MASALAH ADAT ADALAH MASALAH SURGA
Masalah adat bukan sekadar persoalan budaya, kebiasaan leluhur, atau kepemilikan tanah. Masalah adat adalah masalah surga, karena adat berasal dari kehendak Tuhan sendiri dan berakar langsung pada tatanan ilahi sejak awal penciptaan.
Alkitab mencatat bahwa surga telah lebih dahulu “diadatkan” oleh Tuhan ketika Ia menciptakan manusia pertama, Adam dan Hawa, lalu menempatkan mereka di Taman Eden:
“TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.”
(Kejadian 2:15)
Di Taman Eden, Tuhan tidak hanya menciptakan ruang hidup, tetapi juga menetapkan tatanan hidup: hukum ketaatan, nilai kesucian, kerja, tanggung jawab, relasi yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam. Inilah dasar dari adat ilahi yang murni, yang menjadi fondasi kehidupan manusia di bumi.
Tuhan memberikan batas, aturan, dan hukum sebagai bentuk kasih-Nya:
“Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya.”
(Kejadian 2:16–17)
Adat, dalam pengertian ini, bukan ciptaan manusia semata, melainkan cerminan kehendak Allah yang mengatur kehidupan agar tetap seimbang, adil, dan kudus.
Namun, surga itu kemudian dirusakkan oleh pendatang.
Siapakah pendatang itu?
Pendatang yang dimaksud bukanlah manusia lain secara jasmani, melainkan kelakuan-kelakuan yang dibenci oleh Tuhan. Ketidaktaatan, keserakahan, dusta, kekerasan, penindasan, dan pelanggaran terhadap hukum Allah masuk sebagai “orang asing” dalam tatanan adat Tuhan.
Alkitab menegaskan bahwa ketidaktaatan manusia membuka pintu bagi kerusakan:
“Tetapi pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya… lalu ia mengambil buahnya dan memakannya.”
(Kejadian 3:6)
Sejak saat itulah dosa masuk dan merusak keseimbangan. Relasi manusia dengan Tuhan rusak, relasi manusia dengan sesama menjadi penuh konflik, dan relasi manusia dengan alam berubah menjadi eksploitasi dan penderitaan:
“Terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu.”
(Kejadian 3:17)
Kelakuan-kelakuan yang dibenci Tuhan inilah yang disebut sebagai pendatang, karena mereka tidak berasal dari kehendak Allah, melainkan menyusup dan menghancurkan adat ilahi yang telah ditetapkan sejak semula.
Tuhan sendiri menyatakan dengan tegas hal-hal yang Ia benci:
“Enam perkara ini yang dibenci TUHAN, bahkan tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya: mata sombong, lidah dusta, tangan yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah, hati yang merancang rencana jahat, kaki yang cepat lari menuju kejahatan, saksi dusta yang meniupkan kebohongan, dan orang yang menimbulkan pertengkaran saudara.”
(Amsal 6:16–19)
Ketika kelakuan-kelakuan ini masuk, adat rusak, tanah dirusak, hak masyarakat adat dirampas, dan konflik terus berulang. Inilah sebabnya mengapa setiap persoalan adat sejatinya bukan hanya persoalan budaya atau hukum positif, melainkan persoalan rohani dan surgawi.
Alkitab mengingatkan bahwa bumi dan segala isinya adalah milik Tuhan:
“Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya.”
(Mazmur 24:1)
Karena itu, ketika adat dirusak, yang dilukai bukan hanya manusia, tetapi kehendak Tuhan itu sendiri. Sebaliknya, ketika adat dipulihkan, yang dipulihkan adalah jalan manusia kembali kepada kehendak Allah.
Pemulihan adat adalah bagian dari pemulihan rohani:
“Ia telah memberitahukan kepadamu, hai manusia, apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN daripadamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?”
(Mikha 6:8)
Adat dan iman tidak bertentangan. Adat yang benar adalah adat yang sejalan dengan kehendak Tuhan, menjaga kehidupan, menghormati martabat manusia, dan memelihara ciptaan. Gereja dan masyarakat adat dipanggil untuk berjalan bersama, menjaga kesucian adat, menolak kelakuan yang dibenci Tuhan, serta menghadirkan nilai-nilai Kerajaan Allah di atas tanah ini.
Sebagaimana doa Tuhan Yesus:
“Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.”
(Matius 6:10)
Menjaga adat berarti menjaga kehendak Tuhan di bumi.
Membela adat berarti membela nilai-nilai surga.
Dan memulihkan adat berarti menghadirkan kembali keharmonisan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Adat dijaga, iman ditegakkan, dan nama Tuhan dipermuliakan di atas tanah ini.




