masyarakat dan sesama.

Dengan demikian, kehidupan doa tidak berhenti di ruang ibadah.

Buah kehidupan rohani harus terlihat dalam tindakan nyata: mengasihi sesama, mengampuni, menolong mereka yang membutuhkan, menjaga perdamaian, menghindari kekerasan, berlaku adil dan membangun persaudaraan.



Seruan kepada Seluruh Umat

Menutup keterangannya, Sekum Persekutuan Doa Tubuh Kristus mengajak umat untuk kembali membangun kehidupan doa yang berakar pada ketulusan.

“Datanglah kepada Tuhan dengan hati yang tulus. Kalau harus menangis, menangislah di hadapan Tuhan. Kalau hati sedang berat, sampaikan kepada Tuhan. Kalau pelayanan terasa melelahkan, jangan meninggalkan Tuhan. Tetaplah berdoa, memuji, menyembah dan mencari kehendak-Nya,” ujar Melkias.

Ia menambahkan, ketekunan tersebut tidak bertujuan untuk “memaksa” Tuhan, melainkan untuk membentuk manusia agar semakin taat kepada kehendak-Nya.

“Yang kita cari bukan bagaimana Tuhan mengikuti kehendak manusia, tetapi bagaimana manusia semakin memahami dan melakukan kehendak Tuhan. Di situlah doa, ratap, tangis dan ketekunan menemukan makna yang sebenarnya,” tutupnya.


PESAN UTAMA

Takut akan Tuhan melahirkan ketaatan.
Ratap dan tangis melahirkan kerendahan hati.
Doa yang tekun melahirkan kesabaran.
Firman Tuhan memberikan arah.
Pujian dan penyembahan menguatkan iman.
Dan ketulusan membuat pelayanan tetap tertuju kepada Tuhan.

Penulis/Pernyataan:
Melkias Keiya, SH
Sekretaris Umum Persekutuan Doa Tubuh Kristus (PDTK)

Untuk publikasi: Media publik nasional, media sosial, Facebook, WhatsApp, portal berita dan PDTK News.

Jumat, 07 Agustus 2026

PDTK Serukan Kejelasan Pelayanan agar Umat Tidak Terpecah.

 



Dua Logo dan Dua Nama yang Berbeda 

NABIRE, PAPUA TENGAH — Persekutuan Doa Tubuh Kristus (PDTK) menyerukan kehati-hatian kepada para pelayan dan umat menyikapi penggunaan dua logo serta dua nama pelayanan yang berbeda di lingkungan pelayanan Tubuh Kristus. Perbedaan identitas tersebut dinilai perlu dijelaskan secara terbuka dan damai agar tidak menimbulkan kebingungan, pertentangan, maupun kegaduhan di tengah umat.

Dua nama yang menjadi perhatian ialah Gereja Tuhan “Tubuh Kristus Lokal” Nabire dan Persekutuan Doa Tubuh Kristus (PDTK) Original Nabire, Dogiyai, Deiyai dan Paniai. Keduanya memiliki logo dan penamaan yang berbeda sehingga PDTK menilai masyarakat perlu memperoleh penjelasan yang jelas mengenai identitas, pola pelayanan, serta dasar pengajarannya masing-masing.

PDTK: Jangan Menghuru-harakan Umat Tuhan

PDTK mengingatkan bahwa perbedaan dalam pelayanan Kristen tidak semestinya berkembang menjadi pertentangan yang menghuru-harakan umat.“Hati-hati menghuru-harakan umat-Nya. Yang harus dijaga adalah kebenaran Firman Tuhan, kedamaian, kasih, dan keselamatan umat,” demikian pernyataan PDTK.

Menurut PDTK, persekutuan tersebut tidak dibentuk sebagai organisasi dengan struktur formal sebagaimana organisasi pada umumnya. PDTK memandang kegiatan mereka terutama sebagai persekutuan ibadah yang menempatkan Tuhan Ugatame, Tuhan Yesus Kristus dan Roh Kudus sebagai Pemimpin utama ibadah.

Pola tersebut diterapkan dalam pelayanan PDTK Original Nabire, Dogiyai, Deiyai dan Paniai, dengan penekanan pada doa, pujian, penyembahan, ratap tangis, serta pendalaman Firman Tuhan.

Perbedaan Pemahaman Baptisan Air dan Perjamuan Suci

PDTK juga menyampaikan adanya perbedaan pemahaman pelayanan dengan Gereja Tuhan “Tubuh Kristus Lokal”, khususnya berkaitan dengan Baptisan Air dan Perjamuan Suci.

Dalam menyampaikan sikapnya, PDTK merujuk Wahyu 22:18–19 sebagai peringatan agar manusia tidak menambah maupun mengurangi Firman Tuhan.

Namun demikian, perbedaan tersebut perlu dipahami sebagai perbedaan pandangan dan penafsiran keagamaan yang sebaiknya diselesaikan melalui pembicaraan Alkitabiah, dialog antar-hamba Tuhan, dan penjelasan terbuka kepada umat, bukan melalui tuduhan maupun pertentangan pribadi.

PDTK menegaskan bahwa setiap pengajaran mengenai Baptisan Air, Perjamuan Suci maupun bentuk pelayanan lainnya perlu diuji berdasarkan keseluruhan kesaksian Kitab Suci.

Pertumbuhan Iman Tidak Sama pada Setiap Orang

Selain persoalan identitas pelayanan, PDTK menekankan bahwa tingkat pertumbuhan rohani setiap orang tidak selalu sama.

PDTK merujuk perumpamaan Yesus dalam Matius 13:8 dan Matius 13:23 mengenai benih yang jatuh di tanah yang baik dan kemudian menghasilkan buah dengan tingkat yang berbeda-beda.

Pesan tersebut dipahami bahwa seseorang dapat menerima Firman Tuhan, memahami Firman tersebut, kemudian mengalami pertumbuhan dan menghasilkan buah sesuai proses rohaninya.

Karena itu, perbedaan tingkat pemahaman tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling merendahkan.

“Benih Firman harus bertumbuh sampai berakar kuat dalam kehidupan seseorang. Tidak cukup hanya mendengar Firman, tetapi Firman itu harus hidup, bertumbuh dan menghasilkan buah,” demikian penegasan PDTK.

Menghidupkan Firman Sampai ke Akar-akarnya

PDTK menjelaskan bahwa salah satu tujuan utama Persekutuan Doa Tubuh Kristus adalah menghidupkan Firman Tuhan sampai ke akar kehidupan umat.

Artinya, Firman tidak hanya disampaikan melalui khotbah atau pengajaran, tetapi diharapkan terlihat melalui kehidupan doa, pertobatan, kasih, kekudusan, kesatuan, ketaatan dan perubahan karakter.

Dalam pandangan PDTK, kehidupan rohani yang sejati tidak terutama ditentukan oleh nama organisasi maupun lambang pelayanan, melainkan oleh sejauh mana Firman Tuhan hidup dan menghasilkan buah dalam diri seseorang.

Karena itu, keberadaan dua nama dan dua logo diharapkan tidak menjadi sumber perpecahan, tetapi menjadi momentum untuk memperjelas identitas serta dasar pelayanan masing-masing secara bertanggung jawab.

Seruan Menjaga Kesatuan Umat

PDTK menyerukan kepada para tua-tua, hamba Tuhan dan seluruh umat agar tidak mudah terprovokasi oleh perbedaan nama, logo maupun tata pelayanan.

Penyelesaian setiap perbedaan hendaknya dilakukan melalui doa, Firman Tuhan, dialog, kasih dan penghormatan satu terhadap yang lain.

PDTK NEWS menegaskan pesan utama: dua logo boleh berbeda, dua nama dapat berbeda, bahkan pola pelayanan dapat berbeda, tetapi jangan sampai perbedaan itu menghuru-harakan umat Tuhan. Firman Tuhan harus menjadi dasar, dan damai sejahtera harus tetap dijaga.

PDTK NEWS — Nabire, Papua Tengah
“Menghidupkan Firman sampai ke akar-akarnya, bertumbuh dan menghasilkan buah.” mk

Rabu, 05 Agustus 2026

PERSEKUTUAN DOA TUBUH KRISTUS NABIRE GELAR RAPAT, BAHAS KEPEMIMPINAN DAN KEUTUHAN UMAT

 

Pertemuan digelar usai rangkaian kegiatan KKR di Meriam untuk membahas arah pelayanan Persekutuan Doa Tubuh Kristus Nabire, Wojokunu hingga Makataka

NABIRE, Papua Tengah — Para tua-tua Persekutuan Doa Tubuh Kristus Nabire, Wojokunu sampai Makataka menggelar pertemuan di Nabire, Rabu (5/8/2026). Pertemuan tersebut berlangsung setelah rangkaian kegiatan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) di Meriam dan menjadi ruang bersama untuk membahas sejumlah agenda penting terkait arah pelayanan serta keutuhan umat.

Dalam pertemuan itu, para tua-tua membahas dua pokok utama, yakni konsep kepemimpinan dalam Persekutuan Doa Tubuh Kristus serta persoalan baptisan air dan Perjamuan Kudus.

Struktur formal tidak menjadi fokus utama

Salah satu keputusan yang dibahas dalam pertemuan adalah rencana pembentukan struktur organisasi formal Persekutuan Doa Tubuh Kristus.

Para tua-tua menyampaikan pandangan bahwa Persekutuan Doa Tubuh Kristus tidak semata-mata dibangun berdasarkan struktur organisasi manusia, melainkan menempatkan Allah Bapa, Yesus Kristus, dan Roh Kudus sebagai pusat kepemimpinan dalam kehidupan persekutuan.

Sebagai bentuk pengaturan pelayanan, para tua-tua mempertimbangkan pengangkatan koordinator-koordinator berdasarkan karunia, pengetahuan, kemampuan, dan tanggung jawab pelayanan yang dimiliki masing-masing anggota.

Pandangan tersebut dikaitkan dengan pesan Yesus dalam Matius 23:5-10, yang antara lain mengingatkan umat agar tidak menjadikan gelar dan kedudukan manusia sebagai pusat kehidupan iman.

Dengan demikian, koordinasi pelayanan dipandang lebih sebagai kebutuhan untuk menjaga keteraturan dan kelancaran pelayanan, bukan sebagai pembentukan hierarki yang menempatkan manusia di atas kehendak Tuhan.

Baptisan air dan Perjamuan Kudus

Agenda kedua yang menjadi perhatian adalah persoalan baptisan air dan Perjamuan Kudus.

Dalam pembahasan tersebut, persoalan terkait pelaksanaan dan keputusan mengenai baptisan air serta Perjamuan Kudus kembali diserahkan kepada Hamba Tuhan Fredy Pekei dan Hamba Tuhan Yunus Giyai untuk dibicarakan dan dipertimbangkan lebih lanjut.

Langkah tersebut diarahkan untuk menjaga keutuhan umat, menghindari perbedaan yang dapat menimbulkan perpecahan, serta memastikan setiap keputusan pelayanan dilakukan dengan pertimbangan yang matang.

Para peserta pertemuan menekankan pentingnya mengutamakan kasih, persatuan, ketertiban, dan kepentingan umat dalam setiap keputusan yang berkaitan dengan kehidupan Persekutuan Doa Tubuh Kristus.

Mengedepankan persatuan umat

Pertemuan para tua-tua tersebut menjadi bagian dari proses konsolidasi pelayanan setelah kegiatan KKR di Meriam. Forum tersebut juga menjadi momentum untuk memperkuat komunikasi di antara para pelayan dan umat Persekutuan Doa Tubuh Kristus di wilayah Nabire, Wojokunu sampai Makataka.

Para tua-tua berharap setiap perbedaan pandangan mengenai tata kelola maupun pelayanan dapat diselesaikan melalui dialog, doa, dan kebersamaan dengan tetap menjadikan Tuhan sebagai pusat kehidupan persekutuan.

Dengan semangat tersebut, Persekutuan Doa Tubuh Kristus diharapkan terus bertumbuh sebagai wadah persekutuan yang mengedepankan iman, kasih, persaudaraan, dan keutuhan umat.

CATATAN FOTO:

Para tua-tua Persekutuan Doa Tubuh Kristus Nabire, Wojokunu sampai Makataka mengikuti rapat bersama di Nabire, Papua Tengah, Rabu (5/8/2026), usai rangkaian kegiatan KKR di Meriam. Pertemuan membahas arah pelayanan, koordinasi berdasarkan karunia, serta persoalan baptisan air dan Perjamuan Kudus demi menjaga keutuhan umat.