Dunia ini tidak runtuh dalam satu hari. Ia perlahan tenggelam—dimulai dari dua hal yang tampak “kecil”, tetapi sesungguhnya paling berbahaya: kesombongan dan penipuan.
Kisah lama dalam Kitab Kejadian mengingatkan kita bahwa sebelum manusia jatuh, sudah ada pemberontakan di hadapan Tuhan. Kesombongan membuat ciptaan ingin melampaui Penciptanya. Dari situlah akar dosa mulai tumbuh—keinginan untuk berdiri tanpa Tuhan, merasa cukup dengan diri sendiri.
Lalu datang penipuan. Ular menyesatkan Hawa dengan kata-kata yang tampak benar, tetapi sebenarnya memutarbalikkan kebenaran. Sejak saat itu, manusia bukan hanya jatuh—tetapi juga hidup dalam kebingungan antara yang benar dan yang salah.
Hari ini, kita melihat pola yang sama terus berulang.
Kesombongan hadir dalam bentuk kekuasaan tanpa hati nurani, merasa paling benar, menutup telinga dari kebenaran.
Penipuan hadir dalam kata-kata yang indah tetapi kosong, janji yang tidak ditepati, dan kebenaran yang sengaja dibengkokkan.
Tanpa kita sadari, dua hal ini tidak hanya merusak individu—tetapi juga menghancurkan masyarakat, bahkan bangsa.
Pertanyaannya bukan lagi “di mana dosa itu berada?”
Tetapi: apakah dua hal ini juga sedang hidup dalam diri kita?
Karena perubahan dunia tidak dimulai dari luar.
Ia dimulai dari hati yang mau merendahkan diri di hadapan Tuhan, dan keberanian untuk hidup dalam kebenaran.
Jika kesombongan adalah akar kejatuhan,
maka kerendahan hati adalah awal pemulihan.
Jika penipuan merusak dunia,
maka kejujuran adalah jalan untuk memulihkannya.
Mari kembali kepada kebenaran—sebelum semuanya terlambat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar