Senin, 10 Agustus 2026

RATAP, TANGIS, DAN DOA YANG TEKUN MENJADI PANGGILAN KETULUSAN DI HADAPAN TUHAN.


Sekum Persekutuan Doa Tubuh Kristus, Melkias Keiya, SH: Takut akan Tuhan harus melahirkan pertobatan, ketekunan, kerendahan hati, dan kesungguhan dalam pelayanan. 

PAPUA TENGAH — Sekretaris Umum Persekutuan Doa Tubuh Kristus (PDTK), Melkias Keiya, SH, menegaskan bahwa salah satu bentuk pendekatan rohani seorang manusia kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah hidup dalam takut akan Tuhan, merendahkan diri, berdoa dengan sungguh-sungguh, serta membangun ketekunan melalui ratap, tangis, keluhan hati, puasa, pujian dan penyembahan.

Menurutnya, kehidupan doa tidak semestinya hanya dilakukan ketika manusia menghadapi persoalan. Doa harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang dilakukan secara terus-menerus dengan hati yang tulus.

Dalam pelayanan berskala besar, kata dia, seorang pelayan Tuhan juga membutuhkan fokus rohani, ketekunan dan kesediaan untuk berkorban, bukan hanya kemampuan berbicara di depan banyak orang.

“Di hadapan Tuhan, manusia harus datang dengan hati yang takut akan Tuhan, jujur, tulus dan rendah hati. Ratap dan tangis bukan sekadar mengeluarkan air mata, tetapi merupakan ungkapan hati manusia yang sungguh-sungguh mencari Tuhan dan memohon perkenanan-Nya,” kata Melkias Keiya.



Takut akan Tuhan Menjadi Dasar Kehidupan Rohani

Menurut Sekum PDTK, takut akan Tuhan bukan berarti hidup dalam ketakutan yang membuat manusia menjauh dari Allah. Sebaliknya, takut akan Tuhan berarti memiliki rasa hormat, tunduk, taat dan sadar bahwa kehidupan manusia berada di bawah kehendak dan kedaulatan Tuhan.

Karena itu, rasa takut akan Tuhan harus terlihat melalui perubahan kehidupan, baik dalam perkataan, tindakan maupun pelayanan kepada sesama.

Kehidupan rohani tidak cukup hanya ditunjukkan melalui kegiatan keagamaan di depan umum. Ketulusan seseorang justru diuji ketika ia berada dalam doa pribadi, pergumulan, kesulitan, kesendirian dan pelayanan yang membutuhkan pengorbanan.

“Orang yang sungguh-sungguh takut akan Tuhan akan menjaga hati, menjaga perkataan, menghindari kejahatan dan terus mencari kehendak Tuhan dalam kehidupannya,” ujarnya.



Ratap dan Tangis Bukan Sekadar Emosi

Dalam pandangan PDTK, ratap dan tangis merupakan bagian dari ekspresi doa yang dapat muncul ketika seseorang sungguh-sungguh menyadari kelemahan dirinya di hadapan Tuhan.

Ratapan bukan sebuah pertunjukan, bukan pula sarana untuk menunjukkan bahwa seseorang lebih rohani daripada orang lain.

Ratap dan tangis harus lahir secara alami dari hati yang sedang mencari pertolongan, pengampunan, pemulihan maupun petunjuk Tuhan.

Karena itu, Melkias mengingatkan agar praktik ratap tangis dalam ibadah tidak dijadikan ukuran untuk menghakimi tingkat iman seseorang.

Yang terutama di hadapan Tuhan adalah ketulusan hati.

Dalam berbagai bagian Alkitab, doa yang disertai tangisan, puasa dan kerendahan hati menjadi gambaran manusia yang datang kepada Tuhan dengan seluruh keberadaannya.

Semangat tersebut antara lain dapat direnungkan melalui Mazmur 6, Yoel 2:12–13, Ibrani 5:7, Mazmur 51:17 serta 1 Tesalonika 5:17.



Berdoa Secara Berturut-turut dengan Ketekunan

Melkias Keiya juga menekankan pentingnya ketekunan dalam kehidupan doa.

Menurutnya, berdoa secara berturut-turut selama beberapa hari bukan berarti manusia dapat memaksa Tuhan untuk memenuhi seluruh keinginannya.

Doa yang tekun justru merupakan proses untuk menyerahkan kehendak manusia kepada Tuhan, sambil menunggu jawaban dan waktu Tuhan.

“Berhari-hari berada dalam doa bukan berarti memaksa Tuhan mengikuti kemauan kita. Kita justru sedang mendidik diri untuk tetap setia, sabar, fokus dan berserah kepada kehendak-Nya,” katanya.

Dalam pengertian tersebut, kegelisahan rohani hendaknya diarahkan kepada pencarian akan Tuhan, bukan menjadi kecemasan yang menguasai kehidupan.

Kegelisahan yang dimaksud adalah kerinduan mendalam untuk semakin dekat kepada Tuhan, memperbaiki diri, bertobat dan mencari kehendak-Nya.



Lelah Mengeluh tetapi Tidak Berhenti Berdoa

Dalam perjalanan pelayanan, seseorang dapat mengalami kelelahan fisik maupun batin.

Ada kalanya seorang pelayan merasa telah bekerja, berdoa dan berusaha berulang kali, namun jawaban yang dinantikan belum terlihat.

Pada keadaan seperti itu, menurut Melkias, orang percaya tidak perlu berpura-pura seolah-olah dirinya selalu kuat.

Keluhan dapat disampaikan kepada Tuhan secara jujur dalam doa.

Namun keluhan tersebut jangan berubah menjadi keputusasaan atau kebencian.

Sebaliknya, pergumulan harus membawa seseorang semakin dekat kepada Tuhan.

“Manusia boleh menangis di hadapan Tuhan. Manusia boleh mengeluh kepada Tuhan. Tetapi jangan meninggalkan Tuhan. Justru ketika kekuatan kita berkurang, kita harus semakin menyerahkan kehidupan kepada-Nya,” ujarnya.



Pelayanan Besar Harus Dimulai dari Ruang Doa

Sekum PDTK menilai pelayanan dalam skala besar membutuhkan dasar rohani yang kuat.

Jumlah peserta, besarnya panggung, kelengkapan peralatan, organisasi pelayanan maupun popularitas seorang pelayan tidak boleh menjadi ukuran utama keberhasilan pelayanan.

Menurutnya, pelayanan yang besar harus terlebih dahulu dibangun melalui kehidupan doa.

Pelayan Tuhan perlu menyediakan waktu untuk berdoa, merenungkan firman, mengevaluasi diri, berdamai dengan sesama serta memohon hikmat sebelum menjalankan tanggung jawab yang lebih luas.

“Pelayanan besar harus dimulai dari hati yang berlutut di hadapan Tuhan. Jangan hanya mempersiapkan panggung dan suara, tetapi tidak mempersiapkan hati,” tegasnya.



Bukan Mencari Popularitas

PDTK juga mengingatkan bahwa pelayanan keagamaan jangan menjadi sarana untuk mencari nama, jabatan maupun popularitas pribadi.

Setiap bentuk pelayanan harus diarahkan kepada kemuliaan Tuhan serta pembangunan kehidupan umat.

Karena itu, seorang pelayan harus terus memeriksa motivasi dirinya.

Apakah ia melayani karena sungguh-sungguh mengasihi Tuhan dan manusia, atau hanya ingin mendapatkan pengakuan dari masyarakat.

Melkias mengatakan ketulusan merupakan salah satu unsur yang sangat penting.

“Seseorang mungkin dapat meyakinkan manusia melalui kata-kata, tetapi Tuhan melihat hati. Karena itu, yang perlu kita bangun adalah ketulusan di hadapan-Nya,” katanya.



Tidak Memaksakan Cara Berdoa kepada Orang Lain

Persekutuan Doa Tubuh Kristus juga menekankan bahwa pengalaman rohani setiap orang dapat berbeda.

Ada orang yang berdoa dengan air mata. Ada yang berdoa dengan tenang. Ada yang mengekspresikan iman melalui pujian dan penyembahan, sementara yang lain lebih banyak merenungkan firman dalam keheningan.

Perbedaan tersebut tidak semestinya menjadi alasan untuk saling merendahkan.

Yang terutama adalah iman, pertobatan, kasih, ketaatan dan ketulusan kepada Tuhan.

Karena itu, praktik ratap, tangis, puasa maupun bentuk doa lainnya hendaknya dilakukan sebagai ekspresi iman secara sadar dan sukarela, bukan karena tekanan orang lain.



Menjaga Keseimbangan Rohani dan Kondisi Tubuh

Dalam menjalani doa dan pelayanan yang berlangsung berhari-hari, setiap orang juga perlu memperhatikan kondisi fisiknya.

Ketekunan berdoa tidak berarti mengabaikan kebutuhan dasar tubuh.

Istirahat, makanan, air minum dan kesehatan perlu tetap diperhatikan agar pelayanan tidak justru membahayakan seseorang.

Orang yang sedang sakit, lanjut usia, sedang mengonsumsi obat atau mempunyai kondisi kesehatan tertentu perlu menyesuaikan bentuk puasa dan aktivitas pelayanan dengan keadaan masing-masing.

Dengan demikian, kesungguhan rohani berjalan bersama kebijaksanaan.



Dari Ratapan Menuju Pemulihan

Melkias Keiya mengatakan tujuan akhir dari ratap dan tangis bukanlah membuat umat terus berada dalam kesedihan.

Ratapan seharusnya membawa manusia menuju pertobatan, pengharapan, pemulihan dan kehidupan baru.

Setelah seseorang mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan, ia diharapkan bangkit dengan iman yang semakin kuat untuk menjalankan tanggung jawab kepada keluarga, gereja, masyarakat dan sesama.

Dengan demikian, kehidupan doa tidak berhenti di ruang ibadah.

Buah kehidupan rohani harus terlihat dalam tindakan nyata: mengasihi sesama, mengampuni, menolong mereka yang membutuhkan, menjaga perdamaian, menghindari kekerasan, berlaku adil dan membangun persaudaraan.



Seruan kepada Seluruh Umat

Menutup keterangannya, Sekum Persekutuan Doa Tubuh Kristus mengajak umat untuk kembali membangun kehidupan doa yang berakar pada ketulusan.

“Datanglah kepada Tuhan dengan hati yang tulus. Kalau harus menangis, menangislah di hadapan Tuhan. Kalau hati sedang berat, sampaikan kepada Tuhan. Kalau pelayanan terasa melelahkan, jangan meninggalkan Tuhan. Tetaplah berdoa, memuji, menyembah dan mencari kehendak-Nya,” ujar Melkias.

Ia menambahkan, ketekunan tersebut tidak bertujuan untuk “memaksa” Tuhan, melainkan untuk membentuk manusia agar semakin taat kepada kehendak-Nya.

“Yang kita cari bukan bagaimana Tuhan mengikuti kehendak manusia, tetapi bagaimana manusia semakin memahami dan melakukan kehendak Tuhan. Di situlah doa, ratap, tangis dan ketekunan menemukan makna yang sebenarnya,” tutupnya.


PESAN UTAMA

Takut akan Tuhan melahirkan ketaatan.
Ratap dan tangis melahirkan kerendahan hati.
Doa yang tekun melahirkan kesabaran.
Firman Tuhan memberikan arah.
Pujian dan penyembahan menguatkan iman.
Dan ketulusan membuat pelayanan tetap tertuju kepada Tuhan.

Penulis/Pernyataan:
Melkias Keiya, SH
Sekretaris Umum Persekutuan Doa Tubuh Kristus (PDTK)

Untuk publikasi: Media publik nasional, media sosial, Facebook, WhatsApp, portal berita dan PDTK News.

Jumat, 07 Agustus 2026

PDTK Serukan Kejelasan Pelayanan agar Umat Tidak Terpecah.

 



Dua Logo dan Dua Nama yang Berbeda 

NABIRE, PAPUA TENGAH — Persekutuan Doa Tubuh Kristus (PDTK) menyerukan kehati-hatian kepada para pelayan dan umat menyikapi penggunaan dua logo serta dua nama pelayanan yang berbeda di lingkungan pelayanan Tubuh Kristus. Perbedaan identitas tersebut dinilai perlu dijelaskan secara terbuka dan damai agar tidak menimbulkan kebingungan, pertentangan, maupun kegaduhan di tengah umat.

Dua nama yang menjadi perhatian ialah Gereja Tuhan “Tubuh Kristus Lokal” Nabire dan Persekutuan Doa Tubuh Kristus (PDTK) Original Nabire, Dogiyai, Deiyai dan Paniai. Keduanya memiliki logo dan penamaan yang berbeda sehingga PDTK menilai masyarakat perlu memperoleh penjelasan yang jelas mengenai identitas, pola pelayanan, serta dasar pengajarannya masing-masing.

PDTK: Jangan Menghuru-harakan Umat Tuhan

PDTK mengingatkan bahwa perbedaan dalam pelayanan Kristen tidak semestinya berkembang menjadi pertentangan yang menghuru-harakan umat.“Hati-hati menghuru-harakan umat-Nya. Yang harus dijaga adalah kebenaran Firman Tuhan, kedamaian, kasih, dan keselamatan umat,” demikian pernyataan PDTK.

Menurut PDTK, persekutuan tersebut tidak dibentuk sebagai organisasi dengan struktur formal sebagaimana organisasi pada umumnya. PDTK memandang kegiatan mereka terutama sebagai persekutuan ibadah yang menempatkan Tuhan Ugatame, Tuhan Yesus Kristus dan Roh Kudus sebagai Pemimpin utama ibadah.

Pola tersebut diterapkan dalam pelayanan PDTK Original Nabire, Dogiyai, Deiyai dan Paniai, dengan penekanan pada doa, pujian, penyembahan, ratap tangis, serta pendalaman Firman Tuhan.

Perbedaan Pemahaman Baptisan Air dan Perjamuan Suci

PDTK juga menyampaikan adanya perbedaan pemahaman pelayanan dengan Gereja Tuhan “Tubuh Kristus Lokal”, khususnya berkaitan dengan Baptisan Air dan Perjamuan Suci.

Dalam menyampaikan sikapnya, PDTK merujuk Wahyu 22:18–19 sebagai peringatan agar manusia tidak menambah maupun mengurangi Firman Tuhan.

Namun demikian, perbedaan tersebut perlu dipahami sebagai perbedaan pandangan dan penafsiran keagamaan yang sebaiknya diselesaikan melalui pembicaraan Alkitabiah, dialog antar-hamba Tuhan, dan penjelasan terbuka kepada umat, bukan melalui tuduhan maupun pertentangan pribadi.

PDTK menegaskan bahwa setiap pengajaran mengenai Baptisan Air, Perjamuan Suci maupun bentuk pelayanan lainnya perlu diuji berdasarkan keseluruhan kesaksian Kitab Suci.

Pertumbuhan Iman Tidak Sama pada Setiap Orang

Selain persoalan identitas pelayanan, PDTK menekankan bahwa tingkat pertumbuhan rohani setiap orang tidak selalu sama.

PDTK merujuk perumpamaan Yesus dalam Matius 13:8 dan Matius 13:23 mengenai benih yang jatuh di tanah yang baik dan kemudian menghasilkan buah dengan tingkat yang berbeda-beda.

Pesan tersebut dipahami bahwa seseorang dapat menerima Firman Tuhan, memahami Firman tersebut, kemudian mengalami pertumbuhan dan menghasilkan buah sesuai proses rohaninya.

Karena itu, perbedaan tingkat pemahaman tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling merendahkan.

“Benih Firman harus bertumbuh sampai berakar kuat dalam kehidupan seseorang. Tidak cukup hanya mendengar Firman, tetapi Firman itu harus hidup, bertumbuh dan menghasilkan buah,” demikian penegasan PDTK.

Menghidupkan Firman Sampai ke Akar-akarnya

PDTK menjelaskan bahwa salah satu tujuan utama Persekutuan Doa Tubuh Kristus adalah menghidupkan Firman Tuhan sampai ke akar kehidupan umat.

Artinya, Firman tidak hanya disampaikan melalui khotbah atau pengajaran, tetapi diharapkan terlihat melalui kehidupan doa, pertobatan, kasih, kekudusan, kesatuan, ketaatan dan perubahan karakter.

Dalam pandangan PDTK, kehidupan rohani yang sejati tidak terutama ditentukan oleh nama organisasi maupun lambang pelayanan, melainkan oleh sejauh mana Firman Tuhan hidup dan menghasilkan buah dalam diri seseorang.

Karena itu, keberadaan dua nama dan dua logo diharapkan tidak menjadi sumber perpecahan, tetapi menjadi momentum untuk memperjelas identitas serta dasar pelayanan masing-masing secara bertanggung jawab.

Seruan Menjaga Kesatuan Umat

PDTK menyerukan kepada para tua-tua, hamba Tuhan dan seluruh umat agar tidak mudah terprovokasi oleh perbedaan nama, logo maupun tata pelayanan.

Penyelesaian setiap perbedaan hendaknya dilakukan melalui doa, Firman Tuhan, dialog, kasih dan penghormatan satu terhadap yang lain.

PDTK NEWS menegaskan pesan utama: dua logo boleh berbeda, dua nama dapat berbeda, bahkan pola pelayanan dapat berbeda, tetapi jangan sampai perbedaan itu menghuru-harakan umat Tuhan. Firman Tuhan harus menjadi dasar, dan damai sejahtera harus tetap dijaga.

PDTK NEWS — Nabire, Papua Tengah
“Menghidupkan Firman sampai ke akar-akarnya, bertumbuh dan menghasilkan buah.” mk

Rabu, 05 Agustus 2026

PERSEKUTUAN DOA TUBUH KRISTUS NABIRE GELAR RAPAT, BAHAS KEPEMIMPINAN DAN KEUTUHAN UMAT

 

Pertemuan digelar usai rangkaian kegiatan KKR di Meriam untuk membahas arah pelayanan Persekutuan Doa Tubuh Kristus Nabire, Wojokunu hingga Makataka

NABIRE, Papua Tengah — Para tua-tua Persekutuan Doa Tubuh Kristus Nabire, Wojokunu sampai Makataka menggelar pertemuan di Nabire, Rabu (5/8/2026). Pertemuan tersebut berlangsung setelah rangkaian kegiatan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) di Meriam dan menjadi ruang bersama untuk membahas sejumlah agenda penting terkait arah pelayanan serta keutuhan umat.

Dalam pertemuan itu, para tua-tua membahas dua pokok utama, yakni konsep kepemimpinan dalam Persekutuan Doa Tubuh Kristus serta persoalan baptisan air dan Perjamuan Kudus.

Struktur formal tidak menjadi fokus utama

Salah satu keputusan yang dibahas dalam pertemuan adalah rencana pembentukan struktur organisasi formal Persekutuan Doa Tubuh Kristus.

Para tua-tua menyampaikan pandangan bahwa Persekutuan Doa Tubuh Kristus tidak semata-mata dibangun berdasarkan struktur organisasi manusia, melainkan menempatkan Allah Bapa, Yesus Kristus, dan Roh Kudus sebagai pusat kepemimpinan dalam kehidupan persekutuan.

Sebagai bentuk pengaturan pelayanan, para tua-tua mempertimbangkan pengangkatan koordinator-koordinator berdasarkan karunia, pengetahuan, kemampuan, dan tanggung jawab pelayanan yang dimiliki masing-masing anggota.

Pandangan tersebut dikaitkan dengan pesan Yesus dalam Matius 23:5-10, yang antara lain mengingatkan umat agar tidak menjadikan gelar dan kedudukan manusia sebagai pusat kehidupan iman.

Dengan demikian, koordinasi pelayanan dipandang lebih sebagai kebutuhan untuk menjaga keteraturan dan kelancaran pelayanan, bukan sebagai pembentukan hierarki yang menempatkan manusia di atas kehendak Tuhan.

Baptisan air dan Perjamuan Kudus

Agenda kedua yang menjadi perhatian adalah persoalan baptisan air dan Perjamuan Kudus.

Dalam pembahasan tersebut, persoalan terkait pelaksanaan dan keputusan mengenai baptisan air serta Perjamuan Kudus kembali diserahkan kepada Hamba Tuhan Fredy Pekei dan Hamba Tuhan Yunus Giyai untuk dibicarakan dan dipertimbangkan lebih lanjut.

Langkah tersebut diarahkan untuk menjaga keutuhan umat, menghindari perbedaan yang dapat menimbulkan perpecahan, serta memastikan setiap keputusan pelayanan dilakukan dengan pertimbangan yang matang.

Para peserta pertemuan menekankan pentingnya mengutamakan kasih, persatuan, ketertiban, dan kepentingan umat dalam setiap keputusan yang berkaitan dengan kehidupan Persekutuan Doa Tubuh Kristus.

Mengedepankan persatuan umat

Pertemuan para tua-tua tersebut menjadi bagian dari proses konsolidasi pelayanan setelah kegiatan KKR di Meriam. Forum tersebut juga menjadi momentum untuk memperkuat komunikasi di antara para pelayan dan umat Persekutuan Doa Tubuh Kristus di wilayah Nabire, Wojokunu sampai Makataka.

Para tua-tua berharap setiap perbedaan pandangan mengenai tata kelola maupun pelayanan dapat diselesaikan melalui dialog, doa, dan kebersamaan dengan tetap menjadikan Tuhan sebagai pusat kehidupan persekutuan.

Dengan semangat tersebut, Persekutuan Doa Tubuh Kristus diharapkan terus bertumbuh sebagai wadah persekutuan yang mengedepankan iman, kasih, persaudaraan, dan keutuhan umat.

CATATAN FOTO:

Para tua-tua Persekutuan Doa Tubuh Kristus Nabire, Wojokunu sampai Makataka mengikuti rapat bersama di Nabire, Papua Tengah, Rabu (5/8/2026), usai rangkaian kegiatan KKR di Meriam. Pertemuan membahas arah pelayanan, koordinasi berdasarkan karunia, serta persoalan baptisan air dan Perjamuan Kudus demi menjaga keutuhan umat.

Kamis, 30 Juli 2026

KEBAKTIAN KEBANGUNAN ROHANI KKR WILAYAH MEEPAGO DI NABIRE

 


KKR Wilayah Meepago Hadirkan Semangat Persatuan, Doa, dan Harapan Baru bagi Papua Tengah. 

_______

NABIRE, Papua Tengah – Suasana penuh sukacita dan pengharapan mewarnai pelaksanaan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) Wilayah Meepago yang berlangsung di Nabire pada 30 Juli–1 Agustus 2026. Kegiatan rohani ini menghadirkan Ev. Jhon Kayame dari Merauke untuk melayani umat melalui pemberitaan Firman Tuhan dengan tema "Membuka Rahasia Eden dan Deklarasi Peniupan Sangkakala Ketujuh."

Sekretaris Umum Persekutuan Doa Tubuh Kristus (PDTK) Wilayah Meepago, Melkias Keiya, S.H., menyampaikan bahwa KKR bukan sekadar pertemuan ibadah, melainkan sebuah momentum untuk mempererat persaudaraan, membangun kasih, dan menumbuhkan harapan baru bagi masyarakat Papua Tengah.

> "Kami mengajak seluruh masyarakat, tanpa memandang latar belakang suku maupun status sosial, untuk datang bersama-sama mencari Tuhan. Melalui doa, pujian, penyembahan, dan firman-Nya, kita membangun kehidupan yang penuh kasih, damai, dan saling menghormati. Papua yang maju dimulai dari hati yang dipulihkan dan masyarakat yang hidup dalam persatuan," ujar Melkias Keiya, S.H.

Menurutnya, kehadiran Ev. Jhon Kayame dari Merauke merupakan kesempatan yang berharga bagi masyarakat untuk memperoleh penguatan iman dan motivasi dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Melkias Keiya berharap KKR Wilayah Meepago menjadi ruang bagi setiap orang untuk menemukan pengharapan, memperkuat hubungan dengan Tuhan, serta mempererat persaudaraan antarsesama. Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga kedamaian, kerukunan, dan semangat membangun Papua Tengah yang aman, harmonis, dan sejahtera.

"Mari datang bersama keluarga, sahabat, dan kerabat. Jadikan KKR Wilayah Meepago sebagai momen untuk mengalami pembaruan hidup, memperkuat iman, dan menyalakan semangat persatuan demi masa depan Papua yang damai, maju, dan diberkati Tuhan."

Rabu, 29 Juli 2026

RAHASIA TAMAN EDEN.

 

Refleksi Rohani untuk Kehidupan Masa Kini

Papua Tengah – Kepala Suku Besar Wilayah Meepago Provinsi Papua Tengah, Melkias Keiya, SH, mengajak seluruh masyarakat untuk merenungkan salah satu pelajaran paling mendasar dari Taman Eden, yaitu bahwa kehidupan manusia dibentuk oleh pilihan antara ketaatan dan ketidaktaatan kepada Tuhan.

Berdasarkan Kejadian 3:17, Alkitab mencatat bahwa setelah manusia melanggar perintah Allah, Tuhan berfirman, "Terkutuklah tanah." Peristiwa ini mengajarkan bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi. Ketika manusia menjauh dari kehendak Tuhan, dosa membawa penderitaan, kerja keras, dan pergumulan dalam kehidupan.

Sementara itu, 1 Timotius 2:10–15 mengingatkan umat percaya agar hidup dalam kesopanan, kerendahan hati, ketaatan, kasih, dan kekudusan. Bagian ini telah dipahami dengan berbagai penafsiran di kalangan gereja, namun semuanya mengarahkan orang percaya untuk hidup yang berkenan kepada Allah.

Rahasia Taman Eden bukan sekadar tentang sebuah pohon atau buah yang dilarang. Rahasia yang sesungguhnya adalah hati manusia. Ketika hati memilih taat kepada Firman Tuhan, damai, sukacita, dan berkat akan bertumbuh. Sebaliknya, ketika hati memilih melawan kehendak Tuhan, manusia akan menuai akibat dari pilihannya.

Karena itu, Melkias Keiya mengajak seluruh masyarakat Papua Tengah dan Indonesia untuk membangun keluarga yang takut akan Tuhan, saling mengasihi, menjaga persatuan, menghormati sesama, serta menjadikan Firman Tuhan sebagai pedoman dalam setiap langkah kehidupan."Rahasia Taman Eden bukan tentang masa lalu, tetapi tentang pilihan kita hari ini. Setiap hari kita memilih antara ketaatan yang membawa kehidupan atau ketidaktaatan yang membawa konsekuensi. Marilah kita memilih hidup dalam kasih, kebenaran, dan ketaatan kepada Tuhan."

Melkias Keiya, SH
Kepala Suku Besar Wilayah Meepago Provinsi Papua Tengah

Senin, 27 Juli 2026

OPINI PUBLIK SPRITUAL.

 

Pengetahuan Baik dan Jahat Ada dalam Diri Manusia: Akal Budi Menentukan Pilihan

Setiap manusia dianugerahi akal budi untuk berpikir, memahami, dan mengambil keputusan. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia selalu diperhadapkan pada dua pilihan, yaitu melakukan kebaikan atau melakukan kejahatan. Keduanya dapat dipahami oleh akal manusia, tetapi keputusan akhir bergantung pada hati nurani, moral, dan tanggung jawab pribadi.

Pengetahuan tentang yang baik mengarahkan manusia kepada kasih, kejujuran, keadilan, dan kedamaian. Sebaliknya, pengetahuan tentang yang jahat dapat menyeret manusia kepada kebencian, kekerasan, keserakahan, dan tindakan yang merugikan sesama. Karena itu, akal bukanlah musuh manusia, melainkan alat yang harus dipimpin oleh nilai-nilai moral dan iman,pengharan dan kasih 1Kor 13:13.

Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi, masyarakat dituntut untuk semakin bijaksana dalam menggunakan akal budi. Kemampuan berpikir kritis harus disertai dengan integritas, sehingga setiap keputusan yang diambil membawa manfaat bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara.

Bangsa yang kuat bukan hanya dibangun oleh kecerdasan intelektual, tetapi juga oleh karakter yang menjunjung tinggi kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan. Oleh sebab itu, marilah kita menggunakan pengetahuan dan akal budi sebagai sarana untuk membangun perdamaian, memperkuat persatuan, serta menciptakan kehidupan yang lebih bermartabat bagi seluruh umat Tuhan.

Senin, 13 Juli 2026

KEPALA SUKU BESAR WILAYAH MEEPAGO:

HUKUM HARUS MENUNTUN MANUSIA KEPADA KASIH, KEBENARAN, DAN KEADILAN. 

Nabire, Papua Tengah — Kepala Suku Besar Wilayah Meepago Provinsi Papua Tengah, Melkias Keiya, S.H., menyampaikan pandangan moral dan rohani mengenai dasar-dasar hukum yang seharusnya menjadi pedoman dalam kehidupan manusia, agama, pemerintahan, serta kehidupan bermasyarakat.

Menurut Melkias Keiya, hukum tidak boleh hanya dipahami sebagai aturan tertulis yang mengatur dan menghukum manusia. Hukum harus menjadi jalan yang menuntun manusia kepada pengetahuan, kebenaran, kasih, kedamaian, dan keadilan.

Ia menjelaskan bahwa terdapat enam dasar hukum yang perlu dipahami dan dijalankan secara bertanggung jawab oleh setiap manusia.

Takut akan Tuhan Menjadi Dasar Kehidupan Anak Manusia

Melkias Keiya mengatakan bahwa hukum bagi anak manusia adalah takut akan Tuhan, sebagaimana tertulis dalam Amsal 1:7 bahwa takut akan Tuhan merupakan permulaan pengetahuan.

Menurutnya, takut akan Tuhan bukan berarti hidup dalam ketakutan yang membuat manusia menjauh dari Tuhan. Takut akan Tuhan berarti menghormati, menaati, dan menempatkan Tuhan sebagai dasar utama dalam setiap perkataan, tindakan, dan keputusan.

“Manusia yang memiliki rasa takut akan Tuhan akan berhati-hati dalam menggunakan kekuasaan, menjaga perkataannya, menghargai sesamanya, dan menjauhkan diri dari tindakan yang merugikan orang lain,” ujar Melkias Keiya.

Ia menegaskan bahwa pengetahuan tanpa takut akan Tuhan dapat melahirkan kesombongan, sementara kekuasaan tanpa rasa takut kepada Tuhan dapat berubah menjadi alat penindasan.

Sepuluh Firman Menjadi Pedoman Moral Kehidupan Beragama

Dalam kehidupan keagamaan, Melkias Keiya menyebut Sepuluh Firman Tuhan yang disampaikan melalui Musa, sebagaimana tertulis dalam Kitab Keluaran pasal 20, sebagai pedoman moral yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan sesamanya.

Sepuluh Firman tersebut mengajarkan manusia untuk setia kepada Tuhan, menghormati nama-Nya, menghormati orang tua, menjaga kehidupan, menjauhi perzinahan, tidak mencuri, tidak bersaksi dusta, serta tidak mengingini milik sesama.

Menurutnya, Sepuluh Firman tidak boleh hanya dibaca atau dihafal dalam kegiatan keagamaan, tetapi harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.

“Agama harus menghasilkan manusia yang jujur, bermoral, menghargai kehidupan, menjaga keluarga, dan menghormati hak-hak sesama manusia,” katanya.

Manusia Dilarang Menghujat Roh Kudus

Melkias Keiya juga menegaskan pentingnya menghormati pekerjaan Roh Kudus. Ia merujuk pada Markus 3:29 dan Lukas 12:10 yang memperingatkan manusia agar tidak menghujat Roh Kudus.

Menurutnya, Roh Kudus bekerja untuk menyadarkan manusia dari dosa, membimbing manusia kepada kebenaran, membentuk kehidupan yang kudus, serta memberikan kekuatan untuk melakukan kehendak Tuhan.

Menghujat Roh Kudus, lanjutnya, berarti dengan sadar menolak, menghina, atau melawan pekerjaan Roh Tuhan, sekalipun seseorang telah mengetahui kebenaran.

“Manusia harus membuka hati terhadap teguran Roh Kudus, hidup dalam pertobatan, dan membiarkan Roh Tuhan membimbing kehidupannya menuju kebenaran dan kekudusan,” tegasnya.

Hukum Yesus Kristus adalah Mengasihi Tuhan dan Sesama

Lebih lanjut, Melkias Keiya menjelaskan bahwa hukum utama yang diajarkan Tuhan Yesus Kristus adalah mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap akal budi, serta mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri.

Ajaran tersebut tertulis dalam Matius 22:37–40 dan menjadi rangkuman dari seluruh hukum Tuhan.

Menurutnya, kasih kepada Tuhan tidak cukup dinyatakan melalui doa, ibadah, nyanyian, atau perkataan. Kasih kepada Tuhan harus dibuktikan melalui ketaatan, kesetiaan, kejujuran, kesucian hidup, dan tindakan nyata kepada sesama.

“Manusia tidak dapat mengaku mengasihi Tuhan apabila masih membenci, merendahkan, menindas, atau menyakiti sesamanya,” ujar Melkias Keiya.

Ia mengatakan bahwa kasih kepada sesama harus diwujudkan dengan menolong masyarakat yang lemah, mengampuni orang yang bersalah, menjaga persaudaraan, menghormati martabat manusia, serta menyelesaikan konflik dengan cara damai.

Hukum Tuhan Ugatame adalah Kasih

Melkias Keiya menegaskan bahwa hukum tertinggi dari Tuhan Ugatame adalah kasih, sebagaimana tertulis dalam 1 Yohanes 4:8 bahwa Allah adalah kasih.

Menurutnya, kasih Tuhan tidak membedakan manusia berdasarkan suku, golongan, jabatan, kekayaan, kekuasaan, maupun latar belakang sosial.

Kasih Tuhan merupakan kasih yang murni, benar, adil, memulihkan, dan menyelamatkan. Kasih tersebut harus menjadi dasar dalam kehidupan keluarga, gereja, masyarakat adat, pemerintahan, dan kehidupan berbangsa.

“Kasih bukanlah kelemahan. Kasih adalah kekuatan yang mampu menghentikan kebencian, mendamaikan permusuhan, menyembuhkan luka, dan memulihkan hubungan yang telah rusak,” katanya.

Ia menambahkan bahwa tanpa kasih, agama dapat kehilangan makna, pengetahuan dapat melahirkan kesombongan, hukum dapat menjadi alat penindasan, dan kekuasaan dapat digunakan untuk kepentingan pribadi.

Pemerintah Harus Berdiri Adil dan Tidak Berpihak pada Satu Kepentingan

Dalam kehidupan pemerintahan, Melkias Keiya menegaskan bahwa pemerintah tidak boleh menetap atau berpihak hanya pada satu sisi, satu kelompok, satu suku, satu golongan, maupun satu kepentingan tertentu.

Pemerintah, menurutnya, harus berdiri sebagai pelayan seluruh rakyat dan menjalankan kekuasaan berdasarkan kebenaran, keadilan, kesetaraan, kepastian hukum, serta kepentingan umum.

“Tidak berpihak bukan berarti pemerintah diam terhadap ketidakadilan. Pemerintah wajib berpihak kepada kebenaran, melindungi korban, membela masyarakat yang lemah, dan menindak setiap pelanggaran hukum secara adil,” tegasnya.

Ia meminta agar hukum diterapkan secara setara kepada semua pihak, baik pejabat maupun masyarakat biasa, orang kaya maupun miskin, kelompok mayoritas maupun kelompok kecil.

Menurutnya, keberpihakan pemerintah kepada satu kepentingan dapat menghancurkan kepercayaan masyarakat, menimbulkan kecemburuan sosial, memperbesar konflik, dan melemahkan persatuan.

Sebaliknya, pemerintah yang berdiri di atas keadilan akan melahirkan rasa aman, ketertiban, persatuan, dan kepercayaan rakyat.

Seruan Moral bagi Masyarakat dan Pemerintah

Melkias Keiya mengajak masyarakat Papua Tengah, khususnya masyarakat di Wilayah Meepago, untuk menjadikan takut akan Tuhan, ketaatan kepada firman, penghormatan terhadap Roh Kudus, kasih kepada sesama, serta keadilan sebagai dasar kehidupan bersama.

Ia juga menyerukan kepada para pemimpin agama, tokoh adat, aparatur pemerintah, aparat keamanan, dan seluruh elemen masyarakat agar tidak menggunakan hukum, agama, jabatan, maupun kekuasaan untuk kepentingan pribadi atau kelompok.

“Takut akan Tuhan harus melahirkan hikmat. Firman Tuhan harus membentuk moral. Roh Kudus harus menuntun manusia kepada kebenaran. Ajaran Yesus Kristus harus menghasilkan kasih. Pemerintah harus menghadirkan keadilan bagi seluruh rakyat,” ujarnya.

Melkias Keiya berharap enam dasar hukum tersebut dapat menjadi pesan moral untuk membangun kehidupan yang damai, adil, bermartabat, dan penuh kasih di Papua Tengah serta di seluruh Indonesia.

“Apabila manusia takut akan Tuhan, hidup dalam kasih, menghargai sesama, dan pemerintah menegakkan keadilan tanpa pilih kasih, maka masyarakat akan hidup dalam kedamaian, persatuan, keamanan, dan kesejahteraan,” tutup Kepala Suku Besar Wilayah Meepago Provinsi Papua Tengah, Melkias Keiya, S.H.