Melkias Keiya, S.H.: “Transformasi bukan sekadar perubahan nama, tetapi pembaruan arah pelayanan melalui doa, persatuan, kasih dan kehidupan yang membawa damai.”
NABIRE, PAPUA TENGAH — Perjalanan pelayanan Persekutuan Tubuh Kristus memasuki fase baru melalui transformasi menjadi Persekutuan Doa Tubuh Kristus (PDTK). Transformasi tersebut ditempatkan sebagai bagian dari pembaruan pelayanan yang menekankan kehidupan doa, persatuan umat, penghayatan Firman Tuhan serta tanggung jawab menghadirkan kasih dan perdamaian di tengah masyarakat.
Sekretaris Umum Persekutuan Doa Tubuh Kristus, Melkias Keiya, S.H., menjelaskan bahwa perubahan tersebut tidak seharusnya dipahami hanya sebagai pergantian nama.
Menurutnya, transformasi harus menyentuh kehidupan umat secara nyata—mulai dari cara berdoa, melayani, membangun persaudaraan hingga menyelesaikan perbedaan dengan jalan damai.
> “Persekutuan Tubuh Kristus bertransformasi menjadi Persekutuan Doa Tubuh Kristus. Yang hendak diperkuat bukan sekadar nama, tetapi kehidupan doa dan persatuan umat untuk bersama-sama berjalan dalam kehendak Tuhan,” ujar Melkias Keiya.
Doa Menjadi Jantung Pelayanan
Kata “Doa” dalam nama Persekutuan Doa Tubuh Kristus memiliki penekanan khusus. PDTK memandang doa sebagai salah satu dasar utama dalam membangun hubungan dengan Tuhan sekaligus membentuk kehidupan yang lebih bertanggung jawab terhadap sesama.
Semangat tersebut sejalan dengan pesan Alkitab mengenai kehidupan doa, antara lain Markus 11:17 tentang rumah doa bagi segala bangsa serta 1 Tesalonika 5:17 yang menyerukan umat untuk tetap berdoa.
Bagi PDTK, doa tidak berhenti pada kegiatan ibadah. Doa harus menghasilkan perubahan sikap.
Doa melahirkan kasih.
Kasih membangun persatuan.
Persatuan menjaga perdamaian.
Perdamaian membuka ruang bagi kehidupan bersama yang bermartabat.
Menuju Meuwo TOTA mana (METOMA)
Transformasi tersebut selanjutnya diarahkan pada visi Meuwo TOTA mana (METOMA).
Dalam kerangka pelayanan PDTK, METOMA ditempatkan sebagai cita-cita kehidupan bersama yang bertumpu pada nilai rohani, persaudaraan, kedamaian, kepedulian dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Visi itu diharapkan tidak hanya menjadi semboyan, melainkan diterjemahkan dalam kehidupan keluarga, pelayanan dan masyarakat.
Melkias menegaskan bahwa kehidupan rohani harus membawa dampak sosial yang positif.
> “Kalau kita sungguh-sungguh berdoa, buahnya harus terlihat dalam kehidupan. Kita harus mampu mengasihi, mengampuni, menghargai orang lain dan menjaga persaudaraan. Itulah perubahan yang harus nyata,” katanya.
Bukan Membangun Sekat, tetapi Membangun Persaudaraan
Di tengah masyarakat Papua yang terdiri atas beragam suku, bahasa, gereja, komunitas dan latar belakang sosial, PDTK menempatkan persatuan sebagai hal yang sangat penting.
Perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk membangun permusuhan.
Sebaliknya, pelayanan rohani diharapkan menjadi ruang yang mampu mempertemukan masyarakat, memperkuat dialog dan membangun penyelesaian damai ketika terjadi perbedaan pandangan.
PDTK juga mengajak umat agar tidak menggunakan pelayanan untuk kepentingan pribadi, persaingan ataupun saling menjatuhkan.
Pelayanan harus memberi pengharapan, menguatkan mereka yang lemah, menjaga persaudaraan dan menghadirkan keteduhan di tengah masyarakat.
Transformasi Harus Dibuktikan melalui Buah Kehidupan
Menurut Melkias Keiya, keberhasilan sebuah transformasi tidak cukup dinilai dari perubahan nama, simbol ataupun identitas kelembagaan.
Ukuran yang lebih penting adalah perubahan karakter dan kehidupan umat.
- Apakah kehidupan semakin penuh kasih?
- Apakah persaudaraan semakin kuat?
- Apakah konflik semakin dapat diselesaikan secara damai?
- Apakah pelayanan semakin mampu menjadi berkat bagi masyarakat?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi bagian penting dalam mengukur perjalanan transformasi PDTK.
> “Nama boleh berubah, tetapi yang paling penting adalah hati dan kehidupan juga harus berubah. Kita ingin melihat doa menghasilkan kasih, persatuan dan perdamaian,” tegas Melkias.
Pesan untuk Papua
PDTK membawa pesan agar seluruh umat ikut menjaga Papua sebagai rumah bersama.
Perdamaian harus dibangun mulai dari keluarga, komunitas, suku, pelayanan dan lingkungan masyarakat.
Perbedaan perlu diselesaikan melalui dialog, musyawarah, penghormatan dan semangat persaudaraan.
Dalam konteks tersebut, PDTK berharap visi METOMA dapat menjadi bagian dari gerakan moral dan spiritual yang mendorong kehidupan masyarakat menuju kedamaian serta kebersamaan.
---
SATU PERJALANAN — SATU SEMANGAT
PERSEKUTUAN TUBUH KRISTUS
Bertransformasi menjadi
PERSEKUTUAN DOA TUBUH KRISTUS
Untuk mewujudkan
MEUWO TOTA MANA (METOMA)
BERDOA • BERSATU • BERTRANSFORMASI • MEMBAWA DAMAI
Narasumber/Penulis:
MELKIAS KEIYA, S.H. Sekretaris Umum Persekutuan Doa Tubuh Kristus (PDTK). Nabire, Papua Tengah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar