Senin, 27 Juli 2026

OPINI PUBLIK SPRITUAL.

 

Pengetahuan Baik dan Jahat Ada dalam Diri Manusia: Akal Budi Menentukan Pilihan

Setiap manusia dianugerahi akal budi untuk berpikir, memahami, dan mengambil keputusan. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia selalu diperhadapkan pada dua pilihan, yaitu melakukan kebaikan atau melakukan kejahatan. Keduanya dapat dipahami oleh akal manusia, tetapi keputusan akhir bergantung pada hati nurani, moral, dan tanggung jawab pribadi.

Pengetahuan tentang yang baik mengarahkan manusia kepada kasih, kejujuran, keadilan, dan kedamaian. Sebaliknya, pengetahuan tentang yang jahat dapat menyeret manusia kepada kebencian, kekerasan, keserakahan, dan tindakan yang merugikan sesama. Karena itu, akal bukanlah musuh manusia, melainkan alat yang harus dipimpin oleh nilai-nilai moral dan iman,pengharan dan kasih 1Kor 13:13.

Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi, masyarakat dituntut untuk semakin bijaksana dalam menggunakan akal budi. Kemampuan berpikir kritis harus disertai dengan integritas, sehingga setiap keputusan yang diambil membawa manfaat bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara.

Bangsa yang kuat bukan hanya dibangun oleh kecerdasan intelektual, tetapi juga oleh karakter yang menjunjung tinggi kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan. Oleh sebab itu, marilah kita menggunakan pengetahuan dan akal budi sebagai sarana untuk membangun perdamaian, memperkuat persatuan, serta menciptakan kehidupan yang lebih bermartabat bagi seluruh umat Tuhan.

Senin, 13 Juli 2026

KEPALA SUKU BESAR WILAYAH MEEPAGO:

HUKUM HARUS MENUNTUN MANUSIA KEPADA KASIH, KEBENARAN, DAN KEADILAN. 

Nabire, Papua Tengah — Kepala Suku Besar Wilayah Meepago Provinsi Papua Tengah, Melkias Keiya, S.H., menyampaikan pandangan moral dan rohani mengenai dasar-dasar hukum yang seharusnya menjadi pedoman dalam kehidupan manusia, agama, pemerintahan, serta kehidupan bermasyarakat.

Menurut Melkias Keiya, hukum tidak boleh hanya dipahami sebagai aturan tertulis yang mengatur dan menghukum manusia. Hukum harus menjadi jalan yang menuntun manusia kepada pengetahuan, kebenaran, kasih, kedamaian, dan keadilan.

Ia menjelaskan bahwa terdapat enam dasar hukum yang perlu dipahami dan dijalankan secara bertanggung jawab oleh setiap manusia.

Takut akan Tuhan Menjadi Dasar Kehidupan Anak Manusia

Melkias Keiya mengatakan bahwa hukum bagi anak manusia adalah takut akan Tuhan, sebagaimana tertulis dalam Amsal 1:7 bahwa takut akan Tuhan merupakan permulaan pengetahuan.

Menurutnya, takut akan Tuhan bukan berarti hidup dalam ketakutan yang membuat manusia menjauh dari Tuhan. Takut akan Tuhan berarti menghormati, menaati, dan menempatkan Tuhan sebagai dasar utama dalam setiap perkataan, tindakan, dan keputusan.

“Manusia yang memiliki rasa takut akan Tuhan akan berhati-hati dalam menggunakan kekuasaan, menjaga perkataannya, menghargai sesamanya, dan menjauhkan diri dari tindakan yang merugikan orang lain,” ujar Melkias Keiya.

Ia menegaskan bahwa pengetahuan tanpa takut akan Tuhan dapat melahirkan kesombongan, sementara kekuasaan tanpa rasa takut kepada Tuhan dapat berubah menjadi alat penindasan.

Sepuluh Firman Menjadi Pedoman Moral Kehidupan Beragama

Dalam kehidupan keagamaan, Melkias Keiya menyebut Sepuluh Firman Tuhan yang disampaikan melalui Musa, sebagaimana tertulis dalam Kitab Keluaran pasal 20, sebagai pedoman moral yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan sesamanya.

Sepuluh Firman tersebut mengajarkan manusia untuk setia kepada Tuhan, menghormati nama-Nya, menghormati orang tua, menjaga kehidupan, menjauhi perzinahan, tidak mencuri, tidak bersaksi dusta, serta tidak mengingini milik sesama.

Menurutnya, Sepuluh Firman tidak boleh hanya dibaca atau dihafal dalam kegiatan keagamaan, tetapi harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.

“Agama harus menghasilkan manusia yang jujur, bermoral, menghargai kehidupan, menjaga keluarga, dan menghormati hak-hak sesama manusia,” katanya.

Manusia Dilarang Menghujat Roh Kudus

Melkias Keiya juga menegaskan pentingnya menghormati pekerjaan Roh Kudus. Ia merujuk pada Markus 3:29 dan Lukas 12:10 yang memperingatkan manusia agar tidak menghujat Roh Kudus.

Menurutnya, Roh Kudus bekerja untuk menyadarkan manusia dari dosa, membimbing manusia kepada kebenaran, membentuk kehidupan yang kudus, serta memberikan kekuatan untuk melakukan kehendak Tuhan.

Menghujat Roh Kudus, lanjutnya, berarti dengan sadar menolak, menghina, atau melawan pekerjaan Roh Tuhan, sekalipun seseorang telah mengetahui kebenaran.

“Manusia harus membuka hati terhadap teguran Roh Kudus, hidup dalam pertobatan, dan membiarkan Roh Tuhan membimbing kehidupannya menuju kebenaran dan kekudusan,” tegasnya.

Hukum Yesus Kristus adalah Mengasihi Tuhan dan Sesama

Lebih lanjut, Melkias Keiya menjelaskan bahwa hukum utama yang diajarkan Tuhan Yesus Kristus adalah mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap akal budi, serta mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri.

Ajaran tersebut tertulis dalam Matius 22:37–40 dan menjadi rangkuman dari seluruh hukum Tuhan.

Menurutnya, kasih kepada Tuhan tidak cukup dinyatakan melalui doa, ibadah, nyanyian, atau perkataan. Kasih kepada Tuhan harus dibuktikan melalui ketaatan, kesetiaan, kejujuran, kesucian hidup, dan tindakan nyata kepada sesama.

“Manusia tidak dapat mengaku mengasihi Tuhan apabila masih membenci, merendahkan, menindas, atau menyakiti sesamanya,” ujar Melkias Keiya.

Ia mengatakan bahwa kasih kepada sesama harus diwujudkan dengan menolong masyarakat yang lemah, mengampuni orang yang bersalah, menjaga persaudaraan, menghormati martabat manusia, serta menyelesaikan konflik dengan cara damai.

Hukum Tuhan Ugatame adalah Kasih

Melkias Keiya menegaskan bahwa hukum tertinggi dari Tuhan Ugatame adalah kasih, sebagaimana tertulis dalam 1 Yohanes 4:8 bahwa Allah adalah kasih.

Menurutnya, kasih Tuhan tidak membedakan manusia berdasarkan suku, golongan, jabatan, kekayaan, kekuasaan, maupun latar belakang sosial.

Kasih Tuhan merupakan kasih yang murni, benar, adil, memulihkan, dan menyelamatkan. Kasih tersebut harus menjadi dasar dalam kehidupan keluarga, gereja, masyarakat adat, pemerintahan, dan kehidupan berbangsa.

“Kasih bukanlah kelemahan. Kasih adalah kekuatan yang mampu menghentikan kebencian, mendamaikan permusuhan, menyembuhkan luka, dan memulihkan hubungan yang telah rusak,” katanya.

Ia menambahkan bahwa tanpa kasih, agama dapat kehilangan makna, pengetahuan dapat melahirkan kesombongan, hukum dapat menjadi alat penindasan, dan kekuasaan dapat digunakan untuk kepentingan pribadi.

Pemerintah Harus Berdiri Adil dan Tidak Berpihak pada Satu Kepentingan

Dalam kehidupan pemerintahan, Melkias Keiya menegaskan bahwa pemerintah tidak boleh menetap atau berpihak hanya pada satu sisi, satu kelompok, satu suku, satu golongan, maupun satu kepentingan tertentu.

Pemerintah, menurutnya, harus berdiri sebagai pelayan seluruh rakyat dan menjalankan kekuasaan berdasarkan kebenaran, keadilan, kesetaraan, kepastian hukum, serta kepentingan umum.

“Tidak berpihak bukan berarti pemerintah diam terhadap ketidakadilan. Pemerintah wajib berpihak kepada kebenaran, melindungi korban, membela masyarakat yang lemah, dan menindak setiap pelanggaran hukum secara adil,” tegasnya.

Ia meminta agar hukum diterapkan secara setara kepada semua pihak, baik pejabat maupun masyarakat biasa, orang kaya maupun miskin, kelompok mayoritas maupun kelompok kecil.

Menurutnya, keberpihakan pemerintah kepada satu kepentingan dapat menghancurkan kepercayaan masyarakat, menimbulkan kecemburuan sosial, memperbesar konflik, dan melemahkan persatuan.

Sebaliknya, pemerintah yang berdiri di atas keadilan akan melahirkan rasa aman, ketertiban, persatuan, dan kepercayaan rakyat.

Seruan Moral bagi Masyarakat dan Pemerintah

Melkias Keiya mengajak masyarakat Papua Tengah, khususnya masyarakat di Wilayah Meepago, untuk menjadikan takut akan Tuhan, ketaatan kepada firman, penghormatan terhadap Roh Kudus, kasih kepada sesama, serta keadilan sebagai dasar kehidupan bersama.

Ia juga menyerukan kepada para pemimpin agama, tokoh adat, aparatur pemerintah, aparat keamanan, dan seluruh elemen masyarakat agar tidak menggunakan hukum, agama, jabatan, maupun kekuasaan untuk kepentingan pribadi atau kelompok.

“Takut akan Tuhan harus melahirkan hikmat. Firman Tuhan harus membentuk moral. Roh Kudus harus menuntun manusia kepada kebenaran. Ajaran Yesus Kristus harus menghasilkan kasih. Pemerintah harus menghadirkan keadilan bagi seluruh rakyat,” ujarnya.

Melkias Keiya berharap enam dasar hukum tersebut dapat menjadi pesan moral untuk membangun kehidupan yang damai, adil, bermartabat, dan penuh kasih di Papua Tengah serta di seluruh Indonesia.

“Apabila manusia takut akan Tuhan, hidup dalam kasih, menghargai sesama, dan pemerintah menegakkan keadilan tanpa pilih kasih, maka masyarakat akan hidup dalam kedamaian, persatuan, keamanan, dan kesejahteraan,” tutup Kepala Suku Besar Wilayah Meepago Provinsi Papua Tengah, Melkias Keiya, S.H.

Sabtu, 11 Juli 2026

KASIH TUHAN UGATAME BAGI MANUSIA


Kasih Tuhan Ugatame adalah kasih yang menciptakan, menyelamatkan, membenarkan, menguduskan, dan mempersiapkan manusia untuk menjalankan kehendak-Nya. Sejak awal penciptaan sampai pada kehidupan manusia pada akhir zaman, kasih Tuhan Ugatame tidak pernah berhenti bekerja.

Jumat, 10 Juli 2026

Persekutuan Doa Tubuh Kristus Gelar Ibadah Kebangunan Rohani di Uwamani.


PANIAI, PAPUA TENGAH — Persekutuan Doa Tubuh Kristus menggelar Ibadah Kebangunan Rohani di Uwamani, Kabupaten Paniai, Provinsi Papua Tengah, pada 7–9 Juli 2026. Kegiatan tersebut mengangkat tema “Kasih Tuhan Ugatame untuk Manusia.”


Ibadah ini menjadi momentum bagi umat Tuhan untuk bersatu dalam doa, pujian, penyembahan, pertobatan, dan perenungan Firman Tuhan. Peserta diajak memperbarui kehidupan iman serta membangun hubungan yang lebih dekat dengan Tuhan dan sesama manusia.


Dasar Firman Tuhan dalam kegiatan ini diambil dari Yohanes 7:39, yang menjelaskan tentang Roh Kudus yang akan diterima oleh setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus. Melalui Firman tersebut, umat diingatkan bahwa kehidupan orang percaya harus dipimpin, dikuatkan, dan diperbarui oleh Roh Kudus.



Tema “Kasih Tuhan Ugatame untuk Manusia” menegaskan bahwa kasih Tuhan diberikan kepada semua manusia tanpa membedakan suku, bahasa, daerah, kedudukan, maupun latar belakang kehidupan. Kasih Tuhan harus diwujudkan melalui sikap saling mengasihi, mengampuni, menghormati, menolong, dan menjaga perdamaian.


Persekutuan Doa Tubuh Kristus juga mengajak umat untuk meninggalkan kebencian, dendam, iri hati, kekerasan, dan segala tindakan yang merusak persatuan. Sebaliknya, umat diharapkan menghasilkan buah kehidupan berupa kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri.


Ibadah Kebangunan Rohani di Uwamani tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi menjadi panggilan untuk mengalami perubahan hidup yang nyata. Kebangunan rohani harus dimulai dari dalam hati, kemudian diwujudkan dalam kehidupan keluarga, gereja, masyarakat, dan lingkungan sekitar.



Melalui kegiatan ini, Persekutuan Doa Tubuh Kristus berharap Roh Kudus memulihkan masyarakat Uwamani, Kabupaten Paniai, serta seluruh wilayah Papua Tengah. Umat juga berdoa agar Tuhan memberikan keselamatan, kesembuhan, penghiburan, persatuan, dan damai sejahtera bagi Tanah Papua.


Kasih Tuhan Ugatame memulihkan manusia, Roh Kudus memperbarui kehidupan, dan persatuan umat menjadi kekuatan untuk membangun Papua yang damai dan bermartabat.

YESUS KRISTUS BERGELAR JURUSELAMAT MANUSIA, DAN ANAK MANUSIA BERGELAR JURUMERDEKA.

PDTK NEWS — Dalam iman Kristen, Yesus Kristus dikenal sebagai Juruselamat manusia. Ia datang ke dunia untuk membawa keselamatan, pengampunan dosa, pemulihan hidup, dan pengharapan bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya.

Keselamatan yang dibawa oleh Yesus Kristus bukan hanya menyentuh kehidupan jasmani, tetapi terutama membebaskan manusia dari kuasa dosa, ketakutan, kebencian, dan kematian. Melalui kasih, pengorbanan, kematian, dan kebangkitan-Nya, manusia memperoleh jalan untuk kembali berdamai dengan Allah.

Dalam pemahaman dan pelayanan Persekutuan Doa Tubuh Kristus, istilah “Jurumerdeka” digunakan sebagai seruan iman tentang pembebasan manusia. Jurumerdeka menggambarkan panggilan untuk membawa manusia keluar dari berbagai bentuk perhambaan, penderitaan, ketidakadilan, kebodohan, kemiskinan, ketakutan, dan perpecahan.

Yesus Kristus sebagai Juruselamat manusia menjadi sumber keselamatan, sedangkan gelar Jurumerdeka menegaskan karya pembebasan yang menghadirkan kasih, keadilan, perdamaian, dan kemerdekaan sejati dalam kehidupan manusia.

Kemerdekaan sejati bukan berarti hidup tanpa aturan, melainkan hidup bebas dari dosa dan kejahatan, lalu berjalan dalam kebenaran, kasih, dan takut akan Tuhan. Manusia yang telah dimerdekakan dipanggil untuk menghormati sesama, menjaga perdamaian, membela yang lemah, serta membawa terang Tuhan di tengah masyarakat.

Sebagaimana tertulis dalam Yohanes 8:36, apabila Anak itu memerdekakan manusia, maka manusia benar-benar merdeka. Karena itu, umat Tuhan diajak untuk tetap percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat, sekaligus menjadi pembawa kabar pembebasan, perdamaian, dan pemulihan bagi tanah dan bangsa.

Yesus Kristus adalah Juruselamat manusia. Anak Manusia bergelar Jurumerdeka.

Keselamatan membawa kehidupan, dan kemerdekaan menghadirkan perdamaian.


PDTK NEWS

Persekutuan Doa Tubuh Kristus

Jumat, 01 Mei 2026

Dunia ini tidak runtuh dalam satu hari.

 

Dunia ini tidak runtuh dalam satu hari. Ia perlahan tenggelam—dimulai dari dua hal yang tampak “kecil”, tetapi sesungguhnya paling berbahaya: kesombongan dan penipuan.

Kisah lama dalam Kitab Kejadian mengingatkan kita bahwa sebelum manusia jatuh, sudah ada pemberontakan di hadapan Tuhan. Kesombongan membuat ciptaan ingin melampaui Penciptanya. Dari situlah akar dosa mulai tumbuh—keinginan untuk berdiri tanpa Tuhan, merasa cukup dengan diri sendiri.

Lalu datang penipuan. Ular menyesatkan Hawa dengan kata-kata yang tampak benar, tetapi sebenarnya memutarbalikkan kebenaran. Sejak saat itu, manusia bukan hanya jatuh—tetapi juga hidup dalam kebingungan antara yang benar dan yang salah.

Hari ini, kita melihat pola yang sama terus berulang.

Kesombongan hadir dalam bentuk kekuasaan tanpa hati nurani, merasa paling benar, menutup telinga dari kebenaran.
Penipuan hadir dalam kata-kata yang indah tetapi kosong, janji yang tidak ditepati, dan kebenaran yang sengaja dibengkokkan.

Tanpa kita sadari, dua hal ini tidak hanya merusak individu—tetapi juga menghancurkan masyarakat, bahkan bangsa.

Pertanyaannya bukan lagi “di mana dosa itu berada?”
Tetapi: apakah dua hal ini juga sedang hidup dalam diri kita?

Karena perubahan dunia tidak dimulai dari luar.
Ia dimulai dari hati yang mau merendahkan diri di hadapan Tuhan, dan keberanian untuk hidup dalam kebenaran.

Jika kesombongan adalah akar kejatuhan,
maka kerendahan hati adalah awal pemulihan.
Jika penipuan merusak dunia,
maka kejujuran adalah jalan untuk memulihkannya.

Mari kembali kepada kebenaran—sebelum semuanya terlambat.

Selasa, 21 April 2026

“Papua Berdoa dan Menangis pada Tuhan Ugatame”

Poster Harapan Papua
Papua Berdoa, Papua Menangis

Di tanah yang basah oleh air mata,
Papua bersujud… memanggil nama-Mu.

Ugatame, dengar suara hati kami,
yang terluka, namun tetap berharap.

Kami menangis bukan karena lemah,
tetapi karena rindu akan damai.

Di setiap doa yang jatuh ke bumi,
ada harapan yang bangkit kembali.

Papua berdoa…
dan percaya, Engkau menjawab.