Jumat, 16 Januari 2026

MASALAH ADAT ADALAH MASALAH SURGA


MASALAH ADAT ADALAH MASALAH SURGA

Masalah adat bukan sekadar persoalan budaya, kebiasaan leluhur, atau kepemilikan tanah. Masalah adat adalah masalah surga, karena adat berasal dari kehendak Tuhan sendiri dan berakar langsung pada tatanan ilahi sejak awal penciptaan.

Alkitab mencatat bahwa surga telah lebih dahulu “diadatkan” oleh Tuhan ketika Ia menciptakan manusia pertama, Adam dan Hawa, lalu menempatkan mereka di Taman Eden:

“TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.”

(Kejadian 2:15)

Di Taman Eden, Tuhan tidak hanya menciptakan ruang hidup, tetapi juga menetapkan tatanan hidup: hukum ketaatan, nilai kesucian, kerja, tanggung jawab, relasi yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam. Inilah dasar dari adat ilahi yang murni, yang menjadi fondasi kehidupan manusia di bumi.

Tuhan memberikan batas, aturan, dan hukum sebagai bentuk kasih-Nya:

“Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya.”

(Kejadian 2:16–17)

Adat, dalam pengertian ini, bukan ciptaan manusia semata, melainkan cerminan kehendak Allah yang mengatur kehidupan agar tetap seimbang, adil, dan kudus.

Namun, surga itu kemudian dirusakkan oleh pendatang.

Siapakah pendatang itu?

Pendatang yang dimaksud bukanlah manusia lain secara jasmani, melainkan kelakuan-kelakuan yang dibenci oleh Tuhan. Ketidaktaatan, keserakahan, dusta, kekerasan, penindasan, dan pelanggaran terhadap hukum Allah masuk sebagai “orang asing” dalam tatanan adat Tuhan.

Alkitab menegaskan bahwa ketidaktaatan manusia membuka pintu bagi kerusakan:

“Tetapi pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya… lalu ia mengambil buahnya dan memakannya.”

(Kejadian 3:6)

Sejak saat itulah dosa masuk dan merusak keseimbangan. Relasi manusia dengan Tuhan rusak, relasi manusia dengan sesama menjadi penuh konflik, dan relasi manusia dengan alam berubah menjadi eksploitasi dan penderitaan:

“Terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu.”

(Kejadian 3:17)

Kelakuan-kelakuan yang dibenci Tuhan inilah yang disebut sebagai pendatang, karena mereka tidak berasal dari kehendak Allah, melainkan menyusup dan menghancurkan adat ilahi yang telah ditetapkan sejak semula.

Tuhan sendiri menyatakan dengan tegas hal-hal yang Ia benci:

“Enam perkara ini yang dibenci TUHAN, bahkan tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya: mata sombong, lidah dusta, tangan yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah, hati yang merancang rencana jahat, kaki yang cepat lari menuju kejahatan, saksi dusta yang meniupkan kebohongan, dan orang yang menimbulkan pertengkaran saudara.”

(Amsal 6:16–19)

Ketika kelakuan-kelakuan ini masuk, adat rusak, tanah dirusak, hak masyarakat adat dirampas, dan konflik terus berulang. Inilah sebabnya mengapa setiap persoalan adat sejatinya bukan hanya persoalan budaya atau hukum positif, melainkan persoalan rohani dan surgawi.

Alkitab mengingatkan bahwa bumi dan segala isinya adalah milik Tuhan:

“Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya.”

(Mazmur 24:1)

Karena itu, ketika adat dirusak, yang dilukai bukan hanya manusia, tetapi kehendak Tuhan itu sendiri. Sebaliknya, ketika adat dipulihkan, yang dipulihkan adalah jalan manusia kembali kepada kehendak Allah.

Pemulihan adat adalah bagian dari pemulihan rohani:

“Ia telah memberitahukan kepadamu, hai manusia, apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN daripadamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?”

(Mikha 6:8)

Adat dan iman tidak bertentangan. Adat yang benar adalah adat yang sejalan dengan kehendak Tuhan, menjaga kehidupan, menghormati martabat manusia, dan memelihara ciptaan. Gereja dan masyarakat adat dipanggil untuk berjalan bersama, menjaga kesucian adat, menolak kelakuan yang dibenci Tuhan, serta menghadirkan nilai-nilai Kerajaan Allah di atas tanah ini.

Sebagaimana doa Tuhan Yesus:

“Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.”

(Matius 6:10)

Menjaga adat berarti menjaga kehendak Tuhan di bumi.

Membela adat berarti membela nilai-nilai surga.

Dan memulihkan adat berarti menghadirkan kembali keharmonisan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Adat dijaga, iman ditegakkan, dan nama Tuhan dipermuliakan di atas tanah ini.

Ada Dua Versi Doa dalam Kehidupan Masyarakat


Ada Dua Versi Doa dalam Kehidupan Masyarakat


1. Doa Adat

Doa adat adalah doa yang berlandaskan pada kurban bakaran dan kerja nyata, bukan doa yang dilakukan sebelum ada usaha. Dalam adat, tenaga, keringat, dan kerja keras merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari doa itu sendiri. Karena itu, doa adat dilakukan setelah pekerjaan fisik berhasil diselesaikan, sebagai ungkapan syukur dan penghormatan kepada leluhur serta Tuhan Pencipta alam.

Prinsip ini sejalan dengan firman Tuhan yang menegaskan bahwa berkat mengikuti kerja dan usaha manusia:

“Siapa mengerjakan tanahnya, akan kenyang dengan makanan.”
(Amsal 12:11)

Doa adat biasanya dilakukan dalam konteks:
a. Sebelum dan setelah membangun rumah, setelah seluruh proses kerja keras selesai dan rumah dapat ditempati.
b. Sebelum dan setelah membuka kebun baru, setelah tanah dibersihkan, ditanami, dan hasil mulai terlihat.

Hal ini juga sejalan dengan firman Tuhan:

“Jika bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya.”
(Mazmur 127:1)

Dengan demikian, doa adat menegaskan bahwa berkat datang setelah kerja, dan doa menjadi pengakuan bahwa keberhasilan tidak lepas dari campur tangan Tuhan.


2. Doa Agama

Doa agama mengajarkan bahwa berdoa wajib dilakukan sebelum melakukan setiap kegiatan, sebagai bentuk penyerahan diri dan permohonan tuntunan kepada Tuhan.

“Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka terlaksanalah segala rencanamu.”
(Amsal 16:3)

Namun dalam praktik kehidupan, sering kali manusia rajin berdoa saat meminta, tetapi lalai berdoa setelah berkat itu dinikmati. Karena itulah firman Tuhan menegur sikap ini dengan jelas:

“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu.”
(Matius 7:7)

Tetapi Tuhan juga menghendaki ucapan syukur setelah menerima:

“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah.”
(1 Tesalonika 5:18)

Yesus sendiri menegur orang yang lupa mengucap terima kasih setelah menerima berkat:

“Tidakkah kesepuluh orang itu telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan itu?”
(Lukas 17:17)

Firman ini menegaskan bahwa:

Banyak orang pintar memohon, tetapi tidak tahu mengucap terima kasih.


Kesimpulan

Doa adat dan doa agama memiliki pendekatan yang berbeda, tetapi saling melengkapi.
Doa adat menekankan kerja nyata dan syukur setelah berhasil, sedangkan doa agama menekankan penyerahan diri sebelum bekerja dan ucapan syukur setelah menerima berkat.

Keduanya mengajarkan satu nilai utama:
iman tanpa perbuatan adalah mati, dan perbuatan tanpa ucapan syukur adalah kesombongan.

“Iman tanpa perbuatan adalah mati.”
(Yakobus 2:26)

Minggu, 14 Desember 2025

TANDA TANYA ORANG PAPUA: KAPAN SESUNGGUHNYA YESUS DILAHIRKAN?


Banyak orang Papua, Natal tidak hanya menjadi perayaan iman, tetapi juga menghadirkan tanda tanya teologis yang jujur dan logis. Pertanyaan itu berangkat dari pembacaan Injil Lukas, khususnya mengenai waktu kehamilan Maria dan kelahiran Yesus Kristus.

Dalam Injil Lukas pasal 2 ayat 11 tertulis: “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.” Ayat ini kerap dijadikan dasar perayaan Natal sebagai hari kelahiran Yesus. Namun, Injil Lukas sendiri, dalam pasal 1 ayat 26, menyebutkan bahwa pada bulan keenam Malaikat Tuhan Gabriel diutus kepada Maria untuk menyampaikan kabar bahwa ia akan mengandung oleh kuasa Roh Kudus.

Jika ditelusuri secara sederhana dan rasional, bulan keenam tersebut merujuk pada bulan keenam kehamilan Elisabet, yang secara umum dipahami terjadi sekitar bulan Juni. Bila Maria mulai mengandung pada bulan keenam itu, maka masa kehamilan manusia normal sekitar sembilan bulan akan berakhir sekitar bulan Maret atau April, bukan pada tanggal 25 Desember.

Perhitungan ini menimbulkan pertanyaan yang wajar di kalangan orang Papua: mengapa kelahiran Yesus dirayakan pada 25 Desember, jika secara kronologis Injil Lukas sendiri tidak menunjuk ke tanggal tersebut?

Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika disadari bahwa Injil tidak pernah mencatat tanggal kelahiran Yesus secara spesifik. “Hari ini” dalam Lukas 2:11 bukanlah penanda kalender, melainkan penekanan teologis: hari keselamatan telah tiba. Fokus Lukas bukan pada tanggal, tetapi pada makna kehadiran Juruselamat bagi manusia.

Dalam tradisi gereja, penetapan 25 Desember bukan berasal dari perhitungan alkitabiah yang ketat, melainkan dari perkembangan sejarah dan konteks budaya Gereja Barat pada abad ke-4. Karena itu, Natal lebih tepat dipahami sebagai simbol iman, bukan fakta kronologis yang mutlak.

Bagi orang Papua, yang memiliki tradisi berpikir kontekstual dan rasional, penting untuk memisahkan antara iman Injil dan tradisi gerejawi Barat. Injil Lukas tidak sedang mengajarkan kalender kelahiran, tetapi sedang memberitakan bahwa keselamatan Allah telah hadir di tengah dunia.

Ketika Natal dipaksakan sebagai tanggal absolut tanpa penjelasan yang jujur, iman justru bisa berubah menjadi dogma kosong. Sebaliknya, ketika Natal dipahami sebagai peristiwa rohani—Allah yang hadir dalam sejarah manusia—maka ia dapat diterima secara dewasa dan kontekstual oleh orang Papua.

Dengan demikian, tanda tanya orang Papua bukanlah bentuk penolakan iman, melainkan ekspresi pencarian kebenaran. Injil sendiri memberi ruang bagi pertanyaan itu. Natal tidak kehilangan maknanya meski tanggalnya diperdebatkan. Yang terpenting adalah apakah pesan Juruselamat itu sungguh lahir dalam kehidupan manusia hari ini: membawa keadilan, damai, dan pemulihan.

Natal sejati bukan soal tanggal 25 Desember, melainkan tentang kehadiran Kristus di tengah penderitaan manusia—termasuk penderitaan orang Papua.<<keiyam>>


Kamis, 13 November 2025

PERBEDAAN ANTARA UMAT TUHAN DAN GEREJA (GEDUNG) TUHAN



Dalam pemahaman rohani yang benar, terdapat dua sektor yang harus dibedakan secara jelas:

1. Umat Tuhan

Umat Tuhan adalah pribadi-pribadi yang percaya kepada Yesus Kristus dan dipanggil untuk diubahkan menjadi Tubuh Kristus, yaitu karya tangan Allah sendiri.
Hidup umat Tuhan menjadi tempat kediaman Roh Kudus, Tuhan Yesus Kristus, dan Allah Bapa sebagaimana tertulis:

“Kamu adalah bait Allah dan Roh Allah diam di dalam kamu.” (1 Korintus 3:16)

Karena itu, martabat umat Tuhan lebih tinggi daripada bangunan apa pun. Umat Tuhan adalah bait rohani, bukan buatan manusia, tetapi hasil pekerjaan Roh Kudus.

2. Gereja Tuhan (Gedung Gereja)

Gereja dalam bentuk gedung adalah bangunan fisik yang dibuat oleh tangan manusia. Gedung ini dipakai sebagai tempat umat berkumpul untuk ibadah, dan karena itu harus dirawat dan dijaga. Tetapi gedung tersebut bukan Tubuh Kristus, melainkan hanya fasilitas fisik untuk kegiatan rohani.

Secara sejarah, banyak bangunan ibadah dari berbagai kebudayaan pernah dipakai manusia untuk macam-macam bentuk penyembahan, termasuk penyembahan matahari. Karena itu, gedung gereja tidak dapat disamakan dengan umat Tuhan yang menjadi tempat kediaman Allah.

“Allah tidak diam dalam rumah yang dibuat oleh tangan manusia.” (Kisah Para Rasul 7:48)

KESIMPULAN RESMI

Umat Tuhan → karya Allah, tempat kediaman Roh Kudus, bersifat rohani dan hidup.

Gereja Tuhan (Gedung) → karya manusia, tempat berkumpul, tidak dapat disamakan dengan Tubuh Kristus.

Dengan demikian, pembedaannya jelas: Umat Tuhan adalah hidup dan berasal dari Allah, sedangkan gedung gereja hanyalah sarana buatan manusia.

Rabu, 12 November 2025

Penyesatan dan Penyalahgunaan Nama Gereja Tuhan Tubuh Kristus Lokal Meriam

Nabire, 13 November 2025 Provinsi Papua Tengah —
Persekutuan Doa Tubuh Kristus (PDTK) Nabire Wojokunu sampai Makataka melalui Sekretaris Umum menyampaikan pernyataan resmi kepada seluruh umat Tuhan, pemerintah, dan masyarakat luas terkait munculnya tindakan penyesatan dan penyalahgunaan nama “Gereja Tuhan Tubuh Kristus Lokal Meriam” yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu demi memperoleh keuntungan pribadi dan dukungan dari Pemerintah Provinsi Papua Tengah.

Firman Tuhan dengan jelas berkata dalam Yohanes 8:44:

“Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.”

Ayat ini menjadi dasar peringatan keras bagi semua umat percaya bahwa setiap penyesatan dan kebohongan yang menggunakan nama Tuhan Yesus Kristus tidak lain berasal dari kuasa kegelapan. Iblis bekerja melalui tipu muslihat, memakai nama rohani, simbol gereja, bahkan salib, untuk mengelabui umat dan menyesatkan banyak orang dari kebenaran Injil.

PDTK menegaskan bahwa pelayanan sejati tidak didirikan atas dasar uang, jabatan, atau pengakuan manusia, tetapi berdiri atas dasar pimpinan Roh Kudus sebagaimana tertulis dalam Yohanes 7:39, bahwa Roh Kudus adalah sumber kehidupan bagi mereka yang percaya kepada Yesus.

Oleh karena itu, logo dan kop Gereja Tuhan Tubuh Kristus Lokal Meriam yang digunakan untuk mengajukan dukungan dan bantuan kepada Pemerintah Provinsi Papua Tengah dinyatakan bukan berasal dari Tuhan, melainkan alat penipuan yang digunakan oleh roh dusta untuk memperoleh keuntungan duniawi.

Sebagaimana kisah Yakub dan Esau (Kejadian 25:29–34), di mana Esau menjual hak kesulungannya demi sepiring makanan, demikian pula mereka yang menjual nama Tuhan demi uang dan posisi telah menukar berkat rohani dengan kenikmatan sementara.

Sekretaris Umum PDTK, atas nama seluruh jajaran pelayanan dan umat Persekutuan Doa Tubuh Kristus Nabire Wojokunu sampai Makataka, menyampaikan sikap tegas sebagai berikut:

1. Menolak segala bentuk pemalsuan dan penyalahgunaan nama “Tubuh Kristus” dalam urusan administrasi, proyek, dan kepentingan politik.

2. Menegaskan bahwa Persekutuan Doa Tubuh Kristus Nabire Wojokunu sampai Makataka adalah satu-satunya persekutuan yang berdiri di bawah pimpinan Roh Kudus, bukan hasil inisiatif manusia.

3. Mengajak pemerintah daerah dan semua instansi untuk berhati-hati terhadap pihak-pihak yang menggunakan nama gereja untuk mencari dana dan fasilitas dengan cara tidak benar.

4. Menyerukan kepada seluruh umat Tuhan untuk hidup dalam terang kebenaran, menjauhi roh dusta, dan tetap setia kepada panggilan Tuhan Yesus Kristus.

5. Mendorong pembenahan pelayanan di semua lini agar nama “Tubuh Kristus” dipelihara dalam kekudusan dan kejujuran.

“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Matius 6:33

Persekutuan Doa Tubuh Kristus berdiri bukan karena pengakuan manusia, melainkan karena panggilan surgawi untuk melayani dalam kasih, kebenaran, dan kuasa Roh Kudus. Nama Tuhan tidak boleh dijadikan alat untuk memperkaya diri, karena itu merupakan dosa yang mendukakan Roh Kudus.

PDTK juga mengingatkan seluruh pelayan Tuhan agar tidak tergoda oleh tiga pencobaan dunia — kekayaan, kekuasaan, dan kehormatan — sebab ketiganya dapat menjerumuskan seseorang keluar dari hadirat Allah.

“Sebab apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi kehilangan nyawanya?” Markus 8:36

Dengan demikian, Sekretariat Umum Persekutuan Doa Tubuh Kristus Nabire Wojokunu sampai Makataka menegaskan bahwa segala bentuk aktivitas yang mengatasnamakan Gereja Tuhan Tubuh Kristus Lokal Meriam untuk memperoleh bantuan, proyek, atau dukungan politik tidak memiliki dasar kebenaran rohani dan tidak diakui oleh PDTK.

Kami menyerukan agar setiap umat kembali kepada inti pelayanan sejati, yaitu berdoa, menyembah, dan melayani dengan hati murni di bawah pimpinan Roh Kudus.

“Dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” Yohanes 8:32

SEKUM PERSEKUTUAN DOA TUBUH KRISTUS

Nabire Wojokunu sampai Makataka – Provinsi Papua Tengah
Disampaikan melalui Media Redaksi PDTK
Untuk kemuliaan Tuhan Yesus Kristus semata.

Selasa, 26 Agustus 2025

Sekilas Info Rohani:

Yesus Kristus Datang Sebagai Manusia dan Anak Manusia Jurumerdeka


Papua Tengah Nabire 26 Agustus 2925– Dalam perjalanan iman umat Kristen, kebenaran tentang kedatangan Yesus Kristus sebagai manusia menjadi dasar yang tidak dapat diganggu gugat. Firman Tuhan dengan jelas menegaskan bahwa siapa saja yang tidak mengakui Yesus datang ke dunia sebagai manusia adalah penyesat, bahkan antikristus.

Dasar Firman Tuhan:

1. 1 Yohanes 4:2 – “Setiap roh yang mengaku Yesus datang sebagai manusia, berasal dari Allah.”

2. 2 Yohanes 1:7 – “Sebab banyak penyesat telah muncul dan tidak mengaku bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia. Itu adalah penyesat dan antikristus.”

3. Lukas 21:27 – “Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kuasa dan kemuliaan-Nya.”

4. Daniel 7:13 – “Tampak seorang seperti Anak Manusia datang dengan awan-awan.”

5. Matius 24:30 – “Maka akan tampak tanda Anak Manusia di langit dan semua bangsa akan melihat Dia datang dengan kuasa besar dan kemuliaan.”

Makna bagi Umat Tuhan

Melalui ayat-ayat ini, jelaslah bahwa:

Pada kedatangan pertama-Nya, Yesus Kristus benar-benar datang sebagai manusia, hidup di tengah dunia, mati di kayu salib, dan bangkit untuk menyelamatkan manusia.

Pada kedatangan kedua-Nya kelak, Ia akan kembali sebagai Roh Kristus Yesus menjelma menjadi Anak Manusia yang mulia, Juruselamat dan Hakim yang adil, datang dengan awan-awan di langit untuk memerdekakan umat-Nya.

Pertanyaan Iman di Tanah Papua

Bagi umat Tuhan Persekutuan Doa Tubuh Kristus, pesan ini menjadi pengharapan besar. Firman Tuhan memberi isyarat akan hadirnya Anak Manusia Jurumerdeka – sebuah gelar yang mengingatkan kita kepada Kristus, namun juga menimbulkan pertanyaan iman:

Siapakah yang dipersiapkan Tuhan di akhir zaman sebagai tanda kehadiran-Nya di atas tanah Papua?

Pertanyaan ini bukan untuk diperdebatkan, melainkan untuk direnungkan dengan hati yang rendah di hadapan Tuhan. Sebab hanya Allah yang berdaulat mengutus dan menyatakan pekerjaan-Nya, baik melalui Kristus sendiri yang akan datang kembali, maupun melalui utusan, hamba, atau pemimpin yang dipakai-Nya bagi kebangkitan rohani umat di tanah Papua.

Penutup

Sekilas Info Rohani ini mengingatkan bahwa iman kepada Yesus Kristus sebagai Anak Allah dan Anak Manusia adalah kebenaran yang tidak bisa ditawar. Di tengah banyaknya penyesat dan pengajaran yang menyesatkan, umat Tuhan dipanggil untuk berjaga, berdoa, dan setia menantikan kedatangan-Nya.

Kiranya tanah Papua diberkati Tuhan, dan seluruh umat diteguhkan dalam pengharapan kepada Yesus Kristus, Anak Manusia Jurumerdeka, yang akan datang kembali dengan kuasa dan kemuliaan besar. <<Keiyam>>


Sabtu, 16 Agustus 2025

PERTEMUAN TUA–TUA NABIRE

PERTEMUAN TUA–TUA NABIRE

Nabire, Sabtu 16 Agustus 2025

Pada hari Sabtu, tanggal 16 Agustus 2025, para Tua–Tua Nabire Geral telah mengadakan pertemuan penting yang berlangsung di Jemaat Sion Batalion Nabire. Pertemuan ini merupakan wadah musyawarah rohani dengan tujuan utama mencari solusi dalam pelayanan Yesus Kristus, khususnya mengenai Perjamuan Kasih dan Perjamuan Sloki yang diajarkan dalam Alkitab.

Dasar Alkitabiah

1. Perjamuan Kasih – Makan Bersama

Sebagaimana Yesus Kristus sendiri teladankan, kebersamaan dalam makan menjadi simbol kasih, persatuan, dan pelayanan yang tulus. Firman Tuhan berkata:

> “Lalu berkatalah Yesus kepada murid-murid-Nya: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya barangsiapa melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.”

(Matius 12:50)

Perjamuan Kasih dalam bentuk makan bersama bukan sekadar kebutuhan jasmani, tetapi menjadi tanda persaudaraan dan kebersamaan umat Tuhan.

2. Perjamuan Sloki – Perjamuan Kudus

Dasar kuat mengenai perjamuan rohani terdapat dalam ajaran Rasul Paulus kepada jemaat Korintus:

> “Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang.”(1 Korintus 11:26)

Lebih lanjut, Rasul Paulus mengingatkan:

> “Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu.”(1 Korintus 11:27-28)

Dengan demikian, Perjamuan Kudus atau Perjamuan Sloki menjadi wujud persekutuan dengan Kristus yang mengorbankan diri-Nya di kayu salib, dan umat diminta untuk merayakannya dengan penuh kesadaran, kerendahan hati, serta iman yang murni.

Keputusan Bersama

Setelah melalui pembahasan, doa, dan persekutuan yang penuh kasih, akhirnya para Tua–Tua Nabire Geral menyepakati keputusan bersama sebagai berikut:

1. Perjamuan Kasih (Makan Bersama) akan terus ditegakkan dalam jemaat sebagai bentuk kasih persaudaraan, mempererat hubungan antar umat, dan menghadirkan teladan Yesus dalam kebersamaan.

2. Perjamuan Sloki (Perjamuan Kudus) tetap dilaksanakan sesuai dengan ajaran Alkitab dalam 1 Korintus 11, dengan penuh hormat, kerendahan hati, dan pemeriksaan diri setiap umat.

3. Kedua bentuk perjamuan ini bukan untuk dipertentangkan, melainkan dipersatukan sebagai jalan pelayanan Yesus Kristus yang membawa umat kepada kasih, pengampunan, dan keselamatan.

4. Semua jemaat di Nabire diimbau untuk menjaga kesatuan hati, persaudaraan, dan ketaatan kepada Firman Tuhan, agar pelayanan menjadi berkat bagi semua pihak.

Sambutan dan Doa Penutup

Dalam pertemuan ini, sambutan disampaikan oleh Hamba Tuhan Hengki Edowai, yang menegaskan pentingnya kesatuan iman dan kasih dalam melayani Kristus. Beliau mengingatkan bahwa tanpa kasih, segala bentuk pelayanan hanyalah sia-sia (1 Korintus 13:1-3).

Pertemuan ditutup dengan penuh sukacita dan damai sejahtera melalui Doa Penutup yang dipimpin oleh Pendeta Jeck Ikomouw, yang menyerahkan seluruh keputusan, pelayanan, dan perjalanan iman umat kepada penyertaan Tuhan Yesus Kristus.

Penutup

Pertemuan Tua–Tua Nabire Geral ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk terus bekerja di ladang Tuhan dengan tulus hati. Keputusan yang telah diambil diharapkan menjadi pedoman pelayanan jemaat di wilayah Nabire dan sekitarnya, demi kemuliaan nama Tuhan Yesus Kristus.

📖 Dilaporkan oleh:

Melkias Keiya

Sekretaris Umum Persekutuan Doa Tubuh Kristus

Nabire Wojokunu sampai Makataka, Provinsi Papua Tengah. -

--