PDTK NEWS:
Serukan Pertobatan Besar di Tanah Papua, PDTK: Pencurahan Roh Kudus Harus Melahirkan Perdamaian dan Perubahan Hidup
NABIRE, PAPUA TENGAH | KAMIS, 3 SEPTEMBER 2026 — PDTK NEWS — Persekutuan Doa Tubuh Kristus (PDTK) menyerukan kebangkitan rohani dan pertobatan menyeluruh di Tanah Papua. Pencurahan Roh Kudus dinilai tidak boleh berhenti pada pengalaman keagamaan semata, tetapi harus menghasilkan perubahan nyata dalam kehidupan berupa kasih, pengampunan, kekudusan, persatuan dan perdamaian.
Seruan tersebut disampaikan Melkias Keiya, S.H., Kepala Suku Besar Wilayah Meepago Provinsi Papua Tengah, dalam pesan dan refleksi rohani Persekutuan Doa Tubuh Kristus di Papua Tengah, Kamis (3/9/2026).
Pesan tersebut berangkat dari perenungan terhadap Zakharia 12:10, yang mencatat janji tentang pencurahan “roh pengasihan dan roh permohonan” atas keluarga Daud dan penduduk Yerusalem.
Melkias menjelaskan, secara Alkitabiah Zakharia 12:10 berbicara mengenai Israel. Namun, dalam refleksi dan konteks pelayanan PDTK di Tanah Papua, pesan mengenai pertobatan, pengasihan, doa dan pencurahan Roh Kudus tersebut dipandang sebagai panggilan rohani agar masyarakat Papua kembali kepada Tuhan.
Papua Membutuhkan Pembaruan Rohani
Menurut Melkias Keiya, Papua tidak hanya membutuhkan pembangunan fisik, ekonomi, infrastruktur dan pemerintahan, tetapi juga pembaruan hati dan kehidupan rohani masyarakat.
Berbagai persoalan sosial, kekerasan, permusuhan, perpecahan dan kepentingan pribadi, menurut dia, harus menjadi bahan perenungan bersama bagi umat Tuhan.
“Papua membutuhkan pertobatan. Papua membutuhkan hati yang kembali kepada Tuhan. Pencurahan Roh Kudus harus membawa manusia meninggalkan dosa, hidup dalam kasih, saling mengampuni dan membangun perdamaian,” kata Melkias Keiya.
Ia menegaskan bahwa perubahan besar harus dimulai dari kehidupan pribadi, keluarga dan para pemimpin sebelum diharapkan terjadi pada masyarakat secara luas.
Zakharia 12:10 dan Panggilan Pertobatan
Dalam pesan rohaninya, Melkias menjelaskan bahwa Zakharia 12:10 menggambarkan pencurahan roh pengasihan dan permohonan yang membawa manusia kepada kesadaran rohani, doa dan pertobatan.
Pesan tersebut juga dikaitkan dengan Yoel 2:28-29 tentang pencurahan Roh Allah serta Yehezkiel 39:29 mengenai karya Roh Tuhan atas umat-Nya.
Menurut dia, ketika Roh Kudus bekerja dalam kehidupan seseorang, perubahan seharusnya tidak hanya terlihat melalui aktivitas ibadah, tetapi juga melalui karakter dan perilaku sehari-hari.
Orang yang membenci harus belajar mengasihi. Orang yang bermusuhan harus berdamai. Mereka yang hidup dalam kesalahan harus berani bertobat dan kembali kepada jalan Tuhan.
Yesus Kristus Menjadi Pusat Pemberitaan
Melkias menegaskan bahwa Yesus Kristus harus tetap menjadi pusat pemberitaan dan pelayanan Persekutuan Doa Tubuh Kristus.
Zakharia 12:10 berbicara mengenai sosok “yang telah mereka tikam”. Dalam Perjanjian Baru, Yohanes 19:37 mengaitkan teks tersebut dengan peristiwa penyaliban Yesus Kristus.
Menurut Melkias, umat tidak cukup hanya mengenal nama Yesus melalui identitas agama atau tradisi gereja.
Iman kepada Kristus harus tercermin melalui kehidupan yang berubah, tindakan kasih, kejujuran, kekudusan, pengampunan dan kepedulian terhadap sesama manusia.
“Mengenal Tuhan bukan hanya melalui kata-kata. Kehidupan kita harus menunjukkan bahwa Kristus benar-benar hidup dan bekerja di dalam diri kita,” ujarnya.
Pertobatan Harus Dimulai dari Pemimpin hingga Rakyat
Melkias menyerukan agar panggilan pertobatan menjangkau seluruh lapisan masyarakat Papua.
Menurutnya, pemimpin, tokoh adat, tokoh agama, masyarakat, laki-laki, perempuan, orang tua maupun generasi muda memiliki tanggung jawab yang sama untuk memeriksa dan memperbaiki kehidupan di hadapan Tuhan.
Tidak ada kelompok yang dapat merasa lebih suci atau lebih benar dibandingkan kelompok lainnya.
“Kalau kita menginginkan perubahan di Tanah Papua, jangan selalu menunjuk kesalahan orang lain. Perubahan harus dimulai dari saya, dari Anda, dari keluarga kita, dari para pemimpin dan kemudian dari masyarakat secara bersama-sama,” katanya.
Para pemimpin, lanjut Melkias, harus menjalankan tanggung jawab secara jujur dan takut akan Tuhan. Masyarakat harus menjaga persaudaraan, sedangkan keluarga harus menjadi tempat pertama untuk menanamkan kasih, iman dan pengampunan.
Jangan Hanya Mengejar Kekuasaan dan Kepentingan Duniawi
Dalam seruan tersebut, Melkias juga mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan politik, kekuasaan, uang, jabatan dan kepentingan duniawi sebagai pusat kehidupan.
Menurut dia, pembangunan Papua harus berjalan seiring dengan pembangunan karakter dan moral manusianya.
Pembangunan fisik yang maju tetapi dibarengi kebencian, kekerasan, ketidakjujuran dan perpecahan tidak akan mampu menghasilkan kehidupan masyarakat yang benar-benar damai.
Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan Tuhan sebagai dasar dalam membangun kehidupan pribadi maupun kehidupan bersama.
Pencurahan Roh Kudus Harus Menghasilkan Buah
PDTK menekankan bahwa pencurahan Roh Kudus bukan sekadar pengalaman emosional atau kegiatan keagamaan.
Karya Roh Kudus harus menghasilkan buah nyata dalam kehidupan.
Orang yang sebelumnya hidup dalam permusuhan harus belajar berdamai. Orang yang menyimpan kebencian harus belajar mengampuni. Orang yang tidak jujur harus kembali kepada kebenaran.
Sementara mereka yang dipercayakan memiliki kekuasaan dan jabatan harus menggunakannya untuk melayani masyarakat, bukan untuk kepentingan diri sendiri.
“Pencurahan Roh Kudus bukan untuk membuat seseorang merasa lebih tinggi atau lebih rohani daripada orang lain. Roh Kudus membawa kita semakin rendah hati, semakin mengasihi, semakin hidup benar dan semakin dekat kepada Tuhan,” tegas Melkias.
Menyembah dalam Roh dan Kebenaran
Melkias juga mengajak umat untuk terus berdoa, memuji dan menyembah Tuhan dengan berpedoman pada Yohanes 4:23-24, mengenai penyembah-penyembah benar yang menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran.
Para pelayan Tuhan diingatkan agar tidak kehilangan semangat sekalipun hasil pelayanan belum terlihat sesuai harapan.
Menurut dia, tugas umat adalah tetap melakukan bagian yang dipercayakan Tuhan, sedangkan hasil akhirnya berada dalam kehendak dan waktu Tuhan.
“Jangan berhenti berdoa. Jangan berhenti menyembah. Jangan berhenti memberitakan Firman. Kita melakukan bagian kita dan Tuhan akan melakukan bagian-Nya sesuai dengan waktu dan kehendak-Nya,” katanya.
Doa untuk Tanah Papua
Melalui Persekutuan Doa Tubuh Kristus, Melkias Keiya mengajak umat Kristen di berbagai daerah untuk terus menaikkan doa bagi Tanah Papua.
Doa tersebut mencakup keluarga, kampung, masyarakat adat, gereja, para pemimpin, pemerintah, generasi muda serta seluruh masyarakat yang hidup di Tanah Papua.
Ia berharap terjadi pembaruan rohani yang mampu melahirkan generasi yang takut akan Tuhan, menghormati martabat manusia, menjaga persaudaraan serta bertanggung jawab terhadap masa depan Tanah Papua.
“Kita berdoa supaya kebangkitan rohani dan pertobatan terjadi dari pribadi ke pribadi, dari keluarga ke keluarga, dari kampung ke kampung dan menjangkau seluruh Tanah Papua. Biarlah kasih Kristus mengalahkan kebencian dan Roh Kudus memimpin kita kepada kebenaran dan perdamaian,” tutup Melkias Keiya.
PDTK NEWS NASIONAL
Persekutuan Doa Tubuh Kristus
Hari/Tanggal: Kamis, 3 September 2026
Lokasi: Nabire, Provinsi Papua Tengah
Narasumber: Melkias Keiya, S.H.
Jabatan: Kepala Suku Besar Wilayah Meepago Provinsi Papua Tengah
Tema: Pencurahan Roh Kudus dan Pertobatan di Tanah Papua
Ayat Utama: Zakharia 12:10
Naskah: Keiya Meeyoka
Memuji dan Menyembah Allah dalam Roh dan Kebenaran

Tidak ada komentar:
Posting Komentar