Senin, 10 Agustus 2026

RATAP, TANGIS, DAN DOA YANG TEKUN MENJADI PANGGILAN KETULUSAN DI HADAPAN TUHAN.


Sekum Persekutuan Doa Tubuh Kristus, Melkias Keiya, SH: Takut akan Tuhan harus melahirkan pertobatan, ketekunan, kerendahan hati, dan kesungguhan dalam pelayanan. 

PAPUA TENGAH — Sekretaris Umum Persekutuan Doa Tubuh Kristus (PDTK), Melkias Keiya, SH, menegaskan bahwa salah satu bentuk pendekatan rohani seorang manusia kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah hidup dalam takut akan Tuhan, merendahkan diri, berdoa dengan sungguh-sungguh, serta membangun ketekunan melalui ratap, tangis, keluhan hati, puasa, pujian dan penyembahan.

Menurutnya, kehidupan doa tidak semestinya hanya dilakukan ketika manusia menghadapi persoalan. Doa harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang dilakukan secara terus-menerus dengan hati yang tulus.

Dalam pelayanan berskala besar, kata dia, seorang pelayan Tuhan juga membutuhkan fokus rohani, ketekunan dan kesediaan untuk berkorban, bukan hanya kemampuan berbicara di depan banyak orang.

“Di hadapan Tuhan, manusia harus datang dengan hati yang takut akan Tuhan, jujur, tulus dan rendah hati. Ratap dan tangis bukan sekadar mengeluarkan air mata, tetapi merupakan ungkapan hati manusia yang sungguh-sungguh mencari Tuhan dan memohon perkenanan-Nya,” kata Melkias Keiya.



Takut akan Tuhan Menjadi Dasar Kehidupan Rohani

Menurut Sekum PDTK, takut akan Tuhan bukan berarti hidup dalam ketakutan yang membuat manusia menjauh dari Allah. Sebaliknya, takut akan Tuhan berarti memiliki rasa hormat, tunduk, taat dan sadar bahwa kehidupan manusia berada di bawah kehendak dan kedaulatan Tuhan.

Karena itu, rasa takut akan Tuhan harus terlihat melalui perubahan kehidupan, baik dalam perkataan, tindakan maupun pelayanan kepada sesama.

Kehidupan rohani tidak cukup hanya ditunjukkan melalui kegiatan keagamaan di depan umum. Ketulusan seseorang justru diuji ketika ia berada dalam doa pribadi, pergumulan, kesulitan, kesendirian dan pelayanan yang membutuhkan pengorbanan.

“Orang yang sungguh-sungguh takut akan Tuhan akan menjaga hati, menjaga perkataan, menghindari kejahatan dan terus mencari kehendak Tuhan dalam kehidupannya,” ujarnya.



Ratap dan Tangis Bukan Sekadar Emosi

Dalam pandangan PDTK, ratap dan tangis merupakan bagian dari ekspresi doa yang dapat muncul ketika seseorang sungguh-sungguh menyadari kelemahan dirinya di hadapan Tuhan.

Ratapan bukan sebuah pertunjukan, bukan pula sarana untuk menunjukkan bahwa seseorang lebih rohani daripada orang lain.

Ratap dan tangis harus lahir secara alami dari hati yang sedang mencari pertolongan, pengampunan, pemulihan maupun petunjuk Tuhan.

Karena itu, Melkias mengingatkan agar praktik ratap tangis dalam ibadah tidak dijadikan ukuran untuk menghakimi tingkat iman seseorang.

Yang terutama di hadapan Tuhan adalah ketulusan hati.

Dalam berbagai bagian Alkitab, doa yang disertai tangisan, puasa dan kerendahan hati menjadi gambaran manusia yang datang kepada Tuhan dengan seluruh keberadaannya.

Semangat tersebut antara lain dapat direnungkan melalui Mazmur 6, Yoel 2:12–13, Ibrani 5:7, Mazmur 51:17 serta 1 Tesalonika 5:17.



Berdoa Secara Berturut-turut dengan Ketekunan

Melkias Keiya juga menekankan pentingnya ketekunan dalam kehidupan doa.

Menurutnya, berdoa secara berturut-turut selama beberapa hari bukan berarti manusia dapat memaksa Tuhan untuk memenuhi seluruh keinginannya.

Doa yang tekun justru merupakan proses untuk menyerahkan kehendak manusia kepada Tuhan, sambil menunggu jawaban dan waktu Tuhan.

“Berhari-hari berada dalam doa bukan berarti memaksa Tuhan mengikuti kemauan kita. Kita justru sedang mendidik diri untuk tetap setia, sabar, fokus dan berserah kepada kehendak-Nya,” katanya.

Dalam pengertian tersebut, kegelisahan rohani hendaknya diarahkan kepada pencarian akan Tuhan, bukan menjadi kecemasan yang menguasai kehidupan.

Kegelisahan yang dimaksud adalah kerinduan mendalam untuk semakin dekat kepada Tuhan, memperbaiki diri, bertobat dan mencari kehendak-Nya.



Lelah Mengeluh tetapi Tidak Berhenti Berdoa

Dalam perjalanan pelayanan, seseorang dapat mengalami kelelahan fisik maupun batin.

Ada kalanya seorang pelayan merasa telah bekerja, berdoa dan berusaha berulang kali, namun jawaban yang dinantikan belum terlihat.

Pada keadaan seperti itu, menurut Melkias, orang percaya tidak perlu berpura-pura seolah-olah dirinya selalu kuat.

Keluhan dapat disampaikan kepada Tuhan secara jujur dalam doa.

Namun keluhan tersebut jangan berubah menjadi keputusasaan atau kebencian.

Sebaliknya, pergumulan harus membawa seseorang semakin dekat kepada Tuhan.

“Manusia boleh menangis di hadapan Tuhan. Manusia boleh mengeluh kepada Tuhan. Tetapi jangan meninggalkan Tuhan. Justru ketika kekuatan kita berkurang, kita harus semakin menyerahkan kehidupan kepada-Nya,” ujarnya.



Pelayanan Besar Harus Dimulai dari Ruang Doa

Sekum PDTK menilai pelayanan dalam skala besar membutuhkan dasar rohani yang kuat.

Jumlah peserta, besarnya panggung, kelengkapan peralatan, organisasi pelayanan maupun popularitas seorang pelayan tidak boleh menjadi ukuran utama keberhasilan pelayanan.

Menurutnya, pelayanan yang besar harus terlebih dahulu dibangun melalui kehidupan doa.

Pelayan Tuhan perlu menyediakan waktu untuk berdoa, merenungkan firman, mengevaluasi diri, berdamai dengan sesama serta memohon hikmat sebelum menjalankan tanggung jawab yang lebih luas.

“Pelayanan besar harus dimulai dari hati yang berlutut di hadapan Tuhan. Jangan hanya mempersiapkan panggung dan suara, tetapi tidak mempersiapkan hati,” tegasnya.



Bukan Mencari Popularitas

PDTK juga mengingatkan bahwa pelayanan keagamaan jangan menjadi sarana untuk mencari nama, jabatan maupun popularitas pribadi.

Setiap bentuk pelayanan harus diarahkan kepada kemuliaan Tuhan serta pembangunan kehidupan umat.

Karena itu, seorang pelayan harus terus memeriksa motivasi dirinya.

Apakah ia melayani karena sungguh-sungguh mengasihi Tuhan dan manusia, atau hanya ingin mendapatkan pengakuan dari masyarakat.

Melkias mengatakan ketulusan merupakan salah satu unsur yang sangat penting.

“Seseorang mungkin dapat meyakinkan manusia melalui kata-kata, tetapi Tuhan melihat hati. Karena itu, yang perlu kita bangun adalah ketulusan di hadapan-Nya,” katanya.



Tidak Memaksakan Cara Berdoa kepada Orang Lain

Persekutuan Doa Tubuh Kristus juga menekankan bahwa pengalaman rohani setiap orang dapat berbeda.

Ada orang yang berdoa dengan air mata. Ada yang berdoa dengan tenang. Ada yang mengekspresikan iman melalui pujian dan penyembahan, sementara yang lain lebih banyak merenungkan firman dalam keheningan.

Perbedaan tersebut tidak semestinya menjadi alasan untuk saling merendahkan.

Yang terutama adalah iman, pertobatan, kasih, ketaatan dan ketulusan kepada Tuhan.

Karena itu, praktik ratap, tangis, puasa maupun bentuk doa lainnya hendaknya dilakukan sebagai ekspresi iman secara sadar dan sukarela, bukan karena tekanan orang lain.



Menjaga Keseimbangan Rohani dan Kondisi Tubuh

Dalam menjalani doa dan pelayanan yang berlangsung berhari-hari, setiap orang juga perlu memperhatikan kondisi fisiknya.

Ketekunan berdoa tidak berarti mengabaikan kebutuhan dasar tubuh.

Istirahat, makanan, air minum dan kesehatan perlu tetap diperhatikan agar pelayanan tidak justru membahayakan seseorang.

Orang yang sedang sakit, lanjut usia, sedang mengonsumsi obat atau mempunyai kondisi kesehatan tertentu perlu menyesuaikan bentuk puasa dan aktivitas pelayanan dengan keadaan masing-masing.

Dengan demikian, kesungguhan rohani berjalan bersama kebijaksanaan.



Dari Ratapan Menuju Pemulihan

Melkias Keiya mengatakan tujuan akhir dari ratap dan tangis bukanlah membuat umat terus berada dalam kesedihan.

Ratapan seharusnya membawa manusia menuju pertobatan, pengharapan, pemulihan dan kehidupan baru.

Setelah seseorang mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan, ia diharapkan bangkit dengan iman yang semakin kuat untuk menjalankan tanggung jawab kepada keluarga, gereja, masyarakat dan sesama.

Dengan demikian, kehidupan doa tidak berhenti di ruang ibadah.

Buah kehidupan rohani harus terlihat dalam tindakan nyata: mengasihi sesama, mengampuni, menolong mereka yang membutuhkan, menjaga perdamaian, menghindari kekerasan, berlaku adil dan membangun persaudaraan.



Seruan kepada Seluruh Umat

Menutup keterangannya, Sekum Persekutuan Doa Tubuh Kristus mengajak umat untuk kembali membangun kehidupan doa yang berakar pada ketulusan.

“Datanglah kepada Tuhan dengan hati yang tulus. Kalau harus menangis, menangislah di hadapan Tuhan. Kalau hati sedang berat, sampaikan kepada Tuhan. Kalau pelayanan terasa melelahkan, jangan meninggalkan Tuhan. Tetaplah berdoa, memuji, menyembah dan mencari kehendak-Nya,” ujar Melkias.

Ia menambahkan, ketekunan tersebut tidak bertujuan untuk “memaksa” Tuhan, melainkan untuk membentuk manusia agar semakin taat kepada kehendak-Nya.

“Yang kita cari bukan bagaimana Tuhan mengikuti kehendak manusia, tetapi bagaimana manusia semakin memahami dan melakukan kehendak Tuhan. Di situlah doa, ratap, tangis dan ketekunan menemukan makna yang sebenarnya,” tutupnya.


PESAN UTAMA

Takut akan Tuhan melahirkan ketaatan.
Ratap dan tangis melahirkan kerendahan hati.
Doa yang tekun melahirkan kesabaran.
Firman Tuhan memberikan arah.
Pujian dan penyembahan menguatkan iman.
Dan ketulusan membuat pelayanan tetap tertuju kepada Tuhan.

Penulis/Pernyataan:
Melkias Keiya, SH
Sekretaris Umum Persekutuan Doa Tubuh Kristus (PDTK)

Untuk publikasi: Media publik nasional, media sosial, Facebook, WhatsApp, portal berita dan PDTK News.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar