Minggu, 14 Desember 2025

TANDA TANYA ORANG PAPUA: KAPAN SESUNGGUHNYA YESUS DILAHIRKAN?


Banyak orang Papua, Natal tidak hanya menjadi perayaan iman, tetapi juga menghadirkan tanda tanya teologis yang jujur dan logis. Pertanyaan itu berangkat dari pembacaan Injil Lukas, khususnya mengenai waktu kehamilan Maria dan kelahiran Yesus Kristus.

Dalam Injil Lukas pasal 2 ayat 11 tertulis: “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.” Ayat ini kerap dijadikan dasar perayaan Natal sebagai hari kelahiran Yesus. Namun, Injil Lukas sendiri, dalam pasal 1 ayat 26, menyebutkan bahwa pada bulan keenam Malaikat Tuhan Gabriel diutus kepada Maria untuk menyampaikan kabar bahwa ia akan mengandung oleh kuasa Roh Kudus.

Jika ditelusuri secara sederhana dan rasional, bulan keenam tersebut merujuk pada bulan keenam kehamilan Elisabet, yang secara umum dipahami terjadi sekitar bulan Juni. Bila Maria mulai mengandung pada bulan keenam itu, maka masa kehamilan manusia normal sekitar sembilan bulan akan berakhir sekitar bulan Maret atau April, bukan pada tanggal 25 Desember.

Perhitungan ini menimbulkan pertanyaan yang wajar di kalangan orang Papua: mengapa kelahiran Yesus dirayakan pada 25 Desember, jika secara kronologis Injil Lukas sendiri tidak menunjuk ke tanggal tersebut?

Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika disadari bahwa Injil tidak pernah mencatat tanggal kelahiran Yesus secara spesifik. “Hari ini” dalam Lukas 2:11 bukanlah penanda kalender, melainkan penekanan teologis: hari keselamatan telah tiba. Fokus Lukas bukan pada tanggal, tetapi pada makna kehadiran Juruselamat bagi manusia.

Dalam tradisi gereja, penetapan 25 Desember bukan berasal dari perhitungan alkitabiah yang ketat, melainkan dari perkembangan sejarah dan konteks budaya Gereja Barat pada abad ke-4. Karena itu, Natal lebih tepat dipahami sebagai simbol iman, bukan fakta kronologis yang mutlak.

Bagi orang Papua, yang memiliki tradisi berpikir kontekstual dan rasional, penting untuk memisahkan antara iman Injil dan tradisi gerejawi Barat. Injil Lukas tidak sedang mengajarkan kalender kelahiran, tetapi sedang memberitakan bahwa keselamatan Allah telah hadir di tengah dunia.

Ketika Natal dipaksakan sebagai tanggal absolut tanpa penjelasan yang jujur, iman justru bisa berubah menjadi dogma kosong. Sebaliknya, ketika Natal dipahami sebagai peristiwa rohani—Allah yang hadir dalam sejarah manusia—maka ia dapat diterima secara dewasa dan kontekstual oleh orang Papua.

Dengan demikian, tanda tanya orang Papua bukanlah bentuk penolakan iman, melainkan ekspresi pencarian kebenaran. Injil sendiri memberi ruang bagi pertanyaan itu. Natal tidak kehilangan maknanya meski tanggalnya diperdebatkan. Yang terpenting adalah apakah pesan Juruselamat itu sungguh lahir dalam kehidupan manusia hari ini: membawa keadilan, damai, dan pemulihan.

Natal sejati bukan soal tanggal 25 Desember, melainkan tentang kehadiran Kristus di tengah penderitaan manusia—termasuk penderitaan orang Papua.<<keiyam>>


Tidak ada komentar:

Posting Komentar