Rabu, 05 Agustus 2026

PERSEKUTUAN DOA TUBUH KRISTUS NABIRE GELAR RAPAT, BAHAS KEPEMIMPINAN DAN KEUTUHAN UMAT

 







Pertemuan digelar usai rangkaian kegiatan KKR di Meriam untuk membahas arah pelayanan Persekutuan Doa Tubuh Kristus Nabire, Wojokunu hingga Makataka

NABIRE, Papua Tengah — Para tua-tua Persekutuan Doa Tubuh Kristus Nabire, Wojokunu sampai Makataka menggelar pertemuan di Nabire, Rabu (5/8/2026). Pertemuan tersebut berlangsung setelah rangkaian kegiatan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) di Meriam dan menjadi ruang bersama untuk membahas sejumlah agenda penting terkait arah pelayanan serta keutuhan umat.

Dalam pertemuan itu, para tua-tua membahas dua pokok utama, yakni konsep kepemimpinan dalam Persekutuan Doa Tubuh Kristus serta persoalan baptisan air dan Perjamuan Kudus.

Struktur formal tidak menjadi fokus utama

Salah satu keputusan yang dibahas dalam pertemuan adalah rencana pembentukan struktur organisasi formal Persekutuan Doa Tubuh Kristus.

Para tua-tua menyampaikan pandangan bahwa Persekutuan Doa Tubuh Kristus tidak semata-mata dibangun berdasarkan struktur organisasi manusia, melainkan menempatkan Allah Bapa, Yesus Kristus, dan Roh Kudus sebagai pusat kepemimpinan dalam kehidupan persekutuan.

Sebagai bentuk pengaturan pelayanan, para tua-tua mempertimbangkan pengangkatan koordinator-koordinator berdasarkan karunia, pengetahuan, kemampuan, dan tanggung jawab pelayanan yang dimiliki masing-masing anggota.

Pandangan tersebut dikaitkan dengan pesan Yesus dalam Matius 23:5-10, yang antara lain mengingatkan umat agar tidak menjadikan gelar dan kedudukan manusia sebagai pusat kehidupan iman.

Dengan demikian, koordinasi pelayanan dipandang lebih sebagai kebutuhan untuk menjaga keteraturan dan kelancaran pelayanan, bukan sebagai pembentukan hierarki yang menempatkan manusia di atas kehendak Tuhan.

Baptisan air dan Perjamuan Kudus

Agenda kedua yang menjadi perhatian adalah persoalan baptisan air dan Perjamuan Kudus.

Dalam pembahasan tersebut, persoalan terkait pelaksanaan dan keputusan mengenai baptisan air serta Perjamuan Kudus kembali diserahkan kepada Hamba Tuhan Fredy Pekei dan Hamba Tuhan Yunus Giyai untuk dibicarakan dan dipertimbangkan lebih lanjut.

Langkah tersebut diarahkan untuk menjaga keutuhan umat, menghindari perbedaan yang dapat menimbulkan perpecahan, serta memastikan setiap keputusan pelayanan dilakukan dengan pertimbangan yang matang.

Para peserta pertemuan menekankan pentingnya mengutamakan kasih, persatuan, ketertiban, dan kepentingan umat dalam setiap keputusan yang berkaitan dengan kehidupan Persekutuan Doa Tubuh Kristus.

Mengedepankan persatuan umat

Pertemuan para tua-tua tersebut menjadi bagian dari proses konsolidasi pelayanan setelah kegiatan KKR di Meriam. Forum tersebut juga menjadi momentum untuk memperkuat komunikasi di antara para pelayan dan umat Persekutuan Doa Tubuh Kristus di wilayah Nabire, Wojokunu sampai Makataka.

Para tua-tua berharap setiap perbedaan pandangan mengenai tata kelola maupun pelayanan dapat diselesaikan melalui dialog, doa, dan kebersamaan dengan tetap menjadikan Tuhan sebagai pusat kehidupan persekutuan.

Dengan semangat tersebut, Persekutuan Doa Tubuh Kristus diharapkan terus bertumbuh sebagai wadah persekutuan yang mengedepankan iman, kasih, persaudaraan, dan keutuhan umat.

CATATAN FOTO:

Para tua-tua Persekutuan Doa Tubuh Kristus Nabire, Wojokunu sampai Makataka mengikuti rapat bersama di Nabire, Papua Tengah, Rabu (5/8/2026), usai rangkaian kegiatan KKR di Meriam. Pertemuan membahas arah pelayanan, koordinasi berdasarkan karunia, serta persoalan baptisan air dan Perjamuan Kudus demi menjaga keutuhan umat.

Kamis, 30 Juli 2026

KEBAKTIAN KEBANGUNAN ROHANI KKR WILAYAH MEEPAGO DI NABIRE

 


KKR Wilayah Meepago Hadirkan Semangat Persatuan, Doa, dan Harapan Baru bagi Papua Tengah. 

_______

NABIRE, Papua Tengah – Suasana penuh sukacita dan pengharapan mewarnai pelaksanaan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) Wilayah Meepago yang berlangsung di Nabire pada 30 Juli–1 Agustus 2026. Kegiatan rohani ini menghadirkan Ev. Jhon Kayame dari Merauke untuk melayani umat melalui pemberitaan Firman Tuhan dengan tema "Membuka Rahasia Eden dan Deklarasi Peniupan Sangkakala Ketujuh."

Sekretaris Umum Persekutuan Doa Tubuh Kristus (PDTK) Wilayah Meepago, Melkias Keiya, S.H., menyampaikan bahwa KKR bukan sekadar pertemuan ibadah, melainkan sebuah momentum untuk mempererat persaudaraan, membangun kasih, dan menumbuhkan harapan baru bagi masyarakat Papua Tengah.

> "Kami mengajak seluruh masyarakat, tanpa memandang latar belakang suku maupun status sosial, untuk datang bersama-sama mencari Tuhan. Melalui doa, pujian, penyembahan, dan firman-Nya, kita membangun kehidupan yang penuh kasih, damai, dan saling menghormati. Papua yang maju dimulai dari hati yang dipulihkan dan masyarakat yang hidup dalam persatuan," ujar Melkias Keiya, S.H.

Menurutnya, kehadiran Ev. Jhon Kayame dari Merauke merupakan kesempatan yang berharga bagi masyarakat untuk memperoleh penguatan iman dan motivasi dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Melkias Keiya berharap KKR Wilayah Meepago menjadi ruang bagi setiap orang untuk menemukan pengharapan, memperkuat hubungan dengan Tuhan, serta mempererat persaudaraan antarsesama. Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga kedamaian, kerukunan, dan semangat membangun Papua Tengah yang aman, harmonis, dan sejahtera.

"Mari datang bersama keluarga, sahabat, dan kerabat. Jadikan KKR Wilayah Meepago sebagai momen untuk mengalami pembaruan hidup, memperkuat iman, dan menyalakan semangat persatuan demi masa depan Papua yang damai, maju, dan diberkati Tuhan."

Rabu, 29 Juli 2026

RAHASIA TAMAN EDEN.

 

Refleksi Rohani untuk Kehidupan Masa Kini

Papua Tengah – Kepala Suku Besar Wilayah Meepago Provinsi Papua Tengah, Melkias Keiya, SH, mengajak seluruh masyarakat untuk merenungkan salah satu pelajaran paling mendasar dari Taman Eden, yaitu bahwa kehidupan manusia dibentuk oleh pilihan antara ketaatan dan ketidaktaatan kepada Tuhan.

Berdasarkan Kejadian 3:17, Alkitab mencatat bahwa setelah manusia melanggar perintah Allah, Tuhan berfirman, "Terkutuklah tanah." Peristiwa ini mengajarkan bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi. Ketika manusia menjauh dari kehendak Tuhan, dosa membawa penderitaan, kerja keras, dan pergumulan dalam kehidupan.

Sementara itu, 1 Timotius 2:10–15 mengingatkan umat percaya agar hidup dalam kesopanan, kerendahan hati, ketaatan, kasih, dan kekudusan. Bagian ini telah dipahami dengan berbagai penafsiran di kalangan gereja, namun semuanya mengarahkan orang percaya untuk hidup yang berkenan kepada Allah.

Rahasia Taman Eden bukan sekadar tentang sebuah pohon atau buah yang dilarang. Rahasia yang sesungguhnya adalah hati manusia. Ketika hati memilih taat kepada Firman Tuhan, damai, sukacita, dan berkat akan bertumbuh. Sebaliknya, ketika hati memilih melawan kehendak Tuhan, manusia akan menuai akibat dari pilihannya.

Karena itu, Melkias Keiya mengajak seluruh masyarakat Papua Tengah dan Indonesia untuk membangun keluarga yang takut akan Tuhan, saling mengasihi, menjaga persatuan, menghormati sesama, serta menjadikan Firman Tuhan sebagai pedoman dalam setiap langkah kehidupan."Rahasia Taman Eden bukan tentang masa lalu, tetapi tentang pilihan kita hari ini. Setiap hari kita memilih antara ketaatan yang membawa kehidupan atau ketidaktaatan yang membawa konsekuensi. Marilah kita memilih hidup dalam kasih, kebenaran, dan ketaatan kepada Tuhan."

Melkias Keiya, SH
Kepala Suku Besar Wilayah Meepago Provinsi Papua Tengah

Senin, 27 Juli 2026

OPINI PUBLIK SPRITUAL.

 

Pengetahuan Baik dan Jahat Ada dalam Diri Manusia: Akal Budi Menentukan Pilihan

Setiap manusia dianugerahi akal budi untuk berpikir, memahami, dan mengambil keputusan. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia selalu diperhadapkan pada dua pilihan, yaitu melakukan kebaikan atau melakukan kejahatan. Keduanya dapat dipahami oleh akal manusia, tetapi keputusan akhir bergantung pada hati nurani, moral, dan tanggung jawab pribadi.

Pengetahuan tentang yang baik mengarahkan manusia kepada kasih, kejujuran, keadilan, dan kedamaian. Sebaliknya, pengetahuan tentang yang jahat dapat menyeret manusia kepada kebencian, kekerasan, keserakahan, dan tindakan yang merugikan sesama. Karena itu, akal bukanlah musuh manusia, melainkan alat yang harus dipimpin oleh nilai-nilai moral dan iman,pengharan dan kasih 1Kor 13:13.

Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi, masyarakat dituntut untuk semakin bijaksana dalam menggunakan akal budi. Kemampuan berpikir kritis harus disertai dengan integritas, sehingga setiap keputusan yang diambil membawa manfaat bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara.

Bangsa yang kuat bukan hanya dibangun oleh kecerdasan intelektual, tetapi juga oleh karakter yang menjunjung tinggi kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan. Oleh sebab itu, marilah kita menggunakan pengetahuan dan akal budi sebagai sarana untuk membangun perdamaian, memperkuat persatuan, serta menciptakan kehidupan yang lebih bermartabat bagi seluruh umat Tuhan.

Senin, 13 Juli 2026

KEPALA SUKU BESAR WILAYAH MEEPAGO:

HUKUM HARUS MENUNTUN MANUSIA KEPADA KASIH, KEBENARAN, DAN KEADILAN. 

Nabire, Papua Tengah — Kepala Suku Besar Wilayah Meepago Provinsi Papua Tengah, Melkias Keiya, S.H., menyampaikan pandangan moral dan rohani mengenai dasar-dasar hukum yang seharusnya menjadi pedoman dalam kehidupan manusia, agama, pemerintahan, serta kehidupan bermasyarakat.

Menurut Melkias Keiya, hukum tidak boleh hanya dipahami sebagai aturan tertulis yang mengatur dan menghukum manusia. Hukum harus menjadi jalan yang menuntun manusia kepada pengetahuan, kebenaran, kasih, kedamaian, dan keadilan.

Ia menjelaskan bahwa terdapat enam dasar hukum yang perlu dipahami dan dijalankan secara bertanggung jawab oleh setiap manusia.

Takut akan Tuhan Menjadi Dasar Kehidupan Anak Manusia

Melkias Keiya mengatakan bahwa hukum bagi anak manusia adalah takut akan Tuhan, sebagaimana tertulis dalam Amsal 1:7 bahwa takut akan Tuhan merupakan permulaan pengetahuan.

Menurutnya, takut akan Tuhan bukan berarti hidup dalam ketakutan yang membuat manusia menjauh dari Tuhan. Takut akan Tuhan berarti menghormati, menaati, dan menempatkan Tuhan sebagai dasar utama dalam setiap perkataan, tindakan, dan keputusan.

“Manusia yang memiliki rasa takut akan Tuhan akan berhati-hati dalam menggunakan kekuasaan, menjaga perkataannya, menghargai sesamanya, dan menjauhkan diri dari tindakan yang merugikan orang lain,” ujar Melkias Keiya.

Ia menegaskan bahwa pengetahuan tanpa takut akan Tuhan dapat melahirkan kesombongan, sementara kekuasaan tanpa rasa takut kepada Tuhan dapat berubah menjadi alat penindasan.

Sepuluh Firman Menjadi Pedoman Moral Kehidupan Beragama

Dalam kehidupan keagamaan, Melkias Keiya menyebut Sepuluh Firman Tuhan yang disampaikan melalui Musa, sebagaimana tertulis dalam Kitab Keluaran pasal 20, sebagai pedoman moral yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan sesamanya.

Sepuluh Firman tersebut mengajarkan manusia untuk setia kepada Tuhan, menghormati nama-Nya, menghormati orang tua, menjaga kehidupan, menjauhi perzinahan, tidak mencuri, tidak bersaksi dusta, serta tidak mengingini milik sesama.

Menurutnya, Sepuluh Firman tidak boleh hanya dibaca atau dihafal dalam kegiatan keagamaan, tetapi harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.

“Agama harus menghasilkan manusia yang jujur, bermoral, menghargai kehidupan, menjaga keluarga, dan menghormati hak-hak sesama manusia,” katanya.

Manusia Dilarang Menghujat Roh Kudus

Melkias Keiya juga menegaskan pentingnya menghormati pekerjaan Roh Kudus. Ia merujuk pada Markus 3:29 dan Lukas 12:10 yang memperingatkan manusia agar tidak menghujat Roh Kudus.

Menurutnya, Roh Kudus bekerja untuk menyadarkan manusia dari dosa, membimbing manusia kepada kebenaran, membentuk kehidupan yang kudus, serta memberikan kekuatan untuk melakukan kehendak Tuhan.

Menghujat Roh Kudus, lanjutnya, berarti dengan sadar menolak, menghina, atau melawan pekerjaan Roh Tuhan, sekalipun seseorang telah mengetahui kebenaran.

“Manusia harus membuka hati terhadap teguran Roh Kudus, hidup dalam pertobatan, dan membiarkan Roh Tuhan membimbing kehidupannya menuju kebenaran dan kekudusan,” tegasnya.

Hukum Yesus Kristus adalah Mengasihi Tuhan dan Sesama

Lebih lanjut, Melkias Keiya menjelaskan bahwa hukum utama yang diajarkan Tuhan Yesus Kristus adalah mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap akal budi, serta mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri.

Ajaran tersebut tertulis dalam Matius 22:37–40 dan menjadi rangkuman dari seluruh hukum Tuhan.

Menurutnya, kasih kepada Tuhan tidak cukup dinyatakan melalui doa, ibadah, nyanyian, atau perkataan. Kasih kepada Tuhan harus dibuktikan melalui ketaatan, kesetiaan, kejujuran, kesucian hidup, dan tindakan nyata kepada sesama.

“Manusia tidak dapat mengaku mengasihi Tuhan apabila masih membenci, merendahkan, menindas, atau menyakiti sesamanya,” ujar Melkias Keiya.

Ia mengatakan bahwa kasih kepada sesama harus diwujudkan dengan menolong masyarakat yang lemah, mengampuni orang yang bersalah, menjaga persaudaraan, menghormati martabat manusia, serta menyelesaikan konflik dengan cara damai.

Hukum Tuhan Ugatame adalah Kasih

Melkias Keiya menegaskan bahwa hukum tertinggi dari Tuhan Ugatame adalah kasih, sebagaimana tertulis dalam 1 Yohanes 4:8 bahwa Allah adalah kasih.

Menurutnya, kasih Tuhan tidak membedakan manusia berdasarkan suku, golongan, jabatan, kekayaan, kekuasaan, maupun latar belakang sosial.

Kasih Tuhan merupakan kasih yang murni, benar, adil, memulihkan, dan menyelamatkan. Kasih tersebut harus menjadi dasar dalam kehidupan keluarga, gereja, masyarakat adat, pemerintahan, dan kehidupan berbangsa.

“Kasih bukanlah kelemahan. Kasih adalah kekuatan yang mampu menghentikan kebencian, mendamaikan permusuhan, menyembuhkan luka, dan memulihkan hubungan yang telah rusak,” katanya.

Ia menambahkan bahwa tanpa kasih, agama dapat kehilangan makna, pengetahuan dapat melahirkan kesombongan, hukum dapat menjadi alat penindasan, dan kekuasaan dapat digunakan untuk kepentingan pribadi.

Pemerintah Harus Berdiri Adil dan Tidak Berpihak pada Satu Kepentingan

Dalam kehidupan pemerintahan, Melkias Keiya menegaskan bahwa pemerintah tidak boleh menetap atau berpihak hanya pada satu sisi, satu kelompok, satu suku, satu golongan, maupun satu kepentingan tertentu.

Pemerintah, menurutnya, harus berdiri sebagai pelayan seluruh rakyat dan menjalankan kekuasaan berdasarkan kebenaran, keadilan, kesetaraan, kepastian hukum, serta kepentingan umum.

“Tidak berpihak bukan berarti pemerintah diam terhadap ketidakadilan. Pemerintah wajib berpihak kepada kebenaran, melindungi korban, membela masyarakat yang lemah, dan menindak setiap pelanggaran hukum secara adil,” tegasnya.

Ia meminta agar hukum diterapkan secara setara kepada semua pihak, baik pejabat maupun masyarakat biasa, orang kaya maupun miskin, kelompok mayoritas maupun kelompok kecil.

Menurutnya, keberpihakan pemerintah kepada satu kepentingan dapat menghancurkan kepercayaan masyarakat, menimbulkan kecemburuan sosial, memperbesar konflik, dan melemahkan persatuan.

Sebaliknya, pemerintah yang berdiri di atas keadilan akan melahirkan rasa aman, ketertiban, persatuan, dan kepercayaan rakyat.

Seruan Moral bagi Masyarakat dan Pemerintah

Melkias Keiya mengajak masyarakat Papua Tengah, khususnya masyarakat di Wilayah Meepago, untuk menjadikan takut akan Tuhan, ketaatan kepada firman, penghormatan terhadap Roh Kudus, kasih kepada sesama, serta keadilan sebagai dasar kehidupan bersama.

Ia juga menyerukan kepada para pemimpin agama, tokoh adat, aparatur pemerintah, aparat keamanan, dan seluruh elemen masyarakat agar tidak menggunakan hukum, agama, jabatan, maupun kekuasaan untuk kepentingan pribadi atau kelompok.

“Takut akan Tuhan harus melahirkan hikmat. Firman Tuhan harus membentuk moral. Roh Kudus harus menuntun manusia kepada kebenaran. Ajaran Yesus Kristus harus menghasilkan kasih. Pemerintah harus menghadirkan keadilan bagi seluruh rakyat,” ujarnya.

Melkias Keiya berharap enam dasar hukum tersebut dapat menjadi pesan moral untuk membangun kehidupan yang damai, adil, bermartabat, dan penuh kasih di Papua Tengah serta di seluruh Indonesia.

“Apabila manusia takut akan Tuhan, hidup dalam kasih, menghargai sesama, dan pemerintah menegakkan keadilan tanpa pilih kasih, maka masyarakat akan hidup dalam kedamaian, persatuan, keamanan, dan kesejahteraan,” tutup Kepala Suku Besar Wilayah Meepago Provinsi Papua Tengah, Melkias Keiya, S.H.

Sabtu, 11 Juli 2026

KASIH TUHAN UGATAME BAGI MANUSIA


Kasih Tuhan Ugatame adalah kasih yang menciptakan, menyelamatkan, membenarkan, menguduskan, dan mempersiapkan manusia untuk menjalankan kehendak-Nya. Sejak awal penciptaan sampai pada kehidupan manusia pada akhir zaman, kasih Tuhan Ugatame tidak pernah berhenti bekerja.

1. Adam dan Hawa Diciptakan untuk Hidup dalam Kebahagiaan

Pada mulanya, Tuhan Ugatame menciptakan Adam dan Hawa untuk hidup tanpa kesusahan, penderitaan, ketakutan, dan kematian. Mereka ditempatkan di dalam kehidupan yang penuh kedamaian, kelimpahan, serta persekutuan yang erat dengan Tuhan.

Namun, Adam dan Hawa tidak mempertahankan karakter ketaatan kepada Tuhan. Mereka memilih mengikuti kehendak sendiri sehingga jatuh dalam dosa dan hidup jauh dari Tuhan. Akibat ketidaktaatan itu, hubungan manusia dengan Tuhan menjadi rusak. Kesusahan, penderitaan, permusuhan, dan kematian mulai masuk ke dalam kehidupan manusia.

Walaupun manusia telah jatuh, Tuhan Ugatame tidak membuang dan meninggalkan ciptaan-Nya. Kasih-Nya tetap mencari manusia untuk dipulihkan kembali.

2. Yesus Kristus adalah Tujuan Keselamatan dari Tuhan Ugatame

Karena kasih-Nya yang besar, Tuhan Ugatame mengutus Yesus Kristus ke dunia untuk memperbaiki kesalahan manusia, bukan karena Tuhan melakukan kesalahan. Kesalahan itu berasal dari ketidaktaatan dan dosa manusia sejak Adam dan Hawa.

Yesus Kristus datang untuk menanggung dosa, membuka jalan pengampunan, memulihkan hubungan manusia dengan Tuhan, dan memberikan kehidupan yang baru. Melalui pengorbanan, kematian, dan kebangkitan-Nya, manusia yang percaya memperoleh kesempatan untuk kembali hidup di dalam kasih dan kehendak Tuhan Ugatame.

Yesus Kristus adalah bukti nyata bahwa kasih Tuhan tidak membiarkan manusia binasa. Ia datang sebagai Juruselamat untuk membawa manusia keluar dari kegelapan menuju terang, dari dosa menuju pembenaran, dan dari kematian menuju kehidupan kekal.

3. Agagime—Roh Kudus Membimbing Manusia dalam Kebenaran dan Kekudusan

Sesudah karya keselamatan Yesus Kristus dinyatakan, Tuhan Ugatame memberikan Agagime—Roh Kudus—kepada manusia. Roh Kudus adalah Penolong, Penghibur, Pengajar, dan Pemimpin yang bekerja di dalam hati setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus.

Firman Tuhan dalam Yohanes 7:39 menjelaskan bahwa Roh Kudus akan diterima oleh mereka yang percaya kepada Yesus Kristus. Karena itu, setiap manusia dipanggil untuk membuka hati, percaya kepada Kristus, serta menerima pekerjaan Agagime—Roh Kudus—dalam kehidupannya.

Melalui kuasa Roh Kudus, manusia dibimbing untuk meninggalkan dosa, membuang karakter lama, hidup dalam kebenaran, mengejar kekudusan, dan menaati kehendak Tuhan. Roh Kudus mengubah hati yang keras menjadi hati yang taat, menguatkan yang lemah, menerangi pikiran, dan memberikan keberanian untuk melakukan pekerjaan Tuhan.

Agagime—Roh Kudus—bukan hanya diberikan untuk dirasakan, tetapi untuk ditaati. Manusia wajib menerima tuntunan-Nya agar kehidupannya menghasilkan kasih, sukacita, damai sejahtera, kesetiaan, kerendahan hati, dan takut akan Tuhan.

4. Anak Manusia Dibentuk Menjadi Pemimpin Perkasa pada Akhir Zaman

Anak manusia yang telah dibenarkan melalui iman kepada Yesus Kristus dan dikuduskan oleh pertolongan kuasa Agagime—Roh Kudus—akan mengalami pembentukan karakter rohani.

Ia tidak lagi dipimpin oleh hawa nafsu, kepentingan pribadi, kesombongan, atau ketakutan. Ia dibentuk menjadi pribadi yang benar, kudus, berani, rendah hati, adil, dan setia kepada Tuhan Ugatame.

Melalui proses pembenaran, pengudusan, ketaatan, penderitaan, dan pelayanan, Tuhan mempersiapkan anak manusia menjadi pemimpin yang perkasa pada akhir zaman. Pemimpin perkasa bukanlah orang yang mengandalkan kekuatan manusia, kekayaan, jabatan, atau kekuasaan dunia. Pemimpin perkasa adalah orang yang dipenuhi Roh Kudus, berdiri teguh dalam kebenaran, membela orang lemah, membawa perdamaian, dan berani menyatakan kehendak Tuhan.

Ia akan menjadi alat Tuhan untuk membawa manusia kembali kepada kebenaran dan kekudusan. Ia tidak meninggikan dirinya sendiri, tetapi memuliakan Tuhan Ugatame. Ia tidak memimpin dengan kekerasan, melainkan dengan kasih, hikmat, keadilan, dan kuasa Roh Kudus.

Kesimpulan

Kasih Tuhan Ugatame dinyatakan melalui empat pekerjaan besar:

Tuhan Ugatame menciptakan Adam dan Hawa untuk hidup dalam kebahagiaan bersama-Nya.

Yesus Kristus diutus untuk menebus kesalahan manusia dan memulihkan hubungan manusia dengan Tuhan.

Agagime—Roh Kudus—diberikan untuk membimbing manusia hidup dalam kebenaran dan kekudusan.

Anak manusia yang dibenarkan dan dikuduskan oleh kuasa Roh Kudus akan dibentuk menjadi pemimpin perkasa yang menjalankan kehendak Tuhan pada akhir zaman.

Karena itu, marilah kita percaya kepada Yesus Kristus, menerima Agagime—Roh Kudus—dan menyerahkan seluruh kehidupan kita untuk dibentuk menjadi manusia yang benar, kudus, kuat, dan berguna bagi pekerjaan Tuhan Ugatame.

Jumat, 10 Juli 2026

Persekutuan Doa Tubuh Kristus Gelar Ibadah Kebangunan Rohani di Uwamani.


PANIAI, PAPUA TENGAH — Persekutuan Doa Tubuh Kristus menggelar Ibadah Kebangunan Rohani di Uwamani, Kabupaten Paniai, Provinsi Papua Tengah, pada 7–9 Juli 2026. Kegiatan tersebut mengangkat tema “Kasih Tuhan Ugatame untuk Manusia.”


Ibadah ini menjadi momentum bagi umat Tuhan untuk bersatu dalam doa, pujian, penyembahan, pertobatan, dan perenungan Firman Tuhan. Peserta diajak memperbarui kehidupan iman serta membangun hubungan yang lebih dekat dengan Tuhan dan sesama manusia.


Dasar Firman Tuhan dalam kegiatan ini diambil dari Yohanes 7:39, yang menjelaskan tentang Roh Kudus yang akan diterima oleh setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus. Melalui Firman tersebut, umat diingatkan bahwa kehidupan orang percaya harus dipimpin, dikuatkan, dan diperbarui oleh Roh Kudus.



Tema “Kasih Tuhan Ugatame untuk Manusia” menegaskan bahwa kasih Tuhan diberikan kepada semua manusia tanpa membedakan suku, bahasa, daerah, kedudukan, maupun latar belakang kehidupan. Kasih Tuhan harus diwujudkan melalui sikap saling mengasihi, mengampuni, menghormati, menolong, dan menjaga perdamaian.


Persekutuan Doa Tubuh Kristus juga mengajak umat untuk meninggalkan kebencian, dendam, iri hati, kekerasan, dan segala tindakan yang merusak persatuan. Sebaliknya, umat diharapkan menghasilkan buah kehidupan berupa kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri.


Ibadah Kebangunan Rohani di Uwamani tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi menjadi panggilan untuk mengalami perubahan hidup yang nyata. Kebangunan rohani harus dimulai dari dalam hati, kemudian diwujudkan dalam kehidupan keluarga, gereja, masyarakat, dan lingkungan sekitar.



Melalui kegiatan ini, Persekutuan Doa Tubuh Kristus berharap Roh Kudus memulihkan masyarakat Uwamani, Kabupaten Paniai, serta seluruh wilayah Papua Tengah. Umat juga berdoa agar Tuhan memberikan keselamatan, kesembuhan, penghiburan, persatuan, dan damai sejahtera bagi Tanah Papua.


Kasih Tuhan Ugatame memulihkan manusia, Roh Kudus memperbarui kehidupan, dan persatuan umat menjadi kekuatan untuk membangun Papua yang damai dan bermartabat.

YESUS KRISTUS BERGELAR JURUSELAMAT MANUSIA, DAN ANAK MANUSIA BERGELAR JURUMERDEKA.

PDTK NEWS — Dalam iman Kristen, Yesus Kristus dikenal sebagai Juruselamat manusia. Ia datang ke dunia untuk membawa keselamatan, pengampunan dosa, pemulihan hidup, dan pengharapan bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya.

Keselamatan yang dibawa oleh Yesus Kristus bukan hanya menyentuh kehidupan jasmani, tetapi terutama membebaskan manusia dari kuasa dosa, ketakutan, kebencian, dan kematian. Melalui kasih, pengorbanan, kematian, dan kebangkitan-Nya, manusia memperoleh jalan untuk kembali berdamai dengan Allah.

Dalam pemahaman dan pelayanan Persekutuan Doa Tubuh Kristus, istilah “Jurumerdeka” digunakan sebagai seruan iman tentang pembebasan manusia. Jurumerdeka menggambarkan panggilan untuk membawa manusia keluar dari berbagai bentuk perhambaan, penderitaan, ketidakadilan, kebodohan, kemiskinan, ketakutan, dan perpecahan.

Yesus Kristus sebagai Juruselamat manusia menjadi sumber keselamatan, sedangkan gelar Jurumerdeka menegaskan karya pembebasan yang menghadirkan kasih, keadilan, perdamaian, dan kemerdekaan sejati dalam kehidupan manusia.

Kemerdekaan sejati bukan berarti hidup tanpa aturan, melainkan hidup bebas dari dosa dan kejahatan, lalu berjalan dalam kebenaran, kasih, dan takut akan Tuhan. Manusia yang telah dimerdekakan dipanggil untuk menghormati sesama, menjaga perdamaian, membela yang lemah, serta membawa terang Tuhan di tengah masyarakat.

Sebagaimana tertulis dalam Yohanes 8:36, apabila Anak itu memerdekakan manusia, maka manusia benar-benar merdeka. Karena itu, umat Tuhan diajak untuk tetap percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat, sekaligus menjadi pembawa kabar pembebasan, perdamaian, dan pemulihan bagi tanah dan bangsa.

Yesus Kristus adalah Juruselamat manusia. Anak Manusia bergelar Jurumerdeka.

Keselamatan membawa kehidupan, dan kemerdekaan menghadirkan perdamaian.


PDTK NEWS

Persekutuan Doa Tubuh Kristus

Jumat, 01 Mei 2026

Dunia ini tidak runtuh dalam satu hari.

 

Dunia ini tidak runtuh dalam satu hari. Ia perlahan tenggelam—dimulai dari dua hal yang tampak “kecil”, tetapi sesungguhnya paling berbahaya: kesombongan dan penipuan.

Kisah lama dalam Kitab Kejadian mengingatkan kita bahwa sebelum manusia jatuh, sudah ada pemberontakan di hadapan Tuhan. Kesombongan membuat ciptaan ingin melampaui Penciptanya. Dari situlah akar dosa mulai tumbuh—keinginan untuk berdiri tanpa Tuhan, merasa cukup dengan diri sendiri.

Lalu datang penipuan. Ular menyesatkan Hawa dengan kata-kata yang tampak benar, tetapi sebenarnya memutarbalikkan kebenaran. Sejak saat itu, manusia bukan hanya jatuh—tetapi juga hidup dalam kebingungan antara yang benar dan yang salah.

Hari ini, kita melihat pola yang sama terus berulang.

Kesombongan hadir dalam bentuk kekuasaan tanpa hati nurani, merasa paling benar, menutup telinga dari kebenaran.
Penipuan hadir dalam kata-kata yang indah tetapi kosong, janji yang tidak ditepati, dan kebenaran yang sengaja dibengkokkan.

Tanpa kita sadari, dua hal ini tidak hanya merusak individu—tetapi juga menghancurkan masyarakat, bahkan bangsa.

Pertanyaannya bukan lagi “di mana dosa itu berada?”
Tetapi: apakah dua hal ini juga sedang hidup dalam diri kita?

Karena perubahan dunia tidak dimulai dari luar.
Ia dimulai dari hati yang mau merendahkan diri di hadapan Tuhan, dan keberanian untuk hidup dalam kebenaran.

Jika kesombongan adalah akar kejatuhan,
maka kerendahan hati adalah awal pemulihan.
Jika penipuan merusak dunia,
maka kejujuran adalah jalan untuk memulihkannya.

Mari kembali kepada kebenaran—sebelum semuanya terlambat.

Selasa, 21 April 2026

“Papua Berdoa dan Menangis pada Tuhan Ugatame”

Poster Harapan Papua
Papua Berdoa, Papua Menangis

Di tanah yang basah oleh air mata,
Papua bersujud… memanggil nama-Mu.

Ugatame, dengar suara hati kami,
yang terluka, namun tetap berharap.

Kami menangis bukan karena lemah,
tetapi karena rindu akan damai.

Di setiap doa yang jatuh ke bumi,
ada harapan yang bangkit kembali.

Papua berdoa…
dan percaya, Engkau menjawab.

Minggu, 12 April 2026

Papua: Dari Eden ke Krisis Ekologis dan Kemanusiaan

 Papua: Dari Eden ke Krisis Ekologis dan Kemanusiaan

Papua sejak awal dikenal sebagai “Eden” di timur Indonesia—sebuah ruang ekologis yang kaya, sekaligus ruang hidup yang membentuk peradaban manusia Papua dalam relasi yang harmonis antara alam, budaya, dan spiritualitas.

Namun dalam beberapa dekade terakhir, paradigma pembangunan yang bertumpu pada ekstraksi sumber daya telah menggeser keseimbangan tersebut. Kebijakan yang berorientasi pada eksploitasi—baik melalui pertambangan, pembukaan hutan skala besar, maupun proyek-proyek yang minim partisipasi masyarakat adat—telah mempercepat degradasi ekologis di Tanah Papua.

Kerusakan ini bukan sekadar isu lingkungan. Ia berkelindan langsung dengan krisis kemanusiaan. Ketika tanah kehilangan daya hidupnya, masyarakat adat kehilangan ruang identitasnya. Ketika hutan hilang, nilai-nilai sosial ikut tergerus. Akibatnya, muncul disorientasi sosial: konflik meningkat, solidaritas melemah, dan manusia semakin jauh dari nilai-nilai kemanusiaannya sendiri.

Dalam konteks ini, persoalan Papua tidak dapat disederhanakan sebagai isu keamanan atau pembangunan semata. Ini adalah persoalan struktural yang menyangkut keadilan ekologis, pengakuan hak masyarakat adat, dan kegagalan kebijakan dalam menempatkan manusia Papua sebagai subjek utama pembangunan.

Oleh karena itu, diperlukan koreksi mendasar:
reorientasi kebijakan dari eksploitasi menuju keberlanjutan,
dari sentralisasi menuju partisipasi masyarakat adat,
dan dari pendekatan kekuasaan menuju pendekatan kemanusiaan.

Papua bukan tanah kosong yang bebas dikeruk,
dan orang Papua bukan objek pembangunan.

Papua adalah tanah kehidupan, dan orang Papua adalah manusia yang harus dihormati martabatnya.

Melkias Keiya
Kepala Suku Besar Wilayah Meepago
Provinsi Papua Tengah

Jumat, 16 Januari 2026

MASALAH ADAT ADALAH MASALAH SURGA


MASALAH ADAT ADALAH MASALAH SURGA

Masalah adat bukan sekadar persoalan budaya, kebiasaan leluhur, atau kepemilikan tanah. Masalah adat adalah masalah surga, karena adat berasal dari kehendak Tuhan sendiri dan berakar langsung pada tatanan ilahi sejak awal penciptaan.

Alkitab mencatat bahwa surga telah lebih dahulu “diadatkan” oleh Tuhan ketika Ia menciptakan manusia pertama, Adam dan Hawa, lalu menempatkan mereka di Taman Eden:

“TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.”

(Kejadian 2:15)

Di Taman Eden, Tuhan tidak hanya menciptakan ruang hidup, tetapi juga menetapkan tatanan hidup: hukum ketaatan, nilai kesucian, kerja, tanggung jawab, relasi yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam. Inilah dasar dari adat ilahi yang murni, yang menjadi fondasi kehidupan manusia di bumi.

Tuhan memberikan batas, aturan, dan hukum sebagai bentuk kasih-Nya:

“Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya.”

(Kejadian 2:16–17)

Adat, dalam pengertian ini, bukan ciptaan manusia semata, melainkan cerminan kehendak Allah yang mengatur kehidupan agar tetap seimbang, adil, dan kudus.

Namun, surga itu kemudian dirusakkan oleh pendatang.

Siapakah pendatang itu?

Pendatang yang dimaksud bukanlah manusia lain secara jasmani, melainkan kelakuan-kelakuan yang dibenci oleh Tuhan. Ketidaktaatan, keserakahan, dusta, kekerasan, penindasan, dan pelanggaran terhadap hukum Allah masuk sebagai “orang asing” dalam tatanan adat Tuhan.

Alkitab menegaskan bahwa ketidaktaatan manusia membuka pintu bagi kerusakan:

“Tetapi pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya… lalu ia mengambil buahnya dan memakannya.”

(Kejadian 3:6)

Sejak saat itulah dosa masuk dan merusak keseimbangan. Relasi manusia dengan Tuhan rusak, relasi manusia dengan sesama menjadi penuh konflik, dan relasi manusia dengan alam berubah menjadi eksploitasi dan penderitaan:

“Terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu.”

(Kejadian 3:17)

Kelakuan-kelakuan yang dibenci Tuhan inilah yang disebut sebagai pendatang, karena mereka tidak berasal dari kehendak Allah, melainkan menyusup dan menghancurkan adat ilahi yang telah ditetapkan sejak semula.

Tuhan sendiri menyatakan dengan tegas hal-hal yang Ia benci:

“Enam perkara ini yang dibenci TUHAN, bahkan tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya: mata sombong, lidah dusta, tangan yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah, hati yang merancang rencana jahat, kaki yang cepat lari menuju kejahatan, saksi dusta yang meniupkan kebohongan, dan orang yang menimbulkan pertengkaran saudara.”

(Amsal 6:16–19)

Ketika kelakuan-kelakuan ini masuk, adat rusak, tanah dirusak, hak masyarakat adat dirampas, dan konflik terus berulang. Inilah sebabnya mengapa setiap persoalan adat sejatinya bukan hanya persoalan budaya atau hukum positif, melainkan persoalan rohani dan surgawi.

Alkitab mengingatkan bahwa bumi dan segala isinya adalah milik Tuhan:

“Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya.”

(Mazmur 24:1)

Karena itu, ketika adat dirusak, yang dilukai bukan hanya manusia, tetapi kehendak Tuhan itu sendiri. Sebaliknya, ketika adat dipulihkan, yang dipulihkan adalah jalan manusia kembali kepada kehendak Allah.

Pemulihan adat adalah bagian dari pemulihan rohani:

“Ia telah memberitahukan kepadamu, hai manusia, apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN daripadamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?”

(Mikha 6:8)

Adat dan iman tidak bertentangan. Adat yang benar adalah adat yang sejalan dengan kehendak Tuhan, menjaga kehidupan, menghormati martabat manusia, dan memelihara ciptaan. Gereja dan masyarakat adat dipanggil untuk berjalan bersama, menjaga kesucian adat, menolak kelakuan yang dibenci Tuhan, serta menghadirkan nilai-nilai Kerajaan Allah di atas tanah ini.

Sebagaimana doa Tuhan Yesus:

“Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.”

(Matius 6:10)

Menjaga adat berarti menjaga kehendak Tuhan di bumi.

Membela adat berarti membela nilai-nilai surga.

Dan memulihkan adat berarti menghadirkan kembali keharmonisan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Adat dijaga, iman ditegakkan, dan nama Tuhan dipermuliakan di atas tanah ini.

Ada Dua Versi Doa dalam Kehidupan Masyarakat


Ada Dua Versi Doa dalam Kehidupan Masyarakat


1. Doa Adat

Doa adat adalah doa yang berlandaskan pada kurban bakaran dan kerja nyata, bukan doa yang dilakukan sebelum ada usaha. Dalam adat, tenaga, keringat, dan kerja keras merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari doa itu sendiri. Karena itu, doa adat dilakukan setelah pekerjaan fisik berhasil diselesaikan, sebagai ungkapan syukur dan penghormatan kepada leluhur serta Tuhan Pencipta alam.

Prinsip ini sejalan dengan firman Tuhan yang menegaskan bahwa berkat mengikuti kerja dan usaha manusia:

“Siapa mengerjakan tanahnya, akan kenyang dengan makanan.”
(Amsal 12:11)

Doa adat biasanya dilakukan dalam konteks:
a. Sebelum dan setelah membangun rumah, setelah seluruh proses kerja keras selesai dan rumah dapat ditempati.
b. Sebelum dan setelah membuka kebun baru, setelah tanah dibersihkan, ditanami, dan hasil mulai terlihat.

Hal ini juga sejalan dengan firman Tuhan:

“Jika bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya.”
(Mazmur 127:1)

Dengan demikian, doa adat menegaskan bahwa berkat datang setelah kerja, dan doa menjadi pengakuan bahwa keberhasilan tidak lepas dari campur tangan Tuhan.


2. Doa Agama

Doa agama mengajarkan bahwa berdoa wajib dilakukan sebelum melakukan setiap kegiatan, sebagai bentuk penyerahan diri dan permohonan tuntunan kepada Tuhan.

“Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka terlaksanalah segala rencanamu.”
(Amsal 16:3)

Namun dalam praktik kehidupan, sering kali manusia rajin berdoa saat meminta, tetapi lalai berdoa setelah berkat itu dinikmati. Karena itulah firman Tuhan menegur sikap ini dengan jelas:

“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu.”
(Matius 7:7)

Tetapi Tuhan juga menghendaki ucapan syukur setelah menerima:

“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah.”
(1 Tesalonika 5:18)

Yesus sendiri menegur orang yang lupa mengucap terima kasih setelah menerima berkat:

“Tidakkah kesepuluh orang itu telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan itu?”
(Lukas 17:17)

Firman ini menegaskan bahwa:

Banyak orang pintar memohon, tetapi tidak tahu mengucap terima kasih.


Kesimpulan

Doa adat dan doa agama memiliki pendekatan yang berbeda, tetapi saling melengkapi.
Doa adat menekankan kerja nyata dan syukur setelah berhasil, sedangkan doa agama menekankan penyerahan diri sebelum bekerja dan ucapan syukur setelah menerima berkat.

Keduanya mengajarkan satu nilai utama:
iman tanpa perbuatan adalah mati, dan perbuatan tanpa ucapan syukur adalah kesombongan.

“Iman tanpa perbuatan adalah mati.”
(Yakobus 2:26)

Minggu, 14 Desember 2025

TANDA TANYA ORANG PAPUA: KAPAN SESUNGGUHNYA YESUS DILAHIRKAN?


Banyak orang Papua, Natal tidak hanya menjadi perayaan iman, tetapi juga menghadirkan tanda tanya teologis yang jujur dan logis. Pertanyaan itu berangkat dari pembacaan Injil Lukas, khususnya mengenai waktu kehamilan Maria dan kelahiran Yesus Kristus.

Dalam Injil Lukas pasal 2 ayat 11 tertulis: “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.” Ayat ini kerap dijadikan dasar perayaan Natal sebagai hari kelahiran Yesus. Namun, Injil Lukas sendiri, dalam pasal 1 ayat 26, menyebutkan bahwa pada bulan keenam Malaikat Tuhan Gabriel diutus kepada Maria untuk menyampaikan kabar bahwa ia akan mengandung oleh kuasa Roh Kudus.

Jika ditelusuri secara sederhana dan rasional, bulan keenam tersebut merujuk pada bulan keenam kehamilan Elisabet, yang secara umum dipahami terjadi sekitar bulan Juni. Bila Maria mulai mengandung pada bulan keenam itu, maka masa kehamilan manusia normal sekitar sembilan bulan akan berakhir sekitar bulan Maret atau April, bukan pada tanggal 25 Desember.

Perhitungan ini menimbulkan pertanyaan yang wajar di kalangan orang Papua: mengapa kelahiran Yesus dirayakan pada 25 Desember, jika secara kronologis Injil Lukas sendiri tidak menunjuk ke tanggal tersebut?

Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika disadari bahwa Injil tidak pernah mencatat tanggal kelahiran Yesus secara spesifik. “Hari ini” dalam Lukas 2:11 bukanlah penanda kalender, melainkan penekanan teologis: hari keselamatan telah tiba. Fokus Lukas bukan pada tanggal, tetapi pada makna kehadiran Juruselamat bagi manusia.

Dalam tradisi gereja, penetapan 25 Desember bukan berasal dari perhitungan alkitabiah yang ketat, melainkan dari perkembangan sejarah dan konteks budaya Gereja Barat pada abad ke-4. Karena itu, Natal lebih tepat dipahami sebagai simbol iman, bukan fakta kronologis yang mutlak.

Bagi orang Papua, yang memiliki tradisi berpikir kontekstual dan rasional, penting untuk memisahkan antara iman Injil dan tradisi gerejawi Barat. Injil Lukas tidak sedang mengajarkan kalender kelahiran, tetapi sedang memberitakan bahwa keselamatan Allah telah hadir di tengah dunia.

Ketika Natal dipaksakan sebagai tanggal absolut tanpa penjelasan yang jujur, iman justru bisa berubah menjadi dogma kosong. Sebaliknya, ketika Natal dipahami sebagai peristiwa rohani—Allah yang hadir dalam sejarah manusia—maka ia dapat diterima secara dewasa dan kontekstual oleh orang Papua.

Dengan demikian, tanda tanya orang Papua bukanlah bentuk penolakan iman, melainkan ekspresi pencarian kebenaran. Injil sendiri memberi ruang bagi pertanyaan itu. Natal tidak kehilangan maknanya meski tanggalnya diperdebatkan. Yang terpenting adalah apakah pesan Juruselamat itu sungguh lahir dalam kehidupan manusia hari ini: membawa keadilan, damai, dan pemulihan.

Natal sejati bukan soal tanggal 25 Desember, melainkan tentang kehadiran Kristus di tengah penderitaan manusia—termasuk penderitaan orang Papua.<<keiyam>>


Kamis, 13 November 2025

PERBEDAAN ANTARA UMAT TUHAN DAN GEREJA (GEDUNG) TUHAN



Dalam pemahaman rohani yang benar, terdapat dua sektor yang harus dibedakan secara jelas:

1. Umat Tuhan

Umat Tuhan adalah pribadi-pribadi yang percaya kepada Yesus Kristus dan dipanggil untuk diubahkan menjadi Tubuh Kristus, yaitu karya tangan Allah sendiri.
Hidup umat Tuhan menjadi tempat kediaman Roh Kudus, Tuhan Yesus Kristus, dan Allah Bapa sebagaimana tertulis:

“Kamu adalah bait Allah dan Roh Allah diam di dalam kamu.” (1 Korintus 3:16)

Karena itu, martabat umat Tuhan lebih tinggi daripada bangunan apa pun. Umat Tuhan adalah bait rohani, bukan buatan manusia, tetapi hasil pekerjaan Roh Kudus.

2. Gereja Tuhan (Gedung Gereja)

Gereja dalam bentuk gedung adalah bangunan fisik yang dibuat oleh tangan manusia. Gedung ini dipakai sebagai tempat umat berkumpul untuk ibadah, dan karena itu harus dirawat dan dijaga. Tetapi gedung tersebut bukan Tubuh Kristus, melainkan hanya fasilitas fisik untuk kegiatan rohani.

Secara sejarah, banyak bangunan ibadah dari berbagai kebudayaan pernah dipakai manusia untuk macam-macam bentuk penyembahan, termasuk penyembahan matahari. Karena itu, gedung gereja tidak dapat disamakan dengan umat Tuhan yang menjadi tempat kediaman Allah.

“Allah tidak diam dalam rumah yang dibuat oleh tangan manusia.” (Kisah Para Rasul 7:48)

KESIMPULAN RESMI

Umat Tuhan → karya Allah, tempat kediaman Roh Kudus, bersifat rohani dan hidup.

Gereja Tuhan (Gedung) → karya manusia, tempat berkumpul, tidak dapat disamakan dengan Tubuh Kristus.

Dengan demikian, pembedaannya jelas: Umat Tuhan adalah hidup dan berasal dari Allah, sedangkan gedung gereja hanyalah sarana buatan manusia.

Rabu, 12 November 2025

Penyesatan dan Penyalahgunaan Nama Gereja Tuhan Tubuh Kristus Lokal Meriam

Nabire, 13 November 2025 Provinsi Papua Tengah —
Persekutuan Doa Tubuh Kristus (PDTK) Nabire Wojokunu sampai Makataka melalui Sekretaris Umum menyampaikan pernyataan resmi kepada seluruh umat Tuhan, pemerintah, dan masyarakat luas terkait munculnya tindakan penyesatan dan penyalahgunaan nama “Gereja Tuhan Tubuh Kristus Lokal Meriam” yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu demi memperoleh keuntungan pribadi dan dukungan dari Pemerintah Provinsi Papua Tengah.

Firman Tuhan dengan jelas berkata dalam Yohanes 8:44:

“Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.”

Ayat ini menjadi dasar peringatan keras bagi semua umat percaya bahwa setiap penyesatan dan kebohongan yang menggunakan nama Tuhan Yesus Kristus tidak lain berasal dari kuasa kegelapan. Iblis bekerja melalui tipu muslihat, memakai nama rohani, simbol gereja, bahkan salib, untuk mengelabui umat dan menyesatkan banyak orang dari kebenaran Injil.

PDTK menegaskan bahwa pelayanan sejati tidak didirikan atas dasar uang, jabatan, atau pengakuan manusia, tetapi berdiri atas dasar pimpinan Roh Kudus sebagaimana tertulis dalam Yohanes 7:39, bahwa Roh Kudus adalah sumber kehidupan bagi mereka yang percaya kepada Yesus.

Oleh karena itu, logo dan kop Gereja Tuhan Tubuh Kristus Lokal Meriam yang digunakan untuk mengajukan dukungan dan bantuan kepada Pemerintah Provinsi Papua Tengah dinyatakan bukan berasal dari Tuhan, melainkan alat penipuan yang digunakan oleh roh dusta untuk memperoleh keuntungan duniawi.

Sebagaimana kisah Yakub dan Esau (Kejadian 25:29–34), di mana Esau menjual hak kesulungannya demi sepiring makanan, demikian pula mereka yang menjual nama Tuhan demi uang dan posisi telah menukar berkat rohani dengan kenikmatan sementara.

Sekretaris Umum PDTK, atas nama seluruh jajaran pelayanan dan umat Persekutuan Doa Tubuh Kristus Nabire Wojokunu sampai Makataka, menyampaikan sikap tegas sebagai berikut:

1. Menolak segala bentuk pemalsuan dan penyalahgunaan nama “Tubuh Kristus” dalam urusan administrasi, proyek, dan kepentingan politik.

2. Menegaskan bahwa Persekutuan Doa Tubuh Kristus Nabire Wojokunu sampai Makataka adalah satu-satunya persekutuan yang berdiri di bawah pimpinan Roh Kudus, bukan hasil inisiatif manusia.

3. Mengajak pemerintah daerah dan semua instansi untuk berhati-hati terhadap pihak-pihak yang menggunakan nama gereja untuk mencari dana dan fasilitas dengan cara tidak benar.

4. Menyerukan kepada seluruh umat Tuhan untuk hidup dalam terang kebenaran, menjauhi roh dusta, dan tetap setia kepada panggilan Tuhan Yesus Kristus.

5. Mendorong pembenahan pelayanan di semua lini agar nama “Tubuh Kristus” dipelihara dalam kekudusan dan kejujuran.

“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Matius 6:33

Persekutuan Doa Tubuh Kristus berdiri bukan karena pengakuan manusia, melainkan karena panggilan surgawi untuk melayani dalam kasih, kebenaran, dan kuasa Roh Kudus. Nama Tuhan tidak boleh dijadikan alat untuk memperkaya diri, karena itu merupakan dosa yang mendukakan Roh Kudus.

PDTK juga mengingatkan seluruh pelayan Tuhan agar tidak tergoda oleh tiga pencobaan dunia — kekayaan, kekuasaan, dan kehormatan — sebab ketiganya dapat menjerumuskan seseorang keluar dari hadirat Allah.

“Sebab apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi kehilangan nyawanya?” Markus 8:36

Dengan demikian, Sekretariat Umum Persekutuan Doa Tubuh Kristus Nabire Wojokunu sampai Makataka menegaskan bahwa segala bentuk aktivitas yang mengatasnamakan Gereja Tuhan Tubuh Kristus Lokal Meriam untuk memperoleh bantuan, proyek, atau dukungan politik tidak memiliki dasar kebenaran rohani dan tidak diakui oleh PDTK.

Kami menyerukan agar setiap umat kembali kepada inti pelayanan sejati, yaitu berdoa, menyembah, dan melayani dengan hati murni di bawah pimpinan Roh Kudus.

“Dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” Yohanes 8:32

SEKUM PERSEKUTUAN DOA TUBUH KRISTUS

Nabire Wojokunu sampai Makataka – Provinsi Papua Tengah
Disampaikan melalui Media Redaksi PDTK
Untuk kemuliaan Tuhan Yesus Kristus semata.

Selasa, 26 Agustus 2025

Sekilas Info Rohani:

Yesus Kristus Datang Sebagai Manusia dan Anak Manusia Jurumerdeka


Papua Tengah Nabire 26 Agustus 2925– Dalam perjalanan iman umat Kristen, kebenaran tentang kedatangan Yesus Kristus sebagai manusia menjadi dasar yang tidak dapat diganggu gugat. Firman Tuhan dengan jelas menegaskan bahwa siapa saja yang tidak mengakui Yesus datang ke dunia sebagai manusia adalah penyesat, bahkan antikristus.

Dasar Firman Tuhan:

1. 1 Yohanes 4:2 – “Setiap roh yang mengaku Yesus datang sebagai manusia, berasal dari Allah.”

2. 2 Yohanes 1:7 – “Sebab banyak penyesat telah muncul dan tidak mengaku bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia. Itu adalah penyesat dan antikristus.”

3. Lukas 21:27 – “Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kuasa dan kemuliaan-Nya.”

4. Daniel 7:13 – “Tampak seorang seperti Anak Manusia datang dengan awan-awan.”

5. Matius 24:30 – “Maka akan tampak tanda Anak Manusia di langit dan semua bangsa akan melihat Dia datang dengan kuasa besar dan kemuliaan.”

Makna bagi Umat Tuhan

Melalui ayat-ayat ini, jelaslah bahwa:

Pada kedatangan pertama-Nya, Yesus Kristus benar-benar datang sebagai manusia, hidup di tengah dunia, mati di kayu salib, dan bangkit untuk menyelamatkan manusia.

Pada kedatangan kedua-Nya kelak, Ia akan kembali sebagai Roh Kristus Yesus menjelma menjadi Anak Manusia yang mulia, Juruselamat dan Hakim yang adil, datang dengan awan-awan di langit untuk memerdekakan umat-Nya.

Pertanyaan Iman di Tanah Papua

Bagi umat Tuhan Persekutuan Doa Tubuh Kristus, pesan ini menjadi pengharapan besar. Firman Tuhan memberi isyarat akan hadirnya Anak Manusia Jurumerdeka – sebuah gelar yang mengingatkan kita kepada Kristus, namun juga menimbulkan pertanyaan iman:

Siapakah yang dipersiapkan Tuhan di akhir zaman sebagai tanda kehadiran-Nya di atas tanah Papua?

Pertanyaan ini bukan untuk diperdebatkan, melainkan untuk direnungkan dengan hati yang rendah di hadapan Tuhan. Sebab hanya Allah yang berdaulat mengutus dan menyatakan pekerjaan-Nya, baik melalui Kristus sendiri yang akan datang kembali, maupun melalui utusan, hamba, atau pemimpin yang dipakai-Nya bagi kebangkitan rohani umat di tanah Papua.

Penutup

Sekilas Info Rohani ini mengingatkan bahwa iman kepada Yesus Kristus sebagai Anak Allah dan Anak Manusia adalah kebenaran yang tidak bisa ditawar. Di tengah banyaknya penyesat dan pengajaran yang menyesatkan, umat Tuhan dipanggil untuk berjaga, berdoa, dan setia menantikan kedatangan-Nya.

Kiranya tanah Papua diberkati Tuhan, dan seluruh umat diteguhkan dalam pengharapan kepada Yesus Kristus, Anak Manusia Jurumerdeka, yang akan datang kembali dengan kuasa dan kemuliaan besar. <<Keiyam>>


Sabtu, 16 Agustus 2025

PERTEMUAN TUA–TUA NABIRE

PERTEMUAN TUA–TUA NABIRE

Nabire, Sabtu 16 Agustus 2025

Pada hari Sabtu, tanggal 16 Agustus 2025, para Tua–Tua Nabire Geral telah mengadakan pertemuan penting yang berlangsung di Jemaat Sion Batalion Nabire. Pertemuan ini merupakan wadah musyawarah rohani dengan tujuan utama mencari solusi dalam pelayanan Yesus Kristus, khususnya mengenai Perjamuan Kasih dan Perjamuan Sloki yang diajarkan dalam Alkitab.

Dasar Alkitabiah

1. Perjamuan Kasih – Makan Bersama

Sebagaimana Yesus Kristus sendiri teladankan, kebersamaan dalam makan menjadi simbol kasih, persatuan, dan pelayanan yang tulus. Firman Tuhan berkata:

> “Lalu berkatalah Yesus kepada murid-murid-Nya: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya barangsiapa melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.”

(Matius 12:50)

Perjamuan Kasih dalam bentuk makan bersama bukan sekadar kebutuhan jasmani, tetapi menjadi tanda persaudaraan dan kebersamaan umat Tuhan.

2. Perjamuan Sloki – Perjamuan Kudus

Dasar kuat mengenai perjamuan rohani terdapat dalam ajaran Rasul Paulus kepada jemaat Korintus:

> “Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang.”(1 Korintus 11:26)

Lebih lanjut, Rasul Paulus mengingatkan:

> “Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu.”(1 Korintus 11:27-28)

Dengan demikian, Perjamuan Kudus atau Perjamuan Sloki menjadi wujud persekutuan dengan Kristus yang mengorbankan diri-Nya di kayu salib, dan umat diminta untuk merayakannya dengan penuh kesadaran, kerendahan hati, serta iman yang murni.

Keputusan Bersama

Setelah melalui pembahasan, doa, dan persekutuan yang penuh kasih, akhirnya para Tua–Tua Nabire Geral menyepakati keputusan bersama sebagai berikut:

1. Perjamuan Kasih (Makan Bersama) akan terus ditegakkan dalam jemaat sebagai bentuk kasih persaudaraan, mempererat hubungan antar umat, dan menghadirkan teladan Yesus dalam kebersamaan.

2. Perjamuan Sloki (Perjamuan Kudus) tetap dilaksanakan sesuai dengan ajaran Alkitab dalam 1 Korintus 11, dengan penuh hormat, kerendahan hati, dan pemeriksaan diri setiap umat.

3. Kedua bentuk perjamuan ini bukan untuk dipertentangkan, melainkan dipersatukan sebagai jalan pelayanan Yesus Kristus yang membawa umat kepada kasih, pengampunan, dan keselamatan.

4. Semua jemaat di Nabire diimbau untuk menjaga kesatuan hati, persaudaraan, dan ketaatan kepada Firman Tuhan, agar pelayanan menjadi berkat bagi semua pihak.

Sambutan dan Doa Penutup

Dalam pertemuan ini, sambutan disampaikan oleh Hamba Tuhan Hengki Edowai, yang menegaskan pentingnya kesatuan iman dan kasih dalam melayani Kristus. Beliau mengingatkan bahwa tanpa kasih, segala bentuk pelayanan hanyalah sia-sia (1 Korintus 13:1-3).

Pertemuan ditutup dengan penuh sukacita dan damai sejahtera melalui Doa Penutup yang dipimpin oleh Pendeta Jeck Ikomouw, yang menyerahkan seluruh keputusan, pelayanan, dan perjalanan iman umat kepada penyertaan Tuhan Yesus Kristus.

Penutup

Pertemuan Tua–Tua Nabire Geral ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk terus bekerja di ladang Tuhan dengan tulus hati. Keputusan yang telah diambil diharapkan menjadi pedoman pelayanan jemaat di wilayah Nabire dan sekitarnya, demi kemuliaan nama Tuhan Yesus Kristus.

📖 Dilaporkan oleh:

Melkias Keiya

Sekretaris Umum Persekutuan Doa Tubuh Kristus

Nabire Wojokunu sampai Makataka, Provinsi Papua Tengah. -

--




Jumat, 04 April 2025

PDTK NEWS | PENJELASAN PELAYANAN: ROH KUDUS, FIRMAN TUHAN & KONTEKS ALKITABIAH


Nabire, PDTK News —

Pelayanan dalam tubuh Kristus memiliki dasar yang kokoh dan tidak boleh dilakukan secara sembarangan atau berdasarkan keinginan pribadi. Sekretaris Umum Persekutuan Doa Tubuh Kristus, Melkias Keiya, menegaskan bahwa pelayanan sejati harus berakar pada Roh Kudus, Firman Tuhan, dan pemahaman konteks Alkitabiah yang benar.

Berikut penjelasan selengkapnya:


1. Pelayanan Berdasarkan Roh Kudus

Pelayanan ini digerakkan dan dipimpin langsung oleh Roh Kudus, bukan oleh kekuatan manusia. Roh Kudus memberikan kuasa, hikmat, dan karunia untuk melayani dengan kasih dan kebenaran. Pelayanan ini ditandai oleh buah-buah Roh (Galatia 5:22-23) serta menghasilkan pertobatan dan pemulihan rohani di tengah jemaat. Setiap pelayan harus hidup dalam hubungan intim dengan Roh Kudus dan berserah penuh kepada pimpinan-Nya.

"Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, tetapi dengan Roh-Ku, firman TUHAN semesta alam." — Zakharia 4:6


2. Pelayanan Berdasarkan Firman Tuhan

Pelayanan tidak boleh lepas dari kebenaran Firman Tuhan. Firman menjadi fondasi yang kokoh, penuntun arah, dan pedoman moral dalam setiap aktivitas pelayanan. Pelayanan ini menolak segala bentuk penyimpangan, manipulasi ayat, atau ajaran palsu. Firman harus diajarkan secara murni, diberitakan dengan kuasa, dan dijalani dalam kehidupan sehari-hari.

"Seluruh Kitab Suci diberikan oleh ilham Allah dan bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan mendidik orang dalam kebenaran." — 2 Timotius 3:16


3. Pelayanan Berdasarkan Konteks Alkitabiah

Memahami konteks adalah kunci dalam mengartikan dan menerapkan Firman secara benar. Tanpa pemahaman konteks sejarah, budaya, dan maksud asli dari ayat, seseorang bisa jatuh ke dalam tafsir keliru. Pelayanan berdasarkan konteks Alkitab mendorong umat untuk menggali Firman dengan utuh, tidak sepotong-sepotong.

"Jangan menambahkan kepada perkataan-Nya, supaya engkau tidak ditegur dan dianggap pendusta." — Amsal 30:6


Penutup

Persekutuan Doa Tubuh Kristus mengajak setiap pelayan Tuhan untuk menjaga kemurnian pelayanan, hidup dalam pimpinan Roh Kudus, setia kepada Firman Tuhan, dan mengerti maksud Firman dalam konteks yang benar.

"Pelayanan yang benar bukan sekadar aktivitas, tetapi perwujudan kasih, iman, dan ketaatan kepada Tuhan yang hidup."


PDTK News | Sekretariat Umum
"Satu tubuh, satu Roh, satu Tuhan, satu iman." – Efesus 4:4-5

PERBANDINGAN ANTARA AGAMA KRISTEN DAN PERSEKUTUAN DOA TUBUH KRISTUS (PDTK-METOMA)

A. Tentang Gereja

  • Kristen: Beribadah di kuil atau gereja buatan tangan manusia (Ibrani 9:24).
  • PDTK-METOMA: Beribadah di perkemahan dan lapangan terbuka (Ibrani 8:2, Amsal 5:16).

B. Pimpinan Gereja

  • Kristen: Dipimpin oleh kepausan hingga gembala jemaat, tetapi Yesus memperingatkan tentang ajaran manusia (Matius 15:9, Markus 7:7, Efesus 4:14, Kolose 2:22).
  • PDTK-METOMA: Mengakui hanya satu pemimpin, yaitu Ugatame, Yesus Kristus, dan Roh Kudus (Matius 23:10).

C. Teologi

  • Kristen: Firman Tuhan hanya boleh dibawakan oleh mereka yang berpendidikan teologi.
  • PDTK-METOMA: Berdasarkan karunia jawatan, Roh Tuhan berkuasa atas orang-orang pilihan (1 Samuel 10:6).

D. Iman

  • Kristen: Iman sering hanya dalam bentuk mendengar tanpa tindakan (Matius 13:13-14, Yakobus 2:20, Yakobus 2:26).
  • PDTK-METOMA: Ibadah selalu disertai pujian, penyembahan, ratapan, doa, puasa, dan kesaksian (Yohanes 7:30, Yohanes 4:23-24, Ibrani 5:7, Wahyu 21:4, Yoel 2:12, Yohanes 3:33).

E. Khotbah

  • Kristen: Khotbah cukup dibawakan oleh satu orang hamba Tuhan (Matius 15:9, Markus 7:7, Efesus 4:14, Kolose 2:22).
  • PDTK-METOMA: Khotbah disampaikan berdasarkan karunia marifat oleh berbagai jawatan seperti gembala, penginjil, rasul, guru, dan nabiah (Efesus 4:11-12).

F. Doa

  • Kristen: Berdoa biasa tanpa harus panjang (Matius 6:7).
  • PDTK-METOMA: Berdoa dengan puasa, menangis, dan mengaduh (Matius 17:21, Yoel 2:12-13).

G. Alkitab

  • Kristen: Menggunakan seluruh Alkitab (Perjanjian Lama dan Baru).
  • PDTK-METOMA: Fokus pada kata-kata Yesus Kristus dalam Concordance.

H. Baptisan

  • Kristen: Ada baptisan percik (Katolik) dan baptisan selam (Protestan).
  • PDTK-METOMA: Percaya pada tiga jenis baptisan: baptisan air, Roh Kudus, dan api (Matius 3:11).

I. Perjamuan

  • Kristen: Perjamuan menggunakan sloki anggur dan roti.
  • PDTK-METOMA: Perjamuan kasih berupa makan bersama (Matius 22:39, Yudas 1:12).

J. Pernikahan

  • Kristen: Pernikahan berdasarkan tradisi maskawin dan pemberkatan gereja.
  • PDTK-METOMA: Mencontoh pernikahan Adam dan Hawa di Taman Eden.

K. Persepuluhan dan Sedekah

  • Kristen: Ada persepuluhan, kolekte, dan amplop untuk gaji hamba Tuhan.
  • PDTK-METOMA: Memberikan sedekah dan aksi sosial tanpa paksaan (Matius 6:3-4, Kisah Para Rasul 3:2-3).

L. Hukum

  • Kristen: Mengikuti 10 Perintah Allah (Keluaran 20:1-17).
  • PDTK-METOMA: Mengikuti 2 Hukum Kasih (Matius 22:37-40).

M. Hari Ibadah

  • Kristen:
    • Hari ke-7 Sabat (Sabtu) → Yahudi
    • Hari ke-1  Minggu → Kristen
    • Semua Hari untuk Tuhan →PDTK
  • PDTK-METOMA: Beribadah setiap hari (Kisah Para Rasul 5:42).

N. Natal

  • Kristen: Merayakan Natal pada 25 Desember, yang ditetapkan oleh Gereja abad ke-4.
  • PDTK-METOMA: Tidak merayakan Natal karena jemaat mula-mula tidak merayakannya.(Wahyu 2:6,15)

Catatan

Perbandingan ini menunjukkan bahwa PDTK-METOMA menekankan ibadah yang lebih langsung kepada Tuhan, dengan penekanan pada pujian, penyembahan, doa, dan puasa yang mendalam. Sementara itu, Kristen tradisional mengikuti struktur gereja yang lebih formal dengan aturan-aturan yang telah berlangsung lama.