Pesan tersebut disampaikan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Ignasius Adii, dalam pandangannya mengenai pentingnya menjalani kehidupan secara santai namun tetap memiliki tujuan dan menghasilkan karya yang pasti.“Hidup dan berkehidupanlah dengan santai, tetapi harus menghasilkan dengan pasti.”
Pesan itu menekankan pentingnya keseimbangan antara ketenangan hidup, tanggung jawab, kerja nyata, dan hasil yang dapat dirasakan oleh masyarakat.
Pandangan tersebut kemudian diperkuat oleh Kepala Suku Mee di Timika, Piet Nawipa, yang mengajak masyarakat untuk tidak hanya mengejar hasil secara lahiriah, tetapi juga membangun kehidupan spiritual yang benar dan menghasilkan buah-buah kehidupan yang baik.
Menurutnya, kehidupan spiritual harus terlihat dari tindakan nyata, karakter, kasih, kedamaian, serta manfaat yang diberikan kepada sesama. “Lakukan kehidupan spiritual yang pasti dan benar-benar menghasilkan buah-buah yang menyenangkan hati banyak orang.”
Pesan kedua tokoh tersebut memiliki makna penting bagi kehidupan masyarakat Papua saat ini. Spiritualitas tidak cukup hanya diwujudkan melalui perkataan, tetapi harus menghasilkan perubahan nyata dalam kehidupan keluarga, masyarakat, pelayanan, pekerjaan, serta hubungan antarsesama.
Kehidupan yang menghasilkan buah berarti menghadirkan kedamaian, kasih, kejujuran, kerukunan, kerja keras, saling menghormati, serta kepedulian terhadap sesama manusia.
Masyarakat, terutama generasi muda, diajak untuk tidak terjebak dalam kehidupan yang penuh persaingan tanpa arah. Setiap orang dapat menjalani kehidupan dengan tenang, tetapi tetap mempunyai tujuan, disiplin, tanggung jawab, dan menghasilkan sesuatu yang berguna.
Pada akhirnya, ukuran kehidupan bukan hanya seberapa banyak seseorang berbicara atau seberapa tinggi kedudukannya, melainkan buah apa yang dihasilkan dari kehidupannya dan seberapa besar manfaatnya bagi orang lain.
Pesan ini sekaligus menjadi seruan moral dan spiritual agar kehidupan bermasyarakat di Tanah Papua terus dibangun di atas nilai persaudaraan, kedamaian, kerja nyata, dan kehidupan rohani yang menghasilkan buah kebaikan. “Santai dalam menjalani kehidupan, pasti dalam menghasilkan. Kuat dalam spiritualitas, nyata dalam buah kehidupan.
___________
Ditulis oleh: Melkias Keiya, S.H. Kepala Suku Besar Wilayah Meepago, Provinsi Papua Tengah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar